//
you're reading...
Pendidikan

Suatu Pengantar “Pendidikan Pengenalan Intelijen” (Bag. XV “Mekanisme Kegiatan Intelijen : “Intelligence Cycle”)

A. Tahap Pengarahan

Proses kegiatan intelijen merupakan sebuah siklus lingkaran intelijen yang berputar, yang pada intinya meliputi rangkaian usaha yang saling bersambung berurutan, melewati fase-fase atau tahap-tahap :

  • Pengarahan
  • Pengumpulan
  • Pengolahan
  • Penggunaan.

Itu semua merupakan mekanisme alamiah yang berproses secara ajar dalam mengemban penyelesian suatu tugas. Urutan kegiatan dalam fase pengarahan :

  • penentuan EEI/UUK oleh sponsor atau direktur/kepala intelijen
  • pembuatan rencana penyelidikan intelijen
  • pengeluaran instruksi/perintah atau permintaan

Dari sini kegiatan itu bergerak menuju fase pengumpulan. Sedangkan apa dan bagaimana pekerjaan dari ketiga kegitan itu sudah diterangakan bagian terdahulu.

Dalam dunia intelijen bahwa semua kegiatan intelijen itu dari fase pengarahan hingga fase berikutnya adalah bentuk pengabdian dan loyalitas tugas. Sedangkan fase instruksi/perintah dan permintaan untuk mengumpulkan bahan-bhan keterangan juga berisi pelipur/penerang bagi petugas intelijn untuk bekerja kepada negaranya. Perintah pengumpulan informasi itu merupakan suatu kebaikan, yang berguna untuk mencegah kejahatan, keonaran dari golongan/kelompok masyarakat yang secara tidak sengaja atau disengaja yang berdampak langsung atau tidak langsung. Bagi orang yang berilmu intelijen, hikmah (pengetahuan) yang terkandung di dalam maksud-maksud baik intelijen itu akan cepat dimengerti. Karena hanya orang yang tajam analisa pikirannya saja yang akan mengerti hikmah (pengetahuan) intelijen itu.

B. Tahap Pengumpulan

Dalam fase pengumpulan itu, akan melibatkan dua jenis kegiatan yaitu mempelajari sumber-sumber informasi yang bisa dimanfaatkan, dan taktik-taktik yang dapat dipergunakan oleh badan pengumpul (para agent)  dalam usahanya mendekati atau mengetahui data-data sasaran  untuk memperoleh informasi. Jadi dalam fase ini terfokus pada sumber-sumber informasi dan badan pengumpul (agent).

Mengenai sumber-sumber informasi itu, secara garis besar meliputi:

  • penelitian (research)
  • hasi pendengaran
  • pengamatan
  • dateksi
  • penetrasi (penyusupan)

Kelima sumber itulah yang bisa diolah oleh para agent, dimana masing-masing bagian bisa membuat bermacam-macam cara pula, sesuai dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Diantara contoh deteksi yang berteknologi tinggi ialah dengan satelit mata-mata penginderaan jarak jauh.

Badan pengumpul adalah action agent yang dikerahkan sesuai dengan spesialisasi pendidikan kariernya. Jadi para agent bertugas sesuai dengan spesialisasi keahliannya dan diatur dalam suatu koordinasi dan saling membantu demi suksesnya tugas yang diembannya. Untuk itu kepada para agent, dalam laporannya dituntut supaya berkata dan melaporkan secara benar.

Manfaatkanlah segala sumber-sumber informasi sesuai dengan profesi masing-masing agent. Dan intiplah sasaran-sasaran yang sudah ditargetkan dan janganlah sekali-kali berkhianat kepada negara.

C. Tahap Pengolahan

Dalam tahap pengolahan terjadi rangkaian kegiatan :

  • pencatatan informasi
  • penilaian informasi
  • penafsiran informasi

ketiga bagian itu berlangsung secara sekaligus.

Pencatatan informasi yang masuk, tersusun secara kronologis dalam sebuah Buku Harian Intelijen (BHI) atau Journal Intelligence (JI).

Kolom-kolom BHI adalah :

  • tanggal terima/kirim
  • sumber informasi
  • waktu kejadian
  • isi laporan
  • penilaian
  • tindakan yang dilakukan

dari sini dipandahkan kepada item informasi yang sejenis misalnya tentang :ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, militer, agama, medan operasi darat, laut, udara dan sebagainya. Satu kumpulan hanya memuat informasi sejenis (lembaran-lembaran).

Prinsip pencatatan harus sederhana, cepat, memudahkan penialian dan bisa cepat ditemukan jika dicara lagi. Sarana pencatatan lainnya adalah peta situasi, file, lembaran harian, dan karthoteek yang khusus mencatat segala hal ikhwal tentang organisasi (parpol-ormas), personalia, surat kabar, kesatuan-kesatuan, obejk-objek vital dan lain-lainnya. Hal ini penting sekali dilakukan, karena berisi banyak sekali inormasi tentang latar belakang pendirian suatu organisasi. Oleh sebab itu karthoteek harus dibuat dan tidak boleh diabaikan. Lengkapilah karthoteek itu dengan data-data otentik berserta foto-fotonya.

Dalam administrasi intelijen, bahwa segala yang rahasia, apakah itu catatan, surat, info, atau keterangan lainnya harus disimpan tersendiri, terpisah dari segala sesuatu yang tidak bersifat rahasia. Penulisannya, penyimpanannya, agendanya harus terpisah dari surat-surat, naskah karangan dan agenda surat biasa. Dan segala yang bersifat rahasia tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, biarpun teman, istri, anak famili sekalipun. Dan memang begitulah seharusnya administrasi intelijen itu dilaksanakan.

Penilaian suatu informasi ialah penetapan kepercayaan terhadap analis-analis informasi atau sumber-sumber lainnya, serta penetapan kebenaran terhadap isi informasi dengan menggunakan neraca teknis penilaian. Dasar-dasar penilaian terhadap pertanggungjawaban dalam tugas pengukuran kadar terhadap sumber-sumber informasi serta penelitian terhadap kebenaran informasinya, tetap harus sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dengan demikian dalam bersikap harus berlaku kejujuran, tidak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan emosional yang bisa merusak pertimbangan penilaian yang sehat. Adil dalam menilai itu membutuhkan pengorbanan perasaan, sehingga terbebas dari dengki, sakit hati, ceroboh apriori, segala dendam kesumat dan kejahatan nafsu untuk membalas. Pekerjaan ini memang memerlukan tekad, ketekunan, kesabaran dan ketabahan, seraya berusaha terus agar tetap berpikir dan mendalami masalahnya dengan tenang.

Tugas penilaian ini memang berat, tetapi merupakan bentuk pengabdian kepada negara. Dengan mengetahui modus operandi (cara-caranya) itu akan banyak gunanya bagi seseorang, sebab kalau tidak demikian, malah terperosok sendiri ke dalam kejahatan dan kekejian itu, terjerumuslah ke dalam tindakan pelanggaran terhadap hukum. Seorang petugas intelijen harus memperhitungkan benar-benar apa yang dilakukannya, sebab waktu itu sangat berharga, bahkan waktu juga dapat menentukan apakah ia akan bahagia atau binasa. Jika ia gunakan untuk sesuatu yang tidak berguna dan tidak ada kepentingannya, berarti dia telah merugiakn diri sendiri, mengurangi kesempurnaan akalnya dan tak sehat cara berpikirnya. Dalam aktivitanya dalam melakukan penilaian terhadap berbagai informasi mencakup tiga masalah besar yaitu :

  1. Pertanggungjawaban seorang penilai kepada user dalam mengemban tugasnya
  2. Kualitas penilaian terhadap sumber-sumber informasi
  3. Kebenaran informasi

Penafsiaran/interpretasi adalah tugas untuk menafsirkan semua inormasi yang terkumpul, mempelajarinya, menentukan makna dan maksudnya, menghubung-hubungkan, membanding-bandingkan, menimbang-nimbang bobotnya, lalu mengambil konklusi dari keseluruhan inormasi untuk dituangkan kedalam suatu bentuk produk.

Naskah itu disajikan dalam format tertentu, berisi segala data-data dan fakta yang disusun secara lengkap, disertai pendapat, ide-ide yang berasal dari buah pikiran staf intelijen terhadap suatu persoalan yang perlu dipecahkan atau ditanggulangi dalam jangka waktu yang terikat.

Untuk keberhasilan tugas penafsiran, diperlukan sekali informasi-informasi yang tersusun dalam item-item yang sejenis menurut pembidangannya, karena pekerjaan ini memerlukan tanggapan dan pandangan yang luas dari segala segi permasalahannya. Semua persoalan harus disorot dari berbagai aspek, apa sebebnarnya yang tersirat dibalik yag tersurat, sehingga jelas duduk perkaranya. Tugas semacam itu memang berat dan sulit., tetapi bagi orang yang terlatih akan dianggap sebagai tugas rutin baisa yang tidak terlalu merepotkan.

Dalam menanggulangi suatu pekerjaan yang pada mualnya dianggap sulit, hendaknya seseorang tidak cepat putus asa, karena (nanti) Tuhan pasti memberikan jalan pemecahannya, sehingga yang semula sangat sukar dilakukan, pada saatnya akan mudah diselesaikan. Hal-hal yang demikain sudah dijamin oleh Tuhan, dan tidak usah diragukan dan tidak perlu diadakan pembuktian apapun atas jaminan Tuhan.

D. Tahap Penggunaan

Tahap penggunaan meliputi dua macam kegiatan yaitu penyebaran kegiatan intelijen dan penggunaan produk intelijen oleh user. Semua informasi yang telah diolah menjadi keterangan intelijen yang akan menjadi produk tertentu. Kemudian dengan melihat urgensinya (kepentingan dan kegunaannya), produk itu akan disampaiakan tepat pada waktunya, tepat  pada alamat yang membutuhkan, yaitu user.

Penyampaian itu bisa dalam bentuk naskah intelijen atau dalam bentuk lain. Namun untuk maksud-maksud suatu operasi, maka biasanya disampaikan dalam bentuk format Kirka Intelijen. Berdasarkan Kirka Intelijen itu, user menggunakannya untuk membuat rencana operasi bagi suatu gerakan. Sedangkan untuk pembuatan rencana  operasi harus didukung oleh hasil-hasil penyelidikan intelijen.

Hal ini tentu sudah dimaklumi semenjak generasi pertama. Sebab hasil penyelidikan intelijen itulah yang bisa memantapkan user terhadap langkah-langkah yang akan diambilnya, atau aksi manuver yang dikendalikannya.. dengan demikian jelas bahwa tidak ada ajaran ragu-ragu atau maju mundur, jika suatu urusan sudah dimusyawarahkan dan diputuskan bersama. Jika dalam suatu rapat sudah diputuskan tunggu..! , maka semua harus sabar menunggu, tak boleh seorangpun bertindak sendiri-sendiri. Jika dalam rapat sudah diputuskan teruskan..! , maka semua harus meneruskan sesuai dengan komando, tidak seorangpun boleh melarikan diri atau mengelak. Resiko dimana saja tetap ada,  namun esa hilang dua terbilang. Begitulah seharusnya dalam bertindak dibutuhkan keberanian, rasa percara diri, konsistensi dan kedisiplinan yang tinggi dan kuat.

Dikalangan intelijen petunjuk itu berarti sebuah rencana operasi (ren-ops). Sedangkan komando adalah suatu perintah operasi. Pada tahap penggunaan intelijen itu (di dalam rapat staf) akan tersimpul kebulatan tekad untuk melahirkan suatu rencana berupa petunjuk operasi, kemudian berlanjut pada komando pelaksanaan  berupa perintah untuk melakukan operasi sesuai rencana yang telah digariskan.

Pelaporan yang disampaikan di samping PK intel, juga terdapat produk-produk intelijen yang lainnya yang dibuat secara insidentil, dan secara periodik. Yang disampaikan secara insidentil antara lain ialah :

  • Laporan informasi
  • Laporan hasil penugasan
  • Laporan tanggapan
  • Laporan totalitas
  • Telaah staf
  • Nota intel dan memo
  • Estimasi intelijen

Sedangkan secara periodik antara lain :

  • Laporan harian
  • Tinjauan sepekan
  • Laporan bulanan
  • Laporan triwulan
  • Laporan tengah tahunan
  • Laporan tahunan
  • Estimasi intelijen periodik (EIP)

EIP yang dimkasud adalah estimasi untuk bidang intelijen yang dibuat setiap tahun. Secara keseluruhan, laporan pertanggungjawaban seorang petugas/seorang pejabat terhadap hasil kegiatannya, sehubungan dengan tugas dan fungsinya. Jadi bawahan yang tidak memberikan laporan harus ditindak dengan tegas, karena tidak bertanggungjawab secara hierarki.

E. Intelligence Structure

Struktur intelijen secara umum digambarkan sebagai berikut :

Untuk mencegah timbulnya simpang siur yang mengakibatkan adanya bentrokan, saling curiga, saling menghalangi dan merintangi suatu usaha dari seorang petugas intelijen (agent) dari bagain lain, maka para petugas intelijen (agent) harus mengetahuai kedudukannya masing-masing.

Pengertian Ofensive

Pengumpulan, penelitian dan pembagian atau penyebaran kerterangan-keterangan yang didapat oleh alat-alat yang langsung atau tidak langsung melalui rencana-rencana atau usaha-usaha tertentu

Pengertian Defensive (counter intelligence)

Penghancuran dari kegiatan-kegiatan organisasi-organisasi intelligence yang bersifat offfensive dari pihak lawan dengan cara pencegahan dini terhadap segala bentuk kesempatan untuk mendapatkan keterangan-keterangan atau terhadap usaha-usaha untuk menimbulkan kelemahan-kelemahan dalam organisasi kita. Defensive mempunyai dua fungsi, yaitu :

  1. Mencegah memberi kesempatan diperolehnya keterangan oleh lawan
  2. Mencegah memberi kesempatan ditimbulkannya kelemahan-kelemahan oleh pihak lawan.

F. Skema Pengolahan Inromasi

Sesuai uraian sebelumnya marilah kita tinjau proses pengolahan info secara teknis, sehingga dapat diikuti perkembangannya selangkah demi selangkah

Fase 1

Bagaimana timbulnya suatu masalah (problem)

  • Hasil pemikiran dan filsafat
  • Suatu keadaan yang berubah
  • Akibat suatu permintaan yang khusus dari pihak pemakai, mengenai info tertentu setelah timbulnya masalah tadi, maka dapat ditentukan kern informasinya.

Fase 2

Dalam fase-2, kern-info tadi dikupas dan dijadikan dasar untuk menyususn suatu rencana info. Penyusunan rencana ini sedapat mungkin disesuaikan dengan kehendak pemakai

Fase 3

Setelah adanya rencana info, maka dikumpulkanlah segala info yang ada pada kita yaitu dari :

  • Kartotheek
  • Journals
  • Worksheet
  • Situation maps
  • Sumber berita tetap

Bila ada info lain yang diperlukan, yang tidak terdapat di dalam dokumentasi tersebut, maka perlu dicatat pada secarik kertas, info apa yang masih kurang dan dari sumber berita mana dapat diperoleh info tadi.

Fase 4

Dalam tingkat ini, pengolahan info yang sesungguhnya dilakukan. Mula-mula terhadap setiap info diadakan penilaian (evaluation). Secara garis besarnya, penilaian tadi berupa:

  • Tertuju (sesuai dengan kern info)
  • Dapat dipercaya (info yang mengandung kebenaran)
  • Teliti (si pelapor dapat dipercaya)

Sebagaimana dalam penentuan tingkatan info yaitu sehat, baik dan lemah, maka penilaian terhadap info dan sumber berita, kita buatkan daftar nilai sebagai berikut :

1.Ketelitian sumber berita :

  • A = dapat dipercaya sepenuhnya
  • B = biasanya dapat dipercaya
  • C = agak dapat dipercaya
  • D = biasanya dapat dipercaya (diragukan)
  • E = tidak dapat dipercaya
  • F = kepercayaan tidak dapat dinilai

2.Ketelitian info :

  • 1 = kebenaran beritanya dikuatkan oleh sumber-sumber lain
  • 2 = beritanya mungkin benar
  • 3 = beritanya barangkali mengandung kebenaran
  • 4 = kebenaran beritanya diragukan
  • 5 = tak mungkin benar
  • 6 = kebenarannya tak dapat dinilai

Jadi bila ada info dengan nilai angka A1, maka artinya baha berita itu diperoleh dari seseorang yang kita kenal akan kejujurannya dan memang memiliki pengetahuan tentang isi berita tadi. Dan berita tadi dibenarkan oleh berita-berita yang serupa dengannya.

Bila info-info tadi telah kita beri nilai, maka kita tafsirkan isinya dengan jalan :

  • Menganalisa dengan kritis
  • Meninjau kemanfaatannya
  • Anaslisa sasaran
  • Menentukan sifat info
  • Menentukan lokasi
  • Meninjau kelemahan kita
  • Meninjau kemampuan kita
  • Mempertimbangkan kemampuan dan kelemahan lawan
  • Perbandingan kemampuan materi
  • Memperkirakan rencana lawan

Bila telah dinilai dan ditafsirkan maka dapat dibuat suatu gamabran yang kemungkinan dapat mendekati kearah pemecahan masalah tadi, gambaran ini disebut hypotese.

Fase 5

Seteah diperoleh perkiraan gambaran tadi (hypotese) maka dapat dikatakan bahwa hasil tadi merupakan kern info baru yang lebih baik dan mendekati kebenaran. Maka dalam fase-5 ini disusunlah rencana info baru dan proses semacam fase-3 berlaku lagi.

Fase 6

Dalam tingkat ini, infoyang kita perlukan dan belum ada pada kita, sebagaimana telah kita catat di atas secarik kertas, sewaktu mengerjakan fase-3, mulai kita kumpulkan. Sumber berita yang dimaksudkan adalah :

  1. Masyarakat
  2. Organisasi atasan kita, yang sejajar maupun yang ada dibawah kita
  3. Penyelidikan
  4. Informan-informan
  5. Sumber-sumber tetap berupa : a) media cetak (majalah, surat kabar, brosur); b) media elektronik (Radio, TV, internet dan lainnya); c) perpustakaan dan peta

Fase 7

Ino yang telah dikumpulkan tadi memungkinkan pemberian gambaran yang hampir benar, yang merupakan jalan ke arah pemecahan problem yang telah timbul pada fase-1. Hasil terakhir ini disebut synthese.

Fase 8

Synthese ini dijadikan bahan dasar untuk menyusun suatu naskah intelijen (intelligence summaries) yang kemudian didistribusikan kepada yang berkepentingan dan selanjutnya akan dipakai guna menjadi bahan pertimbangan dalam membuat rencana gerakan (operational planning). Sering terjadi bahwa tecapainya hasil synthese tadi menciptakan masalah-masalah (problems) baru, maka kembalilah prosesnya ke fase-1. Inilah yang disebut intelligence cycle, yaitu proses perputaran (lingkaran) yang tak ada habisnya.

Synthese dari problem intelligence yang telah menjadi naskah intelijen , dikirimkan ke user dan biasanya terdiri dari :

  1. Info dasar
  2. Perubahan sewaktu-waktu
  3. Perkiraan keadaan (kirka)

Yang perlu mendapatkan perhatian adalah, bahwa soal tersebut di atas harus disampaikan kepada yang berkepentingan tepat pada waktunya, karena info yang telambat sampai kepada yang berkepentingan sudah tidak ada harganya sama sekali. Karena itu yang berkepentingan harus selalu menetapkan jangka waktu yang maksimal untuk penerimaan naskah intelijen tadi, guna menyusun rencana operasi dan gerakan.

Naskah intelijen tadi sebelum dikirimkan, diberi nilai menurut daftar sesuai tingkatan isi dan keadaannya.

  1. Sangat Rahasia (Top Secret)
  2. Rahasia (Secret)
  3. Hanya untuk yang berkepentingan (Confidential)
  4. Terbatas (Restricted)

Selain skema yang diatas, intelligence cycle dapat digambarkan dengan cara berikut ini, namun pada dasarnya sama

 

Sebagaimana perang yang memiliki hukum dan dalil tertentu, maka begitu pula halnya dengan intelligence. Unsur pokok sebagaimana yang diuraikan yang diatas, merupakan dasar dari Doktrin Intelligence. Dari situ berkembanglah kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :

Prinsip Pemberian Petunjuk

Petunjuk-petunjuk khusus diberikan kepada bagian pengumpulan info. Tujuannya adalah supaya setiap bagian berusaha dalam batas kemampuan masing-masing, dan dapat mengatur kesatuan sikap sehingga kerjasama dalam pencarian info yang dibutuhkan oleh pimpinan dapat terjamin.

Prinsip Pengumpulan

Setiap bagian yang bertugas mengumpulkan info bertanggung jawab terhadap pengumpulan dan penyampaian info yang berharga secepat mungkin kepada pihak atasan atau bagian lain yang berkepentingan, biarpun untuk hal ini belum ada perintah secara khusus.

Prinsip Pengelolaan

Info dinilai untuk menentukan apakah sumbernya beritanya dapat dipercaya dan sampai dimana ketelitian info itu tersendiri. Info yang telah dinilai perlu ditafsirkan guna menentukan makna artinya, disesuaikan dengan hasil intelligence yang telah ada.

Prinsip Penggunaan

Hasil intelligence disampaikan kepada pimpinan dalam bentuk sedemikan rupa sehingga memungkinkan mereka dapat menggunakan untuk dapat merumuskan keputusan-keputusan serta rencana-rencana, dan selanjutnya dalam waktu yang tepat menyampaikan kepada atasannya , pimpinan yang kedudukan sejajar serta bawahannya, agar dapat dimanaatkan.

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: