//
you're reading...
Pendidikan

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERIKANAN (Perencanan, Pembangunan dan Pengembangan Perikanan Budidaya)

A.  Perencanaan Sistim Informasi Managemen Perikanan Budidaya.

Perencanaan Sistim Information Managemen  Perikanan Budidaya (Aquaculture Information System Planning)  meliputi :

  • bagaimana menerapkan ilmu pengetahuan tentang sistim informasi kedalam suatu organisasi atau sub-sektor perikanan budidaya,
  • sistim informasi perikanan budidaya yang dibentuk sesuai kebutuhan organisasi/kegiatan perikanan budidaya,
  • untuk menerapkan sistim yang efektif dan efisien diperlukan “perencanaan, pelaksanaan, pengaturan, dan evaluasi sesuai dengan keinginan masing-masing organisasi”

Perencanaan sistim informasi perikanan budidaya berbasis sistim dilakukan melalui pendekatan  :   terintergrasi,  penyelarasan,  upaya terarah, efisien, konsisten, efektivitas. 

Perencanaan sistim informasi berbasis sistim harus berisikan  : element , any identifiable entity;  pattern (pola), any relationship of two or more elements; object , a pattern as it exists at a given moment in time;  event, a change in a pattern over time; systems, any pattern whose elements are related in a sufficiently regular way to justify attention;  acting system , a pattern where two or more element interact; component , any interacting element in an acting system; Interaction, a situation where a change ini one component induces a change in another component; mutual interaction, a situation where a change ini one component induces a change in another component, which then induces a change in the original component;  pattern system, is a pattern where two or more element are interdependent; interdependent , a situation where a change in an element induces a change in other element.

Perencanaan Sistim Informasi Perikanan Budidaya berbasis sistim harus mengikuti karakteristik sistim seperti yang dikemukakan  Pidwy, (2006) yaitu :

  • Systems have a structure that is defined by its parts and process,
  • Systems are generalizations of reality,
  • Systems tend to function in the same way. This involves the input and output of matterial (energy and/or matter) that is then processed causing it to change in some way
  • The various parts of a system have functional as well as structural relationship between each other
  • The fact that functional relationship exist between the parts suggest the flow and transfer of some type of energy and/or matter.
  • Systems often exchange energy and/or matter beyond their defined boundry with the outside environment, and other systems, through various input,
  • Functional relationship can only occur because the presence of a driving force,
  • The parts that make up a system show some degree of integration in other words the the parts work well together

Perencanaan Sistim Informasi perikanan budidaya sama seperti perencanaan sistim informasi lainnya yaitu melalui tingkatan (Sutabri, 2003) sebagai berikut  :

  • Ide, diawali dari ditemukannya/dikemukakannya ide tentang perlunya melakukan perubahan untuk mengefektifkan/mengefisiensikan kegiatan atau organisasi.
  • Design , melakukan desain/merancang sistim informasi yang diinginkan , atau merancang perubahan pada sistim informasi yang telah ada,
  • Do,  menerapkan desain ke dalam sistim informasi,
  • Control,  melakukan pemantauan pelaksanaan apa telah sesuai dengan sistim,
  • Evaluation, apa terjadi perubahan sesuai tujuan,
  • Action, melaksanakan

B.  Desain Sistim Informasi Managemen Perikanan Budidaya.

Seperti yang telah diuraikan pada modul V bahwa System design adalah proses untuk menentukan bangunan (architecture), komponen (components), modul (moduls), penghubung (interfaces), dan data untuk memenuhi kebutuhan khusus yang diinginkan.  Desain sistim informasi perikanan budidaya dapat menggunakan berbagai macam tipe desain antara lain :

  • Logical design. The logical design of a system pertains to an abstract representation of the data flows, input and output of the system ( berhubungan dengan penampilan ringkasan aliran data, data masukan dan keluaran dari sistim), biasanya dilakukan melalui modelling, penggunaan over – abstract (model grafik) dari sistim aktual,
  • Physical design. The physical design related to the actual input and output processes of the system yang mengcakup :bagaimana data adalah input suatu sistim, bagaimana diverifikasi/keautentikan, bagaimana data diproses,  bagaimana menyajikannya sebagai output   

C. Pembangunan dan Pengembangan Sistim Informasi Perikanan Budidaya

1.  Metodologi Pembanganunan Sistim Informasi Perikanan Budidaya.   

Metodologi pembangunan dan pengembangan sistim informasi managemen dapat diklasifikan ke dalam kelompok yaitu :1) Functional Decomposition Methodologies,  2)  Data Oriented Methodologies , 3) Prescriptive Methodologies, 4) Rapid Application Development (RAD),   5) Joint Application Design (JAD), 6)  Structured Design (SD), 7)  Agile development (AG),8)  Manufacturing System Design Decomposistion, 9)  System Development Life Cycle (SDLC),

2.  Tahapan Pembangunan Sistim Informasi Managemen.

Pembangunan sistim informasi perikanan budidaya dapat dilakukan dengan menggunakan metoda  System Development Life Cycle”.

Metoda ini terdiri atas beberapa tahapan yang harus dilakukan di dalam membangun sistim informasi sebagai berikut :

  • Tahap I, Problems definition : yaitu bahwa dalam menerima permintaan dari pengguna (perusahaan perikanan budidaya atau institusi/organisasi yang bertugas dalam pengembangan budidaya perikanan) untuk pengembangan sistim informasi,  maka tim pengembangan sistim informasi  harus melakukan  suatu investigasi  untuk mengetahui tingkatan masalah yang akan diselesaikan. Luaran dari kegiatan tahap I,  Problem statement,
  • Tahap II, Feasibility study : kegiatan ini dilakukan untuk memperjelas cakupan dan tujuan dari pembangunan sistim informasi dan mengidentifikasi solusi alternatif terhadap masalah yang akan diselesaikan. Luaran dari kegiatan tahap II adalah Feasibility report (laporan kelayakan),
  • Tahap III, Systems analysis phase : kegiatan pada tahap III ialah melakukan investigasi pada sistim yang sedang berjalan (kalau ada) dan dokumentasi spesifikasinya.  Tahapan ini seharusnya  memberikan kepada pembuat sistim informasi pemahaman tentang bagaimana sistim sekarang berjalan dan bagaimana hasil kerjanya. Luaran dari tahap III ialah  spesifikasi sistim saat ini,
  • Tahap IV, Systems design phase : berdasarkan spesifikasi sistim yang sedang berjalan pembuat sistim informasi dapat menentukan perubahan apa yang diperlukan untuk memasukkan kebutuhan pengguna yang tidak dijumpai pada sistim yang sedang berjalan.  Keluaran dari tahapan ini akan terdiri dari spesifikasi yang akan menjelaskan secara  baik apa yang akan dilakukan pada sistim baru dan bagaimana sistim baru akan bekerja.  Luaran, spesifikasi sistim yang diusulkan,
  • Tahap V, Systems construction :  mencanangkan sistim informasi baru dan pengembangan dokumen untuk pengguna, termasuk program-program aplikasinya.  Luaran : program, dokumentasinya, dan manual untuk pengguna,
  • Tahap VI, System testing and evaluation : kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini meliputi pengecekan, verifikasi, dan validasi sistim yang dibangun.  Luaran, hasil evaluasi dan pengecekan, dan sistim informasi siap diberikan kepada pengguna/klien.  Gambar 1 mengilustrasikan tahapan pembangunan suatu sistim informasi perikanan budidaya.

3.  Specification of System Information

Penggunaan metoda pengembangan SDLC untuk membangun sistim informasi perikanan budidaya,  memungkinkan untuk melakukan spesifikasi  terhadap sistim informasi  yang akan dibuat, di mana  spesifikasi berguna sebagai “benchmarks” dalam melakukan evaluasi apakah implementasi sistim telah sesuai desain, dan juga dapat berfungsi sebagai “quality assurance” melalui verifikasi dan validasi.  Spesifikasi dari suatu sistim informasi ditentukan  oleh : Strucrture : bagaimana pengorganisasiannya,  Function : apa dapat berfungsi, Behavior : bagaimana respon terhadap suatu kejadian, Data : arti dan pengorganisasiannya.   Spesifikasi dapat juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara orang-orang yang berbeda dalam tim pembangunan sistim informasi perikanan budidaya.

4.  Penentuan Goal dan Objectives  Sistim Informasi Perikanan Budidaya.

PenentuanGoal dan objectives sistim informasi perikanan budidaya dapat menggunakan superset dari kata SMART yaitu : Specific (spesifik), Measurable (terukur), Attainable (dapat dicapai), Acceptable (dapat diterima) , Action Oriented (berorientasi aksi), Realistic (realistis), Tangible (terjangkau), Time Stamped  dan, Time Framed. Contoh goal dan objectives sistim informasi perikanan budidaya :

  • Pembuatan SIM  kesesuaian lahan budidaya tambak di Kabupaten A,
  • Pembuatan SIM  kesesuaian lahan budidaya di perairan Kabupaten B,
  • Pembuatan SIM  kesesuaian budidaya model pen di danau Tempe,

5.Pemilihan Metodologi Pengembangan Sistim Informasi Perikanan Budidaya.

Pemilihan metodologi pengembangan sistim informasi bukan hal mudah dilakukan, karena dari berbagai metodologi yang ada masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.  Beberapa organisasi telah memiliki nilai standar untuk membantu memilih salah satu dari metoda pengembangan yang ada.          Beberapa hal yang dapat mempengaruhi pemilihan metodologi pengembangan disajikan pada Tabel 1.

D.  Penilaian Kualitas Suatu Sistim Informasi.

Penilaian kualitas suatu sistim informasi perikanan budidaya dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh Zhu dan Gauch (2000), yaitu  “Tangible Assessment Method”  dengan menggunakan enam indikator peniliaian sebagai berikut :

  1. Apakah sistim informasi perikanan budiadaya yang ada menyajikan informasi terbaru, kapan terakhir diperbaharui, atau apakah selalu ada upaya menyajikan informasi terbaru,
  2. Apakah sistim informasi perikanan budidaya yang ada memiliki nilai ketersedian yang tinggi (dipakai indikator permintaan akan informasi gagal (broken links) dibagi dengan jumlah permintaan.
  3. Apakah jumlah dokumen dalam sistim informasi selalu bertambah (Information-to-noise ratio, jumlah dokumen awal dibandingkan dengan jumlah dokumen akhir),
  4. Apakah autoritas sistim informasi sangat baik .(Authorithy,  ini didasarkan pada Yahoo Internet Life (YIL) review, biasanya diberi skore 2 – 4 pada site yang direview) , 
  5. Apakah sistiim informasi perikanan budidaya yang ada sangat populer (Popularity,  kepopuleran web diukur dengan menggunakan jumlah keinginan yang ditujukan ke web tersebut) .
  6. Apakah kedekatan topik utama dalam sistim informasi perikanan budidaya yang ada cukup baik.

Cara lain yang dapat dipergunakan untuk menilai kualitas informasi suatu sistim informasi adalah seperti yang dikemukakan oleh  Naunman dan Rolker (2000).  Metoda ini menggunakan tiga pendekatan untuk menilai kualitas sistim informasi yaitu : subject, object dan process yang terlibat dalam information retrieval, di mana model evaluasi ini didasarkan pada dua assumsi yaitu :

  • Quality information is influenced by three factors,  bahwa kualitas suatu informasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : perception of the user, information its self, dan process of assessing the information.
  • Information retrieval process involves the entities : user, informations, retrieval system,

 

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: