//
you're reading...
Psikologi

Perkembangan Emosi Anak Usia Dini (“Pola dan Variasi Perkembangan Emosi”)

Pola perkembangan emosi pada anak usia dini dapat diramalkan (Hurlock, 1978:210). Secara umum perkembangan emosi pada anak usia dini adalah :

“pada masa bayi, keterangsangan umum pada bayi dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana dan mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi tidak menyenangkan diwujudkan dalam bentuk tangisan dan aktivitas lain. Sebaliknya, reaksi menyenangkan terlihat dalam relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dari suara yang menyenangkan. Bentuk-bentuk emosi gembira, marah takut, dan bahagia adalah ekspresi khas yang ada pada masa bayi. Seiring bertambahnya usia anak reaksi emosi cenderung lebih dapat dibedakan, bila marah anak cenderung akan melempar barang, mengejangkan tubuh, lari menghindar, bersembunyi. Adapun reaksi menyenangkan biasanya ditampakkan anak melalui kegiatan melompat, tertawa, dan reaksi spontan yang lain. Dengan bertambahnya kemampuan bahasa anak, maka anak akan cenderung mampu mengungkapkan perasaan anak sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak.”

Desmita (2005:16), menjelaskan pola perkembangan emosi anak dimulai sejak anak berada dalam kandungan (prenatal). Dan setelah lahir pola perkembangan emosi disertai dengan:

1.Perkembangan Temperamen

Temperamen merupakan salah satu dimensi psikologis yang berhubungan dengan aktivitas fisik dan emosional serta merespons. Secara sederhana temperamen dapat diartikan sebagai perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta pengaturan diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relatif stabil dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi, yang dipengaruhi oleh interaksi antara pembawaan, kematangan, dan pengalaman. Konsistensi temperamen ini dibentuk oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman terutama pola pengasuhan orang tua.

2.Perkembangan Kedekatan (attachment)

Menurut Herbert (dalam Desmita, 2005:120) attachment diartikan sebagai ikatan antara dua individu atau lebih, sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dan spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu. Adapun Seifrt dan Hoffnung (dalam Desmita, 2005:122), menjelaskan attachment sebagai hubungan timbal balik yang sama kuat antara ibu dan anak, walaupun satu sama lain berbeda dalam memenuhi kebutuhan kedekatan fisik dan emosionalnya.

Attachment  atau kedekatan ini muncul karena adanya hubungan fisik antara anak dan orang tua atau anggota keluarga. Rasa kedekatan ini terbagi menjadi dua yaitu : kedekatan yang aman (secure attachment) dan keterkaitan yang tidak aman (insecure attachment)

3.Perkembangan Rasa Percaya Diri (trust)

Pada perkembangan anak mengalami rasa percaya diri dan rasa tidak percaya. Rasa percaya akan cenderung memunculkan rasa aman dan percaya diri pada anak. Begitupun rasa tidak percaya akan berakibat pada rasa tidak aman dan ketidakpercayaan diri anak.

4.Perkembangan Otonomi

Menurut otonomi (dalam Desmita, 2005:125), merujuk perkembangan otonomi sebagia kekebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang dapat memerintah, menguasai, dan menentukan dirinya sendiri. Adapun menurut Erikson (dalam Desmita, 2005:126), otonomi atau kemandirian merupakan tahap kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi berkembang sesuai dengan perkembangan kemampuan mental dan motorik anak.

Adapun variasi emosi pada masing-masing anak berbeda-beda, perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:

  • Keadaan fisik anak. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan anak yang kurnag sehat.
  • Reaksi sosial terhadap perilaku emosional. Reaksi sosial yang tidak menyenangkan akan mengakibatkan reaksi emosi anak jarang tampak dan terwujud dibandingkan dengan apabila reaksi sosial yang diterima anak menyenangkan.
  • Kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan dengan jenis kelamin sejenis berakibat semakin seringnya pelampiasan emosi dan lebih kuat.
  • Jumlah anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga besar cenderung berpotensi menimbulkan emosi dibandingkan keluarga kecil.
  • Cara mendidik anak. Cara mendidik otoriter mendorong rasa cemas dan takut. Adapun cara mendidik permisif (serba boleh) dan demokratis emndorong berkembangnya semangat dan rasa kasih sayang.
  • Status sosial-ekonomi keluarga. Anak dengan status sosial ekonomi yang rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut  dibandingkan dengan anak yang memiliki keluarga dengan status sosial ekonomi yang tinggi.

Adapun menurut Yusuf (2005), perkembangan emosi menjadi empat fase :

a. Fase bayi ( 0 – 2 tahun )

masa bayi 0 – 2 tahun terbagi menjadi tiga kategori :

1) Usia 0 – 8 minggu

Kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi. Emosi anak sangat bertalian dengan perasaan indrawi (fisik), dengan kualitas perasaan: senang atau tidak senang. Misal: anak tidur pulas atau senyum bila anak merasa kenyang, hangat dan nyaman, serta menangis karena lapar, haus, kedinginan, atau sakit.

2) Usia 8 minggu – 1 tahun

Pada masa ini perasaan psikis sudah mulai berkembang anak merasa senang atau tersenyum bila melihat mainan yang tergantung didepan matanya. Tidak merasa senang (menangis) terhadap benda asing atau orang asing. Pada masa ini perasaan anak mengalami diferensiasi (penguaraian) yaitu dari perasaan senang jasmaniah menjadi tidak senang, marah, takut, jengkel dan terkejut.

3) Usia 1 – 3 tahun

Pada masa ini perasaan emosi anak sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda atau makhluk lain). Sejajar dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun, maka anak dapat menyatakan perasaannya dengan menggunakan bahasa dan emosi. Pada fase ini anak bersifat labil (mudah berubah) dan mudah tersulut (mudah terpengaruh tetapi tidak lama).

b. Fase Prasekolah (4-6 tahun)

Pada usia anak mulai menyadari dirinya, bahwa dirinya berbeda dengan bukan dirinya (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari pengalaman, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain. Anak menyadari bahwa kenginannya berhadapan dengan keinginan orang lain, sehingga orang lain tidak selamanya memenuhi keinginannnya. Bersamaan dengan itu, berkembang pula perasaan harga diri yang menuntut pengakuan dari lingkungannya. Jika lingkungannya (terutama orang tuanya) tidak mengakui harga diri anak, seperti memperlakukan anak secara keras atau kurang menyayangi maka pada diri anak akan muncul sikap keras kepala/menentang, menyerah jadi penurut yang diliputi kurangnya rasa percaya diri dan sifat pemalu.

c. Fase anak sekolah (sekoah dasar 6 – 12 tahun)

Masa ramaja adalah masa puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pada masa remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial. Emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung/marah atau mudah sedih/murung)

d. Fase Dewasa

Fase ini adlaah fase dimana seseorang sudah harus mampu mengenali perasaan yang ada pada dirinya, dan tahu  bagaimana harus melampiaskan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola dan variasi perkembangan pada masing-masing anak berbeda-beda tergantung pada faktor yang memengaruhi, diantaranya :

  1. Keadaan fisik anak
  2. Reaksi sosial terhadap perilaku emosional
  3. Kondisi leingkungan
  4. Jumlah anggota keluarga
  5. Cara mendidik anak
  6. Status sosial-ekonomi keluarga

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: