//
you're reading...
Sosial Politik

Kekuasaan dan Konflik (Bagian VI “Hubungan Antar Kelompok”)

A.Pengantar

Mengenal, mengerti dan memahami hubungan orang dalam kelompok dan hubungan antar kelompok sangat penting dan besar sekali artinya dalam kepemimpinan sebab pemimpin akan dapat mengambil keputusan secara bijak, rasional dan adil. Mengabaikan kepentingan kelompok akan berakibat fatal bagi masa depan organisasi. Hubungan antar kelompok harus dibina sedemikian rupa sehingga dapat dijalin secara harmonis. Harmonisnya hubungan antar kelompok akan dapat menciptakan kinerja kelompok dan kinerja organisasi secara optimal.

B.Faktor yang Memperngaruhi Hubungan Antar Kelompok

Kinerja kelompok yang berhasil merupakan fungsi dari sejumlah faktor yan g berpengaruh. Konsep yang memayungi berbagai faktor ini adalah konsep koordinasi. Umumnya berpengaruh terhadap hubungan antar kelompok.

1.Ketergantungan

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah kelompok tersebut dalam melaksanakan tugasnya memerlukan koordinasi ? jawaban dari pertanyaan ini terletak kepada penetapan derajad ketergantungan yang ada diantara kelompok yang terkait. Apakah kelompok tersebut satu sama lain saling membutuhkan atau tidak. Jika ada maka ketrgantungan yang ada akan terdiri dari ketergantungan tunggal (utuh), ketergantungan berantai dan ketergantungan timbal balik. Ketergantungan tunggal  adalah semua kelompok yang terkait mempunyai ketergantungan yang sama (utuh) yang mutlak tidak dapat dipisahkan, ketergantungan berantai adalah ketergantungan kelompok yang sangat dipengaruhi oleh kinerja kelompok yang lain, sedangkan ketergantungan timbal balik adalah ketergantungan yang berada pada posisi berlawanan.

2.Ketidakpastian Tugas

Semakin besar ketidakpastian  suatu tugas (pekerjaan) maka akan semakin besar pula respon yang harus dibuat (dibentuk) dan semakin rendah derajad ketidakpastian suatu tugas (pekerjaan) maka tugas (pekerjaan) akan dapat distandarisasi. Kunci utama ketidakpastian tugas (pekerjaan) adalah bahwa suatu tugas (pekerjaan) untuk diterapkan memerlukan informasi lebih banyak. Oleh karena itu jika suatu tugas (pekerjaan) mempunyai ketidakpastian yang tinggi maka ketergantungan kepada informasi yang lengkap jelas dan valid sangat dibutuhkan dan masing-maisng kelompok akan sama saling membutuhkan satu sama lain atau menghadapi resiko kegagalan yang semakin besar.

3.Orientasi Waktu dan Tujuan

Dua kelompok atau lebih akan saling bergantung satu sama lain sangat ditentukan oleh waktu dan tujuan spesifik yang melekat pada dirinya. Jika tujuan spesifik saling terkait satu sama lain dan waktu yang disediakan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain, maka derajad ketergantungan kelompok akan smakin besar.

C.Metode yang Mengelola Hubungan Antar Kelompok

1.Peraturan dan Prosedur

Metode yang paling murah dan paling sederhana di dalam mengelola hubungan antar kelompok adalah menetapkan aturan dan prosesdur interaksi antar kelompok. Di dalam organisasi yang besar, akan dibentuk suatu departemen yang khusus memantau dan mengevaluasi hubungan antar kelompk dan jika interaksi hubungan antar keompok tersebut ada gejala yang tidak sesuai dengan harapan maka kelompok yang terkait akan dipanggil untuk didengar serta diselesaikan melalui forum musyawarah. Peraturan dan prosedur baku akan memperkecil hubungan antar kelompok yang dipandang tidak perlu.

2.Hirarki

Jika metode pada butir I dipandang kurang tepat maka hierarki kekuasaan yang ada di dalam organisasi menjadi alternatif kedua di dalam mengelola hubungan antar kelompok. Dengan demikian maka koordinasi akan diambil alih oleh pejabat yang lebih tinggi yang berada didalam organisasi itu. Pejabat yang lebih tinggi umumnya dapat dipandang sebagai pejabat yang ektif untuk membina hubungan antar kelompok sebab pejabat yang tinggi ini secara posisional  mempunyai kekuasaan yang lebih besar dan dihapakan dapat mempengaruhi hubungan antar kelompok.

3.Perencanaan

Alternati (pilihan) berikutnya di dalam mengelola hubungan antar kelompok adalah melalui perencanaan. Jika setiap kelompok mempunyai tujuan spesifik yang hendak dicapai maka setiap kelompok telah mengetahui hak dan kewajiban yang melekat pada kelompoknya dan setiap kelomok ini akan mengetahui pada saat yang bagaimana hubungan kelompok lain perlu dilakukan. Perencanaan yang memadai dan baik cenderung memperbaiki koordinasi dan di samping itu perencanaan cenderung dapat pula alat koordinasi yang efektif dan efisien.

4.Peran Perantara

Peran perantara sering mengarah kepada individu yang diberi tugas (pekerjaan) khusus untuk memudahkan komunikasi antar kelompok kerja yang saling terkait. Perantara yang diberi tugas (pekerjaan) khusus ini tentunya adalah orang yang dipandang cakap dan mempunyai pandangan yang luas tentang bidang organisasi dan manajemen. Di dalam organisasi yang besar sering kali memanfaatkan sarjana yang mempunyai kompetensi dibidangnya dengan beberapa pengalaman praktis dan taktis yang menunjang kompetensinya. Kelemahan utama peran perantara ini adalah adanya keterbatasan pribadi untuk menangani informasi yang mengalir diantara kelompok yang saling berinteraksi, khususnya jika kelompok berinteraksi itu besar dan interaski sangat sering dilakukan.

5.Pelaksana Tugas

Para pelaksana tugas (pekerjaan) dapat dijadikan wakil dari sejumlah kelompok. Para pelalaksana tugas (pekerjaan) sering melaksanakan tugas (pekerjaan) yang sesuai dengan bidangnya dan sering kali melakukan hubungan dengan yang lain. Para pelaksana tugas (pekerjaan) ini harus dibina sedemikian rupa guna memberi pengertian dan pemahaman mengenai hubungan antar kelompok tentang apa yang seharusnya dilakukan di dalam membina hubungan dengan kelompok lain.

6.Tim

Jika tugas (pekerjaan) sudah semakin banyak dan rumit maka persoalan yang muncul dari pelaksanaan tugas (pekerjaan) akan semakin bamuak dan rumit pula dan dalam keadaan demikian maka alat koordinasi yang ada sudah dianggap kurang memadai dan tidak tepat. Pilihan berikutnya adalah menyerahkan kerumitan hubungan antar kelompok ini kepada suatu tim. Tim inilah yang akan memantau dan mengevaluasi pola hubungan antar kelompok. Angota tim berasal dari masing-masing fungsi yang ada di dalam organisasi dan ketika tugasnya telah selesai maka anggota tim ini akan kembali lagi kepada induknya. Tim pemantau ini dikarenakan mempunyai keanggotaan yang berkomposisi masing-masing fungsi maka dipandang mewakili masing-masing fungsinya sehingga hasil pantauan dan evaluasinya dipandang cukup representatif.

7.Departemen/Badan Terpadu

Jika hubungan antar kelompok telah menjadi terlalu sulit dan rumit untuk dikoordinasikan melalui rencana, tugas (pekerjaan), tim dan sebagainya maka organisasi sebaiknya membentuk departemen/badan terpadu. Departemen/badan ini bersiat permanen dengan anggota yang secara formal diberi tugas (pekerjaan) untuk memadukan dua kelompok atau lebih. Departemen yang dibentuk ini akan digunakan jika organisasi sudah sangat besar dan mempunyai tujuan-tujuan yang sering berlainan arah, mempunyai berbagai persoalan yang tak rutin yang sangat rumit dan mempunyai keputusan antar kelompok yang mempunyai dampak terhadap seluruh operasi  organisasi. Departemen/badan ini dapat dijadikan alat yang dapat diandalkan untuk menangani konflik antar kelompok.

D.Mengelola Hubungan Antar Kelompok yang Berbeda Budaya

Setiap orang tidak akan lepas dari pengaruh budaya. Pengaruh budaya juga akan hinggap di dalam organisasi, sehingga organisasi akan menampung budaya yang ada di sekitar organisasi atau yang dibawa serta oleh orang-orang yang menjadi anggota organisasi. Mengelola orang atau kelompok yang mempunyai budaya yang berbeda menghadpi tnatangan khusus dan hal ini sangat tergantung kepada muatan perbedaan budaya yang dianut oleh orang yang ada dalam organisasi maka semakin berat tantangan yang dihadapi oleh manajemen di dalam mengelola orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa budaya dapat membentuk persepsi, sistem nilai, sitem kepercayaan, cara kerja, kognisi, perilaku dan emosi yang ke semuanya itu sangat potensial untuk terbentuknya suatu konflik. Yang kemudian menjadi pertanyaan strategis adalah pendekatan budaya yang bagaimana yang dipandang efektif untuk mengelola orang-orang yang mempunyai perbedaan budaya ?. Banyak ragam ragam jawaban namun yang paling utama dan terpenting adalah jangan sampai pengelolaan suatu manajemen memusuhi atau mendeskreditkan  suatu budaya tertentu agar konflik yang ada dalam organisasi tidak semakin parah.

Konflik yang diciptakan oleh aktor budaya akan lebih sulit untuk diselesaikan dan seandainya dapat diselesaikan memerlukan biaya dan pengorbanan yang tidak sedikit. Sentuhan budaya akan efektif jika diterapkan secara bijak dan arif dan harus dilakukan secara hati-hati dan penuh waspada sebab tidak menutup kemungkinan apa yang nampak dari luar  hanya sekedar tipuan belaka yang sesungguhnya akan memancing kepada keadaan yang lebih rumit, keruh dan berbahaya.

 

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: