//
you're reading...
Metode Penelitian

PENYUSUNAN MODEL PTK (UNTUK MEMENUHI 12 POINT KENAIKAN PANGKAT KE IV-B)

Oleh:

Drs. Ahmad Yani, M.Si.

Pendahuluan

Undang-undang No 14 tentang guru dan dosen menegaskan bahwa guru merupakan profesi yang dituntut untuk menguasai seperangkat kompetensi dan kualifikasi tertentu. Seperti dinyatakan pada bagian ketentuan umum undang-undang tersebut khususnya pasal 2 ayat (10) dinyatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sesuai dengan tuntutan di atas, undang-undang guru dan dosen juga memperjelas bahwa guru memiliki sejumlah hak yang harus dipenuhi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah yaitu (pasal 14 ayat 1):

  1. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
  2. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
  3. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
  4. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
  5. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
  6. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan;
  7. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
  8. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
  9. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
  10. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/atau
  11. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Dalam upaya memenuhi hak atas tuntutan kualifikasi di atas, dalam kenyataan masih banyak tenaga guru yang tertahan pada golongan IV-a. Berdasarkan pengamatan, mereka tertahan oleh suatu persyaratan yang katanya ”sulit” dipenuhi yaitu Karya Tulis Ilmiah (KTI). Jumlah guru yang tertahan di golongan IVa sekitar 334.184 orang dan yang lolos menembus golongan IV-b hanya 2.318 orang, di golongan IV-c hanya ada 48 orang, dan di IV-d hanya 15 orang (Depdiknas, 2006). Berdasarkan pengalaman beberapa penilai Karya Tulis Ilmiah (KTI), kelemahan guru dalam menulis KTI adalah tidak terpenuhinya kriteria APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). Dalam kata lain banyak KTI yang disusun oleh guru yang palsu (bukan buatan sendiri), menulis dengan tema tulisan yang tidak perlu, tidak ilmiah, dan tidak konsisten terhadap keahliannya.

Mengingat parahnya kondisi yang terjadi saat ini, diperlukan suatu upaya untuk membantu guru keluar dari kesulitan menulis KTI dengan suatu pelatihan dan pendampingan khusus. Dalam hal ini Dinas Pendidikan Bekasi menyelenggarakan suatu pelatihan bagi guru dalam penulisan KTI. Fokus KTI yang dilatihkan adalah tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Keunggulan PTK terletak pada jaminan keaslian, pasti perlu baik bagi guru maupun peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Selain itu dapat mempertahankan kriteria ilmiah dan pasti konsisten karena guru akan memperbaiki kegiatan pembelajaran pada matapelajarannya masing-masing.

Karya Tulis Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas

Terdapat lima macam kegiatan pengembangan profesi, salah satunya adalah membuat Karya Tulis IImIah (KTI). Karya Tulis Ilmiah pada dasarnya merupakan laporan tertulis tentang suatu kegiatan ilmiah. Bila seorang guru menulis KTI (dengan benar) maka kepadanya diberikan penghargaan, berupa angka kredit yang dapat dipakai untuk memenuhi persyaratan dalam usulan kenaikan pangkat/jabatannya. Besarnya angka kredit KTI berbeda-beda tergantung pada macam dan Iingkup publikasinya. Berdasar aturan yang berlaku, KTI yang berangka kredit tertinggi (12,5 angka kredit) adalah KTI hasil penelitian perorangan dalam bentuk tulisan makalah nilai angka kreditnya cukup tinggi yaitu 4,0.

Salah satu bentuk KTI yang akhir-akhir ini banyak dilakukan olen para guru adalah KTI hasil penelitian perorangan yang tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah. KTI jenis ini mempunyal nilai angka kredit 4 (empat). KTI yang berupa laporan hasil penelitian tersebut cenderung diminati dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan profesi guru di antaranya karena para guru makin memahami bahwa salah satu tujuan kegiatan pengembangan profesi, adalah dilakukannya kegiatan nyata di kelasnya yang ditujukan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajarannya. Bagi sebagian besar guru, melakukan kegiatan seperti itu, sudah terbiasa dilakukan dengan motiviasi yang tinggi karena memiliki nilai angka kredit yang cukup signifikan untuk kenaikan pangkatnya. Adapun KTI dari jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kurang banyak diminati karena secara metodologis belum diketahui oleh para guru.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada dasarnya sebuah upaya perbaikan proses pembelajaran sesegera mungkin ketika menghadapi persoalan di dalam kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian perbaikan berdasarkan hasil refleksi oleh pelaku tindakan. Prosedurnya berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yaitu merencanakan (plan), melakukan tindakan (action), mengamati (observation), merefleksi (reflective).

Siklus yang akan dilakukan dapat dilakukan satu putara, dua, dan seterusnya. Setelah siklus pertama dilalui maka dimulai lagi dengan siklus kedua yang dimulai dari rencana kedua sebagai perbaikan dari rencana pertama sampai pada tahapan reflective. Jika siklus kedua telah dilalui maka direncanakan perbaikan kembali untuk siklus ketiga. Pada akhir siklus ketiga diharapkan permasalahan yang dihadapi dapat diatasi dan dengan hasil yang lebih efektif.

PTK-Siklus

Karakteristik PTK yang membedakan dengan penelitian lainnya adalah:

  • An Inquiry on Practice from Within. Artinya dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam melaksanakan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola probram pembelajaran di kelas
  • A Collaborative Effort Between School Teachers and teacher Education. Peneliti melakukan kolaboratif dengan guru yang kelasnya dijadikan kancah PTK.
  • A Reflective Practice, Made Public. Guru yang melakukan kolaborasi dalam PTK mengemban peran ganda: sebagai praktisi yang melaksanakan tugasnya sehari-hari dan sekaligus secara sistematis meneliti praksisnya sendiri.

Prinsip pelaksanaan PTK:

  1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang diterapkan, seyogyanya tidak berdampak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
  2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran
  3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara cukup menyakinkan.
  4. Masalah penelitian yang diteliti cukup merisaukan
  5. Guru harus bersifat konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
  6. Permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.
  7. PTK dilaksanakan demi perbaikan dan/atau peningkatan praktek pembelajaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya “melekat” pada penunaian misi profesional kependidikan yang diemban oleh guru.

Bagaimana agar PTK dapat memperoleh 12 point

Kita mengetahui bahwa jumlah angka kredit untuk kenaikan pangkat hanya 12 point. Jika guru mampu menulis buku yang diedarkan secara nasional berapapun tebalnya sudah cukup naik pangkat 12,5 point. Berikut adalah tabel angka kredit:

TABEL 1 DESKRIPSI PUBLIKASI GURU DAN ANGKA KREDITNYA

PTK-Macam KTI dan Publikasinya

Untuk memperoleh sejumlah angka di atas, guru bersama MGMP dapat menempuh rangkaian kegiatan sebagai berikut:

A. Pelatihan (untuk memperoleh sertifikat)

Pelatihan merupakan kegiatan awal untuk pembinaan guru agar dapat menulis PTK. Waktu pelatihan 3 hari dengan materi pelatihan sebagai berikut:

  1. Inovasi pembelajaran
  2. KTI dan PTK
  3. Cara merancang PTK
  4. Masalah yang dapat diangkat dalam PTK
  5. Metode Penelitian Tindakan Kelas
  6. Penyusunan Laporan Penelitian
  7. Penulisan artikel jurnal

B. Pelaksanaan PTK

Melaksanakan PTK dengan produk laporan PTK. Biasanya akan dihargai sebagai penulisan makalah yang memiliki nilai 4 point. Jika guru mampu melaksanakan 3 kali PTK maka akan berjumlah 12 point.

Untuk melaksanakan PTK, mungkin guru perlu pendampingan. Pendampingan ditujukan untuk mendampingi guru dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendampingan dilaksanakan oleh dosen, widyaiswara, atau guru inti yang berpengalaman dalam menyelenggarakan PTK. Bentuk pendampingan meliputi:

  • pelaksanaan PTK dalam bentuk memberi masukan terhadap rencana atau skenario pembelajaran terutama dalam tahapan refleksi.
  • penulisan laporan penelitian. Bentuk pendampingannya adalah memberi arahan cara-cara penulisan laporan penelitian.
  • penulisan artikel. Bentuk pendampingannya berupa arahan tentang tata cara penulisan artikel.

C. Melaksanakan Seminar

Seminar dilakukan untuk menampilkan hasil penelitian. Peserta membuat prasaran atau makalah berdasarkan hasil penelitian. Masukan pada saat seminar dijadikan masukan dalam menganalisis hasil temuan penelitian sebagai bahan perbaikan artikel jurnal. Untuk prasaran (makalah seminar) dapat disusun berdasarkan hasil PTK yang telah dilaksanakan, nilai atau angka kreditnya sebesar 2,5.

D. Penerbitan Jurnal

Penerbitan jurnal adalah kegiatan lanjutan setelah artikel peserta selesai disusun peserta dan diperbaiki dalam kegiatan seminar. Jurnal yang dimaksud dapat diterbitkan oleh MGMP. Tentu saja tidak bersifat mendadak, MGMP dapat merintisnya dengan cara konsultasi dengan Dinas Pendidikan setempat. Jika dapat diterbitkan maka nilainya 6 point. Sebagai gambaran, ada 3 alternatif yang dapat ditempuh guru untuk memperoleh 12 point:

PTK-Tabel Alternatif

Berdasarkan tabel di atas, yang paling ideal adalah alternatif 3 karena dengan hanya 1 kali PTK, maka laporannya dapat digunakan untuk bahan pemrasaran pada seminar PTK dan saat bersamaan dapat diterbutkan pada jurnal ilmiah.

Penutup

Semua saran di atas hanyalah gambaran umum tentang mudahnya naik pangkat dari IV-a ke IV-b. Namun demikian, jika kita berpikir hanya untuk naik pangkat ”rasa-rasanya” terlalu naif. Melaksanakan PTK bertujuan untuk pengembangan profesionalisme guru dan buka sematamata untuk naik pangkat. Jika kemudian menyusun PTK dapat naik pangkat, saya kira adalah sesatu yang logis karena pemerintah akan menghargai guru yang kreatif.

Daftar Pustaka

  • Madya, S. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Tersedia pada situs: http://www.ktionline
  • Pedoman Pelaksanaan TOT pada kegiatan pelatihan PTK dan Penulisan laporan Penelitian sebagai Karya Tulis Ilmiah dalam kegiatan Pengembangan profesi guru. Tahun 2006. Direktorat Jenderal PMPTK Depdiknas
  • Salim A. 2007. Penelitian Deskriptif Interpretatif. Tersedia pada situs: http://www.ktionline
  • Suyanto, dkk. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Makalah. Pelatihan Metodologi Penelitian untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran (PPKP) dan PTK tangal 17 – 21 April 2006. Direktorat Ketenagaan Direktorat Jnderal Pendidikan Tinggi Depdiknas.
  • Wiriaatmadja, R. 2005. Metode Penitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: