//
you're reading...
Sosial Politik

PERAN SEKTOR INFORMAL DALAM PEREKONOMIAN MASYARAKAT

Di negara berkembang sebagian besar angkatan kerja terlibat di sektor informal. Sektor ini hampir tidak tercatat dalam statistik ekonomi resmi suatu negara. Padahal aktivitas informal seringkali memainkan peran penting sebagai basis sumber kehidupan sebagian besar penduduk di wilayah-wilayah yang sedang berkembang. Kegiatan sektor informal sering juga disebut sebagai underground economy (Gerxhani 2000). Kata underground di sini mau menunjukkan bahwa sektor informal tidak hanya kegiatan legal saja tapi bisa mencakup kegiatan ilegal.

Mengapa sektor informal sangat pesat tumbuh di negara sedang berkembang? Pendapat yang berkembang selama ini cukup beragam. Ada yang membangun argumen bahwa sektor moderen tidak mampu menyerap kelebihan tenaga kerja karena pertumbuhan penduduk yang lebih pesat dari pertumbuhan ekonomi. Banyak orang masuk ke sektor informal karena mereka tidak tertampung di sektor moderen. Usaha kecil di sektor informal bukanlah pilihan usaha yang terbaik tapi bisa dianggap pilihan kedua yang terbaik (second best). Sektor informal adalah bagian dari suatu model usaha yang berada di luar jangkauan aturan pemerintah. Tentu ini berbeda dengan sektor formal yang selalu memperhatikan aturan pemerintah seperti mendapat ijin usaha dan aturan kepegawaian (Marcouiller 1995).

Kelembagaan juga dilihat sebagai faktor determinan yang dapat mendorong atau mengurangi tumbuhnya kegiatan ekonomi sektor informal. Kadang suatu negara berkembang mulai menapak dalam arus modernisasi menganggap sektor informal sebagai lambang keterbelakangan dan lambang tradisional sehingga perlu dihilangkan. Baik kaum liberal maupun penganut aliran kendali negara (state control) kurang mendukung kehadiran sektor informal yang luas. Memang ada pandangan bahwa negara tidak dapat berbuat banyak ketika berhadapan dengan sektor informal. Mereka yang menganut perspektif kendali negara (state control) mengusulkan agar pembangunan sektor moderen perlu dipercepat melalui intervensi negara bahkan bila perlu negara harus mempunyai kendali atas semua sektor. Bagi mereka sektor informal adalah sektor marginal atau sektor sisa yang akan terkikis dengan sendirinya jika sektor moderen berkembang sehingga terbuka lapangan kerja yang luas (Morrisson 1995).

Sektor moderen ternyata tidak mampu menyiapkan pekerjaan seperti yang diharapkan. Pertumbuhan angkatan kerja di negara berkembang sangat cepat. Selain itu krisis ekonomi yang sering melanda negara negara berkembang menyebabkan terhambatnya mereka mengembangkan sektor moderen. Investasi di negara berkembang lebih banyak mengandalkan pinjaman luar negeri dan sangat terbatas. Pemerintah sangat terbataskemampuannya dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Setelah menghadapi berbagai masalah di atas pemerintah mulai membangun pandangan yang berbeda tentang sektor informal. Sektor ini tidak lagi dianggap sebagai sektor marjinal tapi merupakan sektor ekonomi yang membantu pemerintah memecahkan masalah pengangguran di dalam negeri.

Pendapat lain lagi mengatakan bahwa beban ekonomi seperti, pajak yang tinggi, penyogokan, dan birokratisasi yang berlebihan mendorong berkembangnya sektor informal di negara berkembang (De Soto 1989). Para pengusaha sektor informal mencoba menghindari berbagai macam beban keuangan karena praktek korupsi yang meluas. Dengan masuk ke sektor informal mereka bisa menghindari pungutan yang membebani keuangan mereka. Namun karena bergerak di sektor informal maka otomatis mereka tidak mendapat pelayanan publik yang memadai dibanding dengan mereka yang bergerak di sektor formal. Biasanya mereka yang bergerak di sektor publik mendapat perlindungan jaminan hak milik dari negara.

Sering pemerintah membuat kebijakan ekonomi yang keliru sehingga perekonomian negara terpuruk. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia adalah contoh kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah pada masa yang lalu. Dalam situasi ini sektor informal menjadi harapan pemerintah sebagai penyelamat ekonomi nasional (Morrisson 1995).

Setelah sektor informal mendapat pengakuan maka timbul pertanyaan bagaimana menumbuhkan sektor ini? Selama ini kebijakan ekonomi neo-klasik lebih berpihak kepada usaha besar. Oleh karena itu kebijakan mekanisme pasar seolah olah lebih menguntungkan usaha besar daripada usaha kecil. Hernando de Soto adalah ahli ekonomi yang secara konsisten melihat bahwa kebijakan mekanisme pasar juga cocok untuk sektor usaha informal atau usaha mikro (De Soto 2000). Campur tangan pemerintah yang tidak terlalu banyak akan memberi kesempatan sektor informal tumbuh secara mandiri dan kuat.Oleh karena itu de Soto menginginkan pemerintah harus menghapus atau mengurangi aturan yang terlalu membelenggu sektor informal berkembang. Perkembangan sektor informal yang pesat akan membantu pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja.

A. Pengertian Sektor Informal

Banyak tulisan yang dibuat telah mengakui peran sektor informal dalam perekonomian negara-negara berkembang. Namun sampai pada definisi belum ada konsensus untuk itu. Dalam usaha untuk menghindari kerancuan sektor informal dapat dijabarkan sebagai aktivitas ekonomi yang berada di luar sektor swasta maupun sektor publik yang terdaftar. Merujuk pada definisi ini, usaha-usaha di sektor informal mencakup aktivitas ekonomi mikro dan kecil yang tidak terdaftar baik oleh pemerintah maupun otoritas lainnya. Pada umumnya, usaha informal tidak mengikuti peraturan berkaitan dengan ketenagakerjaan, pajak atau memiliki ijin. Morrisson (1995), mengemukakan untuk memahami sektor informal, 3 hal harus diperhatikan:

  1. Ukuran. Dari segi ukuran sektor informal adalah mereka yang berusaha sendiri atau usaha mikro yang mempunyai pekerja tidak lebih dari 20 orang.
  2. Kelembagaan yang informal. Dari segi kelembagaan/aturan sektor informal mencakup perusahan yang tidak terdaftar atau tidak memenuhi kewajiban administrasi legal seperti, keselamatan kerja, pajak, dan hukum perburuhan.
  3. Modal yang terbatas. Baik modal fisik maupun modal manusia per pekerja di sektor informal adalah rendah dan bahkan sangat terbatas. Dengan kata lain sedikit sekali menggunakan modal fisik dan modal manusia yang berkualitas.

Sebenarnya defenisi berdasarkan kriteria 1 dan 3 lebih terukur sehingga dapat dipakai di mana saja dengan penyesuaian sesuai kondisi setempat. Defenisi sektor informal berdasarkan kriteria 2 agak sulit dibuat ukuran yang bersifat umum karena masing masing negara mempunyai aturan main tersendiri. Namun demikian faktor kelembagaan tidak bisa diabaikan dalam pembahasan tentang sektor informal. Agar sektor informal tidak dianggap sebagai sektor marjinal maka sektor informal dikategorikan sebagai usaha mikro. Dengan perubahan nama ini diharapkan tidak ada beban pemerintah memberi perhatian yang cukup untuk jenis usaha ini.

Orang pertama yang memperkenalkan konsep sektor informal adalah Keith Hart, seorang antropolog sosial. Sektor informal menurut Hart merupakan bagian dari angkatan kerja daerah urban yang bekerja di luar sektor formal (Gerxhani 2000). Hart menyamakan sektor informal dengan usaha sendiri (self-employed). Jadi menurut Hart mereka yang menerima upah secara teratur bekerja di sektor formal sedang mereka yang berusaha sendiri dan pendapatannya tidak teratur bekerja di sektor informal. Walaupun konsep sektor informal pada awalnya hanya terbatas pada usaha sendiri tapi pembedaan tersebut berhasil menarik perhatian para ahli tentang sektor ini.

Gerxhani (2000) mencoba mengemukakan beberapa ciri sektor informal, yaitu:

  1. Jaringan sosial dan entry yang mudah. Para pelaku usaha di sektor informal mempunyai jaringan sosial yang kuat dan dapat dipakai sebagai perlindungan di masa sulit. Selain sektor informal tidak membutuhkan syarat khusus untuk masuk berusaha.
  2. Otonom dan fleksibel. Banyak orang memilih masuk sektor informal karena mereka mempunyai fleksibilitas, kebebasan dan atonomi. Mereka bisa mengatur jam kerjanya.
  3. Kemampuan bertahan. Sektor informal bisa bertahan terhadap tekanan struktural dari luar. Oleh karena itu pemerintah diharapkan membantu tumbuhnya sektor ini karena dalam jangka panjang dapat menjadi sumber pendapatan daerah.

B. Keuntungan dan Kerugian Kehadiran Sektor Informal

Banyak tulisan yang pesimis dengan kehadiran sektor informal. Menurut pemahaman mereka sektor ini adalah sektor marjinal dan untuk orang miskina. Sektor ini dianggap tidak produktif sehingga tidak akan mempunyai konribusi terhadap pendapatan negara. Namun beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor ini mempunyai potensi yang besar dalam akumulasi modal bagi pembangunan sebuah wilayah. Klarita Gerxhani mencoba mengidentifikasi keuntungan dan kerugian kehadiran sektor informal di suatu wilayah dari sisi ekonomi, sosial, dan politik (Gerxhani 2000).

1. Keuntungan Kehadiran Sektor Informal

a. Ekonomi

  1. menjamin tingkat kompetisi dan fleksibilitas produksi
  2. memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi lokal
  3. sektor ini mendorong upah di sektor formal untuk bergerak ke bawah
  4. menyediakan harga barang dan jasa yang murah
  5. memberi pendapatan yang cukup untuk indvidu tertentu
  6. upah tenaga kerja sangat murah
  7. upah yang murah dengan biaya administrasi/birokrasi yang murah mengakibatkan produktivitas modal sektor ini cukup tinggi
  8. pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa penurunan gdp dapat ditutupi dengan kenaikan yang cepat sektor informal

b. Sosial

  1. kegiatan sektor informal memberi peluang pekerjaan kepada keluarga, memungkinkan mereka memnuhi kebutuhan dasar dan peluang meningkatkan kesejahteraan rumah tangga mereka
  2. sektor informal memberi kebebasan untuk berinisiatif dan berkreasi
  3. walaupun pendapatan dari sektor ini mungkin kecil namun lebih baik dari pada tergantung pada tunjangan subsidi pemerintah atau mati kelaparan

c. Politik

  1. kehadiran sektor informal dapat berperan sebagai katup pengaman terhadap ketidakpuasan masyarakat luas atau ketegangan sosial
  2. kegiatan sektor informal sering didorong dan dimanfaatkan para politisi untuk meningkatkan pengaruh politik mereka

2. Kerugian Kehadiran Sektor Informal

a. Ekonomi

  1. sektor informal tidak mempunyai kemampuan mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah
  2. muncul distorsi dari sektor informal terhadap indikator tingkat kesempatan kerja, tingkat inflasi dan tingkat pertumbuhan ekonomi
  3. sektor informal jarang membayar pajak sehingga pendapatan negara menurun akibatnya terjadi defisit anggaran belanja
  4. lebih jauh dari itu sektor informal menekan kenaikan pajak
  5. kehadirannya memicu persaingan yang tidak sehat terhadap pengusaha yang bergerak sektor formal baik nasional maupun internasional
  6. jika sektor informal tersebar secara meluas di sebuah negara maka akan memicu kesenjangan teknologi antar negara
  7. mereka yang berkiprah di sektor ini mempunyai produktivitas dan pendapatan rendah
  8. kehadiran sektor informal mempunyai korelasi terbalik dengan pelayanan umum karena pendapatan pemerintah yang kurang

b. Sosial

  1. mereka yang terlibat di sektor informal lebih melarat dari mereka yang terlibat di sektor formal. Hal ini tercermin dari kondisi tempat kerja yang buruk dan mereka tidak menerima tunjangan sosial apa pun
  2. penduduk lain mendapat informasi yang keliru tentang pendapatan nasional karena mereka yang terlibat di sektor informal memperoleh keuntungan karena tidak membayar pajak atau kewajiban lain. Ini tidak adil untuk mereka yang bekerja di sektor formal

c. Politik

  1. oleh karena kegiatan ekonomi sektor informal tidak tercatat sehingga tidak dimasukkan dalam perhitungan statistik pendapatan. Ini akan mengurangi penilaian terhadap kinerja pemerintah sebagai pembuat keputusan
  2. kehadiran mereka mendorong korupsi dan lobi politik yang membawa akibat negatif

Kehadiran sektor informal telah berhasil memberi pekerjaan bagi sebagian besar penduduk. Diperkirakan 68 persen angkatan kerja di Indonesia terlibat dalam sektor informal (Wiebe 1996). Bobo (2003) bahkan menyebut angka sekitar 90 persen usaha di Indonesia masuk dalam kategori UKM dan informal. Angka tersebut tidak berbeda dengan Kenya dengan sekitar 68 persen angkatan kerja terlibat dalam sektor dalam sektor informal (Bigsten 2000). Bahkan Thailand yang perekonomiannya cukup mapan memperkirakan sekitar 72 persen angkatan kerja bergelut di sektor informal (Coate 2006). Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor ini sangat dominan sebagai penyedia lapangan kerja bagi lebih dari separuh penduduk suatu negara. Pada aras kabupaten, walaupun belum ada data, sektor informal masih dominan sebagai penyedia lapangan kerja bagi penduduk yang tidak terserap ke pasar tenaga kerja formal.

Jenis usaha yang masuk dalam sektor informal sangat bervariasi, mulai dari yang legal hingga yang ilegal. Ada beberapa sub-sektor yang di dalam sektor informal yang menjadi tempat penampungan mereka yang mau berusaha di sektor informal (Coate 2006). Sub-sektor tersebut meliputi:

  1. Eceran (retailing): Sektor ini meliputi pedagang asongan, pedagang kakilima (PKL), dan pedagang koran
  2. Transportasi: mobil sewaan, taksi gelap, ojek, andong, becak, dan tukang pikul
  3. Jasa pribadi: tukang semir, tukang sepatu, tukang pijat, tukang kayu dan tukang kebun
  4. Penyewaan: penyewaan kursi, penyewaan perlatan pesta, dan rentenir
  5. Jasa keamanan: penjaga malam, pengawal dan tukang parkir.
  6. Perjudian: penjual loteri dan penjual nomor buntut
  7. Barang bekas: pemulung sampah, dan penjual barang bekas
  8. Pekerja seks komersil (PSK)
  9. Pengemis
  10. Kriminal: copet, mencuri, dan merampok

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sektor eceran merupakan kegiatan yang paling banyak menampung tenaga kerja. Sebagian besar yang bekerja di sektor ini adalah pedagang kaklima dan pedagang asongan. Mungkin ini bisa masuk akal karena sektor ini yang paling mudah untuk berusaha karena tidak membutuhkan kehlian khusus, dan modal yang dibutuhkan kecil.

Pembagian sektor formal dan informal dalam beberapa hal masih sering kabur. Salah satu pembedaan adalah sektor formal diatur pemerintah sedang sektor informal kurang diatur pemerintah. Dalam kenyataan sektor informal ternyata sering diatur oleh pemerintah. Misalnya, pemerintah mengatur tentang lokasi pedagang kakilima sehingga tidak bentrok dengan pengusaha di sektor formal. Sering terjadi sektor informal bisa juga membangun mitra dengan sektor formal melalui subkontrak. Sektor informal menjual produk yang dihasilkan sektor formal dan sebaliknya sektor formal dapat menjual produk sektor informal. Jadi pembedaan di atas hanya berguna untuk kepentingan analisis dalam rangka pembuatan kebijakan.

C. Rangkuman

Sektor informal menduduki peringkat teratas dalam menyerap angkatan kerja. Hal ini karena entry ke sektor ini sangat mudah dan keahlian yang dibutuhkan sangat terbatas. Sektor informal ini tumbuh sebagai akibat dari lambatnya sektor formal menyerap tenaga kerja. Petumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan sektor formal mengalami kesulitan menyediakan kesempatan kerja bagi angkatan kerja baru. Pengembangan sektor ini tidak sepenuhnya mendapat sambutan. Banyak negara berkembang ingin sektor ini dihilangkan karena menjadi lambang keterbelakangan. Namun kaum optimis percaya bahwa sektor ini bisa bermitra dengan sektor formal. Sektor informal secara ekonomi, sosial, dan politik mempunyai keunggulan dan kelemahan. Terlepas dari itu sektor ini sebenarnya memberi kontribusi terhadap perekonomian daerah. Memang pilihan untuk masuk ke sektor informal bukanlah yang terbaik tapi merupakan pilihan kedua yang terbaik. Daripada mengangu lebih baik masuk ke sektor ini walaupun dengan pendapatan yang tidak terlalu besar. Sebenarnya tidak semua yang terjun ke sektor ini karena alasan kemiskinan. Ada juga pengusaha yang sengaja masuk ke sektor ini karena tidak terlalu diganggu oleh masalah birokrasi yang mahal. Dalam hal hal tertentu sektor ini dapat menggalang kerja sama dengan sektor formal sehinga batas antara sektor informal dan sektor formal menjadi kabur.

Diklat Teknis LAN

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: