//
you're reading...
Sosial Politik

PERANAN WIRASWASTA MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA

A. Pembahasan

Topik kewirausahaan menjadi perhatian para pengambil keputusan di berbagai wilayah. Entrepreneruship dipandang sebagai suatu kegiatan yang mempunyai potensi menciptakan dan meningkatkan perumbuhan lapangan kerja. Masih banyak daerah yang belum menyadari tentang pentingnya sektor entrepreneur menciptakan lapangan kerja. Di berbagai negara peranan sektor entrepreneur menciptakan lapangan kerja sudah mendapat pengakuan. Penelitian di amerika menunjukkan 25 perusahan mampu mencipatakan 1,4 juta lapangan kerja (mcquaid 2003). Banyak negara menyadari bahwa jumlah perusahaan yang tumbuh cepat menjadi kunci penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu sektor entrepreneur perlu diberi perhatian dan dilindungi.

Sektor entrepreneur menjadi sangat penting karena keterbatasan pemerintah menyediakan lapangan kerja kepada masyarakatnya. Anggaran pemerintah terbatas membuka lapangan kerja baru sedangkan di lain pihak angkatan kerja terus bertambah sejalan dengan pertambahan penduduk. Pertumbuhan angkatan kerja memberi tekanan terhadap ketersediaan lapangan kerja di suatu daerah. Jika daerah tidak mampu menyediakan lapangan kerja maka akan terjadi tingkat pengangguran yang tinggi. Jika sektor entrepreneurial berkembang maka tingkat pengangguran dapat ditekan lebih kecil.

Keterkaitan antara turunnya tingkat pengangguran dengan kewirausahaan sudah diamati para ahli sejak lama. Tingkat pengangguran suatu wilayah mempunyai korelasi negatif dengan perkembangan entrepreneurship di wilayah tersebut. Wilayah yang mempunyai tingkat pengangguran rendah mempunyai tingkat entrepreneurship yang tinggi. Mereka mendapati bahwa jika individu menganggur dan prospek masuk lapangan kerja sulit maka mereka cenderung membangun usaha sendiri. Hal ini berarti entrepreneurship suatu wilayah berkembang karena seseorang tidak ingin menjadi penganggur.

Ada dua tipe entrepreneur yang memberi kontribusi positif terhadap penciptaan lapangan kerja. Tipe entrepreneur pertama adalah para investor yang membangun usaha besar. Jelas tipe entrepreneur seperti ini akan memberi kontribusi yang cukup tinggi terhadap perekonmian daerah. Perusahan yang mereka dirikan pada umumnya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pemerintah daerah berharap jenis entrepreneur semacam ini ikut berperan mengurangi tingkat pengangguran di wilayah mereka.

Tipe entrepreneur yang kedua adalah mereka yang berusaha sendiri (self employment). Para enterpreneur jenis ini pada umumnya memiliki usaha dalam skala kecil. Mereka menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri dan sering dikenal sebagai “routine enterpreneurs.” Para entrepreneur kecil disebut sebagai entrepreneur rutin karena tujuan utama usaha mereka sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Biasanya jenis pengusaha seperti ini menggeluti suatu bidang usaha selama jangka waktu tertentu tanpa mempunyai visi pengembangan ke depan. Mereka tetap mempertahankan jenis usaha dan irama usaha yang sama selama bertahun tahun.

Ada pengecualian untuk beberapa entrepreneur yang memulai usaha sebagai entrepreneur rutin dan kemudian berkembang menjadi entrepreneur dengan berbagai macam usaha. Para entrepreneur semacam ini pada awalnya berusaha sebagai pengusaha kecil dan kemudian berkembang menjadi pengusaha mennegah dan besar. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun kehadiran mereka dapat menjadi inspirasi bagi entrepreneur lain. Agar pengusaha kecil dapat bergeser menjadi pengusaha menengah dan besar dibutuhkan perhatian dan kebijakan pemerintah yang intensif.

Hampir tidak ada suatu wilayah pun yang luput dari pengaruh globalisasi. Pada masa yang lalu suatu daerah masih mengandalkan tenaga kerja murah atau tanah yang murah sebagai andalan keberhasilan pembangunan, sekarang tidak mungkin lagi. Prospek ekonomi suatu wilayah akan ditentukan oleh faktor faktor seperti ketrampilan tenaga kerja, akses ke modal dan informasi, dan kegiatan inovatif. Di sinilah enterpreneurship menjadi sangat penting. Mereka yang bekerja untuk diri sendiri, biasanya usaha kecil, adalah enterpreneur lokal yang perlu mendapat perhatian. Mereka ini yang jika dibina dengan baik akan menjadi pengusaha besar dan dpat memberi kontribusi pada penciptaan lapangan kerja.

B. Bagaimana Melihat Potensi Enterpreneurship Suatu Wilayah

Enterpreneurship dapat dipandang sebagai aset suatu wilayah yang perlu mendapat perhatian. Enterpreneurship sudah mulai dilihat sebagai motor pertumbuhan suatu wilayah. Salah satu sumbangan para enterporeneur dalam perekonomian suatu wilayah adalah membuka kesempatan kerja. Para enterpreneur tidak hanya membuka lapangan kerja tapi mereka juga menciptakan kemakmuran bagi masyarakat suatu daerah. Peran enterprenerur sudah tidak tidak perlu diperdebatkan lagi namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengukur enterpreneurship di suatu wilayah?, Tanpa ukuran yang jelas tentang enterpreneurship para pengambil keputusan mengalami kesulitan mengevaluasi kegiatan enterpreneur di wilayah mereka.

Paling tidak ada dua indikator sebagai alat ukur kegiatan enterpreneur di suatu daerah. Pertama, mengukur kuantitas kegiatan enterpreneur, atau mengukur luasnya (breadth) kegiatan enterpreneur di seluruh wilayah. Luas kegiatan enterpreneur menunjukkan tentang jumlah dan keragaman usaha kecil yang ada di di suatu wilayah dan merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi. Ukuran kedua lebih memberi tekanan pada kualitas, atau kedalaman (depth) kegiatan enterpreneur di suatu wilayah. Kedalaman yang dimaksud merujuk pada nilai yang diperoleh usaha kecil tersebut dan nilai yang disumbangkan bagi ekonomi lokal. Para enterpreneur yang dmaksud di sini adalah mereka yang membuka usaha sendiri (self employed).

Bagaimana menghitung breadth atau luas aktivitas para enterpreneur. Luas kegiatan dihitung dengan cara menjumlahkan semua orang yang berusaha sendiri dan dibagi dengan total kesempatan kerja di wilayah tersebut. Ratio ini sangat berguna dalam memberi gambaran tentang konsentrasi para pengusaha di berbagai sub-daerah dalam wilayah administrasi tertentu. Jadi jika wilayah yang dimaksud sebuah kabupaten maka kita bisa mendapatkan ratio pengusaha yang berusaha sendiri terhadap total kesempatan kerja berdasarkan desa. Dengan melihat ratio antar desa maka kita dapat gambaran tentang konsentrasi pengusaha di desa tertentu.

Untuk mengukur depth, atau kedalaman usaha para enterpreneur ada dua ukuran yang dipakai, pendapatan rata-rata (average income) dan pendapatan yang diperoleh dari usaha (revenue capture). Ada asumsi bahwa para enterpreneur dengan pendapatan rata-rata yang tinggi mengoperasikan perusahan yang menghasilkan laba yang tinggi, sehingga memberikan sumbangan yang lebih positif terhadap ekonomi masyarakat. Jika pendapatan rata-rata meningkat berarti daerah secara menyeluruh akan lebih makmur. Kedalaman enterpreneurship adalah ratio pendapatan rata-rata terhadap pendapatan ketika pengusaha itu bekerja di wilayah tersebut.

Ukuran kedua untuk kedalaman adalah ratio pendapatan yang diperoleh melalui usaha dibagi dengan total penjualan barang dan jasa oleh pengusaha tersebut. Semakin besar ratio berarti semakin besar sumbangan langsung enterpreneur terhadap ekonomi lokal. Hal ini bisa terjadi dengan asumsi pengusaha yang beroperasi di wilayah tersebut tidak melakukan investasi keluar daerah bersangkutan.

C. Kesimpulan

Banyak pejabat yang belum menyadari peran yang dimainkan para wiraswatawan dalam pembangunan ekonomi. Memang selama ini sebagian besar pemerintah daerah lebih mengandalkan dana alokasi umum (DAU) atau dana alokasi khusus (DAK) menunjang pembangunan daerah. Kondisi semacam ini yang menyebabkan banyak daerah yang kuarng memperhatikan peran wiraswasta dalam pembangunan ekonomi. Wilayah yang mempunyai kelas wiraswasta yang kuat cenderung lebih berkembang daripada wilayah yang kurang mempunyai kelompok wiraswasta yang berkualitas. Para wiraswasta berperan penting dalam mencipakan lapangan pekerjaan yang selalu menjadi momok berbagai daerah karena pertumbuhan angkatan kerja yang cepat. Selain itu kelompok wiraswasta yang kuat akan ikut menunjang peningkatan pendapatan asli daerah. Dana ini sangat diperlukan daerah dalam rangka menundukung program pembangunan.

Melihat peran yang begitu penting pemerintah daerah seharusnya mempunyai program pengembangan wiraswasta lokal. Wiraswasta lokal perlu mendapat perhatian karena mereka ini yang berdiam di daerah bersangkutan dan lebih besar menanamkan modal di wilayah tersebut. Memang sedikit ironis pemerintah lebih mengandalkan wiraswasta dari luar daerah tapi pemerintah harus sadar bahwa ada kemungkinan besar sebagian besar keuntungan ditransfer kembali ke luar daerah sehingga tidak menimbulkan efek multiplier yang kuat unutk daerah bersangkutan. Dengan kata lain ada kemungkinan wiraswasta dari luar daerah dapat meninggalkan suatu daerah jika mereka merasa daerah tersebut sudah tidak menjanjikan. Hal ini ini bisa terjadi dengan pengusaha lokal dengan kemungkinan yang lebih kecil.

Walaupun demikian tidak berarti daerah tidak perlu menerima wiraswasta dari luar. Jika pengusaha lokal belum mampu atau jumlah pengusaha lokal masih sedikit maka tidak ada salahnya jika pemerintah perlu mengundang pengusaha dari luar. Ada beberapa keuntungan pengusaha dari luar, seperti, transfer pengetahuan, dan membuka peluang pasar bagi produk lokal. Tentu pemerintah harus mempunyai kebijakan agar sedapat mungkin pengusaha dari luar bermitra dengan pengussaha lokal.

Salah satu aspek penting dalam pembangunan daerah yang mengandalkan wiraswasta adalah modal sosial. Modal sosial sebenarnya sudah sering diterapkan dalam melakukan usaha di Asia. Modal sosial intinya adalah kepercayaan yang terjalin melalui jaringan usaha. Jika suatu masyarakat mempunyai modal sosial yang kuat maka biaya usaha dapat dikurangi. Struktur biaya ini sangat berpengaruh terhadap penetapan harga pokok produk yang pada akhirnya akan ikut menentukan daya saing produk daerah bersangkutan. Daya saing produk pada akhirnya ikut menentukan daya saing suatu wilayah. Oleh karena itu pemerintah seharusnya meningkatkan kemampuan wiraswasta dengan mengurangi biaya-biaya siluman yang tidak perlu.

 

Sumber : Diklat Teknis LAN

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: