//
you're reading...
Sosial Politik

Kekuasaan dan Konflik (Bagian II “Kelompok”)

A.Pengertian

Kelompok adalah himpunan dua orang atau lebih yang berinteraksi secara bebas yang terikat dalam suatu norma dan saling terikat, mempunyai pandangan hidup atau tujuan yang hendak dicapai serta mempunyai identitas. Dengan demikian kriteria adalanya kelompok meliputi :

  1. Kumpulan dua orang atau lebih yang berinteraksi secara bebas
  2. Mempunyai norma kolektif (norma yang diakui bersama)
  3. Mempunyai tujuan bersama
  4. Mempunyai identitas

Ukuran kelompok sangat dibatasi oleh kemungkinan interaksi bersama dan kesadaran  bersama. Jika interaksi bersama atau kesadaran bersama tidak ada maka tidak dapat dinamakan kelompok.

B.Macam Kelompok

Kelompok dibedakan menjadi kelompok formal, kelompok informal, kelompok pemberi perintah, kelompok pelaksana tugas, kelompok berkepentingan dan kelompok persahabatan.

Kelompok formal adalah kelompok yang keberadaannya dibentuk secara sadar dan disengaja oleh kebijakan organisasi yang ditetapkan oleh pemilik organisasi atau oleh kebijakan organisai yang ditetapkan oleh manajemen organisasi. Kelompok formal umumnya menggunakan nama kelompok kerja atau kelompok bagian kerja atau label Tim, atau label jabatan tertentu yang ada dalam organisasi.

Kelompok informal adalah kelompok yang keberadaannya terbentuk bukan karena  adanya kebijakan atau aturan yang ada dalam organisasi akan tetapi lebih banyak karena faktor teman dan persahabatan, faktor seperasaan atau senasib atau karena faktor suka sama suka.

Tujuan dari kelompok formal dan kelompok informal bisa sejalan atau bisa pula bertentangan. Tidak menutup kemungkinan antara  kelompok formal dan kelompok informal terjadi tumpang tindih,

Jika kelompok informal berada dalam kelompok formal maka tujuan kelompok informal mempunyai arah yang sama dengan tujuan kelompok formal dan jika kelompok informal merupakan campuran dari berbagai kelompok formal maka seing kali terjadi tujuan mereka tidak sejalan. Dalam keadaan demikian tidak tertutup kemungkinan terjadinya konflik. Kelompok informal mempunyai ikatan yang sangat kuat antar anggotanya sehingga keberadaan kelompok informal dapat diarahkan kearah yang baik dan dapat meningkatkan kinerjanya.

Jika dalam kelompok formal terdapat dua kelompok informal atau lebih maka sering kali terjadi konflik, baik konflik fungsional ataupun konflik disfungsional. Konflik fungsional sangat positif, sebab konflik ini akan memberikan dan membawa kinerja kelompok formal akan semakin baik, sedangkan jika terjadi konflik disfungsional maka kinerja kelompok akan terganggu. Tingkat terganggunya kualitas kinerja kelompok formal oleh konflik disfungsional sangat tergantung sekali kepada derajad perbedaan yang ada.

Kelompok pemberi perintah adalah kelompok yang di dalam organisasi mempunyai bawahan yang akan melaksanakan perintah yang diberikan kepada bawahan untuk dilaksanakan.

Kelompok tugas adalah kelompok yang menempati posisi dibawah kelompok pemberi perintah yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan perintah pemberi perintah. Kelompok tugas ini merupakan kelompok pelaksana di dalam suatu organisasi.

Kelompok berkepentingan adalah kelompok yang bekerja bersama-sama dengan kelompok lain yang mempunai kepentingan yang sama untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Kelompok persahabatan adalah kelompok yang dibentuk karena adanya ikatan emosional yang sama, karena mempunyai ikatan psikologis yang sama karena mempunyai karakteristik yang sama. Kelompok persahabatan ini mempunyai suatu ikatan yang sangat kuat sekali dan sangat sulit diterobos tanpa melalui proses penyesuaian yang harus dilakukan secara terus meneurs dan rutin. Umumnya kelompok ini tidak terstruktur secara formal akan tetapi kelompok ini mempunyai kesetiakawanan yang sangat erat dan kuat sekali dan sangat sulit untuk digoyahkan dari luar kelompok.

1.Fungsi Kelompok Formal. Kelomok formal mempunyai dua fungsi dasar :

a.Fungsi Organisasi

  • Melaksanakan tugas yang rumit dan saling bergantung satu sama lain sesuai dengan kapasitas individunya.
  • Mengumpulkan ide baru atau menciptakan kreativtas baru dan menghasilkan tingkat penyelesaian yang baik.
  • Mengkoordinasikan berbagai usaha kerja antar departemen.
  • Menyediakan mekanisme penyelesian permasalahan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks (rumit) yang memerlukan berbagai informasi yang berkualitas.
  • Mengimplementasikan keputusan yang kompleks (rumit).
  • Mensosiallisasikan dan melatih pendatang baru.

b.Fungsi Individu

  • Memuaskan diri akan kebutuhannya dengan melakukan afiliasi.
  • Mengembangkan, mengajukan dan mengkonfirmasikan penghargaan diri sendiri dan memahami identitas diri.
  • Memberikan para individu suatu kesempatan untuk dites dan ikut mempunyai andil terhadap persepsi dan relitas sosial.
  • Memperkecil keragu-raguan idividu dan perasaan tidak aman dan tidak berdaya.
  • Menyediakan mekanisme penyelesaian permasalahan dan permasalahan pribadi.

C.Proses Pengembangan Kelompok

Secara grafis maka tahapan pengembangan kelompok sebagai berikut :

1.Tahap Oreientasi

Tahap ini disebut tahap pencairan es. Setiap anggota kelompok cenderung mempunyai ketidakpastian dan ragu tentang peran diri mereka sendiri, siapa penaggung jawabnya dan apa yang menjadi tujuan mereka. Kepercayaan kelompok masih sangat rendah akan tetapi sudah mulai ada kesadaran untuk melihat siapa yang mengambil tanggung jawab dan bagaimana caranya. Jika kelompok formal (supervisor) tidak menyatakan secara tegas otorisasinya akan pemimpin yang muncul secara bertahap akan muncul untuk mengisi kebutuhan akan kepemimpinnan dan bimbingan.

2.Tahap Konflik dan Tantangan

Tahap ini merupakan periode pengujian. Setiap individu akan menguji kenijakan dan asumsi pemimpinnya sebagaimna mereka mencoba menetapkan bagaimana mereka menyesuaikan diri kepada struktur kekuasaan. Sub kelompok akan mengambil bentuk dan secara tidak kentara melakukan penolakan (pemberontakan) seperti mirip dengan proses penangguhan. Umumnya banyak kelompok yang berada dalam tahap kedua ini dikarenakan politik kekuasaannnya cenderung meledak kedalam penolakan terbuka.

3.Tahap Kohesi

Tahap ketiga merupakan pengkristalan dan tantangan kelompok untuk menyelesaikan perjuangan kekuasaan telah dapat dicapai. Pertanyaan tentang otorisasi dan kekuasaan diselesaikan kembali secara lebih cepat dan tanpa emosional. Para anggota mulai mempunyai kepercayaan dan kesadaran diri terhadap peran mereka yang lebih jelas.

4.Tahap Delusi

Setelah dapat menyelesaikan persekongkolan mengenai kekuasaan dan otoritas, para anggota kelompok merasa memiliki kepercayaan diri terhadap apa yang telah ada dan melempar yang terjelek. Proses partisipasi sangat aktif sekali pada tahap ini.

5.Tahap Disilusi

Keadaan harmonis yang kurang realistis pada tahap keempat mulai menimbulkan perseteruan (percekcokkan) disekitar tepi beberapa kelompok sehingga akan mengeluarkan anggota kelompok yang dipandang tidak potensial. Konflik antar kelompok pada tahap ini mungkin sekali akan muncul baik bagi individu yang mempunyai kelemahan maupun yang mempunyai kekuatan. menurunnya keeratan kelompok ditandai dengan keningkatnya kekuatan. menurut keeratan kelompok ditandai dengan meningkatnya ketidakhadiran kerja dan banyaknya kritik yang muncul.

6.Tahap Pengakuan

Ini merupakan tahap akhir yang berproses seperti tahap 2 dan 3 serta 4 dan 5. Konsekuensinya dan umumnya sekali kegagalan berada pada anggota yang berpengaruh maka tidak akan muncul pemimpin. Proses ini akan memberikan latihan guna memajukan pemahaman yang  lebih besar mengenai harapan anggota kelompok antara yang satu dengan lainnya dan untuk kelompok secara keseluruhan.

D.Proses Pembentukan Kelompok

Pembentukan kelompok merupakan proses dinamika kelompok. Semua kelompok sudah pasti akan mengalami perubahan dan pengembangan. Akan tetapi perubahan dan pengembangan kelompok mungkin saja tidak berjalan sempurna sehingga sangat sulit mencapai stabilitas kelompok. Berdasarkan hasil penelitian ternyata terdapat suatu bukti yang kuat bahwa kelompok akan selalu berproses dalam lima tahap.

1.Tahap Pembentukan (forming)

Tahap ini merupakan tahap awalnya terbentuk kelompok. Pada tahap ini ditandai oleh sebagian besar rasa ketidakpastian kelompok yang dirasakan oleh para anggotanya tentang tujuan kelompok, struktur kelomopk dan kepemimpinan kelompok. Setiap anggota akan selalu menanyakan dan menguji tentang tipe perilaku yang bisa diterima. Tipe ini baru dianggap sempurna manakala setiap anggota kelompok menyadari bahwa ia merupakan bagian (anggota kelompok).

2.Tahap Pengembangan Kelompok (storming)

Pada tahap ini kelompok seringkali memunculkan konflik meskipun masing-masing kelompok menyadari keberadaan kelompok. Pada tahap ini muncul perlawanan atau perbedaan pendapat tentang arti penting pengawasan atau pengendalian atas kelompok. Konflik yang muncul dalam tahap ini adalah yang merupakan pengawasan kelomopk. Pada tahap ini telah terbentuk adanya pemimpin yang akan diserahi tugas pengaasan dan pengendalian kelompok. Pada tahap ini sangat disadari pula bahwa tanpa pemimpin maka kelompok akan berjalan efektif.

3.Tahap Penyusunan Keeratan Kelompok

Pada tahap ini hubungan yang sangat erat antar kelompok mulai berkembang dan rasa kesetikawanan akan muncul kepermukaan.pada tahap ini struktur kelompok mulai terbentuk dan masing-masing anggota sudah mengetahui posisi masing-masing di dalam kelompok.

4.Tahap Pemfungsian struktur kelompok

Struktur kelompok dalam tahap ini secara fungsional telah diakui dan diterima. Setiap anggota kelompok telah bertindak dan berperilaku sesuai dengan fungsinya masing-masing. Setiap anggota kelompok tidak ingin mempermaslahakan posisinya dan masing-masing telah bergerak menuju tujuan kelompok yang telah disepakati bersama.

5.Tahap Kondensasi atau Tahap Peringkasan

Pada tahap ini pengembangan kelompok ditandai oleh pengkondensasian dan peningkatan aktivitas. Setiap kelompok telah dapat bekerja sesuai skala prioritas kelompok sehingga kinerja kelompok akan berjalan secara efektif dan efisien. Dalam tahap ini setiap kelompok telah mempersiapkan jika terjadi pembubaran kelompok. Pada tahap ini terdapat suatu tahap penundaan pekerjaan yang mungkin ada sesuatu yang harus dihindarkan. Sebagai gantinya perhatian diarahkan kepada peringkasan atau penyederhanaan aktivitas. Tingkat kepekaan atau responsif kelompok akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

E.Istilah Dalam Dinamika Kelompok

Untuk dapat mengerti, memahami dan menghayati perilaku kerja kelompok maka perlu memandang suatu sistem dalam tatanan suatu sistem yang lebih besar. Jika kita menyadari bahwwa kelompok merupakan bagian dari sistem organisasi maka kita seharusnya mengambil suatu kesimpulan baha perilaku kelompok berasal dari penjelasan bagain-bagian organisasi yang berada di dalamnya. Bagian-bagian organisasi yang ada didalamnya meliputi :

1.Strategi Organisasi

Setiap organisasi sudah pasti mempunyai strategi. Strategi akan dapat membatasi aktivitas organisasi atau mengarahkan aktivitas organisasi dalam jangka menengah dan jangka panjang. Strategi organisasi ditetapkan dan dirumuskan oleh manajemen puncak yang dalam penyusunannya seringkali melibatkan manajemen tingkat bawah dan tingkat menengah. Strategi organisasi akan meliputi kerangka tugas dan kerangka misi, kerangka tujuan serta alat, teknik dan metode pencapaiannya. Dengan adanya strategi akan segera diketahui arah jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dari organisasi. Strategi merupakan alat perencanaan dan sekaligus memberikan arah bagi setiap orang yang ada di dalam organisasi. Strategi ibarat panglima perang yang akan mengatur dan menunjukkan segala gerak dan langkah di dalam mencapai tujuan organisasi. Tanpa adanya strategi yang jelas dan transparan maka organisasi akan berjalan secara acak dan sistematis. Perjalanan organisasi secara acak sekalipun dapat mencapai tujuan organisasi sifatnya hanya sekedar kebetulan dan pengulangan langkah yang telah dicapai dikemudian dari kemungkinan  besar tidak akan memberikan hasil yang sama dengan sebelumnya.

2.Struktur Otoritas

Setiap organisasi pastinya mempunyai struktur otoritas yang didalamnya terdapat sistem penyampaian laporan dari siapa kepada siapa, dan siapa yang membuat keputusasn dan keputusan  apa yang dibuat serta kapan keputusan tersebut diimplementasikan. Struktur otoritas ini akan membentuk hierarki kekuasaan kepada kelompok formal sedangkan kepada kelompok informal tidak akan menciptakan hierarki kekuasaan. Kekuasaan formal dibentuk dan diberikan secara formal meskipun pembentukan hierarki kekuasaan ini melalui proses secara informal.

3.Regulasi Formal

Organisasi menciptakan peraturan, prosedur, kebijakan dan bentuk-bentuk regualsi lainnya guna menstandarisir perilaku anggota organisasi. Jika regulasi formal tidak ada maka setiap individu yang ada di dalam organisasi akan bertindak tanpa arah dan bimbingan. Regulasi formal akan dapat memaksa individu yang ada di dalam organisasi. Tanpa adanya regulasi formal maka tidak akan tercipta wibawa organisasi.

4.Sumberdaya Organisasi

Organisasi umumnya mempunyai sumberdaya organisasi. Sumberdaya organisasi meliputi suber daya ekonomi dan sumberdaya non ekonomi. Yang dimaksud sumberdaya ekonomi adalah segala potensi yang dimiliki organisasi yang mempunyai nilai (value) dan dapat menopang keberlangsungan hidup organisasi.

5.Proses Pemilihan Tenaga Kerja

Sumberdaya ekonomi akan memberikan manfaat bagi organisasi jika sumberdaya ekonomi tersebut digerakkan dan dikelola oleh manajemen organisasi. Manajemen organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja sama mengelola sumber daua ekonomi guna mencapai tujuan organisasi. Agar tujuan organisasi dapat dicapai maka orang-oarng yang akan dilibatkan di dalam organisasi harus dopilih sesuai dengan persyaratan profesionalisme. Tanpa melalui proses pemilihan yang profesional maka kinerja organisasi tidak akan mencapai hasil optimal.

6.Evaluasi Kinerja dan Sistem Penghargaan

Setiap pekerjaan karyawan harus diawasi dan dievaluasi. Tujuan mengevaluasi kinerja karyawan adalah untuk memastikan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara benar dengan biaya seefisien mungkin. Bagi karyawan yang telah bekerja secara efektif dan efisien maka perlu diberi penghargaan oleh organisasi. Penghargaan yang diberikan dapat berwujud uang dan berwujud non uang.

7.Budaya Organisasi

Setiap organisasi mempunyai budaya yang tak tertulis yang membatasi dan memberikan pedoman perilaku karyawan di dalam organisasi. Dengan adanya budaya organisasi maka perilaku karyawan akan terstandarisir dan akan mempunyai pola tertentu sera memberikan suasana pergaulan tertentu. Suasana pergaulan bisa harmonis dan bisa pula tidak harmonis bisa tanpa konflik dan bisa pula penuh konflik. Dengan adanya budaya organisasi maka setiap anggota organisasi akan mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan yang telah menjadi iklim organisasi, mereka juga mengetahui apakah pekerjaan harus dilakukan secara ketat atau longgar, bagaimana perilaku mereka jika terdapat beberapa kesulitan dalam melakuakan pekerjaan, bagaimana pengaruh kejujuran dan intergritas karir  mereka. Sementara itu masih banyak lagi subkultur (sub budaya) yang tercipta dalam kelompok kerja yang telah dimodifikasi dengan standar yang ada dan meskipun demikian para tenaga kerja di dalam organisasi mempunyai budaya dominan sehingga akan mengikat semua tenaga kerja tanpa kecuali apalagi jika budaya organisasi ini memang sengaja diciptakan oleh pemilik manajemen puncak organiasasi.

8.Tatanan Kerja Fisik

Setiap organisasi akhirnya pasti mempunyai tatanan kerja kelompok yang sengaja diciptakan oleh organisasi. Tatanan kerja kelompok umumnya diciptakan oleh organisasi  bekerja sama dengan para konsultan atau tenaga ahli dibidangnya masing-masing. Tatanan kerja akan meliputi tata letak gedung, peralatan dan mesin juga arus kerja yang harus dilakukan oleh para tenaga kerja. Tatanan kerja fisik ini akan menghambat dan dapat pula menciptakan kebingungan kerja. Tatanan kerja yang sangat berdekatan antara yang satu dengan yang lainnya dapat menciptakan karyawan banyak bicara sebab mereka akan lebih mudah melakukan kontak pribadi.akan tetapi jika jarak tatanan kerja fisik terlalu berjauhan tidak menutup kemungkinan akan mempersulit kerja sama kelompok.

9.Kemampuan

Bagian kinerja kelompok dapat diprediksi melalui penaksiran relevansi tugas dan kemampuan intelektual dari setiap individu yang ada didalam organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan individu dalam suatu kelompok akan dapat menciptakan kinerja yang baik dibandingkan jika anggota kelompok tersebut tidak mempunyai kemampuan. Umumnya mereka yang mempunyai kemampuan akan memberikan kontribusi yang baik dibandingkan mereka yang tidak mempunyai kemampuan kecenderungan mempunyai tingkat emosional yang tinggi dibandingkan tingkat nalarnya sedangkan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan yang tinggi lebih mengutamakan logika berpikirnya.

10.Karakterisik Kepribadian

Hasil penelitian antara kepribadian dan sikap dan perilaku kelompok mempunyai korelasi positif. Kepribadian yang baik juga mempunyai korelasi yang positif dengan produktivitas yang baik. Tenaga kerja yang mempunyai kepribadian baik dan mempunyai sifat terbuka umumnya lebih mudah diatur dan diarahkan daripada yang mempunyai kepribadian sebaliknya. Kepribadian positif meliputi sifat, tabiat dan pembawaan sejak lahir seperti keinginan bermasyarakat atau bersosialisasi, percaya diri dan ketaktergantungan kepada orang lain. Kepribadian negatif meliputi sifat angkuh tidak mau bersosialisasi, mau menangnya sendiri, acuh tak acuh, tidak mau bekerja sama dengan keinginan untuk mendominan. Kepribadian positi mempunyai korelasi positif dengan kerja kelompok atau kinerja organisasi yang baik sedangkan kepribadian negatif mempunyai korelasi negatif dengan kerja kelompok atau kinerja organisasi. Hal ini berarti jika kepribadian negatif semkin tinggi maka kinerja kelompok atau kinerja organisasi akan semakin rendah dan ada kecenderungan seringkali menciptakan disfungsional.

11.Kepemimpinan Formal

Hampir setiap kelompok di setiap organisasi mempunyai pemimpin formal. Pemimpin formal ini dapat dikenali dari titel jabatan yang pemimpin kelompok seperti kata manajer, kepala regu, mandor, supervisior, kepala bagian atau kepala biro. Pemimpin formal ini merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan di dalam keberhasilan kelompok dan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat dan sikap pemimpin formal ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja kelompok dan kinerja organisasi. Untuk mencapai kesuksesan yang tinggi maka partisipasi pemimpin formal ini sangat diperlukan sekali. Sikap pemimpin formal yang terbuka dan mudah bersosialisasi jauh lebih baik dibandingkan dengan pemimpin formal yang otokratis seringkali suasana kerja dikecam oleh ketakutan dan tidak berani mengeluarkan gagasan yang baik. Banyak sekali pada masa akhir-akhir ini fokus penelitian diarahkan kepada kualitas kepemimpinan terhadap kinerja kelompok dan organisasi

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: