//
you're reading...
Pendidikan

Taksonomi Awal “Model Pembelajaran Keterampilan Berpikir”

“Hidup adalah permainan mental dan mental adalah keterampilan berpikir” (ali sadikin wear, 2012)

Salah satu ciri utama yang menjadi keberhasilan pembelajaran tampak dan tergambarkan pada seperangkat kemampuan pengetahuan sikap dan keterampilan kebutuhan. Ketiga komponen tersebut sesungguhnya terbentuk oleh kebiasaan (habit), penguatan (reinforcement) yang menjadi watak yang tertumpu pada pola pikir seseorang. Adapun yang menjadi pembedanya hanya dibatasi oleh proporsi, sifat, proses, dan hasil berpikir sesuai dengan kepentingannya. Dengan demikian keterampilan “pembelajaran berpikir” atau “pembelajaran keterampilan berpikir” merupakan aspek strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian hasil yang terstandar.

Keterampilan berpikir merujuk kepada pendekatan melalui strategi khusus dan prosedur yang bisa dilaksanakan, serta dapat digunakan oleh peserta didik dengan cara yang terkontrol dan sadar untuk membuat mereka belajar lebih efektif. Strategi dan prosedur menggunakan spontanitas dan atau dirancang secara sistematis, serta spesifik, luas atau bersifat umum. Ashman Conway (1997)  mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir melibatkan enam jenis berpikir (1) metakognisi; (2) berpikir kritis; (3) berpikir kreatif; (4) proses kognitif (pemecahan masalah dan pengambilan keputusan); (5) kemampuan berpikir inti (seperti representasi dan meringkas); (6) memahami peran konten pengetahuan.

Yang perlu dipahami adalah pendekatan keterampilan berpikir merupakan kegiatan yang terorganisasi untuk mengidentifikasi proses mental peserta didik, atau peserta didik yang perlu merencanakan , mendeskripsikan, dan mengevaluasi proses berpikir dan belajar. Dimana dalam proses ini terdapat situasi belajar dan mengajar yang mendorong proses-proses yang menghasilkan mental yang diinginkan dari kegiatan. Hal ini diperkuat dengan penilaian bahwa pemikiran dapat ditingkatkan melalui campur tangan seorang guru dan mensyaratkan adanya proses mental untuk merencanakan, mendeskripsikan dan mengevaluasi proses berpikir dan belajar.

Salah satu cara untuk melihat hal metakognitif adalah mempertimabngkan aspek kemampuan berpikir sebagai cara mengelola memori kerja sehingga proses sadar dan taksadar bersama-sama menghasilkan hasil yang dinginkan. Perhatian dan memori kerja didukung oleh berbagai kebiasaan berpikir termasuk refleksi kritis. Tujuan berpikir dan belajar dengan kumpulan informasi dengan pemahaman merupakan hasil kombinasi berpikir yang dinamis, mengarahkan perhatian dengan mengklarifikasikan bahasa pemikiran sebagai kerangka kerja dan taksonomi yang akan membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Penekanan atas pengajaran kognisi merupakan hasil dari banyak pengaruh.  Pada satu sisi guru secara luas dianggap sebagai model perilaku sederhana, dimana fokus pengajaran utama adalah perilaku yang diamati sebagai pengolahan mental.

Dalam teori Piaget dimana individu melewati serangkaian tahap yang mencerminkan tingkat superior berpikir, tidak selalu menyebakan sebuah “perangkap deterministik” dimana lingkungan input mental bisa dipandang sebagai pengaruh terbatas (Adey dan Shayer, 1994:6). Teori Vygotskian bahwa pendidik harus mencoba untuk membantu peserta didik terlibat dalam pemikiran tingakt yang lebih tinggi melalui bantuan terstruktur telah semakin diterima dalam dekade terakhir ini. Rogoff (1990) mengemukakan bahwa banyak pendidik tertarik dengan ide magang kognitif, sebuah istilah yang merujuk pada proses di mana para “pakar” (pendidik) memberi tugas dalam belajar berdasarkan kondisi terstruktur sedemikian rupa bahwa “pemula” (pelajar) memperoleh dukungan dan keuntungan dalam kapasitasnya untuk menyelesaiakan masalah secara mandiri.  Dalam pendidikan lanjut menerapkan ide-ide filasafat. Matthew Lipman menyarankan bahwa dalam belajar keterampilan berpikir seyogianya peserta didik diperlakukan sebagai pemikir.

Beberapa inisiatif dalam penerapan teori keterampulan berpikir dilihat dari perspektif konseptual termasuk dalam menggambarkan proses kognitif berbeda, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pembelajaran keterampilan berpikir  memerlukan banyak pendekatan (Hamers dan Overtoom, 1997). Dengan demikian suatu program keterampilan berpikir merupakan pendekatan dalan pendidikan yang digunakan oleh guru dan dirancang secara terstruktur. Program ini sering diidentikkan dengan pengembangan pembelajaran kognitif sebagai pelaksanaan dari kurikulum yang ada (Adey, Shayer dan Yates, 1989).

Rancangan secara terstruktur mengarah pada tujuan dan sasaran merupakan perhitungan yang diproyeksikan seorang guru atau sistem yang dirancang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam waktu yang terbatas dengan menetapkan waktu. Arah dalam mencapai sesuatu yang ditetapkan terkait dengan antisipasi hasil akhir sebagai objek, baik berupa tangible object maupun intangible object yang direkonstruksi dengan pola yang lebih spesifik , sasaran yang terukur, dapat dicapai, realistis dan dalam waktu yang ditargetkan. Pada teori penetapan tujuan dan sasaran pendidikan berfungsi sebagai alat yang dipandang efektif untuk membuat kemajuan dengan memastikan bahwa peserta didik memiliki kesadaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran. Dalam proses pembelajaran tujuan membantu guru untuk memusatkan usaha dan perhatian kepada peserta didik dengan mengindikasikan apa yang ingin dicapai dari peserta didik untuk belajar.

Hal ini merupakan rumusan eksplisit sebuah tindakan sadar untuk mencapai tujuan yang secara hakiki adalah memfasilitasi siswa atau peserta didik agar terbangun potensinya sehingga mencapai keadaan optimal. Pada posisi guru, mengajar apa yang akan diajarkan kepada siswanya akan menjadi lebih berarti (bermakna) manakala memberikan kepuasan karena dapat dipahami tujuan dan manfaatnya, artinya sasaran merupakan capaian spesifikasi yang harus dipenuhi melalui strategi, pendekatan, metode dan teknik  yang mengarah kepada pembelajaran yang menganut hasil (progresif) meninggalkan pola memberikan berbagai hal kepada siswa agar mereka “tahu dan melakukan” hasil belajarnya tanpa pembanding serta tervalidasi.

Meskipun terdapat perbedaan namun terdapat kelebihan dari pembelajaran keterampilan berpikir yang efeknya sangat bermanfaat bagi para guru.  Sementara itu beberapa praktisi mempertahankan pemikirannya yang digunakan di sekolah dan perguruan tinggi, sedangkan yang lainnya menekankan pada pendekatan aplikasi yang diterjemahkan menjadi keterampilan dan proses pemecahan masalah, berdasarkan unsur-unsur tuntutan kurikulum, serta mendorong peserta didik untuk berpikir reflektif.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: