//
you're reading...
Sosial Politik

MODEL MODEL PEMBANGUNAN EKONOMI REGIONAL

Beberapa model pembangunan wilayah ini sudah tersebar dalam berbagai literatur. Berikut ini akan dibahas 5 teori (model) pembangunan wilayah yang meliputi, Teori ekonomi basis, teori kutub  pertumbuhan, teori pertumbuhan akumulatif, teori lokasi, dan teori dampak aglomerasi (Stimson 2002).

1. Teori Ekonomi Basis (Economic Base Thory)

Pendekatan basis memembagi perekonomian suatu wilayah ke dalam dua komponen:

  • Komponen non-basis, yaitu komponen perekonomian yang melayani masyarakat lokal (konsumsi lokal).
  • Komponen basis, yaitu komponen yang memproduksi barang dan jasa melayani permintaan masyarakat luar wilayah (konsumsi ekspor).

Pembedaan kedua komponen tersebut dapat dipakai dalam membuat evaluasi terhadap kebijakan ekonomi suatu wilayah. Wilayah non-basis lebih banyak melayani segmen masyarakat lokal otomatis sebagian besar produk akhir akan terserap pasar lokal. Sebaliknya wilayah basis sebagian besar produk akhir diserap pasar luar wilayah. Menurut aliran ekonomi basis ada hubungan antara ukuran sebuah kota dengan struktur industri. Kota besar lebih mengandalkan komponen basis daripada non-basis.

Pendekatan ekonomi basis percaya bahwa pertumbuhan ekonomi suatu wilayah hanya akan terjadi jika komponen ekonomi basisnya berkembang karena mempunyai efek multiplier yang besar. Pertumbuhan basis ekspor suatu wilayah akan mendorong masuknya dana ke ekonomi lokal (wilayah).

Dana tersebut berasal dari penjualan produk akhir yang diekspor ke luar daerah. Dana ini kemudian diterima pengusaha dan penduduk lokal yang terlibat dalam proses produksi dan dibelanjakan di wilayah tersebut. Konsumsi masyarakat terhadap produk lokal diharapkan akan merangsang tumbuhnya usaha baru sehingga menciptakan peluang kerja baru. Dengan demikian sektor ekspor akan mendorong aktivitas ekonomi wilayah lebih bergairah.

2. Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory)

Teori kutub pertumbuhan menganjurkan strategi pembangunan investasi harus dipusatkan pada sektor tetentu yang dianggap menjadi motor penggerak pembangunan wilayah. Sektor ini disebut sebagai sektor kutub pertumbuhan. Sektor yang dianggap sebagai kutub pertumbuhan adalah sektor industri basis yang ada di wilayah tersebut. Dalam pemahaman mereka ketika suatu kutub sektor ekonomi berkembang akan secara otomatis membangun relasi dengan sektor lain sehingga berbagai sektor ekonomi akan turut berkembang.

Prakteknya pembangunan wilayah yang menggunakan strategi kutub pertumbuhan lebih menguntungkan pusat perkotaan. Hampir semua infrastruktur dibangun di daerah urban sehingga otomatis pemusatan industri juga di daerah perkotaan. Dampak penyebaran tidak merata berakibat pada pembangunan yang tidak seimbang (unbalanced development). Tentu ini menjadi masalah karena pasti akan terjadi kesenjangan antar wilayah.

Kecemburuan terjadi antar wilayah atau antar sektor dalam wilayah bersangkutan karena strategi kutub pertumbuhan akan menciptakan wilayah atau sektor yang berhasil maju dan wilayah atau sektor yang masih terbelakang (winners and loosers). Pada umumnya wilayah perkotaan dengan sektor industri selalu lebih maju daripada wilayah pedesaan yang mengandalkan sektor pertanian. Kenjangan antar wilayah atau antar sektor mengantar kaum neoklasik melihat strategi kutub pertumbuhan hanya melancarkan proses ekploitasi suatu wilayah terhadap yang lain atau suatu sektor terhadap sektor yang lain.

3. Teori Pertumbuhan Akumulatif (Accumulative Causation Theory)

Teori pertumbuhan akumulatif lebih berorientasi pasar dengan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan keunggulan kompetitif terhadap wilayah lain. Untuk itu setiap kebijakan harus mampu menarik modal, ketrampilan, dan kepakaran ke wilayah tersebut. Teori ini memberi kesempatan setiap wilayah bersaing dengan wilayah lain tanpa tenggang rasa. Misalnya, kebijakan wilayah tertentu menyebabkan wilayah lain terbelakang bukan masalah. Proses semacam ini adalah alamiah dan tidak perlu dirisaukan. Model pertumbuhan akumulatif memungkinkan suatu wilayah bertumbuh cepat jika menerapkan kebijakan ekonomi yang tepat. Namun sebaliknya kebijakan yang keliru berakibat pada merosotnya pertumbuhan ekonomi wilayah. Model ini memberi perhatian pada: stock enterpreneur, proses pembelajaran, pendidikan, peningkatan kapasitas kelembagaan, adopsi teknologi, dan perpindahan usaha.

4. Teori Lokasi

Teori lokasi muncul sebagai jawaban terhadap kelemahan teori ekonomi konvensional yang mengabaikan lokasi dalam analisisnya. Salah satu pertanyaan penting adalah mengapa kegiatan ekonomi terpusat di lokasi (daerah) tertentu? Penyebaran kegiatan ekonomi yang tidak merata berakibat pada perbedaan kemakmuran antar daerah. Hipotesis yang dikembangkan para ahli teori lokasi adalah para pelaku usaha mencari lokasi yang menawarkan biaya minimal dan mencari lokasi yang menawarkan kesempatan mendapatkan keuntungan maksimal (Dawkins 2003). Biaya yang dimaksud meliputi biaya transpor, biaya tenaga kerja, dan biaya produksi lain. Secara singkat mereka yang bergerak dalam dunia usaha cenderung menempatkan usaha mereka dekat pasar jika biaya transportasi membawa produk akhir ke pasar lebih besar dari biaya transportasi bahan baku ke tempat produksi.

Sebaliknya, mereka akan menempatkan usaha dekat sumber bahan baku jika biaya transpor dan biaya bahan baku perunit lebih tinggi daripada biaya transpor produk akhir ke pasar. Dalam merancang strategi pembangunan wilayah teori lokasi sangat penting dalam memahami keunggulan dan kekurangan sebuah lokasi bagi pengembangan industri tertentu. Teori lokasi memungkinkan para penentu kebijakan mendapatkan alasan mengapa terjadi konsentrasi industri tertentu di wilayah tertentu atau mengapa industri tertentu menyebar di beberapa wilayah. Dengan memahami berbagai faktor penyebab konsentrasi atau faktor penyebab penyebaran industri pemerintah daerah dapat merancang strategi pembangunan dengan lebih baik.

5. Teori Dampak Aglomerasi (Aglomeration Effect Theory)

Sebelum membahas dampak aglomerasi ada baiknya kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan aglomerasi. Aglomerasi adalah konsentrasi usaha di wilayah tertentu sehingga individu atau dunia usaha bisa mendapat keuntungan. Aglomerasi sering terjadi di wilayah dengan konsentrasi penduduk yang tinggi. Aglomerasi mempunyai dampak yang positif kepada jenis usaha tertentu seperti:

  1. Secara ekonomis aglomerasi memberi manfaat kepada individu atau dunia usaha di wilayah dengan konsentrasi penduduk dan konsentrasi usaha yang tinggi. Hal ini biasanya berlangsung di kota besar.
  2. Aglomerasi memungkinkan usaha besar menekan biaya produksi karena mencapai skala ekonomi. Konsentrasi penduduk memungkinkan dunia usaha berproduksi dalam skala besar sehingga bisa menekan ongkos.
  3. Konsentrasi penduduk dan jenis usaha di wilayah tertentu memungkinkan dunia usaha dapat memanfaatkan barang dan jasa lokal untuk kepentingan produksi produk akhir. Di sini aglomerasi memungkinkan dunia usaha berproduksi secaa efisien baik biaya, waktu, dan tenaga.

Aglomerasi usaha bisa terjadi secara alamiah namun dapat pula direncanakan. Para penentu kebijakan perlu mengetahui dampak aglomerasi terutama dalam pendirian dan pengembangan sentra industri. Banyak sentra industri gagal karena para penentu kebijakan tidak memperhatikan asumsi dasar aglomerasi usaha.

Sebelum membahas ekonomi wilayah lebih lanjut ada baiknya perlu diketahui apa yang dimaksud dengan “wilayah?” Belum ada kesepakaan para ahli tentang definisi wilayah. Aliran pertama adalah central place theory mendefinikan wilayah sebagai sebagai suatu tatanan wilayah berdasarkan hirarki. Setiap wilayah mempunyai beberapa kota yang dapat dikelompokan dalam kota besar dan kota kecil. Pengelompokan ini berdasarkan jumlah barang dan jasa yanag ditawarkan sebuah kota. Kota kecil akan mengimpor dari kota besar dan sebaliknya kota besar akan mengekspor ke kota kecil.

Rangkuman

Model pembangunan wilayah diperkenalkan disini dengan tujuan agar setiap wilayah dapat mengadopsi dan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing masing. Beberapa model pembangunan wilayah tersebar dalam berbagai literatur. Diantara ini akan dibahas 5 teori (model) pembangunan wilayah yang meliputi, Teori ekonomi basis, teori kutub pertumbuhan, teori pertumbuhan akumulatif, teori lokasi, dan teori dampak aglomerasi.

Pendekatan basis memembagi perekonomian suatu wilayah ke dalam dua komponen yaitu komponen non-basis dan Komponen basis. Pendekatan ekonomi basis percaya bahwa pertumbuhan ekonomi suatu wilayah hanya akan terjadi jika komponen ekonomi basisnya berkembang karena mempunyai efek multiplier yang besar.

Teori kutub pertumbuhan menganjurkan strategi pembangunan investasi harus dipusatkan pada sektor tetentu yang dianggap menjadi motor penggerak pembangunan wilayah. Sektor ini disebut sebagai sektor kutub pertumbuhan.

Sektor yang dianggap sebagai kutub pertumbuhan adalah sektor industri basis yang ada di wilayah tersebut. Dalam pemahaman mereka ketika suatu kutub sektor ekonomi berkembang akan secara otomatis membangun relasi dengan sektor lain sehingga berbagai sektor ekonomi akan turut berkembang.

Teori pertumbuhan akumulatif lebih berorientasi pasar dengan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan keunggulan kompetitif terhadap wilayah lain. Untuk itu setiap kebijakan harus mampu menarik modal, ketrampilan, dan kepakaran ke wilayah tersebut.

Hipotesis yang dikembangkan para ahli teori lokasi adalah para pelaku usaha mencari lokasi yang menawarkan biaya minimal dan mencari lokasi yang menawarkan kesempatan mendapatkan keuntungan maksimal

Aglomerasi adalah konsentrasi usaha di wilayah tertentu sehingga individu atau dunia usaha bisa mendapat keuntungan. Aglomerasi usaha bisa terjadi secara alamiah namn dapat pula direncanakan. Para penentu kebijakan perlu mengetahui dampak aglomerasi terutama dalam pendirian dan pengembangan sentra industri.

Diklat Teknis LAN

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: