//
you're reading...
Pendidikan

GAYA BELAJAR

A.Pengertian Gaya Belajar

Gaya belajar terdiri dari kata gaya dan belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya adalah tingkah laku, gerak gerik dan sikap [1]. Sedangkan belajar adalah berusaha memeroleh kepandaian atau menuntut ilmu [2]. Charles E. Skinner, dalam bukunya Educational Psychology menjelaskan pengertian belajar yakni Learning is a process of progressive behavior adaptation [3].  Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Sedangkan menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeroleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya [4]. Sebagai alat belajar, akal merupakan potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, mata dan telinga merupakan alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual dan informasi verbal [6].

Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup.Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik (sentuhan/gerakan). Setiap orang memiliki kekuatan belajar atau gaya belajar. Jika seseorang semakin mengenal baik gaya belajar yang dimiliki maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri dalam menguasai keterampilan dan konsep-konsep dalam kehidupan. Setiap manusia di dunia ini memiliki gaya tersendiri dalam berbusana, berbicara dan juga gaya hidup yang berbeda antara satu sama lain. Begitu pula dengan gaya belajar. Keanekaragaman cara siswa dalam belajar disebut dengan gaya belajar, ada pula yang menyebutnya dengan modalitas belajar. Setiap siswa memiliki gaya belajarnya sendiri, hal itu diumpamakan seperti tanda tangan yang khas bagi dirinya sendiri [7]. Pengetahuan tentang gaya belajar siswa sangat penting untuk diketahui guru, orang tua, dan siswa itu sendiri, karena pengetahuan tentang gaya belajar ini dapat digunakan untuk membantu memaksimalkan proses pembelajaran agar hasil pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan [8].

Gaya belajar adalah kebiasaan yang mencerminkan cara memperlakukan pengalaman dan informasi yang kita peroleh [9]. Bobby De Porter, dalam bukunya Quantum Learning mendefinisikan gaya belajar yaitu “a person’s learning style is a combination of how he or she perceives, then organizes and processes information[10]. Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi [11]. Menurut Nasution yang dinamakan gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berfikir dan memecahkan soal [12]. Sedangkan menurut Adi W. Gunawan pengertian gaya belajar adalah cara yang lebih  kita sukai dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan mengerti suatu informasi [13].

Setiap individu memunyai gaya belajar yang berbeda. Tidak semua orang mengikuti cara yang sama. Masing-masing menunjukkan perbedaan, namun para peneliti dapat menggolong-golongkannya. Gaya belajar berkaitan erat dengan pribadi seseorang, yang dipengaruhi oleh pembawaan, pengalaman, pendidikan, dan riwayat perkembangannya [14]. Gaya belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara yang digunakan oleh siswa dalam menyerap informasi atau materi pelajaran berdasarkan pendekatan preferensi sensori. Yaitu gaya belajar yang dilakukan dengan cara memasukkan informasi ke dalam otak melalui modalitas indera yang dimiliki.

B.Macam-macam gaya belajar

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Di antara macam-macam gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik.

1) Gaya Belajar Visual (visual learning)

Visual menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah dapat dilihat dengan mata. Berarti gaya belajar visual merupakan gaya belajar dengan cara melihat. Karakteristik gaya belajar visual ini berhubungan dengan visualitas. Pertama, adalah kebutuhan melihat sesuatu baik informasi maupun pelajaran secara visual, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan, dan yang terakhir adalah anak akan lebih mudah mengingat jika dibantu gambar serta lebih suka membaca daripada dibacakan. Visual learning adalah gaya belajar dengan cara melihat sehingga mata memegang peranan penting. Gaya belajar visual dilakukan seseorang untuk memeroleh informasi seperti melihat gambar, diagram, peta, poster, grafik, dan sebagainya. Bisa juga dengan melihat data teks seperti tulisan dan huruf [15]. Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar siswa paham.

Setiap orang yang memiliki gaya belajar visual memiliki kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Mereka lebih mudah menangkap lewat materi bergambar. Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna dan pemahaman yang cukup terhadap artistik. Dalam hal ini tekhnik visualisasi melatih otak untuk bisa memvisualisasikan sesuatu hal, mulai dari mendeskripsikan suatu pemandangan, benda (baik benda nyata maupun imajinasi), hingga akhirnya mendapatkan yang diinginkan [16]. Menurut De Porter & Hernacki (2004), siswa dengan gaya belajar visual memiliki kecenderungan sebagai berikut:

  1. Rapi dan teratur
  2. Berbicara dengan cepat
  3. Mementingkan penampilan dalam berpakaian maupun presentasi
  4. Biasanya tidak terganggu oleh keributan
  5. Lebih suka membaca daripada dibacakan
  6. Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau kuliah
  7. Lebih suka demonstrasi daripada berpidato
  8. Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat (ya atau tidak)
  9. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta bantuan orang untuk mengulanginya
  10. Mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

Ciri-ciri Gaya Belajar Visual :

Ciri-ciri siswa yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum memahaminya. Siswa yang memiliki gaya belajar visual menangkap pelajaran lewat materi bergambar, memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, dan mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Tetapi memilki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan. Selain itu, orang yang menyukai gaya belajar visual senang membuat catatan-catatan yang sangat baik dan rapi. Gaya belajar ini dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan beberapa pendekatan: menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi  pelajaran berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.

a) Lebih mudah mengingat dengan cara melihat

Seseorang yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitik beratkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka mudah untuk memahaminya. Seorang anak yang memunyai gaya belajar visual akan lebih mudah mengingat dengan cara melihat, misalnya membaca buku, melihat demonstrasi yang dilakukan guru, melihat contoh-contoh yang tersebar di alam atau fenomena alam dengan cara observasi, bisa juga dengan melihat pembelajaran yang disajikan melalui TV atau video kaset [17]. Cara yang paling tepat untuk meningkatkan hasil belajar bagi seseorang yang memunyai gaya elajar visual adalah dengan menggunakan alat bantu visual seperti grafik dan gambar yang memungkinkan mereka melihat gambaran luas dari materi yang akan dipelajari. Mereka akan merasa kesulitan bila harus mengingat materi yang tidak disertai dengan warna, gambar, desain, kaligrafi tertentu, atau bentuk-bentuk yang artistik. Saat mereka melihat guru, gambar, grafik, atau alat bantu visual lainnya, sense belajar mereka akan terbuka dan apapun yang sedang dibahas akan terserap. Semua yang diberikan dengan stimulasi visual akan tertangkap dan dapat diingat dengan jelas. Mereka belajar dan mengingat dengan lebih baik bila terjadi kontak mata dengan guru atau pengajar daripada harus mendengarkan saja, namun para pengajar perlu juga memberikan alat bantu visual pada mereka agar materi pelajaran tersebut tidak mudah dilupakan.

b) Lebih suka membaca daripada dibacakan

Selain dengan menggunakan alat bantu visual, untuk mempercepat proses belajar bagi anak yang memunyai gaya belajar visual dapat dilakukan dengan cara membaca dan melihat materi visual dalam bentuk bahasa: surat, kata kata,dan angka. Mereka dapat belajar dari media cetak seperti buku, majalah, jurnal, koran,buku pedoman, poster dan sebagainya. Seseorang dengan gaya belajar visual harus mengingat detail kata dan angka yang mereka baca. Karena kegiatan membaca dilakukan secara visual, maka tipe ini merasa mudah dan nyaman jika harus belajar dengan membaca. Jika mereka harus mengingat apa yang mereka pelajari, maka mereka akan lebih mudah mengingat dengan cara membaca dari apa yang tertulis di buku daripada dibacakan oleh oranglain [18].

c) Rapi dan teratur

Seseorang dengan gaya belajar visual, mereka berfikir dengan cara bertahap, detail perdetail dan menyimpan data secara sistematis, bahkan secara alfabetis, urut secara numerikal atau kronologis. Karena mereka sangat tergorganisir, maka mereka biasanya akan mengatur materi data secara teratur. Mereka menyukai kerapihan dan juga keindahan. Mereka biasanya memunyai catatan pelajaran yang rapi. Selain itu mereka juga tidak menyukai tempat yang berantakan karena dapat mengganggu proses belajar mereka.

d) Biasanya tidak terganggu oleh keributan

Seseorang yang memiliki gaya belajar visual ini dapat belajar baik diiringi dengan musik maupun tidak. Kebisingan dan suara disekitarnya tidak akan mampu menggoyahkan konsentrasi mereka karena mereka lebih terfokus pada apa yang mereka lihat dari pada apa yang mereka dengar. Jika tipe visual ini sedang berfikir, mereka akan melihat ke arah langit-langit, pandangan mata ke kanan dan kekiri, karena otak mereka memproses data dengan melihat setiap kata atau simbol. Memang semua orang pun pasti akan melakukan hal yang sama bila sedang melihat gambar atau simbol, tapi tipe visual ini melakukannya lebih sering dibandingkan dengan orang lain [19].

e) Mempunyai masalah untuk mengingat informasi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta bantuan orang untuk mengulanginya

Walaupun seseorang yang memiliki gaya belajar visual memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna dan juga mempunyai pemahaman yang cukup terhadap artistik,mereka juga memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan. Banyak dari para orang visual yang kurang peka terhadap respons instruksi verbal dan akan mudah lupa dengan apa yang disampaikan orang lain sampai mereka diberikan instruksi secara visual yang disertai dengan tulisan, gambar, diagram ataupun bagan [20]. Jika mereka tidak memiliki gambar atau alat bantu visual apapun untuk dilihat, maka sebaiknya mereka diberi penjelasan secara deskriptif agar mereka memiliki bayangan yang jelas tentang materi yang sedang mereka bicarakan. Mereka akan merasa kesulitan bila tidak ada penjelasan yang bersifat deskriptif dimana tergambar jelas tentang warna, bentuk, ataupun ukuran untuk divisualisasikan.

2) Gaya Belajar Auditori (auditory learning)

Auditorial berasal dari kata audio yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Gaya belajar auditorial merupakan gaya belajar dengan cara mendengar. Karakteristik gaya belajar seperti ini menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, harus mendengar, baru kemudian dapat mengingat dan memahami informasi tertentu. Gaya belajar ini biasanya disebut juga sebagai gaya belajar pendengar. Orang-orang yang memiliki gaya belajar pendengar mengandalkan proses belajarnya melalui pendengaran (telinga). Mereka memperhatikan sangat baik pada hal-halyang didengar. Mereka juga mengingat sesuatu dengan cara “melihat” dari yang tersimpan di telinganya. Pada umumnya, seorang anak yang memiliki gaya belajar auditori ini senang mendengarkan ceramah, diskusi, berita di radio, dan juga kaset pembelajaran. Mereka senang belajar dengan cara mendengarkan dan berinteraksi dengan orang lain [21].

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk belajar.  Pertama, adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah dosen di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali.  Kedua, yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi. Ketiga, adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau dosen.

Menurut De Porter & Hernacki (2004), siswa dengan gaya belajar auditori memiliki kecenderungan sebagai berikut:

  1. Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
  2. Mudah terganggu oleh keributan
  3. Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku saat membaca
  4. Merasa kesulitan untuk menulis namun pandai dalam bercerita
  5. Lebih suka gurauan lisan daripada komik
  6. Berbicara dalam irama terpola
  7. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  8. Senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  9. Dapat menirukan warna, irama, nada suara, dan lain-lain

Ciri-ciri Gaya Belajar Auditori :

a) Lebih mudah mengingat dengan cara mendengarkan daripada melihat

Seseorang yang memiliki gaya belajar auditori belajar dan lebih mudah mengingat informasi dengan cara mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan baik berupa kalimat ataupun angka-angka. Mereka menyerap makna komunikasi verbal dengan cepat tanpa harus menuangkannya dalam bentuk gambar. Mereka lebih senang mendengarkan daripada membaca.Jika akan menghadapi ujian akan lebih baik bila mereka mendengarkan orang lain, membaca bahan materi atau menulisnya sendiri kemudian membacanya dengan suara keras atau merekamnya dan memutarnya kembali [22].

b) Mudah terganggu oleh keributan

Orang-orang dengan gaya belajarauditori, biasanya mereka sangat peka pada gangguan auditori. Jika mereka sedang mendengarkan penjelasan guru mereka akan merasa terganggu bila ada suara-suara disekitarnya. Seperti suara mobil, dengung AC, suara orang yang sedang makan, atau suara kebisingan lain dapat mengganggu konsentrasi belajar mereka. Karena mereka tidak bisa mengabaikan suara-suara itu layaknya tipe visual, maka mereka memprogram diri agar hanya mendengarkan suara guru atau dosen atau pikiran mereka sendiri [23].

c) Suka berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

Seseorang yang memiliki gaya belajar auditori dalam kesehariannya mereka selalu memerlukan stimuli auditori secara terus menerus. Mereka tidak akan betah dengan kesunyian. Jika keadaan terlalu sunyi, mereka merasa tidak nyaman dan akan berusaha memecahkan kesunyian dengan bersenandung,menyanyi, berbisik, berbicara keras-keras, mendengarkan radio, atau menelepon orang lain. Mereka juga suka membuka percakapan dan mendiskusikan segala sesuatu secara panjang lebar. Bahkan mungkin juga menanyakan berbagai hal dan mengajak bicara orang-orang di sekelilingnya [24]. Karena orang-orang auditori ini senang berinteraksi dengan orang lain, para siswa disekolah dapat memproses cepat belajar mereka dengan cara mendengarkan penjelasan lisan, berbicara, atau berdiskusi. Untuk mengingat pelajaran ketika akan menghadapi tes atau ujian,mereka perlu mendengar ulang materi pelajaran yang ada, mendiskusikannya, membacanya kembali, atau merekam suara mereka ketika membaca materi kemudian mengulang-ulang beberapa kali.

d) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

Hal-hal yang dilakukan oleh seorang yang memiliki gaya belajar auditori untuk mempercepat proses belajarnya yaitu harusmembaca secara sepintas terlebih dahulu. Mereka perlu membayangkan teks yang ada seperti sebuah film dengan disertai efek suara, aksen dan nada suara, perasaan, dan musik untuk membuat materi menjadi lebih hidup. Dengan kosa kata yang menggambarkan suara suara yang indah. Mereka biasanya bisa lebih memahami bacaan jika dibaca dengan suara keras. Mereka juga suka menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika sedang membaca. Hal itu dilakukan agar mereka lebih memahami materi daripada hanya sekedar dibaca di dalam hati.

e) Menyukai musik atau sesuatu yang bernada dan berirama

Seorang dengan gaya belajar auditori sangat menyukai musik, suara-suara, irama,nada suara, dan memiliki kemampuan sensor kata yang sangat kuat. Mereka sangat peka pada suara yang mungkin bagi orang lain tidak berarti sama sekali. Mereka senang pada suara-suara indah, melodi yang manis, dan suara yang menyenangkan hati. Biasanya mereka merasa terganggu dengan suara nyaring seperti suara sirine, ketukan palu, atau suara kebisingan.Mereka bisa mengingat materi pelajaran dengan film mental, efek suara, musik imajiner, dan dialog-dialog. Tekhnik asosiasi semacam ini membantu tipe auditori dalam mempelajari subjek-subjek abstrak seperti struktur bahasa, pengejaan, kosa kata, bahasa asing atau aljabar dan lain-lain [25].

 3) Gaya Belajar Kinestetik (kinesthetic learning)

Gaya belajar ini biasanya disebut jugasebagai gaya belajar penggerak. Hal ini disebabkan karena anak-anak dengan gaya belajar ini senantiasa menggunakan dan memanfaatkan anggota gerak tubuhnya dalam proses pembelajaran atau dalam usaha memahami sesuatu [26]. Bagi pembelajar kinestetik, kadang-kadang membaca dan mendengarkan merupakan kegiatan yang membosankan. Instruksi-instruksi yang diberikan secara tertulis maupun lisan seringkali mudah dilupakannya. Mereka memiliki kecenderungan lebih memahami tugas-tugasnya bila mereka mencobanya [27]. Gaya belajar ini mengharuskan individu menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar dapat mengingatnya. Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tidak semua orang dapat melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar dapat terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini dapat menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tidak tahan duduk berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran. Individu yang memiliki gaya belajar ini merasa dapat belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara melihat gambar atau kata kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta. Untuk menerapkannya dalam pembelajaran, kepada siswa yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model peraga, misalnya bekerja di laboratorium atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.

Menurut De Porter & Hernacki (2004), siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki kecenderungan sebagai berikut:

  1. Berbicara dengan perlahan
  2. Menanggapi perhatian fisik
  3. Menyentuh orang untuk mendapat perhatian mereka
  4. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
  5. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
  6. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  7. Menggunakan jari sebagai petunjuk saat membaca
  8. Banyak menggunakan isyarat tubuh
  9. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
  10. Sulit mengingat peta kecuali jika dirinya pernah berada di tempat itu
  11. Kemungkinan tulisannya jelek
  12. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama

Ciri-ciri Gaya Belajar Kinestetik :

a) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak

Seseorang yang mempunyai gayabelajar kinestetik belajar dengan caramenggerakkan otot-otot motorik mereka secaraimajinatif, kreatif, mengalir, terstruktur. Merekatidak berfikir dalam uraian kata-kata, tapi mengumpulkan informasi secara intuitif. Gayabelajar ini bukanlah merupakan tipe pendengaryang baik karena mereka senang bergerak, danpikiran mereka bekerja dengan sangat baikjustru pada saat matanya tidak tertuju padalawan bicara, tetapi saat yang terbaik adalahketika ia sedang bergerak. Mereka bisa menjadipendengar yang baik saat mata mereka tidakterfokus ke satu titik atau tidak melihat ke arahlawan bicara. Memori mereka juga lebih baikjustru pada saat mereka banyak bergerak. Saat mereka bergerak mereka bisa relaks danberkonsentrasi [28].

b) Berbicara dengan perlahan

Seseorang dengan gaya belajar kinestetis bukan merupakan tipe pendengar atau pencerna kata-kata, maka bacaan tidak terlalu penting bagi mereka. Irama musik merangsang otot-otot mereka untuk bergerak mengikuti alunan musik. Dengan cara ini stress mereka berkurang dan perhatian serta motivasi mereka lebih meningkat. Walaupun seseorang dengan gaya belajar kinestetik menanggapi perhatian fisik dan banyak bergerak, namun para pelajar kinestetik ini cenderung berbicara dengan lambat. Berbeda dengan pelajar visual yang berbicara dengan kecepatan bicara yang cepat, auditori dengan kecepatan berbicara sedang, para pelajar kinestetik berbicara dengan perlahan dan pelan. Banyak juga para pelajar yang tidak senang pada penjelasan yang panjang lebar, tetapi mereka membutuhkan sesuatu yang nyata. Mereka membutuhkan seorang guru yang bisa berperan sebagai pelatih, menggunakan kata-kata kunci dan perbuatan, serta memberikan bimbingan bila mereka membutuhkannya.

c) Belajar melalui memanipulasi dan praktik

Seseorang dengan gaya belajar kinestetis sangat bangga pada prestasi,kemenangan, tantangan, dan penemuan baru. Sangat berorientasi pada tujuan, menyukai ketegangan dalam permainan, dan motivasi mereka semakin terpacu di lingkungan yang kompetitif. Mereka senang berkompetisi dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Tipe ini juga membutuhkan peralatan manipulatif, permainan yang terorganisir, materi-materi pendukung, alat olahraga, proyek ilmiah, kertas, papan tulis, komputer, instrumen musik, model, perlengkapan dan objek nyata yang bisa digerakkan [29]. Seorang anak dengan gaya belajar inidapat mempercepat proses belajar dengan caraterus bergerak meski dengan gerakan tidak terstruktur, imajinatif, dan bebas. Mereka hanya ingin menggerakkan badan dan otot ketika belajar. Mereka menghafal dengan cara berjalan dan melihat, mereka juga dapat belajar diatas sepeda stasioner, mengingat pelajaran sambil lompat tali, bereksperimen atau bermain sesuatu yang kreatif.

d) Tidak dapat duduk diam untuk jangka waktu yang lama

Seseorang dengan gaya belajar kinestetik harus banyak bergerak dan tidak bisa hanya duduk diam di satu tempat. Jika terpaksa harus duduk selama berjam-jam, mereka merasa resah dan mungkin akan menggoyang-goyangkan kaki atau bahkan meninggalkan tempat duduk secara spontan. Tapi bila saja mereka diberi kesempatan untuk menggerakkan otot tubuh mereka, maka mereka bisa sangat berkonsentrasi. Karena mereka senang bergerak, maka pelajaran harus diberikan secara terstruktur dan disertai dengan gerakan-gerakan yang positif yang dapat membantu proses belajar mereka [30].

e) Banyak menggunakan isyarat tubuh

Materi yang nyata dan manipulatif sangat penting bagi seseorang dengan gaya belajar kinestetis, karena mereka dapat menggunakan keseluruhan bagian tubuh, bukan hanya menggerakkan tangan mereka saja tapi anggota tubuh yang lain. Bagi para siswa dengan gaya belajar kinestetis ini mendengarkan guru atau penjelasan verbal saja tidak akan cukup bagi mereka. Mereka akan lebihmemahami materi pelajaran jika diberi penjelasan sekaligus dipraktikkan di depan kelas [31]. Untuk mempermudah membaca, seorang dengan gaya belajar visual ini harus terlibat secara langsung dengan bacaan tersebut dengan cara mempraktikkannya secara fisik atau sekedar membayangkan sedang melakukan seperti apa yang tertulis di buku tersebut. Banyak juga dari orang-orang dengan tipe kinestetik yang menggunakan jari mereka sebagai penunjuk ketika membaca buku. Untuk mengingat materi yang ada di buku, mereka menyimpan dalam memori mereka dengan mengubahnya secara mental menjadi sebuah rangkaian film bergerak di dalam otak. Mereka akan lupa jika mereka tidak melakukannya.   Ketiga gaya belajar tersebut baik visual, auditori, maupun kinestetik merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui oleh guru, karena gaya belajar merupakan ekspresi keunikan individu yang relevan dengan pendidikan. Kaitannya dengan pengajaran di kelas, gaya belajar dapat digunakan oleh guru untuk merancang model pengajaran yang efektif sebagai upaya membantu siswa belajar untuk mencapai prestasi yang  tinggi [32].

C.Manfaat Memahami Gaya Belajar

Memahami gaya belajar adalah cara terbaik untuk memaksimalkan proses belajar di kelas. Setelah menemukan gaya belajar dan mengetahui metode terbaik untuk membantu diri sendiri dalam belajar melalui gaya itu, maka seseorang dapat berkembang dan berprestasi dengan baik di dalam kelas bahkan di mata pelajaran yang sebelumnya dianggap sulit dan tidak menyenangkan.

Gaya belajar peserta didik tidak dapat diubah namun setelah peserta didik mengerti gaya belajarnya diharapkan peserta didik dapat memaksimalkan gaya belajar yang dimiliki dengan cara belajar yang sesuai dengan gaya belajar masingmasing. Dengan memahami dan menekuni gaya belajarnya maka prestasi belajar dapat tercapai dengan mudah. Hal yang sama telah dikemukakan oleh beberapa peneliti, antara lain:

Sekali seseorang telah mengenali gaya belajar yang dimiliki, maka dapat menerapkan cara belajar yang terbaik yang sesuai dengan gaya belajar untuk memaksimalkan prestasi pendidikan. Penting untuk diingat bahwa seorang individu adalah pembelajar yang unik. Tidak ada dua orang yang persis sama dan tidak ada dua orang yang bisa belajar dengan cara yang persis sama. Ada banyak keuntungan untuk memahami gaya belajar yang dimiliki agar dalam belajar dapat memproses informasi dengan lebih efisien dan efektif.

Beberapa manfaat tersebut meliputi:

Keuntungan Akademik

  • Memaksimalkan potensi belajar
  • Berprestasi pada semua tingkat pendidikan
  • Memahami cara belajar terbaik dan bisa mendapatkan nilai lebih baik pada ujian dan tes
  • Mengatasi keterbatasan belajar di dalam kelas
  • Mengurangi frustasi dan tingkat stres siswa
  • Mengembangkan strategi belajar yang efisien dan efektif

Keuntungan Pribadi

  • Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri
  • Mempelajari cara terbaik menggunakan keunggulan otak
  • Mendapatkan wawasan kekuatan serta kelemahan diri
  • Mempelajari bagaimana menikmati belajar dengan lebih dalam
  • Mengembangkan motivasi untuk belajar
  • Mempelajari bagaimana memaksimalkan kemampuan serta keterampilan alami

Keuntungan Profesional

  • Tetap up to date mengenai topik-topik profesional
  • Unggul dalam kompetisi/persaingan
  • Mengelola tim dengan cara yang lebih efektif
  • Mempelajari bagaimana cara memberikan presentasi dengan lebih efektif
  • Meningkatkan keterampilan dalam menjual
  • Meningkatkan produktifitas

Perlu diingat bahwa tidak ada cara yang benar atau salah dalam belajar. Setiap orang adalah unik dan setiap gaya belajar menawarkan keuntungan serta kekurangan masing-masing. Memahami gaya belajar diri sendiri dapat membantu untuk belajar serta bekerja secara lebih efisien.

D.Cara Belajar yang Efektif Sesuai Gaya Belajar

Setelah mengetahui kecenderungan gaya belajar, maka terbentuklah tipe belajar diri sendiri, yaitu:

  1. visual otak kiri
  2. visual otak kanan
  3. auditori otak kiri
  4. auditori otak kanan
  5. kinestesik otak kiri
  6. kinestesik otak kanan

Berikut adalah cara belajar yang mudah, cepat, dan efektif sesuai dengan masing-masing gaya belajar :

Tipe Visual Otak Kiri

  1. mempercepat proses belajar dengan membaca dan melihat materi visual dalam bentuk bahasa, surat, kata, angka, dan membuat kontak mata dengan lawan bicara
  2. lebih mudah mempelajari dengan membaca buku dan catatan yang diberikan secara jelas dan rapi
  3. dapat belajar baik dengan diiringi musik maupun tidak, karena mereka tidak terlalu peduli dengan stimuli auditori di sekelilingnya dan juga sangat sensitif terhadap stimuli visual dan mudah terganggu bila ada gangguan visual
  4. dapat belajar dan mengingat tulisan pengucapan bahasa dan pengejaan jika materinya disajikan dalam bentuk cetak dan terlihat rapi e. sangat terjadwal dan disiplin waktu
  5. untuk mempercepat membaca, tipe ini harus mengingat detail kata dan angka yang dibaca.

Instruksi yang Sesuai Untuk Gaya Visual Otak Kiri:

  • Tipe ini hanya perlu mengingat setiap detail yang dibaca dari pada harus mencari yang tersirat
  • Meminta instruktur untuk memilih point-point yang penting dan menuliskannya di papan tulis

Tipe Visual Otak Kanan

  1. mempercepat proses belajar dengan alat bantu visual seperti grafik dan gambar
  2. adanya kontak mata dengan guru atau pengajar daripada harus mendengarkan saja
  3. diberi penjelasan secara deskriptif agar memiliki bayangan yang jelas tentang materi yang dibicarakan
  4. disediakan media, slide, video disertai dengan gambar-gambar yang menarik dan imajinatif
  5. bisa belajar baik diiringi dengan musik maupun tidak, kebisingan dan suara disekitar tidak akan menggoyahkan konsentrasi
  6. mengingat setiap objek yang mereka lihat dalam kehidupan nyata
  7. memahami bacaan dengan lebih cepat dengan membayangkan semua yang dibaca
  8. sangat tertarik pada seni rupa dan desain grafik, arsitektur.

Instruksi yang sesuai dengan Gaya Visual Otak Kanan:

  • Memberikan gambaran-gambaran sekilas dari materi yang akan dipelajari
  • Membuat gambar/alat bantu visual

Tipe Auditori Otak Kiri

  1. auditori otak kiri dapat mempecepat proses belajar dengan mendengar, berbicara dan berdiskusi
  2. menyerap makna komunikasi verbal dengan cepat
  3. mengikuti perkuliahan, pelatihan verbal
  4. menggunakan media yang sesuai seperti film, video, komputer dan lain-lain
  5. melalui teknik manual dan pedoman instruksional yang dibaca
  6. menyenangi tempat yang sunyi dan tenang untuk belajar
  7. membaca dengan suara keras, suara pelan atau membaca dalam hati

Instruksi yang sesuai dengan Gaya Auditori Otak Kiri:

  • Disajikan materi dalam bentuk auditori melalui penjelasan dan diskusi
  • Membaca materi dengan suara yang keras atau merekamnya, serta belajar berkelompok

Tipe Auditori Otak Kanan

  1. mempercepat proses belajar dengan mendengarkan musik, mendengarkan orang lain belajar
  2. merekam suara
  3. menghubungkan materi dengan irama musik
  4. menghubungkan kata dan angka-angka dengan musik
  5. tipe ini tidak peduli pada simbol dan bahasa yang abstrak
  6. berpikir intuitif, tanpa kata-kata
  7. memahami bacaan jika dibaca dengan suara keras atau membaca dalam hati
  8. mempelajari strategi yang tepat

Instruksi yang sesuai dengan Gaya Auditori Otak Kanan:

  • Menggunakan kalimat-kalimat yang singkat, dengan diiringi musik atau sound effect, disertai dengan contoh alur pikir, objek nyata atau demonstrasi

Tipe Kinestetik Otak Kiri

  1. menggunakan pendekatan yang terorganisir, sistematis dan bertahap yang melibatkan tubuh dan otot mereka
  2. bergerak bebas agar nyaman dan relaks dan merasa tersiksa jika duduk diam
  3. mendiskusikan atau merekam prestasi yang telah dicapai
  4. memberikan kebebasan bergerak saat mempelajari materi
  5. membuat catatan tersendiri dan menggunakan alat bantu

Tipe Kinestetik Otak Kanan

  1. belajar dengan gerakan yang tidak terstruktur, imajinatif dan bebas
  2. belajar secara “Trial and error”, eksplorasi dan mencoba menentukan hal-hal baru
  3. pengalaman yang aktif berupa simulasi
  4. memberikan contoh-contoh, buku-buku petunjuk praktek
  5. gambaran global, bahasa sensoris
  6. memberi catatan atau bahan bacaan
  7. gambar yang berhubungan dengan topik
  8. demonstrasi

 E.Memanfaatkan Gaya Belajar

Ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh seorang guru untuk membantu siswa memaksimalkan gaya belajar mereka masing-masing. Pertama, menjelaskan kepada mereka (siswa) bahwa orang belajar dengan cara yang berbeda-beda dan semua cara sama baiknya. Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri. Selanjutnya, membantu siswa agar menyadari gaya belajar masing-masing. Setelah siswa mengetahui gaya belajar mereka kemudian memberikan tips-tips sebagaimana menurut De Porter & Hernacki (2010) berikut ini:

1.Pelajar visual

Mendorong pelajar visual untuk membuat banyak simbol dan gambar dalam catatan mereka. Dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam, tabel dan  grafik akan memperdalam pemahaman mereka. Peta pikiran dapat menjadi alat yang bagus bagi pelajar visual dalam mata pelajaran apapun karena para pelajar visual belajar terbaik saat mereka mulai dengan “ gambar keseluruhan” , melakukan tinjauan umum mengenai bahan pelajaran. Membaca bahan secara sekilas, misalnya memberikan gambaran umum mengenai bahan bacaan sebelum ke perinciannya.

2.Pelajar auditori

Mendengarkan kuliah, contoh, dan cerita serta mengulang informasi adalah cara-cara utama belajar mereka. Jika guru melihat mereka kesulitan dalam memahami suatu konsep, maka membantunya dengan mengajak mereka berbicara dengan diri mereka sendiri untuk memahaminya atau mengubah fakta panjang menjadi sebuah lagu yang mudah diingat oleh siswa.

3.Pelajar kinestetik

Pelajar-pelajar ini menyukai proyek terapan. Lakon-lakon pendek dan lucu terbukti dapat membantu mereka. Para pelajar kinestetik suka belajar melalui gerakan dan paling baik menghafal informasi dengan mengasosiasikan gerakan dengan setiap fakta.

Daftar Pustaka

[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 422.

[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 23.

[3] Charles E. Skinner, Educational Psychology, (New York: Prentice-hall, 1958), hlm. 199

[4]  Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 2

[6] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 54..

[7] Paul Ginnis, Trik dan Taktik Mengajar, Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas, terj. Wasi Dewanto, (Jakarta: Macanan Jaya Cemerlang, 2008), hlm. 41.

[8] Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy: Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelarated Learning, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 141-143.

[9] Bob Samples, Revolusi Belajar untuk Anak: Panduan Belajar sambil Bermain untuk Membuka Pikiran Anak-anak Anda, terj. Rahmani Astuti, ( Bandung: Kaifa, 2002), hlm. 146.

[10] Bobbi De Porter, Quantum Learning: Unleashing the Genius in You, (New York: Dell Publishing, 1992), hlm. 112.

[11]  Bobbi De Porter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Unleashing the Genius in You, terj. Alwiyah Abdurrahman, (Bandung: Kaifa, 2013), hlm. 110-112.

[12] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara), hlm. 94.

[13] Gunawan, “Genius Learning Strategy …”, hlm. 139.

[14] Mulyono, Strategi Pembelajaran, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), hlm. 226-228.

[15] [16] Nini Subini, Rahasia Gaya Belajar Orang Besar, (Jogjakarta: Javalitera, 2001), hlm. 17.

[17]  Hariyanto dan Suyono, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 149.

[18]  Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, (Semarang: Dahara Prize, 2004), hlm. 106-109

[19] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm.

[20] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm.114-115.

[21] Robert Steinbach, Succesfull Lifelong Learning, terj. Kumala Insiwi Suryo, (Jakarta: Victory Jaya Abadi, 2002), hlm. 29.

[22] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 126-127. 23Robert Steinbach, Succesfull Life long Learning terj. Kumala Insiwi Suryo, hlm. 30.

[23] Robert Steinbach, Succesfull Life long Learning terj. Kumala Insiwi Suryo, hlm. 30.

[24]  Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 123-124.

[25]  Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 133-138.

[26] Suparman S, Gaya Mengajar yang Menyenangkan Siswa, (Jogjakarta: Pinus Book Publisher, 2010), hlm. 68-69

[27] Robert Steinbach, Succesfull Life long Learning terj. Kumala Insiwi Suryo, hlm. 31.

[28]  Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 181-186.

[29] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 176.

[30] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm 171.

[31] Ricki Linksman, Cara Belajar Cepat, hlm. 174-175.

[32] Popi Sopiatin dan Sohari Sahrani, Psikologi Belajar dalam Perspektif Islam, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 38.

 

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: