//
you're reading...
Metode Penelitian

ANATOMI METODE EKSPERIMEN DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN (Bagian I)

A.Pengantar

Pada dasarnya kita mengenal dua jenis eksperimen dalam bidang ilmu pengetahuan (1) eksperimen eksploratif dan (2) ekeperimen developmental.

Eksperimen eksploratif adalah eksperimen penjelajahan dengan maksud secara preliminer-eksploratif mencari problem-problem atau untuk mengembangkan hipotesis-hipotesis tentang hubungan sebab akibat suatu gejala. Eksperimen jenis ini hanya menggunakan binatang-percobaan, benda percobaan, atau orang-coba yang sedikit jumlahnya. Kegagalan eksperimen eksploratif tidak menimbulkan kerugian sebanyak kegagalan eksperimen developmental. Pada umumnya eksperimen developmental didahului oleh eksperimen eksploratif.

Eksperimen developmental adalah eksperimen pengembangan yang mempunyai kedudukan lain. Eksperimen ini dimaksudkan untuk mencari porblem atau mengembangkan hipotesis. Eksperimen developmental justru ditujukan untuk menguji, mengecek atau membuktikan hipotesis tentang hubungan sebab akibat. Ekperimen eksploratif  berguna sebagai salah satu sumber hipotesis yang akan dicek dalam eksperimen developmental ini. Sumber hipotesisnya lainnya adalah literatur dan kesan-kesan umum dari pengalaman praktik.

Dengan demikian tujuan umum dari eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari kondisi Y terhadap gejala X. Dalam bidang pendidikan, misalnya suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai pengaruh suatu tindakan pendidikan terhadap tingkah laku peserta didik atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua variasi tindakan atau pemberian kondisi yang akan dinilai pengaruhnya. Sedang yang dimaksud dengan menilai tidaklah terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan, melainkan juga menguji signifikasi (berarti tidaknya) pengaruh itu.

Untuk melaksanakan suatu eksperimen yang baik, pelaksana eksperimen sedikitnya perlu memahami pola-pola eksperimen (eksperimen design) beserta analisis statistik yang sesuai dengan masing-masing pola itu.

B.Pola Umum Eksperimen Pendidikan

  1. Masalah yang diangkat : Manakah di anatara dua macam metode mengajar Matematika yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik
  2. Tujuan : Akan menetapkan metode A ataukah metode B yang lebih jitu untuk mengembangkan pengertian dan kecakapan dalam Matematika
  3. Hipotesis : Metode A sama baiknya dengan metode B untuk mengajarkan Matematika
  4. Waktu : Jangka waktu eksperimen ditetapkan satu tahun ajaran (dua semester berjalan)
  5. Sampel : Memilih secara random 60 orang siswa dari pelajar-pelajar sekolah XYZ kelas L. Dimana 30 orang siswa ke kelas M dan 30 orang siswa ke kelas N
  6. Pengukuran Sebelum Eksperimen (Pre-Eksperimental Measurement) : Kelas P dan kelas Q diberikan tes permulaan, yaitu test matematika. Kemudian hitung mean score untuk masing-masing kelas. Mean score kelas P diberi tanda Mp dan mean score kelas Q diberi tanda Mq
  7. Tindakan (Treatment) Sebelum melakukan tindakan (treatment) lakukan pemilihan secara random kelas mana yang akan diajar dengan metode apa, misal setelah diuji metode A jatuh pada kelas P dan metode B jatuh pada kelas Q. Selama satu tahun (dua semester berjalan) kedua kelas tersebut diajarkan dengan metode yang sudah ditetapkan pada pelajaran Matematika.
  8. Pengukuran Setelah Eksperimen (Post-Eksperimental Measurement)Setelah waktu eksperimen selesai kemudian diadakan tes akhir eksperimen. Tes matematika seperti yang dahulu diberikan lagi dan dihitung nilai rata-rata (mean score) dari tiap kelas. Untuk kelas A diperoleh MpA dan untuk kelas B diperoleh MqB

C.Deskripsi Pola Analisis

1.Fase Pendahuluan

Dalam melaksanakan eksperimen, pendidik dapat menggunakan eksperimen pola-pola faktor tunggal (single variabel design). Artinya, semua faktor dijaga tetap sama kecuali treatment treatment yang hendak dibandingkan pengaruhnya. Hipotesis yang hendak diuji kebenarannya selalu berupa hipotesis observasi/Hipotesis nihil (Ho) sekiranya analisis-analisis statistik hendak digunakan. Hipotesis observasi/hipotesis nihil mengemukakan dugaan tidak ada  perbedaan pengaruh antara treatment A dengan treatment B terhadap gejala  X (pengaruh metode A dan metode B dalam kecakapan Matematika). Hipotesis itu diterima atau mungkin ditolak, tergantung hasil penilaian setelah jangka waktu eksperimen berakhir. Jika hipotesis diterima berarti tidak ada perbedaan anatara pengaruh treatment A dan treatment B terhadap gejala X. Jika hipotesis ditolak kesimpulannya adalah ada perbedaan pengaruh treatment A dibandingkan dengan pengaruh treatment B terhadap X.

Umumnya yang dijadikan yang dijadikan ukuran, kriteria, atau criterion untuk menilai ada atau tidaknya perbedaan itu adalah perbedaan mean atau Mean Differences (perbedaan rata-rata nilai matematika dari siswa yang diajar menggunakan Metode A dengan siswa yang diajar menggunakan metode B), yang diperkirakan akan timbul sebagai akibat dari perbedaan treatment. Selanjutnya untuk menilai apakah perbedaan mean itu cukup menyolok, cukup berarti atau cukup meyakinkan atau tidak, digunakan teknik statistik yang khusus dipersiapkan untuk menilai ada tidaknya perbedaan, seperti uji t-test, F-test, Chi Square dan sebagainya.

Sedangkan untuk pemilihan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, penugasan ke kelompok A dan ke kelompok B dapat dilakukan sekali jalan, yaitu dengan menyisihkan mereka melalui penomoran ganjil dan genap, misal untuk nomor urut ganjil ke kelompok A dan nomor urut genap ke kelomok B.

2.Fase Analisis

Dari pengukuran sebelum dan sesudah eksperimen, akan dapat diketahui kenaikan rata-rata yang dicapai oleh tiap-tiap kelompok. Kenaikan rata-rata ini dapat dilihat dari selisih mean pada akhir eksperimen dengan mean  pada awal eksperimen. Jika MA=MpA – Mp dan MB = MqB – Mq, dimana pengaruh treatment  A dan treatment B tidak berbeda, maka kenaikan rata-rata dalam kelompok A tidak akan berbeda dengan kenaikan rata-rata kelompok B. Dengan perkataan lain MA = MB atau MA – MB = 0. Inilah makna dari hipotesis observasi (Ho) yang hendak diuji, yaitu bahwa antara treatment A dan treatment B sama efektifnya sehingga tidak ada perbedaan kenaikan rata-rata oleh kedua perbedaan treatment.

Dalam praktiknya perbedaan kenaikan rata-rata itu selalu ada. Tetapi persoalannya adalah kenaikan itu berbeda cukup besar sehingga dianggap sebagai perbedaan yang mencolok, meyakinkan atau tidak.

Untuk menjawab persoalan tersebut adalah diadakan apa yang disebut tes signifikasi (test of significance) yang umumnya menggunakan model statistik yang dipersiapkan secara khusus diantaranya uji schefee dan t-test sebagai standar tes signifikasi.

D.Perlunya Kelompok Pembanding

Dari uraian sebelumnya kita dihadapkan pada dua macam kelompok, yaitu grup A yang dikenai treatment P dan grup B yang dikenai treatment Q. Adanya paling sedikit dua kelompok itu merupakan syarat mutlak dalam eksperimen ilmiah.

Alasan digunakan sedikitnya dua grup, dimana grup yang satu ditugaskan sebagai pembanding dan grup yang satu lagi ditugaskan sebagai grup yang dibanding dalam suatu eksperimen ilmiah adalah bahwa proses yang disebabkan oleh satu macam treatment, kita tidak pernah dapat menyatakan bahwa treatment dan proses itu menghasilkan sesuatu yang lebih baik, kurang baik, atau paling baik karena kita baru dapat menyatakan bahwa sesuatu itu lebih, kurang, atau paling jika sudah dibandingkan dengan yang lain. Dari suatu treatment kita hanya dapat menyatakan bahwa proses begini atau begitu  terjadi, dan proses begini atau begitu menimbulkan gejala yang begini atau begitu. Gejala yang begini atau begitu itu baru dapat dikatakan paling baik, lebih baik, atau kurang baik daripada gejala yang ditimbulkan oleh proses lain jika gejala yang lain itu digunakan sebagai ukuran pembanding.

Nama grup pembanding dijabarkan dari kenyataan bahwa dalam grup itulah pembanding ditempatkan. Dalam literatur berbahasa Inggris grup pembanding disebut  control group sedangkan grup eksperimen disebut experimental group.

E.Faktor-Faktor yang Perlu Dikontrol

Sebelum pelaksanaan eksperimen, ada baiknya kita menetapkan terlebih dahulu faktor-faktor, variabel-variabel, atau kondisi-kondisi yang perlu dikontrol. Setelah faktor-faktor tersebut ditetapkan, maka penyelenggaraan eksperimen harus melaksanakan pengendalian atas faktor-faktor itu sejauh mungkin. Secara umum faktor-faktor tersebut adalah :

1.Latar Belakang Kebudayaan Peserta Didik

Peserta didik harus diambil secara random dari peserta didik yang diperkirakan mempunyai latar belakang kebudayaan yang sama. Jika salah satu kelas kebanyakan terdiri dari anak-anak dari salah satu golongan kebudayaan, sedang kelas lainnya dari golongan kebudayaan yang lain lagi, maka perbedaan mean  yang diobservasi mungkin ditimbulkan oleh faktor ini, bukan dari perbedaan metode mengajarnya.

2.Jenis Kelamin

Umumnya orang berpendapat bahwa anak-anak pria lebih pandai dalam Matematika dari pada anak wanita. Terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut perlu dipersamakan perbandingan jenis kelamin dalam kedua kelas yang menggunakan metode yang berbeda itu.

3.Dasar-Dasar Matematika

Sebelum eksperimen dimulai, anak-anak dari masing-masing kelas perlu sekali untuk diseimbangkan (matched) agar tidak terjadi satu kelas terdiri dari anak-anak yang memiliki dasar-dasar matematika yang buruk.

4.Ruangan Kelas

Ruangan kelas harus dipilih sedemikian rupa, sehingga pengaruh dari panas, sinar matahari dan gangguan-gangguan luar dapat diseimbangkan.

5.Gangguan Interupsi

Perlu juga diatur sedemikian rupa sehingga kelas-kelas yang bersangkutan tidak diganggu oleh kunjungan-kunjungan, latihan-latihan, dan interupsi-interupsi lainnya. Jika interupsi-interupsi tidka dapat dihindari, sedikitnya interupsi itu diseimbangkan di antara kedua kelas itu.

6.Cara Mengajar

Metode-metode yang dicobakan harus ditetapkan lebih dahulu secara tegas dan dijalankan dengan tertib. Waktu masuk sekolah harus sama. Jika kelas yang satu masuk pagi sedang kelas lainnya masuk siang, hasil eksperimen mungkin akan dikotori oleh faktor waktu masuk sekolah ini. Lamanya pelajaran untuk tiap-tiap kelas perlu disamakan.

7.Faktor-faktor Lainnya yang Tak Terlihat

Meskipun pengontrolan faktor-faktor non eksperimen telah dilaksanakan sebaik-baiknya, namun ada faktor lain yang tidak dapat dikuasai. Beberapa siswa secara mendadak menderita sakit demam, atau beberapa lagi terjangkit penyakit lainnya, hal ini tentu mempengaruhi hasil belajar mereka. Adanya satu atau dua orang siswa yang suka mengganggu mungkin akan berpengaruh cukup besar terhadap hasil kelasa secara keseluruhan. Akan tetapi absen atau sakit adalah hal yang biasa, maka absen atau sakit harus dipandang sebagai hal yang baisa terlepas dari metode yang digunakan.

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: