//
you're reading...
Sosial Politik

MODAL SOSIAL, KEMISKINAN DAN DAYA SAING

Modal sosial dapat dianggap sebagai aset yang mengendap dalam keluarga, teman ataupun asosiasi di mana seseorang menjadi anggota. Sebagai aset tentu modal ini bisa memberi manfaat ketika seseorang menghadapi krisis, bisa dinikmati dalam relasi sosial keseharian, dan bisa juga dimanfaatkan mendatangkan keuntungan materi. Keuntungan dari modal sosial tidak hanya dinikmati oleh individu tapi dapat juga oleh kelompok komunitas. Dalam kasus tertentu upaya mengentaskan kemiskinan dan kerentanan ekonomi dalam sebuah komunitas berlangsung lancar jika jaringan antar anggota masyarakat telah terbentuk dan anggota masyarakat banyak terlibat dalam perkumpulan sosial lokal. Memang modal sosial yang kuat akan mengurangi pertikaian dalam masyarakat sehingga friksi sosial kurang terjadi (Narayan, 2000). Tentu kondisi ini akan sangat membantu memperlancar keberhasilan proses pembangunan itu sendiri.

Dalam pembahasan tentang modal sosial yang dipermasalahkan adalah kapan dimensi sosial dapat dianggap sebagai modal. Apakah setiap hubungan yang melibatkan jaringan harus disebut sebagai modal sosial. Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa jika interaksi yang terjadi hanya murni menjaga hubungan baik maka belum dapat dikatakan sebagai modal sosial. Namun jika hubungan tersebut kemudian mempunyai implikasi ekonomis baru dikatakan sebagai modal sosial (Iyer, 2005). Dengan kata lain modal sosial merupakan perpaduan antara relasi sosial dan manfaat  ekonomi. Tentu pemahaman seperti ini agak sulit untuk dinilai karena bisa saja relasi yang terbentuk sekarang baru mempunyai implikasi ekonomi beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu semua bentuk hubungan sosial pada akhirnya dapat dianggap sebagai modal sosial.

Wilayah yang secara intensif mendorong pembentukan modal sosial bukan tanpa maksud. Tujuan utamanya adalah mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang memadai. Memang ada masalah dengan konsep modal sosial yang dianggap masih kabur ketika dipakai untuk menganalisis pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsep modal sosial mencakup sejumlah sikap, norma, dan interaksi antar individu yang menyulitkan dalam membuat analisis faktor penyebab pertumbuhan suatu wilayah. Salah satu kesulitan lain adalah menganalisis dampak sampingan (externalities) dari modal sosial. Memang sudah ada yang berusaha mengungkapkan kekurangan dari modal sosial dalam pembangunan ekonomi.

Masuknya modal sosial sebagai suatu variabel dalam teori pembangunan merupakan fenomena baru. Pada masa yang lalu teori pembangunan didominasi oleh pemikiran bahwa hanya faktor ekonomi yang memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hingga tahun 1990-an teori pembangunan yang utama belum sepenuhnya menerima hubungan sosial sebagai suatu variabel dalam pembangunan. Teori pembangunan yang berkembang tahun 1950-an dan 1960-an bahkan menganggap hubungan sosial sebagai faktor penghambat pembangunan. Teori yang berkembang pada waktu itu mencoba menjelaskan sebab keterbelakangan di negara sedang berkembang dengan menyalahkan lembaga tradisional seperti, sistem kasta, primordialisme, dan keterikatan yang kuat dengan tradisi (Escobar, 1995). Oleh karena itu para ahli pembangunan pada waktu itu percaya bahwa hanya nilai moderen yang dapat diandalkan dan dapat memfasilitasi perkembangan masyarakat agar bisa maju seperti masyarakat di negara Barat.

Pada akhirnya ada pengakuan peran modal sosial dalam pembangunan suatu wilayah. Walaupun belum banyak yang melihat potensi modal sosial dalam pembangunan wilayah, kajian tentang ini sudah dibahas beberapa penulis (Iyer, 2005). Suatu wilayah dengan modal sosial yang kuat akan mendorong partisipasi lokal, membuka kesempatan pertemuan antar warga secara teratur, memperkuat pemahaman warga tentang nilai dan norma bersama yang pada akhirnya memperkuat tingkat kepercayaan antar warga. Di sini kemudian tumbuh rasa saling memberi dan menerima. Tingkat kepercayaan yang terbentuk dengan baik akan mengurangi biaya transaksi. Seperti diketahui biaya trasaksi adalah biaya yang dikeluarkan dalam rangka pertukaran di pasar. Lebih lanjut, modal sosial meningkatkan pertukaran arus informasi antar warga sehingga setiap tindakan dapat dirancang dengan informasi yang cukup. Hal ini akan sangat membantu mengurangi ketidakpastian masa depan.

Beberapa menyimpulkan bahwa modal sosial juga berperan memungkinkan interaksi sosial dalam masyarakat. Masyarakat dengan modal sosial yang kuat ditandai dengan tingkat kepercayaan antar mereka. Tingkat kepercayaan seperti ini menjadi modal pembangunan suatu wilayah. Biasanya modal sosial yang tinggi berkaitan erat dengan kualitas modal manusia yang handal (Coleman, 1998). Oleh karena itu stok modal sosial dalam suatu wilayah menjadi sangat berarti dalam keberhasilan program pembangunan. Ada dua macam modal sosial yang menunjang pembangunan yaitu: modal sosial horisontal dan modal sosial vertikal. Modal sosial horisontal dianggap lebih bermanfaat bagi pembangunan wilayah karena jaringan yang kuat antar kelompok masyarakat mendorong tingkat partisipasi yang tinggi. Pembangunan wilayah dengan modal sosial horisontal lemah selalu ketinggalan dibanding wilayah dengan modal sosial horisontal yang kuat.

Dimana letak modal sosial dalam pengembangan model pembangunan saat ini. Penulis seperti Putnam menempatkan modal sosial sebagai faktor eksogen, sebaliknya Coleman menempatkan modal sosial sebagai faktor endogen. Sebagai faktor endogen Coleman berpendapat kemakmuran ekonomi yang berpengaruh terhadap modal sosial dan bukan modal sosial yang berpengaruh terhadap kesejahteraan seperti yang diungkapkan Putnam. Putnam berpendapat bahwa modal sosial dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang sehingga dapat dianggap sebagai bagian dari budaya masyarakat. Dengan demikian hubungan antara modal sosial dengan kemakmuran suatu masyarakat bersifat satu arah dan bukan dua arah. Dengan demikian menurut Putnam kemakmuran ekonomi tidak bisa menjadi faktor determinan modal sosial tapi sebaliknya modal sosial akan menentukan kemakmuran ekonomi suatu masyarakat (Scheneider, 2000).

Banyak penelitian menunjukkan kemungkinan hubungan yang cukup signifikan antara modal sosial dengan proses pembangunan ekonomi. Selama ini ada pemahaman bahwa wilayah yang mempunyai sumber alam yang melimpah otomatis akan maju secara ekonomi, namun dalam kenyataan wilayah yang mempunyai sumber alam menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan yang rendah. Hal ini banyak terjadi di beberapa negara kawasan Amerika Latin dan Eropa. Dalam kebingungan tersebut, beberapa ahli kemudian mulai mencari kemungkinan penjelasan dari modal sosial faktor pembeda keberhasilan pembangunan. Putnam dan kawan-kawan mengungkapkan dari penelitian mereka di Italia bahwa modal sosial dapat dipakai sebagai faktor yang menjelaskan perbedaan pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kelembagaan di suatu negara (Putnam, 1993). Kasus di Italia ini tidak bisa dipakai untuk membuat generalisasi yang berlaku secara umum. Tidak kalah menarik adalah penelitian Fukuyama yang mendapati bahwa modal sosial dalam bentuk kepercayaan antar masyarakat luas sangat penting peranannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara negara maju saat ini (Fukuyama, 1995). Knack juga menemukan bahwa modal sosial mengurangi kemiskinan dan mengurangi tingkat kesenjangan pendapatan dalam suatu wilayah (Knack 1999). Berbagai penelitian di atas menunjukkan hubungan positif modal sosial dengan pembangunan ekonomi. Ada juga penelitian yang tidak menemukan hubungan antara modal sosial dengan pertumbuhan ekonomi.

Memang beberapa penelitian menunjukkan lemahnya hubungan antara kemakmuran ekonomi dan modal sosial. Amerika yang mempunyai tingkat pendapatan yang tinggi ternyata tidak ditopang modal sosial yang tinggi. Putnam (2000) dalam peneltianya menemukan menurunnya modal sosial di Amerika pada abad 20 walaupun perekonomian Amerika tumbuh cepat pada masa tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Paxton sebelumnya juga menunjukkan adanya penurunan modal sosial di Amerika selama 20 tahun terakhir. Penurunan itu dapat dilihat terutama pada tingkat kepercayaan (trust) antar individu dan bukan antara indvidu dengan institusi. Kepercayaan terhadap institusi cukup tinggi yang tercermin dari keterlibatan penduduk dalam berbagai perkumpulan (association). Menurunnya tingkat kepercayaan antar individu mungkin karena sifat masyarakat Amerika yang majemuk yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial (Sabatini 2005).

Ada juga penulis yang meragukan jika kepercayaan, norma masyarakat dan jaringan horisontal mempunyai hubungan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Putnam sendiri sudah pernah mengungkapkan bahwa hubungan antara modal sosial dengan pertumbuhan bersifat terbalik. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi modal sosial semakin rendah tingkat pertumbuhan suatu negara. Dari berbagai pendapat tersebut muncul thesis yang mengatakan bahwa kehidupan bersama dalam suatu tatanan masyarakat sipil tidak menjadi jaminan meningkatnya pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Sebenarnya yang terpenting di sini adalah kepercayaan dan kerjasama antar masyarakat sipil (civic cooperation). Semakin kuat kepercayaan dan semakin besar kesempatan kerjasama antar masyarakat maka semakin besar manfaat yang diperoleh berbagai pihak yang terlibat. Namun sebaliknya jika terjadi erosi kepercayaan dan kerjasama yang kurang baik antar masyarakat maka potensi modal sosial yang ada menjadi tidak berarti walaupun masyarakat secara rutin aktif ikut rapat dalam berbagai perkumpulan (Knack, 1995).

Namun bisa juga terjadi bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi penyebab hancurnya modal sosial. Hal ini terjadi karena sebagian besar waktu masyarakat dipakai untuk kerja dalam rangka mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi sehingga hanya sedikit waktu yang diluangkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Routledge dan von Amsberg dalam penelitian mereka mendapati bahwa pertumbuhan ekonomi selalu dibarengi dengan turnover tenaga kerja yang tinggi (Sabatini 2005). Situasi ini mempunyai dampak pada struktur sosial yaitu meningkatnya heterogenitas dalam masyarakat yang akhirnya melemahkan modal sosial. Dalam hal ini modal sosial dapat dipandang sebagai salah satu aspek struktur sosial yang mempunyai pengaruh pada kerjasama dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang jumlah penduduknya besar sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi maka modal sosial cepat hancur, kerjasama antar individu sulit dipertahankan. Namun sebaliknya jika mobilitas tenaga kerja rendah, dan masyarakat tidak terlalu berpikir efisien, maka pertukaran antar individu meningkat yang dengan sendirinya meningkatkan kerjasama antar kelompok masyarakat yang berbeda. Penelitian Alesina dan Ferrara menunjukkan bahwa kontak langsung antar individu dalam komunitas yang heterogen sangat rendah sehingga mengakibatkan kepercayaan sosial yang rendah dan menghambat pertumbuhan ekonomi (Sabatini, 2005).

A. Modal Sosial dan Pengentasan Kemiskinan

Di bagian depan kita telah memahami bahwa modal sosial mempunyai hubungan positif dengan kesejahteraan komunitas. Para ahli juga mendapati bahwa modal sosial memainkan peran besar dalam menjelaskan perilaku individu pada azas mikro ekonomi. Namun perlu diingat ada asumsi bahwa modal sosial dalam lingkungan yang sehat cenderung menelorkan hasil yang positif bagi individu yang terlibat, namun sebaliknya modal sosial rendah karena lingkungan yang kurang sehat akan menghasilkan individu yang kurang berhasil. Hal ini dipakai untuk menjelaskan tentang jebakan kemiskinan yang melilit anggota suatu keluarga secara turun temurun. Kemiskinan yang dialami orangtua dapat menurun kepada generasi berikut karena mereka sudah terbiasa hidup dalam lingkungan dengan modal sosial rendah. Memang pada mikro modal sosial selalu dikaitkan dengan kesejahteraan individu (Iyer, 2005).

Modal sosial sebagai suatu sistem jaringan antar individu jika dikoordinasi dengan baik dapat mempercepat tumbuhnya lembaga-lembaga kemasyarakatan dan terbentuknya pasar. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen dan pemanfaatan jaringan sangat penting dalam pembagian sumber yang tersedia. Jaringan dapat dimaknai sebagai kepercayaan dan kelembagaan yang ada dalam masyarakat. Jaringan ini bisa positif jika didasarkan pada keyakinan bersama namun bisa negatif misalnya dalam hal kegiatan rent-seeking ekonomi yang sering dipraktekkan oleh organisasi kriminal. Jika hasil yang ingin dicapai jaringan tidak sesuai dengan tujuan masyarakat maka pemerintah perlu campur tangan memperkuat kembali modal sosial. Misalnya, pembentukan rukun warga (RW) atau rukun tangga (RT) seharusnya bisa merupakan salah satu upaya mempercepat modal sosial di kalangan masyarakat.

Dalam masyarakat apa pun biasanya muncul banyak asosiasi atau perserikatan baik atas dasar profesi maupun ikatan primordial yang lain. Kehadiran asosiasi ini selalu mempunyai tujuan dan misi masing masing. Modal sosial biasanya diukur dari keberadaan dan keterlibatan seseorang dalam asosiasi tertentu. Penelitian Putnam menunjukkan bahwa wilayah utara Itali lebih maju dari wilayah selatan karena lebih banyak orang di utara terlibat dalam berbagai asosiasi daripada di selatan Itali. Hal ini kemudian menyebabkan pertumbuhan ekonomi di wilayah utara lebih tinggi daripada di selatan. Asosiasi sukarela di wilayah utara menjalin hubungan kerjasama yang intens dengan pemerintah daerah setempat (Putnam, 2000).

Modal sosial juga berperan besar dalam pembangunan wilayah beberapa negara berkembang. Pengalaman Tanzania dan India menunjukan modal sosial di daerah pedesaan berperan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Relasi dalam rumah tangga tidak terlalu berpengaruh tapi relasi, kepercayaan dan jaringan di azas desa lebih berperan dalam peningkatan ekonomi rumah tangga. Kejatuhan pemerintahan di Somalia menyebabkan hancurnya ekonomi rumah tangga. Contoh lain Boosaaso, sebuah kota kecil di Afrika dapat keluar dari kesulitan ekonomi karena peran kepala suku, dibantu masyarakat setempat bersama sama memperbaiki jaringan perdagangan dan melakukan berbagai upaya meningkatkan pendapatan (Narayan 2000).

Contoh yang lain yaitu skema kredit kelompok yang diperkenalkan Muhammad Yunus, penerima hadiah Nobel perdamaian 2006, melalui Grameen Bank di Bangladesh. Program ini telah berhasil mengangkat ekonomi rumah tangga masyarakat miskin. Di Gujarat India terjadi konflik antara masyarakat dengan aparat pemerintah soal hutan yang bermasalah sehingga perekonomian lokal mengalami stagnasi. Pemerintah mengatasi hal ini dengan memobilisasi komunitas lokal dengan melibatkan mereka dalam manajemen hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Hasilnya adalah konflik mereda, produktivitas pertanian meningkat dan pendapatan rumah tangga juga ikut meningkat. (p.1020)

Secara umum modal sosial yang paling berperan di negara berkembang adalah kepercayaan (trust). Tentu ini bertolak belakang dengan pengalaman negara maju yang lebih menekankan pada lembaga formal seperti hak intelektual (property rights) dan kontrak. Memang pengalaman beberapa negara maju menunjukan hubungan negatif antara tingkat kepercayaan dan keanggotaan kelompok terhadap pertumbuhan sebagian besar negara Eropa (Knack 1999).

B. Modal Sosial dan Daya Saing Wilayah

Beberapa penulis sudah memberi perhatian pada hubungan modal sosial dengan daya saing suatu wilayah agar terbebas dari kemiskinan. Ekonom sudah melihat bahwa modal sosial merupakan suatu elemen penting ketika berbicara tentang daya saing suatu wilayah (Porter 2003). Daya saing suatu wilayah sebenarnya sudah dibahas dalam kajian tentang distrik industri sejak tahun 1920-an. Dalam perspektif ini pemilihan lokasi suatu distrik tergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang terampil, industri pemasok bahan baku dan penyebaran pengetahuan (knowledge spillover). Namun ketika berbicara tentang daya saing wilayah peran modal sosial tidak bisa diabaikan. Dalam kaitan dengan daya saing wilayah, topik transfer pengetahuan, jaringan, kepercayaan dan kerjasama adalah bagian dari analisis modal sosial (Iyer 2005).

Ada 2 jenis pengetahuan yang sering dibahas dalam kaitan dengan modal sosial yaitu: pengetahuan yang terkodifikasi (codified knowledge) dan pengetahuan yang terpendam (tacit knowledge). Pengetahuan yang terkodifikasi adalah pengetahuan yang terstandarkan dan disebarkan melalui lembaga lembaga seperti, sekolah, lembaga penelitian dan lembaga pelatihan. Biasanya pengetahuan yang terkodifikasi diperoleh melalui lembaga lembaga formal dan pengakuan pengetahuan ini dengan pemberian sertifikat. Sedangkan pengetahuan yang terpendam adalah pengetahuan yang ada dalam masyarakat dan tersedia di mana mana sebagai kearifan lokal. Pengetahuan terpendam dapat menjadi pengetahan yang terkodifikasi jika diinventarisir dan ditulis secara sistimatis. Akses terhadap pengetahuan terpendam sedikit lebih rumit karena membutuhkan pengalaman bersama dan interaksi yang terus menerus. Akses terhadap pengetahuan terpendam membutuhkan modal sosial. Interkasi antar individu dibatasi oleh lokasi dan hanya terbatas pada orang yang saling mengenal sehingga bisa terjadi pertukaran informasi secara intensif. Perkembangan teknologi informasi menyebabkan pengetahuan terpendam tersebar dengan cepat dan meluas melalui internet, televisi dan media masa dan bisa menjadi global (Iyer 2005).

Peran modal sosial dalam suatu wilayah berubah dari waktu ke waktu. Dalam rangka daya saing suatu wilayah maka pengembangan teknologi menjadi syarat yang tidak bisa ditawar. Tampaknya hanya beberapa daerah di Indonesia yang sadar tentang peran teknologi dalam pembangunan wilayah. Wilayah wilayah tersebut lebih mengandalkan sektor industri sebagai basis pertumbuhan ekonomi. Jika suatu wilayah baru mulai mendorong pengembangan teknologi dalam rangka daya saing, maka bonding social capital menjadi sangat penting karena teknologi awal masih sederhana dan dapat dipenuhi dengan tenaga kerja lokal. Dalam jangka panjang jika teknologi sudah berkembang, peran modal sosial bonding tidak terlalu penting, tapi modal sosial bridging. Hal ini karena wilayah yang teknologinya sudah maju membutuhkan tenaga kerja spesialis yang tidak mungkin disediakan oleh masyarakat lokal. Wilayah tersebut harus membuka diri terhadap kelompok sosial lain untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ada. Dengan masuknya kelompok sosial lain ke wilayah tersebut hubungan sosial yang tadinya tertutup sekarang harus lebih terbuka. Di sini peran modal sosial bridging menjadi sangat berarti. Jika modal sosial bridging gagal, masyarakat akan hidup dalam sekat-sekat sosial yang ketat dan mungkin akan menjurus pada ketegangan sosial. Kondisi ini akan menyurutkan keinginan kelompok sosial lain untuk pindah dan akibatnya adalah wilayah tersebut bisa kekurangan stok tenaga ahli yang pada akhirnya menghambat perkembangan teknologi itu sendiri. Dalam hal ini pemerintah perlu mendorong pembentukan jaringan masyarakat lokal dengan masyarakat di tempat lain baik secara nasional maupun internasional.

Teori pertumbuhan neoklasik pada masa yang lalu melihat bahwa output suatu wilayah dipengaruhi oleh modal, tenaga kerja, dan teknologi. Model ini belum memasukkan modal sosial karena dianggap bukan variabel ekonomi. Namun dalam pengembangan model neoklasik akhir-akhir ini modal sosial sudah dimasukan sebagai salah satu variabel independen. Dalam model yang baru output merupakan fungsi dari teknologi, modal fisik, modal manusia, dan akhir-akhir ini dimasukan juga modal sosial (Iyer 2005). Jika ditulis dalam model dapat dilihat sebagai berikut:

 Output = f (Teknologi, Modal fisik, Modal manusia, Modal sosial)

Dalam model di atas, modal sosial bisa mempengaruhi output melalui perubahan sikap terhadap bagaimana teknologi digunakan. Modal sosial bisa mendorong adopsi inovasi awal sehingga ekonomi wilayah tersebut bisa mengalami kemajuan teknologi lebih cepat dan lebih awal. Adopsi teknologi tidak secepat dari yang dibayangkan. Ada kelompok sosial yang menolak teknologi tertentu karena mereka belum terbiasa dan masih takut gagal. Biasanya orang seperti ini baru yakin setelah ada pioner yang memulainya. Informasi tentang keunggulan teknologi lebih efektif diperoleh dari hubungan informal dari pada melalui ceramah dari pihak pemerintah. Sekali teknologi tersebut diadopsi oleh banyak orang maka akan mendorong kelompok enterpreneur melakukan terobosan baru dalam teknologi.

Lebih lanjut modal sosial juga berpengaruh pada modal yang lain dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi. Misalnya, modal sosial dapat berdampak positif terhadap modal manusia yaitu mendorong orang mengejar pendidikan lebih tinggi. Kembali seperti tadi penguasaan pengetahuan mendorong inovasi dan sekaligus meningkatkan daya saing wilayah. Dalam hal ini pemerintah daerah perlu mendukung lembaga pendidikan tinggi di wilayah tersebut untuk mencetak lulusan terbaik yang siap melakukan inovasi.

Rangkuman

Modal sosial mempunyai andil besar dalam pembangunan regional. Beberapa kasus menunjukan negara negara yang berada di kawasan yang sama dengan sumber alam yang mirip namun keberhasilan pembangunan sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Modal sosial ternyata menjadi faktor yang membedakan keberhasilan pembangunan suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Wilayah dengan modal sosial yang kuat cenderung lebih maju daripada wilayah dengan modal sosial yang rendah. Namun ada juga kasus kemajuan ekonomi dapat menghancurkan modal sosial. Dalam upaya pengentasan kemiskinan modal sosial juga dianggap berperan. Pemerintah akan mudah menggalang dukungan dari wilayah yang mempunyai modal sosial yang kuat. Jika modal sosial lemah pemerintah harus membentuk dulu modal sosial. Modal sosial juga mendukung daya saing suatu wilayah. Hal ini terjadi karena pertukaran informasi yang lancar dalam masyarakat yang mempunyai modal sosial yang tinggi.

Diklat Teknis LAN

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: