//
you're reading...
Umum

GENERASI PENDOBRAK, GENERASI ENTREPRENEUR

(Dicuplik dari Buku “Menyemai Kreator Peradaban”)

oleh

Prof. Mohammad Nuh

 

Siang itu, seusai sosialisasi kurikulum 2013, kami mampir di sebuah warung ayam panggang Nayamul (Lumayan) di tengah perkampungan sawah  pinggiran kota Surabaya. Kursi makan selalu saja penuh. Satu kelompok beranjak pergi, sekelompok yang lain datang.

Di tengah lalu lalang pramusaji melayani pelanggan, seorang anak muda berkaos oblong tampak antusias membantu. Bulir keringat tampak menyatu dengan senyumnya yang renyah. Tiba-tiba ibu sang pemilik warung menepuk bahu sang anak muda dan berkata pada kami,”Pak, ini anak saya yang selalu bantu saya di sini.”“Dia juga beternak sapi. Lumayan, Pak, sekarang sudah ada 30-an sapi,”lanjutnya dengan air muka bangga dan sayang kepada putranya itu.

Selesai makan, kami pun penasaran melihat langsung area peternakan sapitersebut. Ternyata bukan sembarangan peternakan. Besar dan luas. Sebagian sapi potong, sebagian lagi sapi perah. Setelah membersihkan kotoran di kandang itu dan sambil memberi makan salah satu sapinya, anak muda itu bercerita fasih bagaimana proses mencari aneka sapi dan merawatnya. “Sapi jenis ini,” tukasnya sambil menunjuk ke yang paling gagah dan gemuk,”langka. Saya sempat keliling Jawa Timur untuk mendapatkan yang benar-benar bagus. Ini sekarang ditawar 40juta rupiah oleh pembeli.”

Kami pun kagum atas kecekatan dan ketekunan anak muda ini di tengah kian berkurangnya generasi petani dan peternak di negeri ini. Tentu saja kami ingin tahu bagaimana nasib pendidikannya. “Saya mahasiswa semester dua di Unnesa (Universitas Negeri Surabaya), Pak!”. Sontak, pak rektornya – Prof.Dr.Mukhlas Samani – yang kebetulan ikut rombongan kami, beranjak menyalaminya dan menepuk pundak anak itu bangga. “Berapa IPK-mu?” tanya Pak Rektor. “3,1, Pak!” jawabnya enteng. Kami pun menyarankan agar kotoran-kotoran sapi itu diolah menjadi biogas.

Kita merindukan sosok pemuda seperti mahasiswa ini. Selain rajin membantu oragtua dan tekun belajar, dia mengisi waktunya dengan kerja kerassebagai pengusaha muda. Lebih-lebih, sampai Februari 2013, penggangguran lulusan universitas mencapai 360 ribu orang. Sekitar 5,04 persen dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang (BPS:2013). Dia tak perlu nunggu lulus, ia menjadi generasi yang disebut-sebut Al-Quran, Tak Menyia-nyiakan kesempatan (al-Jum’ah:10).

Bertemu dengan mahasiswa itu sejatinya kita mendapatkan sebuah pesan: perhatikan nasib generasi muda. Sebab, pemuda adalah masa depan keluarga, masarakat dan bangsa, karena mereka memegang peran kunci dalam alih generasi, angkatan kerja, serta tulang punggung ekonomi bagi sebuah sitem yang menerapkan jaminan kehidupan untuk generasi tua melalui dana pensiun.

Ditengarai, para pengangguran itu karena mereka tidak memiliki kompetensi dan ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Ijazah saja tidakcukup. Perubahan dunia kerja sangat dinamis. Tugas kita semua – orangtua, guru, pengusaha, dan pemerintah – untuk berkontribusi agar menyiapkan anak-anak kita mampu menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Bangsa yang besar harus memastian bahwa generasi mudanya mampu menjawab tantangan zaman, selain juga mampu meneruskan dan melebihi capaian-capaian generasi sebelumnya.

Menarik sekali menyimak hasil penelitian sejarawan muslim klasik Ibnu Khaldun. Menurutnya, dalam 100 tahun perjalanan suatu bangsa akan lahir empat model pemuda.

  1. Pertama, generasi pendobrak. Mereka berani melakukan perubahan secara mendasar. 
  2. Kedua, generasi pembangun. Dengan segala kesederhanaan dan solitadaritas yang tulus tunduk di bawah ototiras kekuasan yang didukungnya, bekerja secara bersistem, memiliki rencana dan target yang terukur.
  3. Ketiga,   generasi penikmat. Karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasan, mereka tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Mereka berpikir bagaimana menikmati daripada bekerja untuk membangun.
  4. Keempat, generasi masa bodoh. Mereka tidak lagi memiliki hubungan emosial dengan negara. Mereka melakukan apa saja yang mereka suka tanpa memedulikan nasib negara (Mubarok, 2009).

Di Indonesia, belum mencapai 100 tahun, generasi ketiga dan keempatsudah muncul. Lihat kasus mega KKN, kerusuhan sosial, generasi hedonis, dll.

Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga dan keempat ini,kata Ibnu Khaldun, keruntuhan negara sudah di ambang pintu. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral.

Lebih jelas Ibnu Khaldun menyatakan: Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat di kalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berpikir dan mengkaji cara-cara untuk mencari nafkah, dan menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut.   Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mecuri, melanggar sumpah,dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan dimasyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik.Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya sumber daya manusia ke negara lain (braindrain),dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanisme rekrutmen yang terganggu.Semua itu bermuara pada turunnya produktivitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sitem pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan (Zarkasi, 2000).

Sesungguhnya, amatan Bapak Sosilologi Dunia itu sangat tepat kalau kita tempatkan sebagai cermin untuk kita bertindak. Untuk menghindari keruntuhan bangsa ini, kita mesti mengembangkan generasi pendobrak dan pembagun; di sisi lain,mengikis generasi penikmat dan masa bodoh. Salah satu sistem rekayasa sosial terbaik untuk mencetak generasi yang kita harapkan itu adalah pendidikan.

Para pendobrak itu adalah manusia-mansuia yang disebut entrepreneur, yaitu pribadi-pribadi yang mengininkan perubahan. Pribadi tersebut adalah mereka yang berpikiran kritis dan tidak puas dengan keadaan yang berlaku. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik, dan lebih maju. Pemikiran dan aksi mereka merupakan pioner yang berani mengambil risiko untuk suatu perubahan.

Daya nalar kritis juga mampu menempatkan diri mereka dalam perubahan zaman yang tak bisa dibendung. Nalar kritis mampu mendorong pemuda untuk mebaca tanda-tanda zaman. Mampu membaca peluang sekaligus memiliki keyakinan bahwa disetiap masalah pasti ada solusi, dan di setiap krisis pasti ada kesempatan.Nalar kritis mesti dibarengi dengan kemampuan untuk bekerja.

Di semua lini kehidupan masyarakat kita membutuhkan pemuda berjiwa entrepreneur. Mulai dari bidang seni budaya (kreasi baru), ilmu pengetahuan dan teknologi (penemuan baru), birokrasi (terobosan dalam tata kelola pemerintahan), hingga dunia bisnis. Dalam bisnis, misalnya,entrepreneurship didefinisikan sebagai proses menciptakan sesatu yang baru, yang bernilai,dengan memanfaatkan usaha dan waktu yang diperlukan dengan memperhatikan risikososial, fisik, dan keuangan, dan menerima imbalan dalam bentuk uang dan kepuasan personal dan independensi (Hisrich, 2008).

Kurikulum 2013 mendorong peserta didik berpikir kreatif yang diharapkan mejadi benih dan lahan subur tumbuhnya entrepreneurship. Kita tidak ingin tumbuhnya entrepreneurship karena kebetulan (parhazard) saja tapi melalui rekayasa sosial yang sistematis sehingga terbentuk tradisi dan budaya entrepreneurship  Tanpa tradisi dan budaya, yang terjadi adalah seleksi alam.

Kalau kita menanam seribu benih, bisa-bisa yang tumbuh hanya satu dua benih. Benih kreativitas itu hanya akan tumbuh dengan baik di lahan yang subur dan iklimnya mendukung. Jadi, upaya membentuk generasi entrepreneur itu harus terencana dan sistematis, sehingga produknya terukur dan bisa dalam skala massal.

Untuk menjadi negara dengan perekonomian kuat, Indonesia membutuhkan entrepreneur dalam jumlah besar. Tidak ada negara maju tanpa kehadiran dankontribusi dari kalangan entrepreneur. Menurut pakar entrepreneurship David Mc Clelland, suatu negara dapatdikatakan makmur apabila memiliki jumlah entrepreneur minimal 2 persen daritotal jumlah penduduk. Kita kita baru punya 0,24 persen dari jumlah penduduk.Jika jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta orang, maka negeri ini membutuhkan paling tidak 4,2 juta wirausahawan untuk mencapai jumlah minimal tersebut.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: