//
you're reading...
Psikologi

Perkembangan Kognitif dan Psikososial

PERKEMBANGAN KOGNITIF

Perkembangan kognitif adalah suatu proses pembentukan berpikir  untuk memperoleh pengetahuan melalui ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, penyimpulan serta penilaian. Dalam perkembangan kognitif, terdapat tiga aspek yaitu struktur, isi (content) dan fungsi. Struktur kognitif disebut juga skemata, merupakan organisasi mental tingkat tinggi dan terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara isi dari kognitif adlah respon anak terhadap berbagai situasi yang dihadapinya. Fungsi dari cara yang digunakan individu untuk membuat kemajuan intelektual adalah dengan melakukan organisasi, adaptasi dan akomodasi. Cara adaptasi memerlukan modifikasi pengetahuan untuk menghadapi situasi dilingkungannya. Cara asimilasi dilakukan seseorang dalam menggunaan pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk menghadapi situasi dilingkungan dimana dalam proses ini seseorang sudah mengetahui urutannya dan dapat membuka sesuai prosedur yang telah dikuasainya.  Tahap-tahap perkembangan kognitif selalu merujuk kepada perkembangan kognitif dari Jean Piaget. Menurutnya, tahap perkembangan kognitif terdiri dari 4 tahap :

Sensorimotor ( usia 0 – 2 tahun ) Fase Schema, operation

Pada tahap ini pengetahuan diperoleh melalui interaksi fisk dengan orang/.objek. Skema-skema baru berbentuk refleks-refleks sederhana.

Praoperasional ( fase usia 2 – 7 tahun ) Fase Egosentris, penalaran transdeduktif, sinkretik

Pada fase ini anak mampu berpikir dengan menggunakan simbol, tetapi masih dibatasi oleh persepsinya, pola berpikirnya hanya terfokus pada satu dimensi terhadap terhadap objek dalam waktu yang sama. Cara berpikirnya masih terpusat (centering). Berpikirannya masih kaku tidak fleksibel, namun demikian anak mulai mengerti dasar-dasar pengelompokkan sesuatu berdasarkan kesamaan warna, bentuk dan ukuran.

Operasional Konkrit ( fase usia 7 – 11 tahun ) Fase konservasi dan seriasi

Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi dan mengubah serta dapat memecahkan masalah secara logis.

Operasional Formal ( fase usia 11 tahun ke atas ) Fase berpikir abstrak dan simbolik

Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Anak sudah dapat berpikir abstrak dan memecahkan masalah melalui pengujian semua alternatif yang ada.

 

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Erik H Erikson menyusun teori perkembangan yan gditinjau dari perspektif perkembangan psikologis dan sosial, sehingga disebutnya sebagai perkembangan psikososial sebagai.

Awal pra kanak-kanak ( fase usia 0 – 2 tahun ) Fase perkembangan mental-sosial “Kepercayaan Dasar  Vs  Kecurigaan Dasar”

Pada usia ini anak sangat tergantung pad ibu atau orang yang dianggap ibu. Ibu menjadi sumber kasih sayang dan memenuhi kebutuhan anak. Ibu selalu diharapkan keberadaanya pada saat dibutuhkan. Ibu menjadi figur dipercaya dan diandalkan. Apabila fase ini berhasil dilalui dengan baik, anak mengembangkan kepercayaan kepada orang lain dan dirinya, dia akan belajar menerima dan memberi. Sebaliknya apabila ibu menarik diri, dia tidak ada saat dibutuhkan, atau ibu terlalu cepat atau mendadak menyapih dan meninggalkan anak, ataupun sering membentak, memaki, memukul apalagi sempat menelantarkan anak akan mengembangkan ketakutan akan isolasi; kecemasan kehilangan ibu, muncul kecurigaan, ketidakpercayaan kepada diri dan lingkungan (dstrust).

Akhir masa pra kanak-kanak ( fase usia 2 – 4 tahun ) Fase perkembangan mental-sosial “Otonomi Vs  Rasa Malu dan Ragu – Ragu”

Pada fase ini anak mulai belajar untuk berdiri sendiri (otonomi). Untuk itu orang tua diharapkan dapat bertindak tegas tetapi melindungi, mendukung dan memberi kesempatan keinginan otonomi serta melindungi dari keraguan dan rasa bersalah. Apabila fase ini berhasil dilalui dengan baik, anak akan mengembangkan otonomi, dengan memandang diri sebagi pribadi yang terpisah dari orang tua, tetapi masih tergantung. Sebaliknya apabila gagal anak akan mengembangkan rasa malu dan ragu, merasa diri tidak mampu dan meragukan diri sendiri. Enggan belajar keterampilan dasar, seperti berjalan dan berbicara serta ada ingin menyembunyikan ketidak mampuannnya.

Awal masa kanak-kanak ( fase usia 4 – 6 tahun ) Fase perkembangan mental-sosial “Inisiatif  Vs  Rasa Bersalah”

Fase ini adalah fase dimana anak melakukan eksplorasi lingkungan (menjelajah, memahami informasi melalui bahasa, pengembangan imajinasi), anak mengembangkan pemahaman peran sesuai identitas seksual (identifikasi terhadap orang tua). Apabila anak berhasil melaui fase ini dengan baik, ia akan mengembangkan inisiatif, memiliki daya imajinasi yang berkembang dan memiliki keinginan untuk selalu menguji kenyataan, sehingga kadang akan terlihat meniru orang dewasa dan berusaha untuk mendapat peranan (role) dalam lingkungan sosialnya. Sebaliknya apabila gagal, anak akan mengembangkan rasa bersalah, terlihat tidak memiliki spontanitas, iri yang kekanak-kanakan, castration complex, curiga, menghindar/mengelak, serta memiliki hamabtan untuk mendapat peranan (role) dalam lingkungan sosial.

Pertengahan masa kanak-kanak ( fase usia 6 – 12 tahun ) Fase perkembangan mental-sosial “Kerajinan/Ketekunan  Vs  Rendah Diri”

Pada fase ini akan mengembangkan pengetahuan keterampilan, berusaha mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya, mengembangkan upaya prestasi. Peran orang tua diharapkan memberi dorongan dan penghargaan. Apabila berhasil melalui fase ini dengan baik, anak akan memiliki kemampuan sosial, memiliki motivasi berkarya/berprestasi akademis, dapat melaksanakan tugas-tugas dengan baik, memiliki identifikasi tugas dan menempatkan fantasi dan permainan perspektif yang lebih baik. Sebaliknya apabila gagal (rendah diri) ia akan menghindari persainagn, tidak termotivasi untuk berprestasi, memiliki kebiasaan kerja buruk, merasa tidak tidak akan ada perubahan meskipun sudah merasa berusaha, seringkali merasa tidak berguna dan dalam bekerja seringkali bersikap seperti budak, artinya bekerja hanya apabila disuruh.

Periode Usia Kelima/Transisi masa anak ke usia dewasa ( fase usia 12 – 23 tahun ) Fase perkembangan mental-sosial “Identitas  Vs  Kebimbangan Peran”

Fase ini anak akan mengalami transisi dari masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan psikologis yang cepat. Anak sedang mengalami proses pencarian identitas diri sehingga perlu dukungan dalam memenuhi tugas perkembangan. Apabila fase ini dilalui dengan baik, akan terbentuk identitas diri, mereka  memiliki sikap dan perspektif mantap tentang masa depan, memiliki keyakinan diri, berani mencoba peran serta mau belajar sesuatu yang baru. Individu mampu berperan sesuai identitas seksual sehingga mampu membina hubungan heteroseksual. Sebaliknya apabila tidak dilalui dengan baik, bahkan samapu gagal, maka yang terjadi adalah bahwa mereka memiliki kebimbangan peran, merasa tidak mampu mel;akukan suatu pekerjaan, merasakan kebimbangan peran sesuai identitas seks, kebimbangan otoritas, kebimbangan nilai dalam hubungan heteroseksual.

Periode usia Dewasa ( fase usia 23 – 35 tahun )Fase pembentukan mental-sosial “Keakraban  Vs  Keterasingan”

Fase ini ditandai dengan munculnya hubungan afektif (perasaan) yang tetap dan mendalam dengan lawan jenis. Berusaha untuk membina keakraban dengan orang lain. Apabila fase ini dilalui dengan baik, anak akan tumbuh rasa persatuan dan kasih sayang, mampu berhubungan dengan orang lain serta mampu membina hubungan intim  dengan lawan jenis dan melakukan hubungan seksual dengan pasangan. Sementara apabila gagal, individu akan berusaha menghindari keakraban, suka berganti-ganti pasangan, seringkali melakukan penyangkalan dan menyendiri serta menghindari hubungan intim dengan lawan jenis.

Periode Kematangan Dewasa ( fase usia  35 – 65 tahun ) Fase pembentukan mental-sosial “Generative  Vs  Stagnasi”

Fase ini ditandai dengan keinginan individu untuk membuka diri pada dunia luas (masyarakat), mengembangkan produktivitas  karya, memelihara, membina dan mendidik generasi muda dengan mengembangkan hobi, mengembangkan spiritual. Keberhasilan melalui fase ini akan membuat individu mengambangkan kepuasan hidup, melihat kehidupan sebagai suatu langkah maju yang berharga, ia akan produktif dan kreatif bagi diri sendiri maupun orang lain serta akan memberi rasa bahagia dan bangga pada orang tua dewasa, mereka berperan dalam membangun dan membimbing generasi muda. Apabila mengalami kegagalan, reaksi yang terjadi adalah munculnya stagnasi, regresi  dan sikap terpikat pada diri sendiri. Sementara egosentris tidak produktif, cepat merasa puas, merasa tidak mampu, mencintai diri yang berlebihan pemiskinan pribadi mengasihani diri.

Periode usia Akhir ( fase usia 65 tahun lebih ) Fase pembentukan mental-sosial “Integritas Vs  Keputusan”

Pada fase yang terakhir ini setiap orang ini memiliki keterbatasan eksistensi usia lanjut menghadapi kemungkinan kematian, melihat makna hidup secara positif, menciptakan keharmonisan eksistensi diri berhasil, memiliki integritas, memiliki perasaan berarti dalam hidup, merasakan kebahagiaan, mengembangkan toleransi yang mendalam, memiliki kebijaksanaan, dapat menghargai kontinuinitas masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Apabila gagal melalui maka akan memunculkan perasaan tidak berarti dalam hidup, merasa putus asa, menyesali diri, perasaan muak dan tidak dapat menerima kehidupannya, kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain, selalu mengingatkan kesempatan untuk mengulangi kembali hidup, takut menghadapi kematian serta tidak memiliki spiritualitas.

 

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: