//
you're reading...
Sosial Politik

JENDER DAN KEMISKINAN

Analisis jender dianggap semakin penting dalam pengentasan kemiskinan. Pada masa yang lalu aspek jender kurang diperhatikan, padahal upaya pengentasan kemiskinan sering tidak berhasil karena aspek ini diabaikan (Corner 1997). Tentu timbul pertanyaan mengapa perspective jender menjadi sangat penting dalam pembangunan regional?, Untuk itu dikemukakan beberapa alasan:

  1. Ada kesadaran baru tentang persamaan hak antara perempuan dan laki laki berpartisipasi dalam pembangunan regional;
  2. Perempuan dilihat sebagai kelompok mayoritas dalam masyarakat miskin, bahkan yang paling miskin dari masyarakat miskin. Jika dibanding laki laki perempuan lebih menderita terkena imbas kemiskinan;
  3. Perempuan memainkan peran yang sangat efektif dalam pengentasan kemiskinan;
  4. Perempuan dianggap berperan penting menghentikan pewarisan kemiskinan ke generasi berikut.

Oleh karena kemiskinan selalu punya kaitan erat dengan perempuan maka sering dipakai istilah “feminisasi kemikinan” (Corner 1997). Konsep feminisasi kemiskinan yang dimaksud adalah bahwa kemiskinan dalam derajat tertentu selalu melekat dengan perempuan daripada laki laki. Secara kualitatif feminisasi kemiskinan dapat dilihat dari:

  1. Pekerjaan yang tidak dibayar
  2. Kerja di tempat dengan upah rendah
  3. Dibayar lebih rendah daripada laki laki untuk jenis pekerjaan yang sama
  4. Mendapatkan proporsi pendapatan rumah tangga yang lebih kecil

Hingga sekarang pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai sesuatu yang wajar dilakukan perempuan sehingga tidak dihitung sebagai sumbangan perempuan dalam ekonomi rumah tangga. Akibatnya walaupun mereka bekerja keras namun dianggap tidak bekerja karena dianggap tidak menghasilkan uang. Pekerjaan rumah tangga belum dianggap sejajar dengan pekerjaan di luar rumah baik di sektor formal maupun sektor informal. Dalam perhitungan pendapatan rumah tangga kontribusi perempuan dalam pekerjaan rumah tangga dianggap tidak ada.

Alasan lain lebih bersifat ideologis. Upah rendah yang diterima perempuan dapat dilihat sebagai bentuk penolakan terhadap perempuan di sektor publik. Memang di negara berkembang sektor domestik dianggap sebagai wilayah perempuan sedangkan sektor publik dianggap sebagi domain laki laki. Oleh karena sektor publik dianggap sebagai domain laki laki maka ketika perempuan berpartisipasi di sektor ini mereka dibayar dengan upah rendah atau upah yang lebih rendah daripada laki laki untuk jenis pekerjaan yang sama. Hal ini masih terjadi di banyak negara berkembang karena perempuan dianggap lebih lemah sehingga produktivitas mereka rendah. Tentu ini adalah pemahaman yang salah karena dalam banyak hal perempuan lebih terampil daripada laki laki namun upah mereka selalu lebih rendah.

Ada proses sosial yang berlangsung yang lebih memperparah kondisi kemiskinan dikalangan perempuan daripada laki-laki. Sering terjadi distribusi makanan dalam rumah tangga tidak merata. Dalam beberapa tradisi perempuan hanya akan makan setelah suami dan anak anak makan. Tentu ini yang membuat mengapa perempuan selalu dalam posisi yang rentan terhadap akibat kemiskinan dalam rumah tangga. Malnutrisi sering diderita perempuan. Jika laki-laki tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga maka perempuan yang akan bertangung jawab memenuhinya.

Memang seolah olah terjadi pembagian kerja secara jelas antara perempuan dan laki laki dalam rumah tangga namun sebenarnya tanggung jawab perempuan jauh lebih besar dibanding tanggung jawab laki-laki. Hal ini bisa terlihat bahwa tidak peduli berapa pun uang yang diserahkan laki-laki untuk kebutuhan rumah tangga, perempuan harus berupaya mengelola sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Selain itu jika pendapatan tidak mencukupi maka perempuan harus mencari akal untuk memenuhinya (Corner 1997). Dari sini jelas tanggung jawab perempuan jauh lebih berat dibanding laki-laki.

Memang hingga sekarang masih ada kesulitan membuat ukuran kuantitatif tentang konsep feminisasi jender. Hal ini karena data kemiskinan yang tersedia dalam aras rumah tangga tidak dijabarkan lebih lanjut berdasarkan jenis kelamin. Pendapatan dipakai sebagai alat mengukur kemiskinan, sehingga jika memang ingin mengetahui gambaran tingkat kemiskinan di kalangan perempuan seharusnya bisa dilakukan dengan menjabarkan tingkat pendapatan berdasarkan jenis kelamin dalam rumah tangga.

Data kemiskinan berdasarkan jenis kelamin masih jarang ditemukan di negara berkembang dan kalaupun ada data tersebut kurang dipercaya. Tentu yang dibutuhkan adalah data dalam aras individu yang dapat digunakan mengukur tingkat kemiskinan relatif dalam rumah tangga. Oleh karena sulit memperoleh data yang akurat tentang pendapatan maka yang sering dipakai adalah tingkat pengeluaran. Namun demikian data tentang pengeluaran rumah tangga tidak dijabarkan berdasarkan jenis kelamin sehingga menyulitkan analisis.

Untuk mengatasi hal ini biasanya tingkat kemiskinan di kalangan perempuan coba diukur dengan menjabarkan kepala keluarga rumah tangga berdasarkan jenis kelamin. Rumah tangga yang kepala keluarga adalah perempuan dapat dipakai sebagai proxy rumah tangga miskin. Tentu tidak semua rumah tangga yang dikepalai perempuan dapat dikategorikan secara otomatis sebagai rumah tangga miskin. Banyak rumah tangga yang masuk kategori kaya walaupun pencari nafkah adalah perempuan. Namun ukuran ini bisa diterima di daerah pedesaan dan di kalangan masyarakat miskin kota. Ukuran rumah tangga miskin masih bisa dipakai karena proporsi perempuan dalam rumah tangga yang paling miskin masih lebih besar dari laki laki.

A. Perempuan berperan sebagai agen perubahan dan ikut mengentaskan kemiskinan

Apa sumbangan yang diberikan perempuan terhadap pembangunan regional? Memang jika dilihat sepintas perempuan tidak terlalu berperan dalam pembangunan suatu wilayah. Hal ini karena peran mereka yang lebih banyak di sektor domestik. Oleh karena sudah cukup banyak perempuan yang terlibat dalam sektor domestik di daerah perkotaan, peran mereka dalam pembangunan sudah mendapat pengakuan, namun di daerah pedesaan peran perempuan belum mendapat pengakuan sepenuhnya. Padahal perempuan di desa sebenarnya memberi sumbangan yang tidak sedikit terhadap perkembangan ekonomi desa. Ada 3 peran yang dimainkan Perempuan dalam masyarakat pedesaan.

Pertama, dalam aras agregat perempuan adalah bagian dari angkatan kerja desa. Mereka menjadi sumber tenaga kerja yang esensil di pedesaan. Walaupun perempuan lebih banyak berperan di sektor domestik tidak berarti tidak ada sumbangan sama sekali. Kehadiran mereka ikut mendukung pekerja laki laki agar bekerja lebih baik lebih produktif di sektor publik. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika perempuan mengurus rumah tangga dengan baik maka laki laki dapat lebih berkonsentrasi di pekerjaannya sehingga prestasi mereka lebih bagus. Ini tentu menaikkan produktivitas laki-laki dan juga meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Kedua, Dalam aras rumah tangga perempuan adalah produsen barang dan jasa yang bisa dijual di pasar atau dikonsumsi sendiri. Sering terjadi bahwa perempuan menciptakan produk produk tertentu yang bisa dikonsumsi sendiri ataupun dijual di pasar. Misalnya, perempuan membuat panganan dari hasil kebun sendiri dan dijual ke pasar atau dikonsumsi sendiri. Perempuan dalam hal ini bisa menjadi inovator dalam rumah tangga. Misalnya, perempuan di daerah yang banyak pohon kelapa menciptakan irus dari batok kelapa untuk kepentingan rumah tangga, namun irus tersebut dapat laku dijual sebagai oleh oleh orang kota. Produk yang dihasilkan perempuan sering tidak dihargai dan tidak masuk dalam perhitungan pendapatan nasional. Namun apa yang dilakukan perempuan ikut menghemat pengeluaran rumah tangga. Di sini perempuan dapat dianggap sebagai penabung yang baik karena sisa uang yang harusnya dikeluarkan dapat ditabung untuk tujuan lain.

Ketiga, Peran perempuan memelihara anak di rumah juga dapat dianggap sebagai tugas penting mempersiapkan angkatan kerja masa depan. Dalam kapasitas sebagai ibu, perempuan selalu berusaha menjaga gizi anak agar terjamin. Gizi baik menjamin kualitas anak ketika masuk sekolah. Anak yang sedari kecil mempunyai gizi yang baik akan lebih pandai dibanding dengan anak yang bergizi buruk. Tentu ada harapan anak dengan gizi baik ini akan menjadi sumber daya manusia dengan kualitas yang handal pada masa yang akan datang. Jika ini yang terjadi maka yang diuntungkan bukan hanya keluarga namun daerah tempat mereka bekerja.

B. Masalah Perempuan dalam Pengentasan Kemiskinan

Menggunakan metode participatory poverty assessment, perempuan di negara berkembang mempunyai pilihan terbatas dalam strategi mengatasi masalah kemiskinan (coping strategy) dan selalu merasa tidak aman dengan keadaannya.

Perempuan mempunyai akses yang terbatas pada sumber ekonomi seperti tanah, tenaga kerja dan modal. Para wanita di pedesaan memainkan peran sebagai sumber produsen bahan makanan namun akses mereka terhadap sumber produksi vital sangat terbatas. Di negara berkembang masalah kelembagaan ini sering menjadi penghambat perempuan untuk berkembang. Berapa penelitian di negara berkembang menunjukkan perempuan kurang mempunyai akses terhadap kredit dibanding dengan laki laki. Jika mereka mempunyai akses kredit yang dikucurkan biasanya lebih kecil daripada yang diperoleh laki-laki.

Sebagian besar perempuan terlibat dalam usaha kecil menengah di pedesaan. Usaha semacam ini membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya. Biasanya mereka membeli hasil pertanian dari pedesaan dan dijual ke kota. Akses terhadap kredit yang terbatas menyebabkan para perempuan tidak mampu mengembangkan usaha mereka. Mereka tidak bisa membeli produk pedesaan dalam jumlah yang banyak karena modal yang masih terbatas. Keadaan ini ikut berpengariuh terhadap daya serap hasil pertanian pedesaan yang rendah. Akibatnya banyak hasil pertanian yang tidak terjual dan pendapatan petani menurun. Tingkat kemiskinan di desa terus meningkat.

Untuk mengatasi hal ini maka tidak ada pilihan lain kecuali menyediakan kredit kepada para perempuan pedesaan yang terlibat dalam usaha kecil menengah. Tentu hal ini tidak bisa dilakukan melalui lembaga keuangan formal. Lembaga ini biasanya mensyaratkan jaminan yang tidak mungkin dipenuhi oleh perempuan di pedesaan. Ada juga sumber kredit pedesaan lain melalui rentenir. Sumber kredit semacam ini biasanya dengan bunga yang sangat tinggi sehingga menjadi sumber pemerasan bagi perempuan pedesaan. Oleh karena itu pemerintah perlu menyediakan program khusus pemberian kredit kepada perempuan di pedesaan. Sumber kredit yang lain adalah melalui Organisasi Non Pemerintah (ORNOP). Kredit dari ORNOP biasanya mudah dan lebih murah. Masalah dengan kredit yang disediakan ORNOP tidak bisa melayani banyak orang mengingat mereka hanya mengandalkan dana yang terbatas dari organisasi internasional. Jika pun ada jumlah dana yang diberikan tidak terlalu besar sehingga tidak memungkinkan pengembangan usaha yang maksimal. ORNOP biasanya lebih memberi perhatian pada rumah tangga yang benar benar miskin.

C. Hubungan Jender dan Kemiskinan

Selain itu hubungan gender dalam rumah tangga ikut menentukan distribusi pendapatan dalam rumah tangga. Hubungan jender yang seimbang dalam rumah tangga memberdayakan perempuan menuntut haknya untuk diperlakukan sama dengan laki-laki. Dengan kondisi ini perempuan dapat menguasai dan mengatur sumber sumber yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya. Di negara maju kesetaraan jender ini sudah tidak menjadi masalah namun ini belum sepenuhnya berjalan di negara berkembang. Kemiskinan rumah tangga dapat disebabkan oleh hubungan jender yang kurang harmonis (Corner 1997). Hubungan jender yang kurang baik dapat dilihat dari kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga, sikap konservatif tentang posisi laki laki yang lebih istimewa daripada perempuan. Dalam keluarga yang konservatif perempuan masih dianggap warga kelas dua dalam rumah tangga.  Seorang istri baru makan setelah sang suami makan. Tentu ini berakibat pada kekurangan gizi di kalangan perempuan desa pada umumnya.Anak laki laki lebih diistimewakan daripada anak perempuan. Anak laki laki mendapatkan porsi menu yang baik dan lebih diutamakan bersekolah daripada perempuan. Akibatnya banyak anak perempuan di desa yang tidak mencapai sekolah tinggi sehingga ketika bekerja hanya masuk ke sektor yang upahnya rendah. Banyak anak perempuan yang tidak sekolah ini kawin muda dan mempunyai anak dalam umur belia. Keadaan ini membuat banyak perempuan desa tetap beada dalam belitan kemiskinan desa.

Ada juga penyebab kemiskinan yang lain yaitu konsumsi alkohol yang berlebihan dalam rumah tangga. Di negara berkembang konsumsi alkohol sering dilakukan laki-laki. Para ibu sering terpaksa menyiapkan uang untuk kebutuhan alkohol suami. Uang tersebut bisa dipakai untuk kebutuhan lain bagi peningkatan kesejahteraan rumah tangga secara menyeluruh. Sebenarnya mereka bisa keberatan tapi karena posisi yang lemah mengakibatkan mereka tidak bisa berbuat apa apa. Masalah alkoholisme dalam rumah tangga tidak hanya mempunyai dampak terhadap masalah keuangan saja tapi menyebabkan produktivitas anggota rumah tangga menurun.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: