//
you're reading...
Sosial Politik

PEMBENTUKAN PERILAKU

A. Sosialisasi Perubahan Organisasi

1. Kaitan Perubahan perilaku dan organisasi.

Perilaku organisasi merupakan sikap dan tingkah laku anggota sebagai individu, sebagai anggota suatu kelompok dan sebagai anggota dalam organisasi dalam lingkup suatu organisasi atau lingkungan kerja, bukan dalam lingkungan masyarakat umum. Oleh karena itu mengelola perilaku dalam organisasi adalah mengelola perilaku anggota sebagai individu yang memiliki karakteristik dan tujuan tujuan, mengelola kelompok dan mengelola organisasi dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi. Anggota sebagai insani merupakan elemen utama dari organisasi sebagai penentu utama keberhasilan organisasi. Perilaku organisasi merupakan tindakan tindakan dan sikap anggota organisai sebagai individu yang dikoordinasikan secara sadar dalam batas batas yang dapat didentifikasi yang berfungsi dalam waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan umum dan khusus (tujuan umum dan tujuan khusus organisasi dan individu). Mengelola perilaku dalam organisasi adalah juga mengelola individu dalam organisasi dan kelompok kerja (unit kerja-bagian/bidang; seksi/subbagian).

Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku dalam organisasi. Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku dalam organisasi adalah keseluruhan faktor yang melekat pada individu, kelompok dan organisasi. Faktor individu dapat berupa persepsi, motif, nilai, kemampuan, dan kepribadian yang melekat pada seseorang. Faktor kelompok berupa rekan sekerja, norma kelompok, struktur kelompok, kepemimpinan kelompok, pola komunikasi dalam kelompok, Faktor organisasi berupa struktur, aturan aturan organisasi dan berbagai sistem yang diciptakan dalam organisasi. Berdasarkan pada kerangka pikir diatas, maka terdapat tiga unit analsis, yaitu perilaku individu, perilaku kelompok dan perilaku organisasi. Oleh karena itu untuk memahami perilaku dalam organisasi banyak aspek-aspek yang perlu dikaji dan dipelajari. Misalnya (1) analisis faktor demografi dan pengaruhnya terhadap perilaku kerja; (2) sistem nilai dan pengaruhnya terhadap perilaku; (3) kepribadian dan jenis jenis kepribadian dan pengaruhnya terhadap perilaku kerja; (4) kemampuan dan pengaruhnya terhadap perilaku kerja; (5) Peersepsi, atribusi dan pemebntukan perilaku kerja.(6) Sikap, kepuasa kerja dan perilaku kerja; (7) Pembentukan motivasi kerja; (8) Dinamika kelompok dan produktivitas kelompok; (9) Konflik dalam kelompok; (10) Kepemimpinan dalam kelompok dan organisasi, (11) Struktur dan desain organisasi; (12) Komunikasi; (13) Budaya organisasi; (14) Budaya kerja dan aspek lainnya. Untuk memahami perilaku dapat dilakukan dengan: melakukan kajian hubungan antar variabel. Sebagaimana diungkapkan diatas banyak variabel yang terkait satu sama lain. Perilaku seseorang dalam organisasi dipengaruhi banyak faktor, dimana keseluruhan itu berinteraksi satu sama lain dalam pembentukan perilaku. Faktor yang mempengaruhi perilaku manusia tidak pernah tunggal.

2. Pendekatan Struktur

Terdapat paradigma baru bahwa organisasi piramida dan hierarkis makin ditinggalkan, dan cenderung mengadopsi struktur yang datar tetapi kaya fungsi. Dalam melakukan perubahan organisasi dilakukan dengan tiga cara pendekatan, yaitu pendekatan struktur, teknis dan perilaku yang berfokus pada unsur manusia. Jenis pendekatan ini perlu disosialisakan kepada seluruh jajaran organisasi dan juga organisasi lain yang terkait.

Jika suatu unit organisasi melaksanakan strategi perubahan struktur hasil yang diharapkan adalah restrukturisasi atau reorganisasi, imbalan jasa, dan perubahan budaya organisasi. Terdapat tiga alasan melakukan perubahan struktur, yaitu: jika organisasi makin datar, rentang kendali makin lebar, berarti jumlah bawahan yang diawasi oleh seorang atasan makin banyak. Hal ini akan mengurangi biaya administratif (antara lain mengurangi tunjangan jabatan).

Alasan kedua dengan mengurangi tingkat hierarki kewenangan dalam organisasi, proses komunikasi berjalan lebih lancar. Dengan rentang kendali yang lebar kelompok kerja akan memiliki otonomi yang lebih besar, karena tidak mungkin lagi seorang manajer secara langsung mengendalikan semua bawahannya. Manfaat lain ialah perubahan perilaku anggota kelompok atau lebih luas anggota organisasi dapat mengembangkan diri dengan kreativitasnya dan menggunakan inovasi semaksimal mungkin yang dapat meningkatkan kinerja organisasi.

3. Pendekatan Teknis

Pendekatan ini lebih menekankan pada perubahan tugas-tugas yang dilakukan oleh anggota organisasi, penggunaan teknologi dalam melaksanakan pekerjaan dan sarana yang digunakan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas tugas untuk diselesaikan, serta prosedur dalam melaksanakan pekerjaan. Pendekatan teknis dapat berbentuk alih tugas, alih wilayah, perluasan pekerjaan, pengkayaan pekerjaan, tim kerja yang otonom. Dan sosio teknikal sebagai gabungan aspek teknis dan sosial.

Alih tugas untuk menghilangkan rutinitas pekerjaan yang kadang sering membosankan, sehingga sering menimbulkan banyak kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaan. Tanggung jawab, tingkat jabatan dan kompensasi tidak berubah.

Alih wilayah hampir sama dengan alih tugas hanya lokasi pekerjaan yang berubah, tingkat jabatan, jenis pekerjaan dan tanggung jawab sama.

Pengkayaan cakupan pekerjaan secara horizontal, hal ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan, penambahan pengetahuan dan mencegah kebosanan dan peningkatan produktivitas dalam menyelesaikan tugas tugasnya.

Pengkayaan cakupan pekerjaan secara vertikal hampir sama dengan pengkayaan secara horizontal, dimana tanggung jawab, tingkat jabatan dan kompensasi tidak berubah. Dua aspek ini kurang disenangi pegawai karena penghasilan tetap. Tetapi pegawai yang memiliki motivasi kuat hal ini akan mendorong untuk belajar dan menambah wawasan dan pengetahuan baru dengan harapan kan mendpat promosi peningkatan jabatan.

Tim kerja yang otonom, dimana keompok kelompok kerja yang otonom diberi kebebasan untuk memutuskan dan menentukan sendiri sasaran yang akan dicapai yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam kelompok kerja otonom dapat menetapkan penyelesaian pekerjaan, pengendalian pekerjaan, waktu istirahat, kinerja kelompok.

Sistem Sosioteknikal dimana dalam penyelesaian pekerjaan memerlukan sistem teknik dan sosial. Aspek teknis dengan mencakup alat, sarana, prosedur, ketrampilan, pengetahuan yang digunakan dan interrelasi antar mereka dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam penerapan sistem sosioteknikal ada prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh:

  • Sistem kerja menjadi satuan dasar bukan pekerjaan individual.
  • Titik sentral ditujukan kepada kelompok kerja, bukan perorangan.
  • Individu dipandang sebagai komplemen dalam mekanisme kerja.
  • Pengaturan sistem secara internal, bukan dari eksternal.
  • Keanekaragaman Ketrampilan ditingkatkan baik bagi anggota maupun bagi organisasi.

B. Fasilitasi perubahan Perilaku

Pendekatan ini berfokus pada manusia untuk merubah sikap dan perilaku para anggota organisasi melalui proses komunikasi, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Bentuk lain yang khusus dan lebih intensif dilakukan antara lain melalui:

  1. Pelatihan Kepekaan. Pelatihan ini bertujuan untuk merubah perilaku melalui interaksi melalui kelompok yang tidak berstruktur. Hasil diharapkan antara lain: Peningkatan empati; ketrampilan mendengar; sikap keterbukaan; sikap toleran, kemahiran penyelesaian konflik; persepsi diri; kekompkan kelompok; peningkatan kinerja; integrasi makin mantap antara para individu dan organisasi dimana mereka bekerja.
  2. Pembinaan Tim. Bertujuan agar terjadi interaksi antara para anggota kelompok untuk meningkatkan sikap saling mempercayai dan keterbukaan. Pembinaan tim antara lain: penentuan tujuan, pengembangan hubungan interpersonal; analisis peranan dan tanggung jawab anggota; peningkatan kordinasi dan yang terpenting adalah peningkatan pemahaman semua anggota tentang proses yang dituntut terlibat dalam penilian kinerja tim.
  3. Pengembangan kerjasama antar kelompok. Pengembangan kerjasam antar kelompok bermaksud untuk merubah sikap, dan persepsi yang dimiliki oleh kelompok tentang kelompok kelompok lain dalam organisasi. Salah satu bentuk pengembangan kerjasama antar kelompok adalah pendekatan pemecahan masalah. Masing-masing kelompok diminta untuk membuat daftar yang mengambarkan persepsi kelompok dengan kelompok lain dan anggapan kelompok yang bersangkutan tentang persepsi kelompok lain tentang kelompok tersebut. Setelah kelompok lain melakukan hal sama, maka saling tukar menukar daftar yang mereka susun. Dari hasil pertukaran ini dapat disusun persaman dan perbedaan sikap pandang dan persepsi antara kelompok. Perbedaan perbedaan tersebut didiskusikan, sehingga dapat ditemukan faktor penyebabnya, dengan tujuan menghilangkan perbedaan perbedaan tersebut. Dari hasil diskusi dapat ditemukan bentuk dan sifat konflik. Dengan menghilangkan konflik ini akan mengembangkan kerjsama antar kelompok.
  4. Pendekatan Kelompok Kerja. Dalam melakukan perubahan organisasi biasanya dibentuk Tim Kerja. Tim kerja atau Kelompok Kerja (Pokja) harus memiliki ketrampilan komunikasi dan kemampuan analisis permasalahan yang dihadapi organisasi dan dapat memberikan solusi pemecahannya. Kelompok kerja harus memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dapat meningkatkan kinerja organisasi yang efektif, yaitu: komunikasi, peranan dan fungsi individu dalam kelompok, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan oleh kelompok, norma-norma dan pertumbuhan kelompok dan kepemimpinan serta wewenang. Kelompok kerja harus memiliki etika kerja kolaboratif dan menciptakan lingkungan kerja yang kondussif.

Etika Kerja Kolaborasi, Kolaborasi merupakan proses kerjasama yang berdasarkan prinsip, yang memberi kepercayaan, integritas dan hasil hasil terobosan dengan membuat konsensus, hak, dan pensejajaran murni dalam segala aspek organisasi. Kerjasama pada dasarnya cara kerja yang diinginkan orang dalam melakkan kerjsama. Kolaborasi merupakan perubahan keseluruhan cara kerjasama, dengan memahami masyarakat yang dilayani dan cara bersikap dan berperilaku terhadap orang lain di tempat kerja. Kolaborasi merupakan etika kerja baru yang memberi stabilitas jangka panjang di tempat kerja, karena pekerjaan diselesaikan melalui yang diinginkan pegawai. Dan hal ini perlu dinilai oleh birokarasi/organiasi bahwa perubahan perubahan harus dimiliki oleh mereka yang melaksanakannya. Kolaborasi membantu memutuskan kapan dan bagaimana menggunakan program atau teknik khusus untuk meningkatkan prestasi kerja dan melibatkan pegawai dalam penerapan pelaksanakannya. Metode kolaboratif adalah proses perubahan yang menerapkan nilai nilai kolaboratif pada budaya organisasi di tempat kerja untuk menumbuhkan perubahan yang langgeng berlandaskan pada etika kerja kolaboratif.

Manfaat Kolaborasi antara lain: Organisasi bekerjasama secara intern bersaing secara ekstern; produktivitas pegawai meningkat; konflik berkurang karena hubungan kerja yang terbuka dan membangun kerjasama; pegawai memikul tanggung jawab penuh dan dapat dipertanggungjawabkan demi keberhasilan organisasi.

Dalam melakukan perubahan organisasi biasanya dibentuk Tim Kerja. Tim kerja atau Kelompok Kerja (Pokja) harus memiliki ketrampilan komunikasi dan kemampuan analisis permasalahan yang dihadapi organisasi dan dapat memberikan solusi pemecahannya.

Kelompok kerja harus memusatkan perhatiannya pada hal hal yang dapat meningkatkan kinerja organisasi yang efektif, yaitu: komunikasi, peranan dan fungsi individu dalam kelompok, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan oleh kelompok, norma-norma dan pertumbuhan kelompok dan kepimpinan serta wewenang. Mengingat hal itu kelompok kerja harus belajar bagaimana mendinamikkan kelompok, dimana harus memiliki etika kelompok kerja bekerjasama (kolaborasi).

Terdapat tujuh nilai inti kolaborasi, yaitu: (1) Menghargai pegawai, (2) Kehormatan dan integritas, (3) Hak milik dan aliansi, (4) Konsensus, (5) Hubungan berdasarkan kepercayaan, (6) Tanggung jawab penuh dan akuntabilitas, (7) Penghargaan dan pengembangan.

C. Monitoring dan evaluasi perubahan organisasi

1. Pengertian

Agar dapat memahami dengan benar pengertian moitoring dan evaluasi, maka perlu didefinisikan terlebih dulu kedua kata tersebut karena pada kenyataanya keduanya sering digunakan dalam arti yang berbeda. Definisi ini diajukan untuk mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi dalam arti luas yang mungkin dilakukan untuk berbagai kegiatan perbahan organisasi atau kegaiatan admisntrastrif lainnya.

Monitoring adalah mengamati atau mengecek kegiatan perubahan organisasi hasil sosialisasi perubahan dan fasilitasi kegiatan lainnya untuk memeroleh hasil dan dampaknya. Tujuannya adalah (a) untuk meyakinkan bahwa masukan, jadual kerja, dan luaran berjalan sesuai dengan yang direncanakan, (b) untuk menyediakan catatan tentang penggunaan masukan, kegiatan dan hasil, dan (c) untuk memperingatkan penyimpangan dari tujuan dan hasil yang diharapkan semula.

Evaluasi adalah menimbang, menilai, atau menentukan harga, nilai, atau mutu asil perbahan organisasi, yang sedang berjalan, atau yang telah selesai. Evaluasi didasarkan atas relevansi, keefektifan, efisiensi, dan dampak

  • Relevansi diartikan kesesuaian dan makna terhadap tujuan dan sasaran yang berkaitan dengan kebutuhan.
  • Keefektifan diartikan derajat pencapaian tujuan.
  • Efisiensi diartikan kehematan (cost effectiveness) kegiatan.
  • Dampak diartikan pengaruh perubahan organisasi secara luas dan jangka panjang.

2. Monitoring & Evaluasi Dalam perubahan organisasi

Kegiatan monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaannya sering tak terpisahkan dan kegiatan ini paling baik bila dikaitkan dengan penngelolaan perubahan organisasi yang terdiri dari proses perencanaan, pelaksanaan dan review.

Perencanaan: Dalam tahap ini akan dikaji kebutuhan pengguna (kelompok sasatran dan instatansi lain yang terkait), menentukan tujuan, mengembangkan rencana, menyusun program, serta tahap-tahap dan indikator untuk monitoring dan evaluasi. Program yang disusun harus spesifik, dapat diukur, dapat dikenali, dan ada batasan waktu untuk mencapainya. Logframe (logical framework) merupakan salah alat (tool) yang sering digunakan untuk perencanaan maupun monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi berperan penting dalam mengevaluasi tujuan akhir (goals) yang disusun dari hasil needs assessment pengguna secara komprehensif kemudian dilanjutkan dengan ex-ante assessment sebelum akhirnya dilakukan evaluasi usulan perubahan. Peran monitoring dan evaluasi dalam tahap ini mencakup: (1) menyediakan bahan dari pengalaman organisasi sebelumnya; (2) mengkaji situasi politik, sosial dan ekonomi serta kebutuhan atau faktor intenal dan eksternal unit kerja yang melakukan perubahan organisasi., (3) mempelajari tujuan dalam kaitan dengan kebutuhan perubahan organisasi, (4) mengkaji terobosan kajian sebagai sebelum peubahan (ex-ante assessment); (5) mengevaluasi isu-isu perubahan organisasi.

Pelaksanaan: Selama pelaksanaan perubahan organisasi akan dimonitor yang berkaitan rencana, hasil, dan kemungkinan perubahan/penyesuaian. Peran monitoring dan evaluasi pada tahap ini meliputi: (1) mengecek penggunaan masukan berupa informasi terhadap perubahan organisasi; (2) mengecek kegiatan terhadap rencana; (3) mengecek kemajuan terhadap tahap-tahap pelaksanaan;  an (4) mendokumentasikan penggunaan masukan, kegiatan, dan kemajuan untuk evaluasi di kemudian hari.

Review: diarahkan untuk melakukan tinjauan ulang keseluruhan siklus mulai dari perencanaan, implementasi, output hasil perubahan yang direncanakan dan dampak kegiatan perubahan organisasi. Pelaksanaan review kegiatan perubahan organisasi mencakup mengkaji kembali kebutuhan semula, tujuan, rencana perubahan struktur organisasi dan budaya dan dampaknya (yang direncanakan maupun yang tidak diantisipasi). Di sini akan diambil keputusan apakah perubahan akan dilanjutkan atau hanya perubahan kecil dalam struktur organisasai melihat pada dampak perubahan organisasi. Peran monitoring dan evaluasi pada tahap ini adalah: (1) me-review keseluruhan siklus: konteks, kebutuhan, tujuan, strategi, rencana, prosedur pelaksanaan, penggunaan sumberdaya, kegiatan, kemajuan, luaran, dan dampak; dari perubahan dan (2) mengkaji usulan perubahan struktural dan budaya dengan perubahan yang lebih baik dan berdampak luas.

Idealnya kegiatan monitoring dan evaluasi secara sistematik dipadukan ke dalam pengambilan keputusan sehari-hari organisasi dan siklus manajemen karena menyediakan informasi yang bermanfaat bagi staf pada setiap tahap siklus dan pada tiap tingkatan organisasi.

3. Rancangan dan Pelaksanaan Monitoring & Evaluasi

Monitoring ada yang bersifat rutin dan non-rutin. Kegiatan monitoring rutin biasanya dilakukan melalui prosedur pengumpulan data dari laporan baik cara konvensional atau yang telah menggunakan sistem informasi manajemen (SIM) yang memanfaatkan teknologi informasi. Monitoring yang bersifat non-rutin ada yang tujuan akhirnya (goal) jelas tapi datanya memerlukan perlakuan khusus. Selain itu ada yang kegiatannya bersifat non-rutin tetapi sekali sistem monitoring telah dibuat selanjutnya kegiatannya dilakukan secara rutin misalnya program perbaikan sarana kerja, istem insentif.  Dalam merancang monitoring harus diketahui terlebih dahulu apa yang perlu dimonitor. Dalam hal ini mungkin berupa sumberdaya fisik (misalnya masukan untuk inovasi teknologi), finansial (misalnya alokasi dana untuk kegiatan perbaikan sarana kerja) atau kinerja sumberdaya manusia (misalnya kemampuan menyelesaikan tugas) yang masing-masing perlu dielaborasi sesuai dengan tujuan monitoring.

Evaluasi yang akan dilaksanakan harus ada kejelasan terlebih dahulu tujuannya sebelum dirancang kegiatannya. Tujuan evaluasi mungkin sangat beragam misalnya untuk memperbaiki suatu mekanisme operasional (seperti pelayanan, dukungan, fasilitasi, pemeliharaan, infrastruktur), menentukan akuntabilitas (yang didasarkan pada input, output, outcome, impact), atau untuk mengukur dampak (misalnya peningkatan kinerja organisasi setelah perubahan aatau pengembangan organisasi). Selanjutnya setelah jelas tujuannnya, maka dalam merancang kegiatan evaluasi perlu ditentukan fokusnya pada aspek atau bidang, data/informasi yang diperlukan, cara pengumpulan data/informasi dan analisisnya.

Oleh karena itu dalam merancang dan melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi ada lima hal pokok yang harus diperhatikan yaitu: (1) Fokus, (2) Rancangan, (3) Pengumpulan dan analisis informasi, (4) Pelaporan hasil dan tindak lanjutnya

Fokus. Memfokuskan monitoring dan evaluasi pada topik dan isyu kunci sangat penting karena akan menentukan apakah hasil kegiatan dari perubahan akan diterima dan digunakan. Dalam perubahan organisasi sangat banyak objek yang dapat dimonitor dan dievaluasi. Oleh karena itu dalam menetapkan objek monitoring dan evaluasi akan sangat bermanfaat bila menuliskan terlebih dulu tujuan utama, asumsi, masukan, dan luaran serta segala sesuatu yang terkait dengan perubahan oganisasi. Setelah itu maksud dari kegiatan monitoring dan evaluasi yang berkaitan dengan akuntabilitas dan pengambil keputusan perlu dipelajari.

Selain laporan-laporan rutin mengenai penggunaan sumberdaya dan kegiatan, studi dampak atau manfaat perubahan merupakan informasi yang penting bagi akuntabilitas. Sedangkan setiap tingkatan pengambilan keputusan memerlukan informasi yang berbeda sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Dalam merancang monitoring dan evaluasi calon pengguna informasi harus diidentifikasi terlebih dulu apakah pengguna internal seperti pimpinan unit kerja atau kkelompok kerja dan pengguna eksternal seperti pengambil kebijakan tingkat atas atau stakeholder.

Rancangan.Setelah fokus ditetapkan, berikutnya adalah membuat rancangan monitoring dan evaluasi yang akan digunakan sebagai tuntunan dalam pelaksanaannya. Rancangan ini berupa garis besar maksud dan fokus, prosedur pengumpulan informasi dan analisisnya, strategi untuk pelaporan dan tindak lanjut, dan prosedur untuk pengelolaan monitoring dan evaluasi.

Pengumpulan dan Analisis Informasi. Banyak metode yang dapat digunakan untuk pengumpulan dan analisis informasi untuk monitoring dan evaluasi. Yang paling umum antara lain mereview dokumen dan statistik, pengamatan, dan berbagai jenis survey. Metode yang dipilih harus dipertimbangkan atas dasar jenis informasi dan derajat ketelitian yang dibutuhkan, penerima/pengguna laporan nanti, dan ketersediaan waktu dan sumberdaya. Untuk keputusan yang sangat menentukan, pengumpulan dan analisis data harus seteliti dan dapat dilaksanakan sehingga metode surveynya pun dirancang sebaik mungkin. Informasi yang dikumpulkan sebaiknya yang relevan dan berguna serta dapat dianalisis dan petugas yang mengmpulkan informasi dan pemberi iformasi harus yang dapat dipercaya.

Pelaporan dan Tindak Lanjut. Pelaporan merupakan suatu proses komunikasi yang kontinyu antara evaluator dan pihak yang berkepentingan. Pelaporan dapat berupa komunikasi lisan, visual, atau tertulis (termasuk melalui telepon, facsimile, e-mail dan surat) yang isinya tidak hanya mencakup temuan tetapi juga maksud, konteks, issue, pendekatan, dan implikasi evaluasi. Setiap laporan mengungkapkan fakta yang ditemukan selama jangka waktu tertentu. Laporan harus spesifik untuk tiap pihak yang memerlukan karena berbeda kebutuhan dan kepentingannya (sebagai dasar untuk mengambil tindakan atau mengambil keputusan). Agar laporan ada tindak lanjutnya, maka sebaiknya setiap laporan harus mengajukan usulan saran tindak lanjutnya. Laporan yang baik harus terencana dan tersusun rapi, sesingkat mungkin dan menggunakan bahasa yang sederhana; oleh karena itu memerlukan waktu untuk menyelesaikannya.

Hal yang sangat penting untuk diingat adalah informasi hendaknya yang tepat dalam bentuk yang tepat dan dapat mencapai orang yang tepat pada waktu yang tepat.

Laporan formal dalam bentuk tertulis dalam berbagai hal tetap dianggap sebagai yang paling penting. Biasanya laporan ini merupakan dokumen yang diuraikan panjang lebar mulai dari metodologi, instrumen survey yang dilampirkan, dan analisis yang disajikan secara detail. Laporan ini merupakan dokumen acuan (reference document) yang menceritakan apa yang dilakukan, mengapa dan bagaimana. Karena itu laporan formal merupakan catatan historis yang kelak menjadi acuan—perbandingan dengan studi yang baru—untuk mengecek kemajuan suatu perubahan—atau dapat dijadikan acuan untuk mengerjakan hal lain dengan cara yang sama. Telah menjadi kebiasaan bahwa laporan formal yang demikian panjang akan dilengkapi dengan executive summary yang sangat bermanfaat bagi kebanyakan pengguna terutama bagi pengambil kebijakan. yang tidak mungkin membaca laporan formal yang mendetail karena kesibukannya.

Rangkuman

Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku dalam organisasi. Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku dalam organisasi adalah keseluruhan faktor yang melekat pada individu, kelompok dan organisasi. Faktor individu dapat berupa persepsi, motif, nilai, kemampuan, dan kepribadian yang melekat pada seseorang. Faktor kelompok berupa rekan sekerja, norma kelompok, struktur kelompok, kepemimpinan kelompok, pola komunikasi dalam kelompok, Faktor organisasi berupa struktur, aturan aturan organisasi dan berbagai sistem yang diciptakan dalam organisasi.

Dalam melakukan perubahan organisasi dilakukan dengan tiga cara pendekatan, yaitu pendekatan struktur, teknis dan perilaku yang berfokus pada unsur manusia. Jika suatu unit organisasi melaksanakan strategi perubahan struktur hasil yang diharapkan adalah restrukturisasi atau reorganisasi, imbalan jasa, dan perubahan budaya organisasi.

Strategi pendekatan teknis lebih menekankan pada perubahan tugas-tugas yang dilakukan oleh anggota organisasi, penggunaan teknologi dalam melaksanakan pekerjaan dan sarana yang digunakan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas tugas untuk diselesaikan, serta prosedur dalam melaksanakan pekerjaan.

Dalam pendekatan kelompok kerja memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dapat meningkatkan kinerja organisasi yang efektif, yaitu: komunikasi, peranan dan fungsi individu dalam kelompok, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan oleh kelompok, norma-norma dan pertumbuhan kelompok dan kepimpinan serta wewenang. Pendekatan kelompok kerja berfokus pada manusia untuk merubah sikap dan dan perilaku para anggota organisasi.

Dalam melakukan perubahan organisasi biasanya dibentuk Tim Kerja. Tim kerja atau Kelompok Kerja (Pokja) harus memiliki ketrampilan komunikasi dan kemampuan analisis permasalahan yang dihadapi organisasi dan dapat memberikan solusi pemecahannya.

Tim kerja harus memimilki etika kerja kolaboratif dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dalam melaksanakan tugas tugas tim kerja (pokja) yang harus disepakati sistem operasi kerja.

Monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aspek manajemen perubahan organisasi. Oleh karena itu dalam merancang dan melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi ada lima hal pokok yang harus diperhatikan yaitu: (1) Fokus, (2) Rancangan, (3) Pengumpulan dan analisis informasi, (4) Pelaporan hasil dan tindak lanjutnya

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: