//
you're reading...
Sosial Politik

Kekuasaan dan Konflik (Bagian III “Peran”)

A.Pengantar

Peran adalah sekumpulan pola perilaku yang melekat pada diri seseorang dikarenakan menduduki posisi tertentu dalam suatu unit sosial. Di dalam organisasi maka seorang yang menduduki posisi berbada akan mempunyai perilaku berbeda pula. Seorang pimpinan tingkat atas mempunyai perilaku yang berbeda dibandingkan dengan pimpinan tingkat menengah. Setiap jabatan yang ada di dalam organisasi akan menciptakan pola perilaku tersendiri. Peran seseorang disamping dipengaruhi oleh posisinya di dalam organisasi. Pengaruh terakhir ini justru yang paling dominan. Peran dapat menciptakan susana kerja yang baik, akan tetapi  dapat pula menciptakan konflik, baik konflik fungsional maupun konflik disfungsional. Peran yang dimiliki oleh seseorang dapat bersifat tunggal dan bersifat ganda. Hal sangat tergantung kepada legitimasi yang diberikan oleh organisasi maka akan semakin banyak peran yang dilakukan. Pandangan hidup seseorang termasuk keyakinan terhadap agama akan sangat mempengaruhi pola peran seseorang. Bagi orang yang beriman dan yang tidak beriman kepada Tuhan akan menampilkan peran yang berbeda pula.

B.Identitas Peran

Ada sikap tertetu dan perialaku aktual yang konsisten dengan peran dan mereka menciptakan identitas peran. Setiap orang mempunyai kemampuan untk merubah peran secara cepat jika mereka mengetahui baha situasi tertentu dan berbagai tuntutannya memerlukan perubahan. Studi kasus dalam perburuhan, jika seorang pemimpin serikat kerja dipindah atau dipromosikan kepada posisi manajemen misalkan kepala bagian maka ia akan mengubah perannya dari sikap yang beroposisi dengan manajemen kepada sikap yang memihak manajemen. Artinya setiap orang akan bersikap kepada derajad kepentingan yang dapat diperoleh dalam situasi dan kondisi tertentu. Seorang memihak atau beroposisi sangat tergantung apa yang dapat diperoleh dari posisi yang sedang ditempati tersebut. Jika beroposisi akan memperoleh banyak keuntungan maka ia kan memilih beroposisi dan manakala keberpihakan memperoleh manfaat (keuntungan) maka ia akan memilih keberpihakan. Tidak ada perilaku seseorang itu random. Perilaku seseorang selalu terbingkai dengan apa yang mereka peroleh dan apa yang mereka harapkan. Jika situasi bersifat tidak jelas atau samar dan peran orang untuk memainkan peran kurang jelas maka mereka akan sering kembali kepada identitas peran lamanya. Peran lama seringkali dijadikan standar oleh setiap orang. Peran dapat diubah, meningkat atau menurun dan hal ini sangat tergantung kepada apa yang diperoleh. Jika kepentingannya semakin terganggu maka tidak menutup kemungkinan perang yang dimainkan akan bersifat negatif dan beroposisi dengan kelompok atau organisasi. Hal ini dapat dilakukan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara tidak langsung dapat dilakukan denga cara menghasut teman sekitarnya. Tak seorangpun di dunia ini yang akan berperan sama jika ditempatkan pada posisi berbeda apalagi jika posisi berbeda tersebut dikaitkan denga posisi keuntungan finansial.

C.Persepsi Peran

Setiap orang yang ada di dalam kelompok atau organisasi mempunyai pandangan tertentu tentang peran yang dimainkan. Pandangan terhadap peran yang dimainkan dalam situasi yang ada dikenal dengan nama persepsi peran. Berdasarkan kepercayaan bagaimana mempercayai sesuatu dan bagaimana berperilaku sesuatu maka hal ini akan sangat tergantung persepsi yang dimiliki oleh orang tersebut. Persepsi peran kita peroleh dari berbagai dorongan dan pengaruh dari teman-teman, buku bacaan, film, suratkabar elektronik dan cetak, dan media elektronik.

D.Harapan Terhadap Peran

Jika seseorang mengharapkan bagaimana orang lain melakukan perilaku tertentu maka terjadi suatu harapan akan peran. Bagaimana anda bersikap tertentu dalam situasi tertentu sangat dipengaruhi oleh pola tindakan anda dalam melakukan peran. Seoarng pemain sepakbola dan seorang petinju akan mempunyai atau berperilaku peran yang berbeda. Di sekeliling kita, baik dirumah, disekolah, dikantor dan dipergaulan yang luas setiap orang mempunyai harapan tertentu untuk melakukan suatu peran. Peran identik dengan gaya berperilaku. Seorang yang dalam lingkungan tertentu menganggap dirinya sangat diperlukan akan berperan sama dalam suatu situasi dan kondisi di mana ia merasa tidak diperlukan. Dalam situasi dan kondisi tertentu seorang merasa kuat dan merasa diperlukan  akan tetapi dalam situasi dan kondisi berbeda ia merasa tidak kuat dan tidak diperlukan. Setiap orang mempunyai harapan untuk menjadi atau melakukan peran tertentu.

E.Kontrak Psikologis

Kontrak psikologis merupakan suatu perjanjian atau persetujuan tertulis yang merumuskan apa yang diharapkan oleh manajemen organisasi dari anggotanya dan apa yang diharapkan oleh pegawai dari manajemen. Dalam kontrak psikologis ini terdapat harapan timbal balik antar keduanya. Suatu organisasi merupakan hasil kinerja semua pihak antara tenaga kerja dan pihak manajemen. Di negara maju pola kepemimpinan manajemen sudah bersifat transparan dan sangat sulit untuk ditutup-tutupi. Baik tenaga kerja maupun manajemen sama-sama mengharapkan kejujuran dan keadilan. Disegala bidang aktivitas organisasi  khususnya berhubungan dengan sistem pemberian bonus. Apakah yang akan terjadi manakala kontrak psikologi tidak dapat diperoleh atau dipenuhi di dalam organisasi. Yang akan muncul tentunya konflik disfungsional yang akan merugikan organisasi. Jika anggota gagal memperoleh kontrak psikologis maka akan menghasilkan konflik disfungsional dan hal ini akan menurunkan kinerja kelompok atau kinerja organisasi. Semua pihak akan menderita. Pengkondisian situasi dimana organisasi berada pada kondisi kinerja yang tidak efektif dan efisien sehingga outpun dari kinerja yang dihasilkan bernilai rendah (low value). Oleh karena itu kontrak psikologis ini harus diperhatikan secara cermat dan hati-hati agar suasana yang sehat dan harmonis akan tetap terpelihara di dalam organisasi.

F.Konflik Peran

Jika anggota secara individu diberi aneka peran maka hasilnya adalah konflik peran. Konflik peran akan tercipta jika anggota dihadapkan tugas yang saling bertentangan. Disamping menghadapi tugas maka konflik peran juga disebabkan oleh situasi dan kondisi bertentangan pula. Konflik peran seringkali banyak dijumpai pada setiap organisasi. Studi kasus pada seorang tenaga pengajar (Dosen) di perguruan tinggi akan berusaha mendidik mahasisanya sepandai mungkin dan akan memberikan penilaian seobjektif mungkin, akan tetapi jika ada ketentuan bahwa jika mahasiswa banyak yang tidak lulus maka dosen yang bersangkutan dianggap tidak bisa mengajar dan akan diberi sangsi. Dalam kasus ini maka Dosen tersebut disudutkan dengan konflik peran. Agar supaya tidak mendapat teguran lebih bertindak tidak objektif dengan cara meluluskan banyak mahasiswa dari pada akan memperoleh pinalti (hukuman). Konflik peran merupakan suatu hal yang sangat sulit sekali untuk dihindari. Konflik peran ada yang bersifat halus dan samar-samar adapula yang bersifat terang-terangan dan kasar. Biasanya konflik peran akan selalu dihindari manakala suatu tindakan tersebut merugikan dirinya sendiri. Manajemen puncak seharusnya menyadari tentang konflik peran ini, sebab jika manajemen puncak tidak menyadari konflik peran ini, maka anggota akan menampilkan perilaku semu. Konflik peran dapat bersifat fungsional dan dapat pula bersifat disfungsional. Oleh karena itu di dalam pemberian tugas  dan penyusunan struktur suatu organisasi, manajemen puncak sebaiknya menghindarkan diri dari konflik peran ini. Cara di dalam menghindarkan diri dari adanya atau tidaknya konflik peran adalah mendaftar tugas yang diberikan kepada karyawan  dalam satu lembaran yang berisi rincian tugas.

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: