//
you're reading...
Metode Penelitian

Mengawali Penelitian

Hasan Mustafa , 1997

Pertama: Menemukan Isu Penelitian

Persoalan rumit pertama dalam penelitian adalah menentukan apa yang akan  diteliti. Hal yang ingin  diteliti bisa muncul dari pertimbangan teoritis, pragmatis, atau kedua-duanya. Tidak ada pedoman yang baku yang bisa digunakan untuk membantu peneliti memilih isu penelitiannya.

Tidak ada jawaban yang tegas dan pasti di mana peneliti dapat menemukan isu penelitiannya. Sumbernya bisa berasal dari pengalaman pribadinya, informasi yang dibacanya, percakapan- percakapan, apa-apa yang diekspos di media masa, teori yang dipelajari, kejadian-kejadian yang dilihat sehari-hari, nilai yang dianut, dan lain sebagainya. Dalam kenyataannya, apa pun yang terjadi dalam diri peneliti, dapat merupakan sumber inspirasi untuk adanya proyek penelitian.

Pada umumnya penelitian dilakukan guna mencapai sasaran tertentu. Suatu penelitian bisa mempunyai kegunaan praktis jika isu penelitian yang dipilihnya adalah yang berkenaan dengan yang dijumpai peneliti dalam lingkungan di mana dia hidup. Yang dimaksud dengan masalah dalam konteks ini adalah sesuatu hal yang dianggap negatif berdasarkan ukuran tertentu. Jika sekelompok pegawai selalu datang di atas jam kerja yang seharusnya maka terlihat adanya masalah. Jika produksi selalu tidak mencapai target, maka terdapat masalah. Seorang manajer pemasaran melakukan penelitian tentang kepuasan konsumen karena mulai banyak keluhan-keluhan dari mereka. Isu penelitian manajer tersebut adalah “kepuasan konsumen”. Manajer produksi juga melakukan penelitian tentang pengendalian kualitas karena banyak barang yang ditolak oleh para pemesan. Isunya adalah “quality-control”. Seorang mahasiswa mengambil isu “disiplin kerja” untuk penelitiannya, karena ketika datang ke suatu departemen ternyata pegawainya seringkali terlambat datang di kantor. Isu-isu penelitian tersebut tadi benar-benar didasarkan atas masalah yang nyata terjadi dan sasarannya adalah memecahkan masalah tersebut.

Penelitian dapat juga diawali dengan adanya imajinasi dan keinginantahuan  yang kuat dari peneliti. Tanpa ada kejadian yang sangat istimewa (negatif/positif), seseorang bisa melakukan penelitian karena ada sesuatu hal yang ingin diketahuinya sendiri, guna kepentingan ilmunya sendiri. Seorang yang tertarik dalam bidang ilmu manajemen dapat saja meneliti efektivitas suatu program gugus kendali mutu bukan untuk kegunaan  praktis, tetapi semata-mata ingin membuktikan teori yang dipelajarinya. Seseorang dapat juga meneliti budaya organisasi dengan tujuan “hanya” ingin mengetahuinya saja. Atau bahkan melakukan serangkaian penelitian dengan maksud menyusun suatu teori baru.

Apakah pemilihan isu berangkat dari masalah atau keingintahuan yang kuat, beberapa pertimbangan yang umumnya juga digunakan antara lain adalah (1) apakah isu yang dipilih merupakan isu yang dapat menghasilkan penghargaan atau pengakuan orang lain; (2) tersedianya bantuan finansial dan tenaga peneliti, karena setiap isu yang dipilih selalu mempunyai akibat terhadap dua aspek tersebut.

Kedua: Mengidentifikasi dan Merumuskan Masalah Penelitian

Bagi penelitian yang berangkat dari masalah faktual ( yang benar ada di suatu organisasi atau lingkungan tertentu), maka masalah tersebut harus diidentifikasikan. Identifikasi artinya merinci masalah sehingga dapat diketahui dengan jelas. Kalau misalnya masalahnya menyangkut dengan disiplin kerja di instansi atau organisasi X, maka peneliti harus menjelaskan secara rinci tentang masalah disiplin kerja tersebut. Uraiannya berisi tentang pelanggaran-pelanggaran yang banyak dilakukan pegawai, atau perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Misalnya, ada aturan yang mengharuskan pegawai masuk kerja pukul 07.00, tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Indentifikasi masalah sebaiknya disertai dengan data yang mendukungnya. Berapa banyak pegawai yang selalu datang terlambat? Berapa lama waktu keterlambatan tersebut? Di bagian mana yang paling banyak terjadi keterlambatan? Pegawai dari golongan mana yang paling banyak terlambat?.

Setelah diidentifikasikan, masalah penelitian harus dirumuskan. Perumusan masalah biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan yang nantinya akan membentuk pertanyaan penelitian (reseach questions). Misalnya : – Sejauhmana peraturan-peraturan yang ada dimengerti oleh pegawai? Bagaimana sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi? Bagaimana akibat yang ditimbulkan dari adanya pelanggaran?., apakah terdapat korelasi antara tingkat pemahaman terhadap peraturan dengan tingkat pelanggaran? dan lain sebagainya. Karena perumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian, maka hal tersebut merupakan patokan pertama pencarian data.

Ketiga: Menetapkan  Judul Sementara Penelitian

Jika isu penelitian telah diperoleh dan kemudian dirumuskan, tugas berikutnya adalah menyusun judul penelitian.Judul penelitian berbeda dengan judul buku, ceritera pendek, puisi,  atau artikel-artikel populer lainnya.  Judul suatu penelitian benar-benar harus mampu menggambarkan secara cepat dan jelas tentang apa yang diteliti. Beberapa syarat agar judul penelitian dapat disebut baik adalah :

a. Menyebutkan variabel penelitian.

Variabel penelitian adalah isu utama penelitian. Kalau isu utamanya adalah “motivasi kerja”, maka kata “motivasi kerja” tersebut secara eksplisit harus ada dalam judulnya. Jika peneliti tidak sekedar ingin tahu tentang motivasi kerja saja, tetapi juga secara khusus ingin mengetahui bagaimana hubungannya dengan variabel lain, misalnya “kinerja”, maka kata “kinerja” tersebut juga harus ada dalam judul penelitian. Walau judul penelitian harus menyebutkan variabelnya, tetapi yang disebutkan hanyalah variabel utama yang dijadikan isu penelitian. Misalnya variabel utamanya adalah “motivasi kerja”, tetapi penelitian tersebut tidak sekedar mengetahui motivasi kerja saja. Peneliti juga menganalisis motivasi kerja dari perspektif jenis kelamin, usia, pendidikan, dan lain sebagainya. Kesemua perspektif tersebut merupakan variabel-variabel penelitian yang tidak harus disebutkan dalam judul.

b. Menyebutkan unit analisis penelitian

Semua penelitian memiliki unit analisis Yang dimaksud dengan unit analisis penelitian adalah organisasi, kelompok orang, kejadian, atau hal-hal lain yang dijadikan objek penelitian. Masih dengan isu “motivasi kerja”, maka judul penelitian juga harus secara eksplisit mencantumkan “siapa” yang ditelitinya secara lebih definitif. Kalau yang diteliti adalah pegawai, maka kata “pegawai” harus disebutkan di dalam judul penelitian. Kalau yang diteliti adalah konsumen, kata “konsumen” harus disebutkan. Pegawai, konsumen dalam contoh di atas adalah unit analisis. Jika seseorang ingin meneliti sistem penggajian suatu instansi, maka unit analisisnya adalah instansi atau organisasi.

c. Menyebutkan lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat di mana unit analisis penelitian berada. Jika pegawai merupakan unit analisis, maka harus disebutkan secara definitif  di organisasi mana pegawai tersebut bekerja. Apabila pelitian dilakukan di wilayah tertentu, secara jelas nama wilayah tersebut harus dicantumkan dalam judul penelitian. Jika unit analisisnya organisasi, maka disebutkan pula letak di mana organisasi tersebut berada.

d. Disusun sesingkat mungkin

Walau judul harus disusun sesingkat mungkin tetapi tidak berarti lalu menjadi tidak jelas. Arti sesingkat mungkin adalah hindari kata-kata yang tidak seharusnya ada dalam judul, karena tanpa kata-kata tersebut juga, makna judul sudah dapat dimengerti. Misalnya, di depan kata Jawa Barat tidak usah ada kata propinsi, karena sudah jelas bahwa Jawa Barat itu adalah propinsi. Berbeda dengan kata Bandung, yang dapat berarti Kotamadya dan Kabupaten. 

Keempat: Menguraikan Latar Belakang Penelitian

Mengapa peneliti  memilih isu tertentu? Apa kegunaan penelitian tersebut untuk kepentingan praktis atau teoretis? Agar peneliti dapat menyusun latar belakang penelitiannya dengan baik maka dia harus membekali diri dengan banyak informasi tentang isu penelitiannya baik yang berdimensi praktis dan teoritis. Seorang peneliti dengan isu “motivasi kerja”, harus dapat menjelaskan mengapa dia meneliti isu tersebut, apa akibat positif yang bisa ditimbulkan dari penelitian dengan isu tersebut. Dalam latar belakang peneliti bisa saja mencantumkan data atau pendapat-pendapat orang lain guna memperkuat alasan penelitiannya.

Kelima : Menentukan Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sesuatu hal yang ingin dicapai oleh penelitian yang nantinya diuraikan dalam pembahasan hasil atau temuan penelitian. Pencantuman tujuan penelitian dimaksudkan agar peneliti senantiasa bergerak sesuai dengan tujuan tersebut. Apabila tujuan salah satu tujuan penelitian adalah ingin mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, maka peneliti harus selalu berupaya ke arah situ. Apabila peneliti bertujuan ingin mengetahui sikap pegawai tentang sesuatu hal maka dia harus. mengarahkan semua upaya penelitiannya – yaitu memperoleh data tentang sikap pegawai. Tercapai tidaknya tujuan penelitian secara eksplisit harus tampak dalam hasil penelitian dan dalam kesimpulan penelitian.

Kegunaan Penelitian merupakan uraian tentang manfaat dari hasil atau temuan penelitian. Kalau ternyata terbukti bahwa ada hubungan antara gaji pegawai dengan semangat kerja mereka, lalu apa manfaat dari temuan tersebut bagi lingkungan di mana penelitian dilangsungkan?

Keenam : Menyusun Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran, peneliti harus menguraikan konsep atau variabel-variabel penelitiannya secara lebih rinci. Dia tidak hanya mendefinisikan variabel-variabel tadi, tetapi juga menjelaskan keterkaitan di antara variabel-variabel tadi. Dalam meruraikan kerangka pikirannya , peneliti tidak sekedar memfokuskan pada variabel-variabel penelitiannya saja tetapi juga harus menghubungkan konsep penelitian dalam kerangka yang lebih luas lagi. Misalnya jika peneliti ingin mengetahui apakah ada korelasi antara gugus kendali mutu dengan tingkat produktivitas, maka peneliti menguraikan apa itu gugus kendali mutu, apa itu produktivitas, bagaimana hubungan di antara kedua variabel itu, lalu bagaimana keterkaitannya dengan organisasi secara menyeluruh.

Akhir kerangka pemikiran dapat disusun dalam bentuk model, yaitu abtraksi dari pemikiran-pemikiran yang melandasi penelitian. Model kerangka pemikiran bisa sama dengan model penelitian, tetapi juga bisa berbeda. Model penelitian cenderung lebih memusatkan pada variabel- variabel penelitian yang memang benar-benar akan diteliti, sedangkan model kerangka pemikiran lebih luas lagi. Misalnya, Model : K=f(m,k) – Kinerja adalah fungsi dari motivasi dan kemampuan, tetapi penelitian hanya ingin mengetahui hubungan antara motivasi dengan kinerja. Dengan demikian dalam model kerangka pemikiran ada tiga variabel, sedangkan di model penelitian hanya ada dua variabel.

Ketujuh : Menetapkan Hipotesis Penelitian

Penelitian bisa menggunakan hipotesis atau bisa juga tidak, atau bahkan bisa pula memunculkan hipotesis. Yang dimaksud dengan hipotesis adalah tesis (kesimpulan) yang masih belum tentu benar (hypo). Karena belum tentu benar, maka perlu diuji. Pemunculan hipotesis didasarkan atas kerangka pemikiran. Peneliti dapat membuat hipotesis : “Makin tinggi tingkat pemahaman pegawai pada peraturan organisasi, makin sedikit tingkat pelanggaran yang dilakukannya”. Hipotesis ini muncul berdasarkan kerangka pemikiran bahwa orang melanggar suatu peraturan karena dia tidak atau kurang mengerti tujuan atau kegunaan peraturan tersebut. Kerangka pemikiran ini didukung oleh teori-teori, atau penelitian-peneliti-an tertentu.

Peneliti tidak bisa sembarangan membuat hipotesis. Dia harus benar-benar cermat membuat hipotesis agar hipotesisnya bisa diterima. Suatu hipotesis bisa saja ditolak, tetapi jika penolakannya disebabkan karena kerangka berpikir yang salah, bukan karena salah pengambilan data atau hal teknis lainnya, maka mutu logika peneliti dipertanyakan.Suatu penelitian boleh mempunyai lebih dari satu hipotesis. Terlepas dari jumlah yang ada, semuanya harus diuji.

Kedelapan : Mengoperasionalisasikan Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu hal yang menjadi obyek penelitian yang mempunyai nilai yang bervariasi. Kalau peneliti tertarik meneliti disiplin kerja pegawai, maka disiplin kerja tersebut adalah variabel penelitiannya. Disiplin kerja mempunyai variasi nilai; disiplinnya tinggi, rendah, cukup, dan lain sebagainya. Besar atau banyaknya variabel penelitian tidak dapat dijadikan patokan tingkat keilmiahan suatu penelitian. Peneliti boleh saja memfokuskan penelitiannya pada satu variabel dan boleh juga dua, tiga, empat, dan entah berapa banyak lagi. Kadar keilmiahan suatu penelitian lebih banyak ditentukan oleh bagaimana peneliti menetapkan memilih dan menerapkan metode penelitiannya; misalnya menentukan sampel, mencari data, mengolah data, mengiterpretasikan data,dan lain sebagainya.

Operasionalisasi variabel merupakan proses mengubah definisi nominal menjadi definisi operasional. Misalnya definisi nominal dari disiplin adalah “tingkat kepatuhan seseorang kepada aturan-aturan yang dikeluarkan oleh organisasi”. Definisi operasionalnya : Masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 14.00, setiap tanggal 17 mengikuti apel, tidak merokok di tempat yang ada larangan merokok, meminta ijin kepada yang berwenang jika meninggalkan kantor pada saat jam kerja, dan lain sebagainya.

Definisi operasional tidak boleh mempunyai makna yang berbeda dengan definisi nominal. Oleh karena itu sebelum menyusun defenisi operasional, peneliti harus membuat definisi nominal terlebih dahulu variabel penelitiannya. Definisi nominal dari variabel penelitian seharusnya secara eksplisit telah dinyatakan dalam kerangka pemikiran.Definisi nominal dapat diangkat dari berbagai pendapat para akhli yang memang banyak membicarakan, menulis tentang variabel yang ditelitinya. Kalau variabelnya adalah “Peran Kepala Desa”, maka peneliti harus mempelajari konsep “peran Kepala Desa”. Apa itu peran?. Peneliti tidak bisa hanya mengutip satu atau dua pendapat saja. Makin banyak pendapat para akhli yang dikutip, makin besar kemungkinan kebenaran makna definisi nominal variabel penelitiannya.

Untuk memudahkan, langkah awal yang bisa diambil guna menyusun definisi nominal variabel penelitian adalah melihat kamus umum. Kalau variabel tersebut berasal dari kata asing, misalnya dari bahasa Inggeris, maka kamus bahasa Inggeris yang dipakai. Baru setelah itu mencari dari buku-buku khusus yang membahas konsep atau variabel penelitiannya. Jika buku yang dibacanya cukup tebal sehingga sulit menemukan kata yang dicarinya, manfaatkan indeks yang ada di buku tersebut. Melalui indeks, peneliti dapat dengan mudah menemukan nomor halaman di mana kata yang dimaksudkan dibahas.

Kesembilan: Memilih Metode Penelitian

Setelah peneliti sangat memahami apa yang akan ditelitinya, maka hal yang paling penting dalam proses penelitian adalah menentukan bagaimana cara menelitinya. Di sini peneliti harus bisa menetapkan metoda penelitian apa yang tepat. Kesalahan memilih metoda penelitian akan mengakibatkan tujuan yang sesungguhnya dari penelitian tidak akan tercapai.

Dalam ilmu-ilmu sosial banyak metode penelitian yang dipakai, antara lain survai, eksperimen, studi historis, studi kasus, dan lain-lain. Yin (1989) mengatakan bahwa ada tiga kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode penelitian apa yang akan dipakai.(1) jenis pertanyaan penelitian, (2) sejauhmana peneliti dapat mengendalikan kejadian atau perilaku obyek yang diteliti, dan (3) waktu kejadian atau perlilaku ditampilkan. Di bawah ini disajikan tabel yang dikemukakan oleh Yin.

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa jika penelitiannya bertujuan ingin mengetahui bagaimana dan mengapa sesuatu hal itu terjadi peneliti mampu mengendalikan perilaku atau kejadian tersebut, perilaku serta kejadian yang akan diteliti adalah yang sekarang (kontemporer) maka metode penelitiannya adalah eksperimen. Misalnya peneleliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh program pelatihan terhadap peningkatan kinerja. Peneliti dapat menggunakan rancangan penelitian eksperimen pretest posttest design.

Apa yang dikemukakan oleh Yin tersebut jangan dianggap sebagai suatu peraturan yang mengikat. Yin hanya bermaksud memberikan kemudahan manakala peneliti mengalami kesulitan dalam menentukan metoda penelitian apa yang harus diambilnya.

Kesepuluh : Menentukan sampel penelitan

Sebelum ditentukan sampel, peneliti harus menetapkan populasi penelitian karena sampel adalah bagian dari populasi.Misalnya penelitian dilakukan terhadap pegawai di Departemen X, maka semua pegawai di departemen itu adalah populasi. Penelitian terhadap desa di Kecamatan X, maka seluruh desa yang ada di kecamatan tersebut adalah populasi.

Penelitian yang ideal tidak menggunakan sampel. Tetapi karena keterbatasan waktu, dana, tenaga, yang dimiliki peneliti maka peneliti terpaksa harus mengambil sampel. Ada dua cara pengambilan sampel, yaitu dengan teknik probabilitas – sampel acak sederhana, sampel acak distaratifikasi, sampel sistematis, sampel gugus, dan lain sebagainya-dan teknik sampel nonprobabilitas- sampel bertujuan, sampel kebetulan, sampel “bolasalju”, dan lain sebagai-nya. Penentuan teknik sampling dan jumlah sampel harus benar-benar seksama sehingga hasil penelitian dicapai sesuai dengan tujuan.

Tidak semua penelitian mempunyai populasi. Kalau penelitiannya adalah tentang sistem kerja di satu departemen, maka penelitiannya tidak mempunyai populasi. Departemen yang ditelitinya bukan disebut sampel tetapi dinamakan unit analisis. Jika dalam penelitian mengambil beberapa orang untuk diwawancarai untuk memperoleh keterangan tentang sistem kerja di departemen tersebut, maka mereka bukan dinamakan sampel, tetapi responden. Tetapi jika peneliti yang sama ternyata ingin mengetahui pendapat pegawai di depatemen tadi, maka peneliti perlu menentukan sampel. Dalam kasus terakhir ini unit analisisnya adalah individu.

Kesebelas : Menentukan  Teknik Pengambilan Data  

Data adalah informasi yang berkaitan dengan variabel penelitian. Kalau variabelnya adalah motivasi kerja pegawai, maka datanya adalah informasi tentang motivasi kerja pegawai, bukan yang lain. Kalau variabelnya adalah upah atau gaji, maka informasinya berupa jumlah upah dan gaji yang berupa uang yang diterima. Yang menjadi pertanyaan penting adalah teknik pengambilan data yang bagaimana agar peneliti bisa memperoleh data yang diinginkannya. Bisakah data tentang upah dicari dengan teknik wawancara? Bisakah data disiplin kerja seseorang diambil melalui kuesioner yang diisi oleh orang yang bersangkutan?

Ada data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diambil oleh peneliti sendiri (bukan oleh orang lain) dari sumber utama, guna kepentingan penelitiannya, yang sebelumnya tidak ada. Data sekunder adalah data yang sudah tersedia yang dikutip oleh peneliti guna kepentingan penelitiannya. Data aslinya tidak diambil peneliti tetapi oleh pihak lain. Misalnya data tentang upah pegawai, jika jumlah upahnya diperoleh berdasarkan wawancara dengan pegawai yang bersangkutan, maka data upah tersebut adalah data primer. Jika data tentang upah tersebut dikutip oleh peneliti dari Daftar Upah Pegawai yang telah tersedia, maka data upah ini adalah data sekunder.

Beberapa teknik pengambilan data yang umum digunakan dalam penelitian sosial antara lain adalah wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi, dan observasi. Untuk masing-masing teknik pengambilan digunakan instrumen pengambilan data yang berbeda. Wawancara menggunakan panduan wawancara dan bisa dilengkapi dengan alat perekam suara (tape-recorder), kuesioner menggunakan daftar pertanyaan tertulis, studi dokumen dengan alat catat mencatat atau tustel, observasi dengan tustel, catatan, atau alat lainnya.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: