//
you're reading...
Sosial Politik

PEMBANGUNAN EKONOMI WILAYAH DAN GLOBALISASI

A. Pembahasan

Banyak negara berkembang gagal mengulangi keberhasilan pembangunan ekonomi negara maju walaupun mereka telah menerapkan model pembangunan yang sama. Kegagalan ini kemudian memicu beberapa ekonom mempertanyakan kembali teori ekonomi konvensional yang terlalu umum. Teori konvensional mengabaikan ciri khas, sosial, kultural, dan kelembagaan daerah di negara berkembang. Sebagian besar negara berkembang terdiri atas masyarakat majemuk dengan budaya dan karakter berbeda satu dengan yang lain. Faktor yang disebut di atas menjadi alasan mengapa program pembangunan berhasil di wilayah tertentu tapi gagal di wilayah lain.

Masalah ketidaksetaraan ekonomi antar wilayah (spatial inequality) mengundang para ekonom memunculkan kajian ekonomi wilayah. Ekonomi wilayah tidak lepas dari ekonomi nasional. Kesenjangan kemakmuran antar wilayah menunjukan kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah secara nasional. Kekuatan ekonomi wilayah mendukung kekuatan ekonomi nasional. Dengan demikan kebijakan ekonomi regional tidak bisa mengabaikan kebijakan ekonomi secara nasional. Ada perbedaan yang mendasar antara ekonomi wilayah dengan ekonomi nasional. Dari sisi lokasi suatu wilayah jauh lebih terbuka daripada ekonomi nasional. Misalnya, perdagangan antar wilayah tidak mungkin dapat dihambat dengan pengenaan tariff atau kuota seperti yang terjadi dalam hubungan ekonomi internasional. Semua wilayah dalam negara yang sama menggunakan mata uang

yang sama sehingga tidak ada masalah perbedaan nilai tukar. Tenaga kerja dan modal cenderung lebih mobile dibanding mobilitas tenaga kerja dan modal antar negara (Amstrong 1993).

B. Pengertian Wilayah

Sebelum membahas lebih lanjut apa yang dimaksud ekonomi wilayah ada baiknya melihat terlebih dahulu konsep wilayah itu sendiri. Sebuah wilayah adalah suatu area geografis yang memiliki ciri tertentu dan merupakan media lokasi berinteraksi (Nugroho 2004).

Terminologi wilayah sangat longgar, bisa mempunyai makna sempit yang hanya mencakup tetangga atau makna luas yang mencakup pergaulan internasional. Luas dan sempitnya batasan makna suatu wilayah sangat tergantung pada tujuan analisis. Batasan suatu wilayah bisa hanya meliputi satu desa, suatu kecamatan, suatu kabupaten atau wilayah ekonomi yang melewati batas negara. Seperti diungkapkan Nugroho dan Dahuri, ada 3 tipe wilayah (Nugroho 2004).

  1. Wilayah fungsional. Wilayah fungsional adalah wilayah yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berinterkasi dan saling melengkapi. Tiap komponen mempunyai peran tersendiri menyumbang terhadap pembangunan daerah. Hal ini tercermin dalam perilaku para pelaku ekonomi yang saling tergantung terhadap yang lain. Konsep wilayah nodal adalah wilayah fungsional. Suatu wilayah nodal terdiri dari sekelompok wilayah, beberapa wilayah akan menjadi wilayah simpul kecil yang diikat oleh wilayah perdagangan besar. Disini interaksi ekonomi menjadi penting dalam hubungan antar wilayah.
  2. Wilayah homogen. Wilayah homogen adalah yang dikelompokkan berdasarkan kemiripan dalam aspek tertentu. Kemiripan yang dimaksud meliputi sumberdaya alam (iklim dan sumber mineral), sosial (agama, suku, dan budaya), dan ekonomi (mata pencharian). Kategori wilayah biasanya berdasarkan pada klasifikasi tersebut. Misalnya, kita sering mendengar wilayah beriklim sejuk dan beriklim panas. Wilayah kumuh dan wilayah teratur, wilayah orang kaya dan wilayah orang miskin, dan wilayah pertanian dan wilayah pertambangan.
  3. Wilayah Administratif. Wilayah administratif yang dimaksud adalah wilayah yang selalu dikaitkan dengan pemerintah dalam rangka pengelolaan organisasi kepemerintahan. Wilayah administrasi dibedakan menjadi wilayah propinsi, wilayah kabupaten, wilayah kecematan, dan wilayah pedesaan. Pembedaan wilayah ini lebih didasarkan lingkup tanggung jawab administrasi dan sangat hirarkis.

Menurut Nugroho dan Dahuri lebih lanjut pembedaan ketiga kategori tersebut tidak bersifat mutlak (mutually exclusive). Wilayah administrasi bisa overlap dengan wilayah fungsional. Misalnya, sebuah perusahan mempunyai kantor pusat di Jakarta tapi mempunyai kantor cabang di beberapa kota propinsi. Ketika menentukan kantor cabang di kota propinsi pertimbangannya utama adalah wilayah fungsional namun di dasarkan atas wilayah administratif.

1. Definisi Pembangunan Ekonomi Wilayah

Ilmu ekonomi wilayah adalah cabang ilmu ekonomi yang dalam pembahasannya memasukkan unsur perbedaan potensi wilayah dengan wilayah lainnya (Tarigan 2004). Dalam upaya mengetahui defenisi pembangunan ekonomi wilayah perlu diketahui dulu defenisi pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai proses menciptakan kemakmuran melalui mobilisasi modal, sumberdaya manusia, sumberdaya fisik, dan sumberdaya alam untuk menghasilkan barang dan jasa yang diminta pasar. Defenisi lain, agak singkat, dikemukakan Seers yang mengartikan pembangunan ekonomi sebagai sarana realisasi diri seseorang (Seers 1972). Agar realisasi diri tercapai, pembangunan harus bisa mencakup tiga hal:

  • mengurangi kemiskinan
  • mengurangi pengangguran
  • mengurangi ketidaksetaraan

Pada awalnya Seers bertujuan membuat defenisi tandingan menolak definisi yang terlalu menekankan pada kenaikan pendapatan perkapita. Namun definisi yang dikemukakan Seers masih dianggap abstrak dan tidak terukur dengan baik sehingga definisi yang menekankan pendapatan perkapita tetap dipertahankan. Salah satunya adalah Lewis yang berpendapat bahwa pendapatan perkapita masih cocok sebagai ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi. Pembangunan sebuah negara dianggap berhasil jika bisa meningkatkan pendapatan perkapita. Memang ukuran ini masih banyak kekurangannya namun pendapatan perkapita masih dianggap ukuran yang obyektif (Lewis 1984).

Lewis sendiri mengatakan program pembangunan jangan semata mata mengejar pertumbuhan tinggi karena dapat menimbulkan biaya sosial dan biaya lingkungan yang besar. Lewis sebenarnya sudah sadar tentang degradasi lingkungan jika sumber alam dieksploitasi habis habisan. Selain itu negara dengan tingkat pertumbuhan tinggi cenderung mengabaikan pemerataan pendapatan.

Peringatan Lewis tidak berarti bagi sebagian negara berkembang. Negara berkembang berlomba mengejar tingkat pertumbuhan tinggi karena hanya dengan cara ini pemerintah yang berkuasa mendapat legitimasi masyarakatnya dan dunia luar. Pada jaman Orde Baru presiden pada waktu itu sering mengatakan bahwa pembangunan ibarat membuat kue, yang perlu diperbesar dulu sebelum dibagikan kepada rakyat. Akibat kebijakan ini adalah hasil pembangunan menjadi tidak merata antar daerah provinsi di Indonesia (Hill 1991; Tambunan 2001).

Wilayah Indonesia Timur ketinggalan dari saudara mereka di Indonesia Barat. Selain itu tingkat ketimpangan dalam masing masing wilayah juga berbeda. Tingkat ketimpangan antar provinsi di Indonesia Barat lebih rendah di banding dengan tingkat ketimpangan antar provinsi di Indonesia Timur (Tambunan 2001).

Seperti telah diungkapkan di atas, standard yang dipakai mengukur pembangunan ekonomi suatu wilayah adalah kenaikan pendapatan perkapita (Pomfret 1997; Sukirno 2006). Ukuran ini kelihatannya sederhana namun masih meninggalkan kebingungan. Wilayah Papua bisa dianggap lebih makmur daripada Jawa Tengah jika ukuran pendapatan perkapita yang dipakai. Wilayah Papua yang mempunyai hasil mineral melimpah dan jumlah penduduk yang sedikit mempunyai pendapatan perkapita lebih tinggi daripada Jawa Tengah yang hanya mengandalkan sektor industri dan pertanian serta penduduknya jauh lebih banyak. Namun dalam kenyataan kemakmuran rata-rata penduduk Jawa Tengah lebih baik daripada penduduk Papua. Pendapatan perkapita tinggi lebih menunjukkan potensi suatu wilayah untuk berkembang dan tidak bisa dijadikan ukuran kemakmuran suatu wilayah. Oleh karena itu para ahli pembangunan berhati-hati membuat defenisi pembangunan ekonomi wilayah.

2. Gambaran Bekerjanya Ekonomi Wilayah

Suatu wilayah secara ekonomi tidak jauh berbeda dengan ekonomi negara secara menyeluruh. Prinsip prinsip ekonomi umum berlaku dalam konteks negara berlaku pula dalam konteks wilayah. Misalnya, negara membutuhkan dana luar negeri untuk mendorong kegiatan ekonomi dalam negeri. Dana tersebut bisa berasal dari hasil ekspor atau pinjaman luar negeri. Mekanisme yang sama juga berlaku bagi ekonomi wilayah. Suatu wilayah membutuhkan dana dari luar untuk mendorong kegiatan ekonomi wilayah bersangkutan. Dana yang masuk bisa dari pemerintah pusat, hasil usaha swasta lokal, atau pinjaman swasta lokal. Dari mana pun dana tersebut jika dibelanjakan di wilayah bersangkutan akan mendorong kegiatan ekonomi lokal. Gambar 1 menunjukan mekanisme bekerjanya ekonomi wilayah. Kegiatan produksi di wilayah tertentu tergantung pada permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan wilayah tersebut dari wilayah lain. Permintaan dari wilayah lain yang dimaksud bisa dari dalam negeri dan dari luar negeri. Semakin besar permintaan akan memicu tumbuhnya dunia usaha dan kegiatan produksi di wilayah tersebut.

Peningkatan kegiatan produksi akan dikuti oleh peningkatan permintaan terhadap tenaga kerja lokal dan permintaan input lain. Tentu kesempatan kerja meningkat sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran di wilayah bersangkutan. Hal ini bisa dilihat dari Gambar 1 salah satu sumber pemasok tenaga kerja adalah mereka yang masih menganggur. Kadang untuk keahlian tertentu kegitan produksi yang baru ini harus membajak dari industri lain. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan terjadi kompetisi dalam mendapatkan tenaga kerja yang ahli sehingga akan memicu kenaikan upah. Selain itu jika persediaan tenaga kerja di wilayah belum mencukupi akan diisi oleh tenaga kerja migran dan para penglaju.

Gambar 1. Dampak Aktivitas Produksi terhadap Kesempatan Kerja, Output, dan Impor Daerah

Pendapatan dari para pekerja ini akan dipakai membelanjakan barang dan jasa. Tentu ini menjadi peluang usaha lain bagi masyarakat lokal. Permintaan terhadap produk lokal bisa meningkat karena sebagian pekerja berdomisili di wilayah tersebut. Tumbuhnya industri lokal akan meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja. Selain itu tumbuhnya industri baru meningkatkan permintaan terhadap input lain yang disediakan rumah tangga. Hal ini akan mendorong berkembangnya industri rumah tangga di wilayah tersebut.

C. Pembangunan Regional dan Globalisasi

Globalisasi merupakan suatu situasi sebuah negara atau wilayah terintegrasi dengan dunia luar baik secara ekonomi dan sosial. Peran yang dimainkan ekonomi wilayah telah berubah cukup drastis akhir akhir ini sebagai akibat globalisasi. Perubahan ini perlu diketahui para pembuat kebijakan dalam rangka membuat analisa ekonomi wilayah dan dalam perencanaan pembangunan ekonomi wilayah. Pada masa yang lalu hubungan suatu wilayah dengan dunia global dianggap tidak terlalu penting karena merupakan urusan nasional. Ekonomi wilayah hanya bagian dari ekonomi nasional sehingga gejolak ekonomi nasional langsung berdampak pada ekonomi wilayah. Aktivitas ekonomi nasional selalu dibatasi aturan main global. Oleh karena ekonomi wilayah merupakan bagian dari ekonomi nasional maka kebijakan ekonomi apa pun yang berkaitan dengan ekonomi global pasti berpengaruh pada wilayah (Stimson 2002).

Ketika negara berkembang mulai dengan pembangunan ekonomi, paradigma perdagangan yang hidup pada waktu itu adalah keunggulan komparatif. Bahkan sampai sekarang pun banyak negara masih mempercayai konsep ini. Salah satu syarat agar suatu negara mendapatkan keunggulan komparatif adalah spesialisasi pada produk tertentu. Penalarannya adalah sebagai berikut. Jika sebuah negara bisa membuat produk tertentu dengan lebih murah dari negara lain maka sebaiknya mengkhususkan diri pada produk tersebut. Penggagas teori ini berharap setiap negara fokus pada satu produk unggulan sehingga ketika terjadi pertukaran melalui perdagangan maka akan menguntungkan semua pihak.

Setelah negara menetapkan produk unggulan maka langkah brikut adalah menyebar industri ke wilayah yang cocok, terutama daerah perkotaan. Pada umumnya industri yang berkembang adalah industri besar dengan produksi masal (mass production). Oleh karena sebagian besar industri yang berkembang masih dalam tahap awal atau industri bayi (infant industry), maka pemerintah kerap melindunginya melalui pengenaan tarif dan kuota terhadap produk global. Namun perlu diingat sebagian besar industri yang dibangun kebanyakan melibatkan modal asing sehingga yang menikmati juga adalah pemilik modal.

Situasi sudah berubah setelah adanya perjanjian perdagangan bebas di World Trade Organization (WTO). Negara yang ikut meratifikasi peraturan ini tidak bisa lagi semena mena mengenakan pembatasan terhadap produk global. Situasi ini menyebabkan suatu wilayah tidak mungkin mengisolasi diri dari pengaruh globalisasi. Wilayah tertentu bahkan menjadi pemain penting dalam proses globalisasi. Bangalore di India merupakan salah satu pusat pengembangan teknologi informasi (IT) di India. Produk dari Bangalore dapat menembus pasar global (Amerika dan Eropa). Produk tekstil Jawa Barat dan Jawa Tengah merambah sampai pasar Amerika dan Eropa. Dari sini jelas ekonomi suatu wilayah langsung berhubungan dengan ekonomi global.

Pada tahun 1970-an perang Arab-Israel telah memacu harga minyak naik. Banyak negara terkena imbas karena biaya produksi tiba tiba meningkat. Hal ini tidak hanya dirasakan negara maju saja tapi banyak negara berkembang ikut menderita. Kenaikan harga minyak ini juga punya pengaruh yang signifikan terhadap ekonomi wilayah. Biaya energi yang melonjak otomatis berpengaruh terhadap struktur biaya usaha yang pada akhirnya menyebabkan daya saing produk dari wilayah bersangkutan menjadi lemah (Stimson 2002). Imbas kenaikan harga minyak tidak hanya melanda negara berkembang tapi juga negara maju. Negara maju mencari jalan keluar atas masalah energi. Mereka tidak mau terlalu lama bergantung pada sumber energi minyak. Mereka mencari terobosan melalui pengembangna teknologi dan salah satu temuan penting adalah semi-konduktor yang mengubah wajah dunia ke abad informasi, ke industri yang berbasis pengetahuan, dan melakukan aliansi strategis. Perkembangan dalam teknologi telekomunikasi dan komunikasi menyebabkan suatu wilayah terintegrasi secara langsung dengan dunia global. Globalisasi merambah sampai ke pelosok daerah melalui antena satelit, televisi, telepon dan internet.

Banyak wilayah kemudian mulai memperhatikan model pembangunan yang berbasis pengetahuan. Banyak wilayah kemudian berlomba lomba mengadakan pengembangan tekonologi informasi agar tidak tertinggal dari daerah lain.

Rangkuman

Sebuah wilayah adalah suatu area geografis yang memiliki ciri tertentu dan merupakan media lokasi berinteraksi ada 3 tipe wilayah:

  1. Wilayah fungsional. Wilayah fungsional adalah wilayah yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berinterkasi dan saling melengkapi.
  2. Wilayah homogen. Wilayah homogen adalah yang dikelompokkan berdasarkan kemiripan dalam aspek tertentu.
  3. Wilayah Administratif. Wilayah administratif yang dimaksud adalah wilayah yang selalu dikaitkan dengan pemerintah dalam rangka pengelolaan organisasi kepemerintahan.

Ilmu ekonomi wilayah adalah cabang ilmu ekonomi yang dalam pembahasannya memasukkan unsur perbedaan potensi wilayah dengan wilayah lainnya. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai proses menciptakan kemakmuran melalui mobilisasi modal, sumberdaya manusia, sumberdaya fisik, dan sumberdaya alam untuk menghasilkan barang dan jasa yang diminta pasar.

Defenisi lain, agak singkat, dikemukakan Seers yang mengartikan pembangunan ekonomi sebagai sarana realisasi diri seseorang. Realisasi diri tercapai, pembangunan harus bisa mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran dan mengurangi ketidaksetaraan.

Prinsip prinsip ekonomi yang berlaku secara nasional berlaku pula secara kedaerahan. Globalisasi merupakan suatu situasi sebuah negara atau wilayah terintegrasi dengan dunia luar baik secara ekonomi dan sosial. Situasi sudah berubah setelah adanya perjanjian perdagangan bebas di World Trade Organization (WTO). Negara yang ikut meratifikasi peraturan ini tidak bisa lagi semena mena mengenakan pembatasan terhadap produk global. Situasi ini menyebabkan suatu wilayah tidak mungkin mengisolasi diri dari pengaruh globalisasi.

Mereka mencari terobosan melalui pengembangna teknologi dan salah satu temuan penting adalah semi-konduktor yang mengubah wajah dunia ke abad informasi, ke industri yang berbasis pengetahuan, dan melakukan aliansi strategis. Perkembangan dalam teknologi telekomunikasi dan komunikasi menyebabkan suatu wilayah terintegrasi secara langsung dengan dunia global. Globalisasi merambah sampai ke pelosok daerah melalui antena satelit, televisi, telepon dan internet.

Diklat Teknis LAN

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: