//
you're reading...
Metode Penelitian

SISTEMATIKA DAN RAGAM METODE

Hasil karya mahasiswa :

Amelina Fauzan Lestari Putri

Fitra Armela

Hanif Hanindito Jati

Putri Amandhari

Siti Alifah Farhana Dinata

 

Pengertian : Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan atau kegunaan tertentu.

ALUR BERPIKIR DAN SISTEMATIKA PENULISAN

Alur Berpikir Sebelum Memulai Penelitian:

  1. Menentukan topic atau masalah
  2. Merumuskan masalah dan hipotesis
  3. Mengenali jenis-jenis data yang akan dikumpulkan (data primer dan data sekunder, data kategorik dan data statistik, data nominal, interval,  dan berjenjang)
  4. Menentukan pendekatan (kuantitatif-kualitatif), metode (eksperimen, ekspos fakto, laboratorium, lapangan, sensus, survey), dan teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, angket, dokumen, bahan pustaka, analisis isi media massa)
  5. Merumuskan dan memilih pertanyaan-pertanyaan penting penelitian (menyusun instrumen)
  6. Memilih subjek (populasi dan sampel)

Alur Berpikir Sesudah Melakukan Penelitian:

  1. Menetapkan variabel
  2. Membaca buku dan hasil penelitian
  3. Deskripsi teori dan hasil penelitian
  4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
  5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
  6. Sintesis dan kesimpulan

SISTEMATIKA PENULISAN

Secara umum sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan
  4. Manfaat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

  1. Simpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RAGAM METODE

  • Metode Survey. Penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah  dari sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosilogis maupun psikologis.
  • Metode Ex Post Facto. Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi yang  kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
  • Metode Eksperimen. Yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Variabel independennya dimanipulasi oleh peneliti.
  • Metode Naturalistik. Metode penelitian ini sering disebut dengan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alami (sebagai lawannya) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Contoh : Sesaji terhadap keberhasilan bisnis.
  • Metode Policy Research. Yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertinak secara praktis dalam menyelesaikan masalah.
  • Metode Action Research. Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktifitas lembaga dapat meningkat. Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah: 1) situasi, 2) perilaku, 3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja, dan pranata.
  • Metode Evaluasi. Merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standar dan program yang telah ditetapkan.
  • Metode Sejarah. Berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu. Sumber datanya bisa primer, yaitu orang yang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu. Tujuan penelitian sejarah adalah untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui pengumpulan, evaluasi, verifikasi, dan sintesa data diperoleh, sehingga ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan.

RAGAM METODE PENELITIAN

Ada beberapa metode penelitian yang sering dilakukan dainataranya : historis, deskriptif, korelasional, eksperimental, dan kuasi-eksperimental.

Metode Historis

Historis artinya berhubungan dengan sejarah. Sejarah adalah studi tentang masa lalu dengan menggunakan kerangka paparan dan penjelasan. Seperti ilmu sosial lain, sejarah merupakan studi empiris yang menggunakan berbagai tahap generalisasi untuk memaparkan, menafsirkan, dan menjelaskan data. Dengan metode historis, seorang ilmuwan sosial mencoba menjawab masalah-masalah yang dihadapinya. Untuk menjawab masalah tersebut, peneliti harus menggunakan sistematika penelitian yang cermat dan bukan sekadar mengumpulkan catatan-catatan saja. Metode sejarah (historis) dapat digunakan juga untuk menguji hipotesis. David Fischer mendefinisikan peneliti sejarah sebagai “orang yang mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended question) tentang peristiwa masa lalu dan menjawabnya denga fakta terpilih yang disusun dalam bentuk paradigm penjelasan. Pertanyaan dan jawaban ini dicocokkan satu sama lain dengan proses penyesuaian yang kompleks” (dikutip dari Smith, 1981: 306).

Langkah-langkah Penelitian Historis

  • Perumusan Masalah. Masalah penelitian hanya timbul setelah melewati tahap immersion (pendalaman) dan guided entry (pengkhususan). Untuk mampu merumuskan masalah sejarah komunikasi, kita harus mengenal pengetahuan sejarah umum dan sejarah komunikasi. Setelah pendalaman dan pengkhususan lingkupan data, peneliti menetapkan bagian-bagian data yang lebih khusus lagi, proses ini disebut guided entry. Semua istilah dalam penelitian historis harus didefinisikan secara operasional. Definisi operasional menggambarkan kategori dan klasifikasi.
  • Penelitian Data (Authenticating Data). Penelitian historis berpijak pada data yang ada. Data ini bisa merupakan sumber primer atau sumber sekunder. Sumber primer adalah saksi mata dari suatu peristiwa. Ia dapat berupa orang ataui benda (tape recorder, kamera) yang hadir dalam peristiwa tertentu. Peneliti sejarah membedakan dua jenis sumber primer, yaitu record dan relics. Record adalah kesaksian mata yang disengaja, dapat berupa dokumen, rekaman lisan, atau karya seni. Relics adalah rekaman peristiwa yang tidak dimaksudkan untuk merekam peristiwa sejarah, dapat berupa bahasa, tradisi masyarakat, atau artifak.. Data sejarah harus diteliti dari segi keaslian dan kepercayaan. Penelitian segi pertama disebut kritik eksternal. Bila peneliti menggunakan suatu dokumen, ia akan mencatat tanggal dokumen dan menentukan apakah bahan dokumen (tinta, kertas, film) berasal dari zaman yang sama. Penelitian segi kedua disebut kritik internal. Di sini peneliti bertanya, “Apakah bukti otentik itu dapat dipercaya? Apakah penulis tidak berdusta?”
  • Pemilihan Strategi Analitis. Cara menganalisis data sejarah tidak dapat dipisahkan dari perumusan masalah. Bagaimana masalah itu dijawab menentukan strategi analisis. Ada dua strategi analisis, yaitu analisis dokumenter dan analisis kuantitatif. Analisis dokumenter dipergunakan bila data terlalu sedikit untuk dikuantifikasi. Analisis kuantitatif menggunakan berbagai analisis statistik, bermacam-macam alat ukur, prosesing data, dan analisis isi. Analisis kuantitatif pada hakikatnya hanyalah menambahkan analisis yang lebih cermat dan sistematis pada analisis dokumenter. Apapun analisis yang dipergunakan, peneliti historis bertujuan menemukan generalisasi. Generalisasi memungkinkan mencari “sebab” dari peristiwa-peristiwa sejarah.

Metode historis bertujuan merekonstruksi masa lalu secara sistematis dan objektif dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi, dan menyintesiskan bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai konklusi yang dapat dipertahankan, sering kali dalam hubungan hipotesis tertentu (Isaac dan Michael, 1972: 17). Misalnya penelitian tentang isi buku bacaan pada zaman colonial, riwayat pendirian gerakan Muhammadiyah, dan sebagainya. Simpulan “Metode historis berusaha merekonstruksi masa lalu secara sistematis, objektif, dan penuh kecermatan. Data dikritik secara internal dan eksternal. Metode historis dapat digunakan untuk menguji hipotesis walaupun pengujiannya tidak sama dengan dalam metode penelitian yang lain”

Metode Deskriptif

Metode penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Beberapa penulis memperluas penelitian deskriptif kepada segala penelitian selain penelitian historis dan eksperimental. Memang belum ada kesepakatan tentang pengertian metode deskriptif. Di sini, “deskriptif” diartikan melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Pada hakikatnya, metode deskriptif mengumpulkan data secara univariat. Karakteristik data diperoleh dengan ukuran-ukuran kecenderungan pusat (central tendency) atau ukuran sebaran (dispersion).

Metode deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat (Isaac dan Michael, 1972: 18). Penelitian jumlah anak putus sekolah di Bandung tahun 1981, studi pendapat umum, jumlah pembaca majalah Tempo di Jakarta, studi kasus penderita skizoprenia, adalah contoh-contohnya.

Penelitian deskriptif ditujukan untuk: (1) mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, (2) mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku, (3) membuat perbandingan atau evaluasi, (4) menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.

Bila kita melihat lagi pada model tradisional ilmu, metode deskriptif amat berguna untuk melahirkan teori-teori tentatif. Dan, barangkali, di sinilah perbedeaan esensial antara metode deskriptif dengan metode-metode yang lain. Metode deskriptif mencari teori, bukan menguji teor. Ciri lain metode deskriptif ialah titik berat pada observasi dan suasana alamiah (naturalistic setting). Peneliti bertindak sebagai pengamat, ia hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasinya. Dengan suasana alamiah dimaksudkan bahwa peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha untuk memanipulasi variabel.

Penelitian deskriptif mungkin lahir karena kebutuhan. Sering terjadi, penelitian deskriptif timbul karena suatu peristiwa yang menarik perhatian peneliti, tetapi belum ada kerangka teoretis untuk menjelaskannya. Penelitian deskriptif tidak jarang melahirkan apa yang disebut insight-stimulating. Peneliti terjun ke lapangan tanpa dibebani atau diarahkan oleh teori. Ia tidak bermaksud menguji teori sehingga perspektifnya tidak tersaring. Ia bebas mengamati objeknya, menjelajah, dan menemukan wawasan-wawasan baru sepanjang jalan. Penelitiannya terus-menerus mengalami reformulasi dan redireksi ketika informasi-informasi baru ditemukan. Hipotesis tidak datang sebelum penelitian. Hipotesis-hipotesis baru muncul dalam penelitian.

Penelitian seperti ini memerlukan kualifikasi yang memadai. Pertama, peneliti harus memiliki sifat yang reseptif, ia harus selalu mencari, bukan menguji. Kedua, ia harus memiliki kekuatan integratif, kekuatan untuk memadukan berbagai macam informasi yang diterimanya menjadi satu kesatuan penafsiran. Jadi, penelitian deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis), tetapi juga memadukan (sintesis). Bukan saja melakukan klasifikasi, tetapi juga organisasi. Dari penelitian deskriptiflah dikembangkan berbagai penelitian korelasional dan eksperimental. Simpulan “Metode deskriptif bertujuan melukiskan fakta dan karakteristik populasi secara faktual dan cermat”

Metode Korelasional

Metode korelasional sebenarnya kelanjutan dari metode deskriptif. Metode deskriptif tidak menjelaskan hubungan di antara variabel, tidak menguji hipotesis, atau melakukan prediksi. Kita mulai memasuki metode korelasional bila kita mencoba meneliti hubungan di antara variabel-variabel. Hubungan yang dicari itu disebut korelasi. Metode korelasi bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Jika dua variabel saja yang dihubungkan, korelasinya disebut korelasi sederhana (simple correlation), sedangkan jika lebih dari dua maka korelasi yang digunakan adalah korelasi ganda (multiple correlation).

Metode korelasional digunakan untuk: (1) mengukur hubungan di antara berbagai variabel, (2) meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan kita tentang variabel bebas, (3) meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental. Dalam penelitian sosial kita sering berhubungan dengan variabel atribut, yaitu variabel yang tidak dapat kita kendalikan sehingga metode eksperimental tidak mungkin digunakan. Studi korelasional juga sering digunakan untuk mengukur reliabilitas dan validitas. Simpulan “Metode korelasional melanjutkan metode deskriptif dengan mencari hubungan di antara variabel-variabel”

Metode Eksperimental

Metode eksperimental adalah metode penelitian yang memungkinkan peneliti memanipulasi variabel dan meneliti akibat-akibatnya. Pada metode ini, variabel-variabel dikontrol begitu rupa sehingga variabel luar yang mungkin mempengaruhi dapat disingkirkan.

Metode eksperimental ditujukan untuk meneliti hubungan sebab-akibat dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel pada satu (atau lebih) kelompok eksperimental, dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi. Manipulasi berarti mengubah secara sistematis sifat-sifat (nilaI-nilai) variabel bebas. Setelah dimanipulasikan, variabel itu biasanya disebut garapan (treatment). Penelitian eksperimental dalam kenyataannya ternyata tidak sederhana, peneliti harus memperlihatkan tidak adanya variabel luar yang ikut serta menimbulkan efek. Karena itu, sedapat mungkin peneliti mengusahakan agar perbedaan hasil pengamatan itu tidak disebabkan oleh hal-hal lain kecuali variabel bebas yang diteliti. Upaya ini disebut kontrol.

Secara singkat, eksperimen ditandai tiga hal: (1) manipulasi—mengubah secara sistematis keadaan tertentu, (2) observasi—mengamati dan mengukur hasil manipulasi, (3) kontrol—mengendalikan kondisi-kondisi penelitian ketika berlangsungnya manipulasi. Kontrol merupakan kunci penelitian eksperimental, sebab tanpa kontrol, manipulasi dan observasi akan menghasilkan data yang confounding (meragukan).

Variasi skor pada variabel bebas biasanya disebut ragam (variance). Ada tiga macam ragam: ragam pertama—ragam yang ditimbulkan oleh variabel bebas (ragam yang dikehendaki peneliti); ragam kedua—ragam yang timbul karena variabel luar yang secara sistematis mempengaruhi hasil eksperimen (ragam luar tidak dikehendaki); ragam galat (error variance)—ragam yang timbul karena ada faktor-faktor tertentu, seperti alat ukur atau prosedur penelitian yang menyebabkan pengamatan yang tidak konsisten. Tugas pelaku eksperimen adalah mengatur kondisi sehingga ia memperoleh data yang jelas menunjukkan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas. Ini dilakukan dengan: (1) mempertinggi ragam pertama, (2) mengurangi ragam galat atau ragam acak, dan (3) mengendalikan ragam kedua (Kerlinger, 1977: 306). Inilah hakikatnya yang disebut prosedur kontrol. Simpulan “Metode eksperimental ditandai dengan manipulasi, observasi, dan control”.

Metode Kuasi-Eksperimental

Salah satu tujuan ilmu adalah melakukan prediksi. Cara terbaik untuk menemukan prediksi adalah eksperimen. Dalam kehidupan yang sebenarnya, sukar kita mengelompokkan orang sekehendak kita. Dari sinilah muncul metode kuasi-eksperimental.

Penelitian kuasi-eksperimental mempunyai dua ciri. Pertama, peneliti tidak mampu meletakkan subjek secara random pada kelompok eksperimental atau kelompok kontrol. Yang dapat dilakukan peneliti ialah mencari kelompok subjek yang diterpa variabel bebas dan kelompok subjek lain yang tidak mengalami variabel bebas. Kedua, peneliti tidak dapat mengenakan variabel bebas kapan dan kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Ciri kesatu dan kedua tentu saja menyulitkan kita untuk menetapkan hubungan kausal di antara variabel-variabel. Tetapi, kita dapat mendeteksi hubungan kausal ini bila kita berhasil mengurangi variabel luar yang meragukan. Dalam penelitian kuasi-eksperimental, variabel luar ini disebut sebagai ancaman (threats) pada validitas internal dan validitas eksternal.

Metode kuasi-eksperimental digunakan untuk mendekati kondisi eksperimental pada suatu situasi yang tidak memungkinkan manipulasi variabel. Simpulan “Metode kuasi-eksperimental hampir menyerupai metode eksperimental, tetapi tidak dapat mengatur variabel bebas sesuka hati. Baik penelitian eksperimental maupun kuasi-eksperimental dapat memberikan hasil meragukan bila banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel luar. Variabel luar adalah ancaman pada validitas internal dan eksternal”.

 

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: