//
you're reading...
Pendidikan, Umum

TECHNOPRENUERSHIP Pada Perguruan Tinggi (Bagian Pertama “Hakikat Tecnopreneurship”)

A.Pendahuluan

1.Perbedaaan Negara Maju dengan Negara Berkembang

Ada perbedaan antara negara maju dengan negara yang belum maju maupun berkembang. Negara maju mengembangkan strategi bersaingnya melalui keunggulan teknologi yang dimilikinya. Mereka “terpaksa” mampu menguasai teknologi karena rendahnya kuantitas Sumber Daya Alamnya (SDA).

Fokus negara yang maju teknologinya adalah pada penguasaan R&D teknologi, Desain Produk, dan Pemasaran, sedangkan manufaktur yang melibatkan permasalahan buruh mereka subkontrakkan kenegara berkembang. Basis pengembangan ekonomi negara maju adalah berbasis Pengetahuan (Knowledge based Economic), sehingga mereka cenderung mencari partner –partner yang SDA nya melimpah, tetapi Knowledge – nya rendah.

Pendidikan pada negara maju ternyata mendasarkan basisnya pada kemampuan anak bangsa untuk mandiri dan berinovasi berbasiskan penciptaan teknologi sebagai keunggulan bersaingnya yang disebut dengan pendidikan berbasis enterpreneurship ataupun Technopreneurship.

2.Perbedaan antara Enterpreneurship dan Technopreneurship

Ada sedikit perbedaan antara enterpreneur dengan technopreneur, meskipun esensinya adalah sama. Seseorang disebut ” Enterpreneur Sukses ” adalah apabila secara ekonomi ia mampu memberikan nilai tambah ekonomis bagi komoditas yang dijualnya, sehingga mampu menciptakan kesejahteraan bagi dirinya.

Dengan demikian, maka mereka yang digolongkan sebagai enterpreneur sukses adalah termasuk pensuplai produk bagi kebutuhan pasar pemerintah (suplier pemerintah), pensuplai kebutuhan pasar masyarakat (pedagang), ataupun pengusaha yang bergerak di sektor jasa yang sifat persaingan pasarnya dari cenderung monopolistik hingga persaingan bebas (komoditi). Pendidikan dan keahlian bagi mereka bukanlah hal yang utama dalam mengembangkan bisnisnya, tetapi unsur jaringan, lobi, dan pemilihan demografi pasar sasaran lebih menentukan kesuksesannya.

Berbeda dengan enterpreneur diatas, maka ada enterpreneur yang mendasarkan ke ” enterpreneuran – nya ” berdasarkan keahlian yang berbasis pendidikan dan pelatihan yang didapatkannya di bangku perkuliahan ataupun percobaan pribadi. Mereka menggunakan teknologi sebagai unsur utama pengembangan produk suksesnya, bukan sekedar jaringan, lobi, dan pemilihan pasar secara demografis. Mereka ini disebut sebagai technopreneur, yaitu ” enterpreneur moderen ” yang berbasis teknologi. Inovasi dan kreativitas sangat mendominasi mereka untuk menghasilkan produk unggulan sebagai dasar dari pembangunan ekonomi bangsa berbasis pengetahuan (Knowledge Based Economic).

Webster Dictionary (2005) membedakan definisi enterpreneur dengan technopreneur dalam bidangnya yang lebih spesifik kearah teknologi tinggi. Bila enterpreneur didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan, memanajemen, dan mengambil resiko dari suatu bisnis atau suatu perusahaan, maka Webster Dictionary mendefinisikan Technopreneur sebagai seorang entrepreneur dimana bisnisnya melibatkan teknologi tinggi.

Amir Sambodo (2006) membedakan antara pelaku Usaha Kecil, Enterpreneur tradisional, dan Technopreneur dalam atribut motivasi, gaya kepemimpinan, tingkatan inovasi hingga penguasaan pasar sebagai berikut :

 

Usaha Kecil

Entrepreneur Tradisional

Technopreneur

Motivasi
  • Sumber hidup
  • Tingkat keamanan
  • Bekerja sendiri
  • Ide khusus
  • Personaliti pemilik
  • Motivasi mendominasi
  • Ide dan konsep
  • Eksploitasi kesempatan
  • Akumulasi kekayaan
  • Pola pikir revolusioner
  • Kompetisi dan resiko
  • Sukses dengan teknologi baru
  • Finansial,namaharum
Kepemilikan Pendiri/rekan bisnis
  • Saham pengendali
  • Maksimalisasi keuntungan
  • Penguasaan pasar
  • Saham kecil dari kue besar
  • Nilai perusahaan terus bertambah
Gaya Manajerial
  • Trial and error
  • Lebih personal
  • Orientasi lokal
  • Menghindari resiko
  • Arus kas stabil
  • Mengikuti pengalaman
  • Profesionalisme
  • Resiko pada manajemen
  • Pengalaman terbatas
  • Fleksibel
  • Target strategi global
  • Inovasi produk berkelanjutan
Kepemimpinan
  • Jalan hidup
  • Hubungan baik
  • Dengan contoh
  • Kolaborasi
  • Kemenangan kecil
  • Otoritas tinggi
  • Kekuatan lobi
  • Imbalan untuk Kontribusi
  • Manajemen baru
  • Perjuangan kolektif
  • Sukses masa depan visioner
  • Membagi kemajuan bisnis
  • Menghargai kontribusi dan pencapaian
Tenaga Kerja
  • Jaminan rendah
  • Kekeluargaan
  • Resiko tinggi
  • Merekrut lokal dan global
  • Kompensasi menarik
  • Mobilitas rendah
  • Multikultural kualitas tinggi
  • Berasal dari PT ternama dan lembaga riset
  • Insinyur muda tertarik IPO,M&A
  • Finansial,nam harum
R&D dan Inovasi
  • Mempertahankan bisnis
  • Pemilik bertanggung jawab
  • Siklus waktu yang lama
  • Akumulasi tekologi sangat kecil
  • Bukan Prioritas utama,kesulitan mendapatkan peneliti
  • Mengandalkan franchise, lisensi
  • Memimpin dalam riset dan inovasi, IT, Biotek global
  • Akses ke sumber teknologi
  • Bakat sangat tinggi
  • Kecepatan peluncuran produk ke pasar
Oursourcing dan Jaringan Kerja
  • Sederhana
  • Lobi bisnis langsung
  • Penting tapi sulit mendapatkan tenaga ahli
  • Kemampuan umum
  • Tidak selalu tersedia pada tingkat global
  • Pengembanganbersama tim outsourcing
  • Banyak penawaran
  • Science and techology park
Potensial Pertumbuhan
  • Siklus ekonomi
  • Stabil
  • Penetrasi nasional cepat,global lambat
  • Pemimpin pasar dalam waktu singkat dengan proteksi, monopoli,oligopoli
  • Pasar berubah dengan teknologi baru
  • Akuisisi teknologi
  • Aliansi global
  • Untuk mempertahankan pertumbuhan
Target Pasar
  • Lokal
  • Kompetisi dengan produk di pasar
  • Penekanan biaya
  • Penguasaan pasar nasional
  • Penetrasi pasar memakan waktu lama
  • Produk baru untuk pelanggan baru
  • Pasar global sejak awal
  • Jaringan science and tech. park
  • Penekanan time to market, presale dan postsale
  • Mendidik konsumen teknologi baru

Technopreneurship sudah seharusnya didorong pengembangannya oleh pemerintah. Hanya dengan bertambahnya jumlah mereka inilah, maka bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang ”berdaya saing” pada tataran persaingan global. Technopreneur tidak sekedar ”menjual” barang komoditas ataupun barang industri yang persaingan pasarnya relatif sangat ketat. Mereka menjual produk inovatif yang mampu menjadi substitusi maupun komplemen dalam kemajuan peradaban manusia.

B.Hakikat Technopreneurship

1.Kepribadian Technopreneur

McClelland mengajukan konsep need for achievement (selanjutnya disingkat N-Ach) yang diartikan sebagai virus kepribadian yang menyebabkan seseorang ingin selalu berbuat lebih baik dan terus maju, selalu berpikir untuk berbuat yang lebih baik, dan memiliki tujuan yang realistik dengan mengambil resiko yang yang benar-benar telah diperhitungkan.

Seseorang yang memiliki N-Ach tinggi biasanya lebih menyukai situasi-situasi kerja yang dapat mereka ketahui apakah akan mengalami peningkatan/kemajuan atau tidak, uang bagi mereka bukanlah tujuan. McClelland memberikan gambaran tentang hal itu sebagai berikut :

“Agaknya mengherankan bila ditinjau dari sudut teori ekonomi dan perniagaan Amerika tradisional bahwa yang mendorong enterpreneur mengadakan kegiatan bukanlah harapan untuk memperoleh keuntungan, orang yang kecil keinginannya untuk berprestasilah yang membutuhkan perangsang uang agar dapat bekerja lebih keras. Orang yang keinginan berprestasinya tinggi akan bekerja lebih keras dalam keadaan bagaimana pun, asalkan ada kesempatan untuk mencapai sesuatu. Dia tertarik kepada imbalan uang atau keuntungan terutama karena merupakan umpanbalik yang dapat mengukur pencapaian hasil dari pekerjaannya. Uang bagi enterpreneur yang sejati bukanlah sebagai perangsang berusaha, tetapi lebih merupakan ukuran keberhasilannya “ (Sumber kutipan : Krisna R. Purnomo, 1994, hal 11).

McClelland merinci karakteristik mereka yang memiliki N-Ach yang tinggi, sebagai berikut :

  • Lebih menyukai pekerjaan dengan resiko yang realistik
  • Bekerja lebih giat pada tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental
  • Tidak menjadi bekerja lebih giat dengan adanya imbalan uang
  • Ingin bekerja pada situasi yang dapat diperoleh pencapaian pribadi (personal achievement)
  • Menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yang memberikan umpan-balik yang jelas dan positif
  • Cenderung untuk berpikir ke masa depan dan memiliki pemikiran untuk jangka panjang.

Ukuran N-Ach dapat menunjukkan bagaimana jiwa enterpreneur seseorang, makin besar/ tinggi nilai N-Ach seseorang, maka akan makin besar pula bakat potensialnya untuk menjadi enterpreneur yang sukses

2.Karakter Pembentuk Technopreneur

Spirit dan karakter Technopreneur dibentuk oleh 3 (tiga) komponen utama pembentuk, yaitu Intrapersonal, Interpersonal, dan Extrapersonal. Interpersonal dan Interpersonal adalah merupakan komponen dari faktor Soft Skill, sedangkan Extrapersonal adalah berhubungan dengan kemampuan untuk mampu memberdayakan kedua komponen soft skill tersebut agar mampu diimplementasikan secara lebih meluas dampaknya.

techno-1

3.Manfaat Pengembangan Technopreneur

Singapura adalah salah satu contoh negara yang berhasil dalam membuat kebijakan menumbuhkan basis technopreneurnya. Empat puluh lima tahun yang lalu (era 1960 an), Singapura adalah negara kecil di Asia yang miskin.

Dua puluh tahun kemudian, pemerintah mulai berkampanye untuk menarik perusahaan MNC berteknologi tinggi, dengan insentif pajak, tenaga kerja terdidik, dan program infrastruktur yang mengagumkan. Dimotori oleh kebijakan investasi besar – besaran oleh pemerintah yang diambil dari tabungan pensiun wajib, proyek infrastruktur bernama ” Singapore One ” bernilai ratusan juta dollar, telah menghubungkan setiap rumah, sekolah, dan kantor ke Internet pada akhir 1999. Dan negara kecil Singapura ini telah melakukan investasi di bidang tekologi informasi di sekolah – sekolah dengan nilai yang lebih besar daripada negara manapun.

Contoh lainnya tentang pentingnya peran pemerintah dalam mendorong Technopreneurship adalah sejarah negara kecil di Eropa, yaitu Finlandia dalam membangun ekonominya yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1980 –an, industri utama dari Finlandia adalah Kertas dan Pulp. NOKIA, perusahaan terbesar dinegara itu yang bermarkas di Helsinki, waktu itu dikenal sebagai perusahaan sepatu karet.

Ketika krisis ekonomi menghantam pada tahun 1990 – an, Finlandia mengubah ” Grand Strategy ” negaranya, yaitu beralih ke teknologi tinggi untuk menyelamatkan diri. Pemerintah Finlandia menganggarkan 2,9 persen dari PDB (Produk Domestik Brutto) untuk riset dan pengembangan teknologi. Berbagai perusahaan menjalin kerjasama Internasional untuk mulai membangun industri elektronik, dan NOKIA menemukan pasar yang tak pernah jenuh berupa telepon seluler. Dalam waktu singkat, NOKIA meraup keuntungan USD 32 Milyar dalam setahun, dan keberhasilannya memicu ledakan teknologi di Finlandia.

Setelah berkembang, perusahaan ini juga berinvestasi dalam pengembangan ilmu pegetahuan di berbagai universitas di seluruh negeri, bekerjasama dengan BUMN milik pemerintah Finlandia. Kini Finlandia memiliki 400 perusahaan berteknologi tinggi. Penduduknya hanya lima juta orang, tetapi hampir separohnya menggenggam telepon seluler. Dan negara yang terkenal dengan danau dan saunanya ini juga membanggakan diri sebagai negara dengan koneksi Internet terbanyak di Eropa.

4.Kurikulum Berbasis Kompetensi Berorientasi Technopreneur

Mengingat bahwa Technopreneur adalah merupakan solusi untuk meningkatkan daya saing bangsa sebagaimana diamanatkan dalam HELTS (Higher Education Long Term Strategy), maka sudah seharusnya muatan Technopreneur ini dimasukkan dalam kurikulum Pendidikan Tinggi. Masuknya muatan Technopreneur dalam kurikulum Pendidikan Tinggi ini dapat berupa mata kuliah dengan SKS tersendiri maupun dengan penguatan berikutnya dalam bentuk “hidden curriculum” dan project akhir. Untuk mengaplikasikan muatan Technopreneur yang bersifat hidden curriculum, maka model Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah model kurikulum yang tepat untuk diimplementasikan.

Dalam KBK ini, maka unsur – unsur penunjang Technopreneur yang penting untuk dimasukkan adalah faktor – faktor soft skill yang dianggap penting bagi seseorang untuk berhasil dalam melewati fase start – up bisnis. Fase start – up bisnis dianggap sebagai fase awal yang sangat menentukan keberanian calon lulusan Perguruan Tinggi dalam mengimplementasikan spirit technopreneur yang telah diprogramkan.

Hasil survey dan benchmark yang dilakukan King Fahd University (2006) terhadap lulusannya dan lulusan Universitas di Singapura menunjukkan bahwa pendidikan membantu seseorang dalam melakukan start – up bisnis. Adapun ketrampilan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan (urutan menunjukkan prioritas) dalam melakukan start – up bisnis adalah :

  • Kemampuan Komunikasi
  • Aspek Keteknikan
  • Pembuatan Bisnis Plan
  • Ketrampilan Teknis
  • Memanajemen dan Memotivasi Orang

Dengan demikian, maka ada 2 (dua) hal faktor soft skill yang dianggap penting, yaitu Kemampuan Komunikasi dan Kemampuan Memotivasi Orang (melalui pendekatan non sistemik).

Adapun pengalaman yang membantu mereka dalam melakukan set up bisnis (urutan menunjukkan prioritas) adalah :

  • Mengikuti proyek bisnis (magang)
  • Mengikuti training
  • Public Speaking
  • Mengorganisasi Event

Hasil survey juga menunjukkan bahwa kualitas yang diperlukan untuk membantu mereka sebagai lulusan Perguruan Tinggi dalam melakukan set – up bisnis (urutan menunjukkan prioritas) adalah :

  • Team work
  • Leadership
  • Etika bisnis
  • Inovasi

Dari hasil survey diatas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor soft skill yang perlu dikembangkan dalam KBK adalah :

  • Kemampuan komunikasi, termasuk kemampuan menuliskan ide dan mempresentasikan rasionalitas dari ide tersebut secara kriteria ekonomis.
  • Kemampuan untuk memimpin, memotivasi orang lain, dan bekerjasama dalam tim yang tangguh.
  • Kemampuan untuk berinovasi dengan pola pikir yang kreatif.
  • Kemampuan memahami etika bisnis.

5.Peranan Pemerintah dan Perguruan Tinggi Dalam Mengembangkan Spirit Technopreneur.

Pemerintah sebagai regulator diharapkan mempunyai peran untuk menumbuhkan dan mendukung kultur technopreneur dalam aktivitas pemerintahan, sebagaimana yang dilakukan oleh negara Finlandia, Taiwan, dan Singapura pada contoh sebelumnya. Pemerintah dalam hal ini adalah penentu Grand Strategy tentang ”

Hendak Kemana Knowledge Based Economic (KBE) Indonesia ini akan diarahkan untuk mencapai daya saing ”. Sedangkan Perguruan Tinggi harus mampu menterjemahkan Grand Strategy tersebut kedalam Renstra dan Renop yang tepat, termasuk penciptaan kultur akademis yang mendukung berkembangnya spirit technopreneur. Sebagai contoh, kultur yang ditanamkan oleh Perguruan Tinggi di Singapore adalah :

  • Membangun pendidikan technopreneur sebagai topik yang tidak diujikan dan dikayakan sebagai aktivitas ekstra kurikuler.
  • Memasukkan proyek bisnis kedalam kurikulum, misalkan mahasiswa dilibatkan dalam proyek kajian kebijakan ekonomis pemerintah.
  • Memasukkan kriteria keteknopreneran sebagai bagian dari akreditasi (ranking) Perguruan Tinggi.
  • Mengadopsi kebijakan manajemen untuk mendorong komersialisasi Intelektual Property (IP)
  • Meningkatkan kapabilitas pengelola PT dalam memanajemen operasi internal.
  • Memilih jalur kendaraan Internasional Recognition PT yang bernilai ekonomis, dengan menyeimbangkan antara pengajaran, penelitian, dan komersialisasinya. Contohnya : Kunci ekonomi dari negara Israil ternyata berasal dari dukungan 7 (tujuh) universitas nasionalnya.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: