//
you're reading...
Pendidikan

Suatu Pengantar “Pendidikan Pengenalan Intelijen” (Bag. XIV “Mekanisme Kegiatan Intelijen : “Neraca Penilaian Informasi”)

Kelengkapan Informasi

Informasi itu terdiri dari kenyataan (fakta) serta catatan (data) yang tidak tersusun, satu sama lain tidak ada hubungannya dan sering tidak jelas. Kenyataan-kenyataan serta catatan tadi boleh dinamakan intelligence setelah dinilai dengan jalan menentukan sumbernya, ketelitiannya, tafsirannya serta kebutuhannya. Oleh karena itu, setiap informasi yang disampaikan para agent pelaksana sebagai laporan informasi haruslah objektif, ringkas, jelas, tepat, cepat dan lengkap, sehingga apabila informasi itu dibaca, akan cepat dipahami dan tidak perlu bertanya lagi. Untuk memenuhi tuntutan itu, maka lima dasar pokok intelligence berikut harus dilaksanakan

  • Acquisition. Staf intelijen harus mengetahui keterangan-keterangan (info) yang sebaiknya dikumpulkan dan juga menentukan hingga dimana batas serta kemampuan sumber-sumber yang dapat dipakai. Oleh sebab itu informasi itu harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan 5W + H berikut : (1) apa : menceritakan masalahnya atau persoalan apa yang terjadi; (2) siapa : orang-orang yang bertalian dalam masalah itu atau terlibat (nama, umur, pekerjaan, alamat tinggal dsb). (3) dimana : nama lokasi, kota, daerah dan sebagainya; (4) bilamana : waktu, tanggal, bulan, tahun kejadian (5) kenapa : sebab-sebabnya (6) bagaimana : penjelasan dan cara-caranya
  • Collation. Proses perencanaan untuk mendapatkan keterangan secara sistematis.
  • Synthesis. Membuat suatu gambaran yang lengkap mengenai tujuan-tujuan lawan yang didapatkan dari berbagai tanda-tanda atau kejadian-kejadian  dan keterangan-keterangan yang tersedia sewaktu-waktu. Ini merupakan dasar untuk mendapatkan pengertian bagaimana cara-cara lawan mencapai tujuannya.
  • Dissemination. Keterangan yang sifatnya segera berguna, harus dikirimkan kepada yang berkepentingan/berwajib dengan cepat dan dalam waktu yang tepat agar tetap bernilai tinggi, dengan pengertian bahwa pengirimnanya harus menurut cara yang sebaik-baiknya
  • Liaison. Staff intelijen harus siap menyajikan dan juga mendapatkan keterangan-keterangan dari berbagai Angkatan (Kesatuan Militer dan Kepolisian), Perum, Dinas dan Departemen dan Jaringann disegala bidang

Bagi seorang wartawan aman atau tidaknya berita itu ditulis memang menjadi perhatian. Tetapi bagi seorang agent, berita itu bukanlah untuk disiarkan. Dengan adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat itu seorang agent diharuskan bekerja teliti, cermat dan cekatan dengan perhatian yang terkonsentrasi, untuk kelengkapan informasi yang dilaporkannya. Ruang lingkup penyelidikan agent meliputi seluruh dunia. Hal ini ditempuh agar supaya informasi itu mempunyai sudut pandang yang luas, lengkap, objektif dan tepat, dimana obeservasinya ditempuh melalui pengamatan dan penelitian. Fakta yang disajikan harus jelas, terang dan memenuhi persyaratan informasi, sebagaimana intelijen itu dikehendaki, yaitu kelengkapan suatu (laporan) informasi.

Urgensi Informasi

Setiap informasi masuk dari agent ke badan pengumpul. Akan segera digarap atau di proses oleh badan pengolah, agar secepatnya dapat diketahui urgensinya. Untuk itu informasi harus dipelajari lebih dahulu, apakah informasi itu bernilai intelijen atau tidak, dibutuhkan atau tidak, bagi siapa informasi itu lebih penting. Informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan yang dikehendaki tidak diproses lebih lanjut. Tetapi jika informasi itu memang diperlukan, maka selanjutnya akan disalurkan kepada yang berkepentingan. Kalau berguna untuk kesatuan sendiri, hendaknya diproses lebih jauh. Dalam proses itu, perlakuan terhadap masing-masing informasi hendaknya sesuai dengan urgensi info itu sendiri. Apakah informasi itu merupakan persoalan baru yang berguna/diperlukan saat ini atau nanti. Pertimbangan-pertimbangan itu didasarkan pada kelengkapan dan kejelasan informasi yang diterima dalam bentuk laporan.

Penilaian Kepercayaan

Sumber informasi itu harus diteliti terlebih dahulu. Kemudian sehubungan dengan informasi yang diberikan, akan dinilai lagi berdasarkan tingkat kepercayaan yang diberikan kepada sumber/nara sumbernya.

  • Apakah sumber itu berdasarkan dari seseorang, tulisan, peta atau gambar ?
  • Jika dari seseorang perlu diketahui latar belakang nara sumbernya, apakah informasi itu diberikan berdasarkan hal-hal yang didalaminya sendiri atau atas dasar cerita orang lain ?
  • Apakah orang itu dikenal /cukup dikenal selama ini ? Sampai dimana mereka dapat dipercaya ?
  • Berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman  dan pekerjaannya, apakah mungkin orang itu dapat memberikan informasi semacam itu ?
  • Jika informasi itu berasal dari sumber lain, apakah sumber itu otentik atau tidak, atau jangan-jangan berita/tulisan itu hanya rekaan dari seorang wartawan yang bekerja untuk sponsor, atau sekedar menampung berita-berita aktual meskipun dari sumber yang tidak jelas, tidak bisa dipertanggungjawabkan ?
  • Selain itu agent pelapornya juga tidak luput dari penelitian untuk ditentukan tingkat kepercayaan terhadap pribadinya ?
  • Diukur dari tingkat pendidikannya/pergaulannya apakah dia bisa meneliti suatu sumber, atau sudah terbiasakah dia berhubungan dengan nara sumber semacam itu ?
  • Faktor lain seperti tempat, waktu dan keadaan juga menjadi bahan pertimbangan , apakah mungkin bisa  memperoleh informasi semacam itu

Namun apapun hasilnya, jangan diabaikan sama sekali, dan hendaknya tetepi dijadkian warning. Jangan mengulangi pengalaman Jerman pada perang dunia II yang tidak mempercayai agent espionagenya sendiri yang bertugas di Turki. Dimana informasi yang disampaikan bahwa akan dilakukan pendaratan di pantai Normandia, tetapi Jerman menilai unrelliable (tidak dapat dipercaya) terhadap informasi agennya itu. Akhirnya sungguh-sungguh terjadi dimana Jerman menerima nasib yang fatal, berupa kekalahan dan kehancuran. Penilaian sumber dinyatakan dengan sandi huruf abjad aksara Latin huruf besar dari A sampai F

  • A : Dipercaya sepenuhnya. Sumber adalah seorang sahabat yang dikenal, sedangkan dia mempunyai pengalaman yang cukup dan latar belakang yang luas, setara dengan tipe informasi yang dilaporkan
  • B : Biasanya dapat dipercaya. Sumber adalah seorang sahabat yang dikenal, tetapi tidak mempunyai latar belakang  pengalaman dengan tipe informasi yang dilaporkan, tetapi dikenal ketulusan hatinya.
  • C : agak dapat dipercaya, tetapi tidak dapat memberikan keterangan lebih dalam. Taraf agent A, B, dan C diatas menghendaki agent yang terlatih dan berpengalaman.
  • D : biasanya tak dapat dipercaya. Sumber adalah golongan menengah, tapi besar kemungkinan tendesius.
  • E : tidak dapat dipercaya. Sumber tidak dikenal dan tidak memenuhi syarat untuk dipercaya.
  • F : kepercayaan tak dapat dinilai. Sumber tidak cukup mempunyai dasar yang memadai untuk diperkirakan tingkat kepercayaannya, misalnya musah yang tertangkap atau dokumen-dokumennya, apalagi jauh menjelang suatu operasi dilancarkan.

Demikian cara mengevaluasi tingkat reliability suatu informasi. Karena itu para staf harus benar-benar bisa menyelami sumber-sumber informasi itu, apakah orangnya dapat dipercaya, bisa menunaikan/menepati janji. Setelah proses itu dilakuakn, barulah dapat ditetapkan kadar evaluasi terhadap sumber-sumber itu.

Penilaian Kebenaran

Isi informasi harus diteliti, lalu dinilai berdasarkan kebenaran dari isi keterangan yang termaktub didalamnya. Redaksi uraiannya juga harus diteliti, apakah bahasanya baik atau kabur sehingga memungkinkan banyak arti. Semuanya harus ditanggapi dengan skeptis, jangan mudah percaya atau lekas terpengaruh.

  • Apakah informasi itu logis dan dapat diterima akal/pikiran yang waras ?
  • Apakah kebenarannya ditunjang oleh informasi-informasi lain dari berbagai sumber, sehingga kebenarannya dapat diterima ?
  • Apakah informasi itu benar-benar yakin, yaitu yang dialami dan dihayatinya sendiri?
  • Jika informasinya kurang/tidak sesuai dengan informasi lain, dalam hal apa yang sesuai dan dalam hal apa ketidakcocokannya ?
  • Mungkin saja validitas dan kualitas isi informasi disampaikan oleh analis-analis melalui berbagai jalur, padahal sumber aslinya hanya satu. Hal in patut menjadi pertimbangan dalam penelitian.

Justru karena itulah aparat penilai harus lebih waspada, sebab jika penilaiannya tertalu sederhana/sepele, estimasi intelijen menjadi under estimate. Sebaliknya jika terlalu berlebihan, estimasi intelijen menjadi over estimate. Hal terpenting mengingat perlakuan terhadap informasi itu akan sesuai dengan nilai yang akan diberikan penilaian itu. Karena itu sekali lagi seorang penilai, harus mempunyai kewaspadaan yang tinggi, jangan sampai tertipu. Sebab salah menilai bisa mengakibatkan jatuhnya martabat institusi, menimbulkan kerugian bagi pihak yang tak bersalah (yang menjadi korban salah sasaran), menjatuhkan martabat atau bahkan bisa menghancurkan bangsa dan tanah air.

Penialian kebenaran isi disandikan mulai dari angka satu sampai enam sebagai berikut :

  • Angka 1 : kebenaran beritanya dikuatkan oleh sumber-sumber lain. Informasi (tentang subyek yang sama) itu dipertegas oleh informasi lain yang berasal dari berbagai sumber.
  • Angka 2 : beritanya mungkin benar. Informasi itu dikuatkan oleh informasi-informasi lainnya dari berbagai sumber, tetapi hanya dalam bagian-bagian yang terpenting saja. Yang dimaksud dari berbagai sumber ialah informasi itu bukan berasal dari sumber yang sama.
  • Angka 3 : beritanya kemungkinan mengandung kebenaran. Informasi itu setelah diselidiki menghasilkan laporan fakta, tetapi tidak ada informasi lebih jauh yang tersedia. Hanya saja, berdasarkan pengamatan-pengamatan yang dilakukan hingga saat ini, nampaknya ada kecocokan dengan gelagat kebiasaan lawan.
  • Angka 4 : kebenaran berita diragukan. Informasi itu tidak dikuatkan oleh sumber yang lain, bahkan isinya saling bertentangan. Sedangkan perkembangan estimasi tentang musuh serta kecenderunagan kebiasaan musuh yang diketahui sampai saat ini, tidak mendukung kebenaran informasi itu.
  • Angka 5 : tak mungkin benar. Informasi itu tidak dikuatkan oleh data-data yang masih berlaku hingga kini. Ada kontradiksi dengan pengalaman yang lalu, serta bertentangan dengan data-data yang ada pada target informasi yang bernilai satu atau dua.
  • Angka 6 : kebenarannya tak dapat dinilai. Jika informasi itu tidak dinilai dengan angka satu sampai dengan lima, maka semua informasi yang demikian dikategorikan  dalam nilai 6. Namun semua informasi yang telah masuk itu selalu diuji coba jika ada yang menguatkan.

Demikian cara-cara evaluasi akurasi terhadap item of information yang telah dimiliki. Tentang nilai kepercayaan dan nilai kebenaran suatu informasi, selalu digandengkan dalam praktek sehari-hari di staf intelijen. Sebagi contoh : misalnya hasil penilaian tercantum pada suatu informasi sebagai berikut : C/2

Artinya :

C : sumber informasi agak dapat dipercaya

2 : isi informasi mungkin benar

Hendaknya selalu waspada terhadap informasi yang diterima tidak tertutup kemungkinan informasi tersebut itu palsu.

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: