//
you're reading...
Umum

TECHNOPRENUERSHIP Pada Perguruan Tinggi (Bagian Ketiga “Mengembangkan Pendidikan Beroreintasi Tecnopreneurship Di Perguruan Tinggi”)

1.Mengembangkan Pendidikan Berorientasi Technopreneurship Di Perguruan Tinggi

Mengembangkan pendidikan berorientasi Technopreneur pada Pendidikan Tinggi adalah syarat mutlak untuk menciptakan daya saing bangsa. Pendidikan Technopreneur adalah merupakan bagian dari peningkatan kualifikasi Perguruan Tinggi sebagaimana konsep HELTS (Higher Education Long Term Strategy) 2003– 2010, dengan 3 (tiga) segitiga tujuan strategis, yaitu : Otonomi dan Kesehatan Organisasi untuk meningkatkan daya Saing. Otonomi adalah kemampuan Perguruan Tinggi untuk mandiri dalam menyokong kegiatannya. Apabila Perguruan Tinggi dituntut mandiri, maka seharusnya lulusannya sebagai output dari institusi yang mandiri juga harus mampu mandiri. Pilihan yang tepat untuk otonom, baik bagi institusi maupun output lulusannya, adalah dengan mengembangkan pendidikan Technopreneur.

Pendidikan berorientasi Technopreneur sangat tepat dikembangkan di Perguruan Tinggi mengingat bahwa Technopreneur berbeda dengan Enterpreneur yang bisa dikembangkan di kursus – kursus singkat. Webster Dictionary (2005) membedakan definisi teknopreneur dibandingkan enterpreneur dalam hal penggunaan teknologi tinggi. Bila enterpreneur didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan, memanajemen, dan mengambil resiko dari suatu bisnis atau suatu perusahaan, maka Teknopreneur didefinisikan sebagai seorang entrepreneur yang dalam bisnisnya melibatkan teknologi tinggi. Penggunaan teknologi tinggi yang berbasis riset inilah yang menjadi keunggulan Perguruan Tinggi untuk mengembangkan Technopreneurship.

Beberapa cuplikan kisah berikut ini diharapkan akan mampu menginspirasi kita bahwa “Pekerja yang berpengetahuan” kesempatan suksesnya lebih besar, mengingat bahwa kesuksesan bisnis akan lebih mampu dihasilkan oleh mereka yang berpengetahuan tinggi sekaligus berjiwa enterpreneur Permasalahannya sekarang adalah : ”Bagaimana Perguruan Tinggi mampu menciptakan Boenjamin – Boenjamin dan Utomo – Utomo lainnya secara lebih sistematis ?. Jawabannya adalah menciptakan Pendidikan Tinggi yang berorientasi kearah penciptaan Technopreneur secara sistematis.

Yang dimaksud cara yang sistematis adalah bahwa Perguruan Tinggi harus mampu mendesain intelektual outputnya (IO) menjadi relevan dengan kebutuhan komersial. Implikasi dari hal ini adalah bahwa “Riset di Perguruan Tinggi yang biasanya berorientasi pada pengembangan keilmuan haruslah mengarah pada riset terapan yang menarik bagi kalangan industri”.

Untuk mampu menuju kearah tersebut, maka definisi pencapaian pengakuan kualifikasi suatu Perguruan Tinggi, misalkan pengakuan Internasional, dalam Rencana Strategis (Renstra) – nya haruslah menyeimbangkan antara pengajaran, penelitian, dan komersialisasinya. Dengan cara demikian, maka dari sisi pengajaran akan selalu dikembangkan kurikulum dan materi yang merupakan kebutuhan riil dunia industri yang relatif bergerak lebih cepat karena ketatnya tingkat kompetisi, sedangkan dari sisi penelitian maka anggaran riset internal akan lebih banyak dialokasikan untuk menambah anggaran riset eksternal dari pihak yang membutuhkan hasil riset terapan. Bila kondisi tersebut dapat dicapai, maka diharapkan akan terjadi penciptaan kultur Technopreneurship.

Mengingat bahwa penciptaan kultur adalah hal mendasar yang menentukan kesuksesan dari tujuan pengembangan Technopreneur ini, maka kita bisa belajar dari strategi penciptaan kultur selain hal diatas sebagaimana yang dilakukan di Singapore sebagai berikut :

  • Membangun pendidikan teknopreneur sebagai topik yang tidak diujikan dan dikayakan sebagai aktivitas ekstra kurikuler.
  • Memasukkan proyek bisnis kedalam kurikulum, misalkan mahasiswa dilibatkan dalam proyek kajian kebijakan ekonomis pemerintah.
  • Memasukkan kriteria teknopreneur sebagai bagian dari akreditasi (ranking) Perguruan Tinggi.
  • Mengadopsi kebijakan manajemen untuk mendorong staf pengajar berkolaborasi dengan industri dan mengkomersialkan hasil – hasil penelitian Intelektual Property (IP)

Technopreneur = Enterpreneur + Teknologi

Bisnis Komersial = Hasil penemuan + Keuangan Pasar

Dengan menciptakan sistem yang mendorong institusi Perguruan Tinggi untuk mengembangkan kolaborasi dan komersialisasi, maka diharapkan akan tercipta ”mindset” Technopreneur dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, maka diharapkan kurikulum, materi pengajaran, dan penelitian dalam Perguruan Tinggi tersebut akan menghasilkan ”penemuan – penemuan” inovatif relevan dengan kebutuhan komersial dunia industri.

Apabila Technopreneur akan dijadikan mata kuliah, maka kompetensi mata kuliah seyogyanya mencakup pembangunan spirit dan pengetahuan tentang technopreneur itu sendiri. Contoh pernyataan kompetensi darisebuah mata kuliah technopreneurship adalah sebagai berikut:

Kompetensi

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, maka mahasiswa diharapkan mampu :

  • Memahami perbedaan antara entrepreneurship and Technopreneurship
  • Mengaplikasikan prinsip-prinsip dan teori enterpreneurship dan manajemen pada bisnis terpilih yang menggunakan sains dan teknologi dengan penuh empati dan arif
  • Memahami dan mengendalikan berbagai faktor yang mempengaruhi bisnis terpilih tersebut secara sistematis.
  • Membuat dan mengimplementasikan bisnis plan terpilih dengan berwawasan azas sebesar-besarnya untuk kesejahteraan manusia

Bahan Kajian :

  • Prinsip dasar Technopreneurship (Hubungan antara entrepreneurship, penciptaan lapangan kerja, and ekonomi nasional; Ciri2 Entrepreneurship; Perbedaan antara entrepreneur and technopreneur; bisnis yang berdaya saing; high tech industry; Penciptaan ide dan evaluasi potensi bisnis sesuai dengan potensi daerah (SDA, SDM))
  • Spirit Technopreneurship (konsep inovasi, paten dan aspek hukum; berani mengambil resiko; tekun, gigih; komunikatif dan kemampuan bekerjasama dengan pihak lain).
  • Strategi Bisnis dan Konsep klaster industri menuju daya saing (Sumber – sumber pendanaan; Membuat Bisnis Plan; Memulai bisnis; Struktur biaya dan konsep akuntansi; Marketing, penjualan, and hubungan pelanggan; Aspek Managemen dalam business)
  • Manajemen Stakeholders (Investors, Kompetisi, Peraturan, Pekerja, Pemberi dana, Komunitas(society), Peluang Global bagi usaha yang dikembangkan

2.Mengembangkan Ide Technopreneurship

Memilih produk yang profitable, merupakan langkah pertama dan utama bagi Technopreneur untuk menuju kesuksesan dalam mendirikan usaha baru (menghasilkan produk baru maupun produk yang inovatif). Sudah banyak contoh nyata yang telah membuktikan hal tersebut. Bahkan, Murphy 1 , setelah melakukan studi tentang keberhasilan dan kegagalan bisnis, menyimpulkan bahwa “kunci emas untuk sukses” adalah “melakukan bisnis yang tepat pada saat yang tepat”. Hal ini menunjukan bahwa penentuan jenis produk (barang maupun jasa) yang akan diproduksi haruslah “tepat” (menguntungkan/profitable) dan dihasilkan pada “saat yang tepat” (saat konsumen membutuhkan). Dengan demikian, langkah penting untuk mencapai kesuksesan telah kita pahami.

Namun demikian, ada pendapat sederhana yang menyatakan bahwa “mencapai sukses tidaklah mudah”. Hal ini terlihat dari sedikitnya ide-ide yang mampu menghasilkan kesuksesan bagi pendirian usaha baru. Bahkan, ketika suatu produk baru (misalnya produk inovasi) yang diperkenalkan oleh perusahaan yang sudah mapan pun, masih sering mengalami kegagalan. Majalah Business Week 2 , dalam suatu diskusi yang dilakukan oleh A.T. Kearney, Inc., menegaskan adanya suatu resiko ketika kita melakukan inovasi produk. Sebagian hasil diskusi tersebut adalah :

 ” Jika suatu perusahaan mengeluarkan segala kemampuan maksimalnya dalamberinovasi, maka produk baru yang dipasarkan pada pasar baru, hanya akan mempengaruhi 1 orang dari 20 orang yang ada. Hal ini mungkin disebabkan karena orang-orang di pasar baru tersebut masih menggunakan produk lama (sejenis) yang sudah sering digunakan. Jika produk lama dipasarkan di pasaryang baru, hanya akan mempengaruhi 1 orang dari 4 orang yang ada.Sedangkan apabila suatu produk baru dipasarkan pada pasar yang lama, akan mempengaruhi 1 orang dari 2 orang yang ada. Akhirnya, jika ada produk lama yang dipasarkan pada pasar yang lama, akan dapat mempengaruhi 1 orang dari 1 orang yang ada.”

Sebelum membahas metode untuk mendapatkan ide-ide usaha, mungkin kita perlu menguji beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu produk menjadi sukses dalam usaha baru yang akan kita dirikan. Persyaratan yang pertama dan terpenting adalah bahwa usaha baru tersebut haruslah mampu bersaing di pasar yang ada sehingga dapat bertahan. Kedua, berusaha mencari ide yang memenuhi kriteria-kriteria berikut ini :

a.Produk memenuhi kebutuhan yang belum terlayani.

Kriteria ini muncul karena :

  • Kebanyakan orang, tidak mengerti tentang cara pembuatan produk untuk memenuhi kebutuhan yang ada.
  • Adanya kebutuhan yang belum disadari.
  • Adanya kebutuhan yang belum muncul.

Banyak produk dan jasa yang termasuk dalam salah satu dari ketiga sebab munculnya kriteria tersebut. Sebagai contoh, kebutuhan terhadap laptop telah lama ada, meskipun mulanya sangat kecil. Namun seiring dengan kemajuan teknologi yang mempercanggihnya, kebutuhan tersebut semakin lama semakin meningkat bahkan nilai penjualan laptop tersebut melebihi estimasi produsennya. Ini terjadi karena produsen mengetahui proses pembuatannya sehingga menghasilkan laptop yang lebih canggih dan semakin ringan untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan ilmiah. Hal yang sama terjadi pula pada kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan dan kedokteran. Operasi plastik, semakin dibutuhkan ketika kita sadar akan pentingnya penampilan diri. Sebaliknya, kursi pijat otomatis, merupakan produk yang dihasilkan akibat adanya kebutuhan yang sebelumnya belum muncul di masyarakat. Kesadaran tersebut sengaja dimunculkan agar supaya muncul kebutuhan. Singkatnya, baik pengembangan produk maupun pengembangan pasar/konsumen, harus dilakukan bersamasama. Hal ini akan memunculkan profit yang besar.

b.Produk memenuhi kebutuhan pasar dimana permintaan melebihi suplai.

Hal ini berarti bahwa produk yang akan dihasilkan, harus berkompetisi dengan produk sejenis di pasar yang sama dimana produsen yang sudah ada sebelumnya tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Jadi, kita merupakan pemain baru yang akan mengisi kelangkaan barang dipasar tersebut. Meskipun demikian, sebelum mengambil keputusan untuk mendirikan usaha baru, kita harus selalu memahami dengan benar alasan terjadinya kelanggkaan barang tersebut. Jangan sampai kita mendirikan usaha baru yang disebabkan adanya kelangkaan yang bersifat jangka pendek dan temporal sehingga tidak menguntungkan dalam jangka menengah atau panjang.

c.Produk lebih unggul dari produk sejenis yang sudah ada.

Pembuatan atau pemilihan produk baru dengan pertimbangan bahwa pemilihan produk yang digunakan lebih unggul dari produk sejenis yang sudah ada dapat dilakukan dengan cara :

  • Peningkatan desain. Inovasi desain akan menghasilkan karakterisitik dan performansi yang lebih baik, dan kualitas serta keandalannya meningkat sehingga mempunyai keunggulan yang kompetitif.
  • Harga lebih murah. Kemampuan untuk menghasilkan harga yang lebih kompetitif namun masih mendatangkan profit yang diinginkan, tergantung pada keunggulan kita dalam bidang produksi, distribusi dan atau penjualannya. Keunggulan tersebut misalnya didapatkan dari biaya material, tenaga kerja, transportasi, fasilitas pajak, serta proteksi tarif dari pemerintah terutama terhadap barang impor.

Kriteria-kriteria tersebut diatas, dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk mencari dan menentukan ide usaha dan sebagai penyaringan awal sehingga menghasilkan ide usaha yang potensial.

Karena ide potensial merupakan kunci sukses, mungkin kita akan mengira hal tersebut merupakan hal yang sulit didapatkan. Bahkan ada beberapa orang yang mengklaim bahwa ide potensial tersebut hanya dapat disediakan oleh lembaga riset yang terpercaya. Ada beberapa alternatif untuk mendapatkan ide potensial.

Karger  dan Murdick mengemukakan dua pendapat kunci untuk mengidentifikasi peluang (ide usaha), yaitu :

  • Identifikasi suatu kebutuhan beserta produk yang mampu memuaskan kebutuhan tersebut, atau
  • Mencari ide produknya dan pikirkan cara mengembangkan kebutuhan yang dipenuhi produk tersebut.

Ada 2 metode untuk melakukan hal tersebut diatas :

d.Mengidentifikasi Kebutuhan

Ide usaha dapat di-stimulate (muncul) karena adanya informasi yang mengindikasikan adanya kebutuhan. Pendekatan ini membutuhkan data dan pertimbangan-pertimbangan untuk dianalisa. Kebutuhan tersebut mungkin berupa sesuatu yang mahal atau hal yang belum terpenuhi. Oleh karena itu, kita perlu melakukan hal-hal seperti dibawah ini :

1).Mempelajari industri yang sudah ada

Banyak lembaga dan literatur-literatur yang menyediakan informasi lengkap mengenai data-data perusahaan yang berkaitan dengan nama, alamat, tanggal berdiri, produk yang dihasilkan, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Informasi ini dapat kita analisa untuk mendapatkan :

  • Kebutuhan yang belum dipenuhi oleh industri lokal (misalnya produk yang tidak dihasilkan oleh perusahaan lokal). Ada banyak alasan, mengapa produk tersebut tidak dihasilkan oleh industri lokal, misalnya keharusan untuk menggunakan teknologi tinggi, bahan bakunya masih impor, dan sebagainya. Hal ini dapat dijadikan dasar bahwa alasanalasan ini telah berubah dan kita-lah orang yang pertama kali menyadarkan adanya perubahan tersebut.
  • Kebutuhan pasar tidak terpenuhi semuanya karena tingkat kebutuhan terlalu tinggi.
  • Men-support kebutuhan yang ada, misalnya: mensuplai komponen, atau peralatan pendukung. Diusahakan untuk menyuplai dengan harga dan pelayanan yang bersaing.

2).Mengkaji input dan output industri

Literatur tersebut juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mengkaji output dan input industri yang sudah ada. Peluang usaha akan muncul, jika:

  • Pengadaan material dan komponen yang ada saat ini, harus didatangkan dari jarak yang jauh, lead time (waktu tunggunya) sangat lama dan biaya transportasinya mahal
  • Komponen-komponen khusus yang umumnya digunakan bersama dan diproduksi sendiri oleh beberapa perusahaan tersebut, dapat disuplai dengan harga lebih murah oleh produsen tunggal karena pertimbangan skala ekonomi.
  • Output industri dan pertanian, merupakan kesempatan usaha yang berkaitan dengan pemrosesan lanjutan. Disamping itu limbahnya juga dapat diproses lebih lanjut sehingga menghasilkan hal-hal yang lebih berguna. Lebih jauh lagi, perubahan ekonomi dan teknologi dapat memunculkan ide bahwa sesuatu yang tak berharga dapat menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan. Berapa juta ton serbuk kayu, skrap kayu yang dapat diubah menjadi papan, kertas dan produk lainnya ?

3).Menganalisa trend populasi dan data demografi

Kebutuhan berbagai macam produk, dapat dimunculkan dari trend kelompok umur populasi tersebut. Sebagai contoh, tahun 1980-an, terjadi pertumbuhan yang sangat tinggi pada pangsa pasar anak muda seperti mainan, peralatan sekolah dsb. Sedangkan 1990-an mengarah pada peralatan dan perlengkapan home furnishing. Jadi, kita harus melakukan analisa tentang pengaruh trend pada kelompok umur tertentu yang akan mempengaruhi pasar.

4).Mempelajari dan melakukan konsultasi mengenai rencana pembangunan

Lembaga-lembaga pengembangan industri selalu membuat rencanarencana untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Mereka melakukan analisa terhadap ketersediaan dan kekurangan sumber daya serta mengidentifikasi adanya peluang usaha baru. Mereka biasanya juga telah melakukan studi kelayakan awal terhadap berbagai jenis usaha. Lembagalembaga tersebut juga siap untuk membantu dalam penyediaan informasi yang berkaitan dengan analisa teknis dan finansial, pertimbangan dalam penyusunan proposal awal, dan sumber-sumber pembiyaan usaha.

5).Mengkaji trend ekonomi

Perubahan situasi ekonomi dapat menyebabkan kebutuhan baru sehingga tersedia peluang bisnis yang lebih luas. Sebagai contoh, selama 2 (dua) dekade terakhir ini masyarakat semakin sadar akan pentingnya waktu. Akibatnya, permintaan terhadap produk-produk yang praktis dan menghemat waktu seperti rice cooker, microwave oven dsb, meningkat dengan tajam. Dimasa yang akan datang, tekanan terhadap produsen untuk menggunakan material/bahan baku yang se-efisien mungkin serta kepeduliannya terhadap lingkungan, akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena ketersediaan sumber daya alam sangatlah terbatas. Informasi mengenai trend ekonomi ini dapat diperoleh dari surat kabar, majalah bisnis dan jurnal perdagangan.

6).Analisa terhadap perubahan sosial

Secara kontinyu, setiap masyarakat akan mengalami perubahan sehingga menyebabkan terjadinya perubahan nilai-nilai sosial. Perubahan tersebut misalnya terjadi pada persepsi dan kesadaran seseorang terhadap sesuatu. Contoh nyatanya adalah kecenderungan dalam memanfaatkan waktu luang dan masa liburan. Pasar yang berkaitan dengan travelling, peralatan berkemah dan penunjang wisata lainnya akan meningkat dengan tajam.

Contoh lainnya adalah meningkatnya tindak kriminal baik dalam arti kuantitas maupun kualitas, akan mendorong peningkatan kebutuhan terhadap barang dan jasa perlindungan diri, misalnya jasa parkir, alarm, kunci pengaman, brankas logam, dan alat pengecekan keaslian uang.

7).Mengkaji pengaruh aturan baru

Suka atau tidak suka, pemerintah akan memberlakukan suatu aturan terhadap keberadaan bisnis. Hal ini dapat juga mendorong terciptanya peluang baru untuk membuka usaha. Misalnya adalah aturan yang berkaitan dengan pengendalian lingkungan, perlindungan konsumen, kesehatan, keamanan dan hak-hak tenaga kerja. Peluang usaha baru akan muncul untuk mengikuti aturan tersebut.

Melakukan identifikasi kebutuhan adalah dalam rangka untuk menentukan ide yang berkaitan dengan produk yang akan dihasilkan. Jadi harus productoriented. Kita cenderung untuk mengarahkan ide tersebut untuk memenuhi salah satu atau semua kriteria yang telah kita bahas sebelumnya. Banyak ide yang dapat kita munculkan tetapi mungkin hanya sedikit yang lolos dari penyaringan awal. Namun demikian, logikanya semakin banyak ide yang dihasilkan, kesempatan untuk mendapatkan ide yang lebih baik, akan semakin besar. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan ideide tersebut :

1). Investigasi material lokal dan sumber daya lain

Awal yang baik untuk memulai penentuan produk adalah identifikasi terhadap ketersediaan sumber daya lokal. Apabila sumber daya lokal yang ada di ekspor (keluar daerah yang jauh) untuk di proses ditempat lain maka hal ini menunjukkan bahwa daerah tersebut kehilangan nilai komoditas dan hanya mendapatkan sedikit sekali manfaat. Keuntungan yang berkaitan dengan peluang kerja dan nilai tambah yang bisa didapatkan, telah terekspor bersamaan dengan sumber daya tersebut. Mungkin kita dapat dapat memprosesnya di daerah tersebut secara lebih ekonomis. Disamping itu, jika material lokal tidak dimanfaatkan maka peluang penerapan teknologi baru untuk menghasilkan produk baru, akan hilang. Pengembangan ilmu dan teknologi akan senantiasa menciptakan peluang usaha baru. Informasi lengkap berkaitan dengan sumber daya alam dan pemanfaatannya, dapat diperoleh dari lembaga-lembaga pemerintah seperti Biro Pusat Statistik dan Departemen Perdagangan dan Industri.

2). Mengkaji peluang substitusi produk impor

Kita dapat mengumpulkan data mengenai produk-produk yang diimpor selama ini. Kemudian kita merencanakan untuk memproduksinya di dalam negeri. Dengan melakukan produksi di dalam negeri, maka keuntungan yang didapatkan, diantaranya adalah :

  • Menambah lapangan kerja
  • Menjaga agar modal tersebut tetap berada didalam negeri dan bahkan membantu untuk menghemat devisa
  • Menyediakan barang dan jasa di pasar dalam negeri
  • Meningkatkan kemampuan industri dalam negeri
  • Harganya dapat lebih murah dan biaya transportasi yang tinggi dapat dihindari.

3).Mempelajari keahlian tenaga kerja lokal

Menggunakan tenaga kerja lokal, biasanya lebih menguntungkan. Hal ini terjadi terutama jika negara atau daerah tersebut mempunyai ketersediaan dan tenaga kerja trampil yang cukup. Sebagai contoh, kita dapat memanfaatkan dan mengembangkan keahlian batik tulis. Kita tidak harus membeli mesin untuk membuat batik, namun ke-khas-an batik tulisnya yang kita tonjolkan. Hasilnya dapat tersebut di ekspor dan dijual kepada turis sehingga akan menarik dollar ke daerah tersebut.

4).Implikasi penggunaan teknologi baru

Pengembangan teknologi dapat diterapkan pada berbagai produk yang dihasilkan. Contoh konkretnya adalah pemanfaatan teknologi yang berkaitan dengan elektronika dan komputer akan menyebabkan gap antara industri besar dan kecil (yang cenderung masih manual). Peluang usaha yang muncul adalah pemanfaatan teknologi untuk mengubah produk lama menjadi produk baru yang lebih murah dan berkualitas.

5).Mempelajari daftar tentang produk industri

Dengan mempelajari daftar produk-produk industri yang ada, akan merangsang munculnya ide dan menghindari pengabaian ide produk dan inovasinya. Seperti pada penjelasan sebelumnya, banyak lembaga yang menyediakan informasi tentang hal ini, misalnya Biro Pusat Statistik (BPS), serta Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Setelah membaca daftar tersebut, kita dapat menggunakan metode yang dikemukakan Dr.Herb True untuk merangsang munculnya ide yang kreatif, yakni:

Metode

Meliputi

Memodifikasi Warna, bentuk suara, bau, gerakan
Menyusun kembali Urutan, komponen, jadwal, pola
Menggandakan Imitasi, transfer, copy
Membalik arah Dari depan ke belakang, atas ke bawah, berlawanan
Menambah Unit, aksi, harga, lebih tinggi, lebih panjang, lebih tebal
Mengurangi Miniatur, menghilangkan, memperpendek, memecah
Mengganti Isi, kekuatan, proses
Mengadaptasikan Meniru, menyesuaikan
Mengidentifikasi Kebutuhan dasar Personal, melebihi yang ada, sense, antispasi
Mengkombinasikan Paduan, unit, pencampuran, perakitan, penggabungan ide

6). Menghadiri Pameran Perdagangan dan Investasi

Asosiasi industri perdagangan biasanya selalu mempromosikan produk terbaru dan yang lebih canggih pada pemeran regional maupun tingkat nasional. Dari sini kita akan mendapatkan gambaran tentang prospek pengembangan produk dan pola trend-nya di masa sekarang dan yang akan datang.

Yang perlu diingat, ketika menentukan ide produk seperti diatas, kita juga harus memikirkan prospek dan pengembangan pasar atau kebutuhan terhadap produk tersebut.

Dengan menggunakan suatu daftar cek (checklist) yang terstruktur, maka ide usaha yang kita munculkan akan dapat dinilai prospek keberhasilannya secara lebih baik. Berikut ini adalah format checklist yang diusulkan Cliffton (1977) dalam menilai ide usaha dari segenap aspek yang dibutuhkan bagi keberhasilan implementasi dari suatu ide bisnis nantinya. Aspek – aspek yang dinilai dalam check list tersebut adalah :

Market

Ukuran market (pasar) yang ada saat ini, harus memberikan estimasi segera terjualnya produk sampai volume tertentu untuk mendukung operasi usaha. Estimasi penjualan tidak boleh didasarkan semata-mata pada estimasi jumlah konsumen potensial dan harapan kapasitas konsumsinya. Namun, dianalisis berdasar faktorfaktor yang mempengaruhi penjualan, yaitu:

  • Ukuran market (jumlah konsumen potensial)
  • Hubungan produk dengan kebutuhan
  • Kekuatan dan dominasi dalam berkompetisi
  • Hubungan harga dan kualitas dalam kaitannya dengan tingkat kompetitifnya produk
  • Persyaratan servis/pelayanan
  • Ketersediaan sistem penjualan dan distribusi
  • Usaha penjualan yang dibutuhkan
  • Kemungkinan ekspor

Potensi Pertumbuhan Pasar

Harus ada prospek pertumbuhan pasar dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi. Prospek ini dapat dilihat melalui beberapa indikator, yaitu :

  • Proyeksi peningkatan jumlah konsumen potensial
  • Proyeksi peningkatan kebutuhan
  • Peningkatan penerimaan konsumen terhadap produk
  • Pembaharuan produk
  • Tren ekonomi (yang berkaitan dengan konsumsi)
  • Tren politik atau sosial (yang berkaitan dengan konsumsi)
  • Keunggulan kompetitif

Biaya

Faktor-faktor biaya produksi dan distribusi harus tetap memberikan profit ketika suatu produk dijual pada harga yang kompetitif. Proses perbandingan peringkat seharusnya mempertimbangkan faktor-faktor yang menyebabkan biaya menjadi lebih tinggi yaitu :

  • Biaya bahan baku
  • Biaya tenaga kerja
  • Biaya distribusi (misalnya biaya transportasi, pemindahan barang yang berlebihan)
  • Biaya penjualan
  • Efisiensi proses produksi
  • Biaya pelayanan, jaminan dan komplain konsumen
  • Biaya hak patent dan lisensi

Resiko

Adalah tidak mungkin untuk melihat ke masa depan dengan kepastian dan berharap untuk menganggap resiko adalah sesuatu yang terpisah dari kewirausahaan. Namun demikian, kita tetap harus menghindarkan diri dari resiko yang tidak perlu. Faktorfaktor berikut ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memperkecil resiko, yaitu :

  • Stabilitas pasar dalam siklus ekonomi
  • Resiko teknologi
  • Kompetisi impor
  • Ukuran dan kekuatan kompetisi
  • Resiko yang berkaitan dengan kualitas dan keandalan
  • Permintaan yang dapat diprediksi
  • Biaya investasi awal
  • Kemudahan input (dalam hal suplai dan harga)
  • Aturan-aturan yang berkaitan dengan investasi dan perekonomian
  • Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan profit
  • Persyaratan penyimpanan
  • Kebutuhan musiman
  • Desain yang eksklusif

Faktor-faktor tersebut diatas dapat digunakan untuk tujuan penyaringan awal. Namun demikian, untuk perbandingan peringkat ide usaha dapat diilustrasikan dengan cara memberikan skor pada setiap faktor utama.

 

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: