//
you're reading...
Pendidikan

Suatu Pengantar “Pendidikan Pengenalan Intelijen” (Bag. XII “Operasi Intelijen : Pola Penggalangan Intelijen”)

Format Rencana Operasi Penggalangan intelijen sama seperti RENOPS PAM. Agar tercipta suatu rencana operasi penggalangan intelijen, juga melewati proses seperti operasi penyelidikan intelijen dan operasi pengamanan intelijen. Untuk itu harus ada EEI/UUK dari yang berwenang terlebih dahulu. Berdasarkan itu dibuatlah rencana penyelidikan intelijen terhadap masyarakat yang menjadi sasaran. Setelah dilakukan penyelidikan, dibuatlah perkiraan keadaan intelijen mengenai sasaran itu, dan menyorotnya dari berbagai segi seperti : tempat, ruang, waktu, serta kecenderungan yang berisi Intelijen dasar (pengetahuan standar tentang sasaran) dan Intelijen aktual (pengetahuan tentang sasaran apa yang sedang terjadi/berlangsung dewasa ini) serta Intelijen ramalan (dalam Matematika dikenal dengan teknik forecasting yang menjangkau kedepan tentang trend perkembangan sasaran tersebut).

Perkiraan keadaan dibuat oleh direktur/kepala badan intelijen dengan paragraf-paragraf berikut : (1) Mukadimah; (2) Misi; (3) Keadaan sasaran; (4) Kemampuan sasaran; (5) Pembahasan; (6) Kesimpulan. Seorang user harus membuat perkiraan keadaan taktis terlebih dahulu, sebelum memutuskan suatu Rencana Campagne atau sebelum membuat perintah operasi penggalangan intelijen. Perkiraan keadaan taktis dari user ini lahir beradasarkan perkiraan-perkiraan dari staf-stafnya yaitu : PK intelijen dari staf satu, PK personalia dari staf tiga, PK logistik dari staf empat. Setelah user mengambil keputusan yang pasti, maka staf intelijen mengembangkan perencanaan segala kegiatan yang bersifat tertutup, sedangkan staf operasi mengembangkan segala kegiatan yang bersifat terbuka. Semua harus dituangkan dalam suatu berkas yang trersusun. Jadi merupakan buku pintar bagi pihak agent pelaksana, bawahan dan pihak yang berkepentingan. Penggalangan ini dapat dilakukan di dalam negeri dan di luar negeri terhadap individu atau masyarakat sasaran, yang terpilih melalui test sebelum penggalangan dilaksanakan. Selanjutnya dilakukan penyeledikan tertutup oleh beberapa tim penyelidik, dikirim Tim Perang urat syaraf (TeamPus) yang mengadakan gerilya perang dingin dengan teknik-teknik provokasi dan propaganda. Selang beberapa lama setelah TeamPus menarik diri dari sasaran, maka dikrimlah positive clandestine intelligence untuk melaporkan hasil-hasil yang dicapai oleh TeamPus tersebut. ingatlah bahwa tak satu sudut pun dari seluruh aspek kehidupan ini yang dapat dimanfaatkan untuk penggalangan warga negara. Oleh sebab itu sudah tiba masanya untuk melakukan penggalangan warga negara di setiap segi kehidupan masyarakat dalam sebuah komunitas intelijen. Mulai dari tingkat perencanaan, penggerakkan organisasi hingga pengawasan, hendaknya dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dalam satu pola SISHANKAMRATA (sistem pertahanan rakyat semesta) dalam melakukan counter intelijen asing yang ingin menghancurkan negara dengan kerusuhan, tindakan makar dan/atau gangguan keamanan lainnya yang tujuannya adalah membuat rakyat Indonesia resah. Para penggalang, pembina dan pengawas hendaknya selalu berkoordinasi agar keberhasilan SisKomSos (sistem komunikasi sosial) bisa dijaga dan diamankan dari anasir-anasir jahat (baik lokal maupun internasional) yang ingin menariknya kembali ke dalam kegelapan. Petugas-petugas tertentu ditanam untuk mendeteksi usaha-usaha pihak lawan yang berusaha memecah belah rakyat dan kesatuan bangsa.

Sejak kemunduran reformasi telah terjadi penajajahan dan kita telah mengetahui bahwa warga negara Indonesia telah dijadikan sasaran bagi penggalangan ideologi-ideologi asing yang ingin menggantikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai falsafah bangsa dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak putera-puteri Indonesia secara tidak sadar yang digalang oleh kekuatan asing kemudian mendatangkan bencana terhadap tanah airnya sendiri. Singkatnya mereka menyangka bahwa mengawinkan Pancasila dengan Ideologi asing akan dapat membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia. Mereka menyangka telah berhasil memodernisir Indonesia, padahal justru hanya membuat dan menambah kedangkalan Ideologi bernegara (Pancasila), membelokkan kiblat masyarakat Indonesia, menanam bom waktu dalam diri generasi muda dan (secara perlahan namun pasti) menghilangkan potensinya. Mereka telah terperangkap oleh jaring-jaring intelijen lawan. Dengan sukarela ataupun terpaksa, telah menjadi boneka dari penggalangannya dan secara tidak langsung akan mendatangkan bencana di tanah airnya.  Justru karena itulah penggalangan warga negara perlu kembali kepada doktrin awal yaitu SISHANKAMRATA, sebab jika tidak warga negara Indonesia akan terus digalangnya.

Penggalangan itu dapat dilakukan secara terbuka mulai dari yang halus sampai kepada yang sekasar-kasarnya. Pada tingkat kenegaraan cara-cara halus yang digunakan antara lain:

  • Diplomasi
  • Konfrensi
  • Public relation
  • Eksposisi
  • Propaganda
  • Ilmu pengetahuan alam dan Ilmu-ilmu sosial
  • Teknologi
  • Tenaga teknik
  • Kredit serta semua bentuk-bentuk bantuan barang dan jasa
  • Pertukaran kebudayaan
  • Bea siswa
  • Perjanjian pengembangan penyelidikan angkasa luar dan penyelidikan laut
  • Pengembangan angkatan bersenjata dan persenjataannya, kemudian diikuti pameran kekuatan.

Pada tingkat ideologi dan pemikiran antara lain :

  • Dikemas dan disebarluaskan oleh berbagai NGO dan/atau LSM
  • Sejarah penjajahan

Pada tingkat ideologi dan pemikiran gencar dilakukan hingga lahirnya para nasionalis sepuhan yang dipersiapkan untuk menerima suksesi, yaitu para nasionalis yang diprogram untuk memimpin Indonesia dalam bayang-bayang Ideologi pada penggalangnya. Para nasionalis semacam inilah yang sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu mengganjal dan bahkan tidak segan-segan memblokir berbagai gerakan untuk memajukan NKRI. Sedangkan cara yang kasar ialah politik tipudaya, pernyataan unilateral, embargo, boikot, blokade, subversi, sabotage, perang dingin atau perang urat syaraf, memencilkan sasaran dari negara-negara sahabatnya, serangan terbatas, penyerbuan terbatas yang berlanjut dengan perang terbuka.

Dengan demikian mulai saat ini hingga masa-masa mendatang, waspadalah dalam menghadapi cara-cara penggalangan dari kekuatan-kekuatan manapun dari Barat dan Timur yang multi complex dan multi polar ini. Sebaliknya dilakukan persiapan dari generasi ke generasi, agar terlahir generasi yang semakin baik dan berkemampuan tinggi. Generasi itulah yang layak bergabung dalam projek pengalangan komunitas intelijen untuk warga negara Indonesia seluruhnya, sehingga mereka bisa menikmati kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat adil makmur di bumi pertiwi NKRI.

Sebuah sinyalemen yang berkembang yang ditunjukkan oleh pihak asing termasuk di dalamnya pengikut agama dan ideologi sesat, bahwa hanya tampaknya saja mereka tersenyum dan memuji padahal hatinya menolak. Mereka tidak ingin memelihara hubungan kekerabatan dan kebanyakan dari mereka adalah avonturir yang tidak menepati perjanjian. Mereka adalah musuh negara serta lawan bagi para patriotik NKRI. Karena setelah mereka menyadari posisi mereka sebagai musuh, maka kelompok ini yang terdiri dari berbagai golongan (baik secara nasional, regional ataupoun internasional) kemudian bersatu dan saling memimpin dan membantu satu sama lain. Meskipun masih terpecah dalam kelompok-kelompok besar, tapi mereka lebih terikat oleh kepentingan bersama, yaitu mempertahankan konsepsi ideologi mereka untuk kepentingan dunianya sendiri. Pernyataan masyarakat kecil adalah “apakah ego atau kepentingan pribadi para tokoh dan pemimpin negara akan tetap dominan dari pada kepentingan Nasional dan kepentingan warga negara Indonesia secara keseluruhan? Dalam ilmu intelijen ronggrongan tersebut dikenal dengan peringatan dini (early warning).

Menyangkut pola operasi intelijen penggalangan intelijen, maka pola operasi secara clandestine memiliki sistematika yang hebat yang dapat dilihat pada cara pentahapannya:

  • Dilakukan penyusupan secara terselubung terhadap pihak sasaran oleh jaring-jaring agent melalui penggalangan
  • Penceraiberaian persatuannya melalui cara-cara adu domba dan eksploitasi pertentangan
  • Pengingkaran terhadap pemetintahannya atau pemimpin-pemimpinnya dengan mengadakan gerilya politik
  • Mengarahkan pihak sasaran kepada ideologi lain dan pemimpin yang baru. Penggeseran atau penggantian pemimpin negara dilakukan secara terbuka, sedangkan penggantian pemimpin masyarakat bisa dilakukan secara paksa
  • Penggabungan pihak sasaran kepada negara sponsor menjadi masyarakat baru dan menjadi manusia baru, mengakibatkan negara sasaran itu menjadi satelit.
  • Pengawasan dan pengamanan terhadap sasaran untuk membina dan memelihara hasil-hasil yang telah dicapai

Dalam operasi diperbolehkan menggalang agent-agent terhadap musuh. Intelijen dapat memperalat orang yang demikian dengan pengertian bahwa orang-orang itu tetap berstatus sebagai orang luar, tidak menjadi agent dan tidak boleh menjadi agent. Berikut tahap-tahap penggalangan Intelijen

Penysupan Sasaran

Sasaran yang hendak digarap, disusupi dengan agent-agent penggalangan intelijen secara diam-diam dan rahasia (operasi clandestine), sehingga sasaran tidak sadar bahwa ia tersusupi lawan. Indikasi dari kerapihan cover of action and cover of identity para penyusup itu ialah apabila penyusup sudah bisa diterima secara wajar di lingkungan sasaran, entah itu dianggap sebagai teman, sebagai sesama aktivis dalam suatu organisasi atau lain organisasi, sebagai rekan, rekan sekerja, sebagai anggota keluarga dan sebagainya. Penetrasi terhadap sasaran dilakukan dengan memperluas susunan jaringan clandestine, agar jaringan lain masih tetap ada jika seandainya salah satu jaringan terbongkar. Atau jika agent penetrasi terpaksa harus pergi, maka ia telah meninggalkan jaringan ilegal tersebut sebagai penerus. Untuk menjaga keamanan biasanya dipakai sistem jaring compartementasi. Sasaran banyak antara lain :

  • Pemerintahan
  • Perusahaan Umum
  • Departemen/Kementrian
  • Organisasi Politik
  • Organisasi Sosial
  • Organisasi Massa
  • Organisasi Pemuda, Pelajar, Mahaiswa
  • Organisasi Agama dan Aliran Masyarakat
  • Dsb

Penetrasi dilakukan secara terselubung tetapi menggunakan saluran-saluran yang legal/resmi, diantaranya

  • sebagai anggota perwakilan diplomatik,
  • Utusan pemerintah
  • Utusan Organisasi
  • Saudagar
  • Seniman atau Budayawan
  • Ilmuwan atau Pakar
  • Budayawan
  • Dsb

Mereka secara sengaja berdomisili di daerah sasaran atau membaur dalam masyarakat. Selain itu pula bisa melalui :

  • Penerima Bea Siswa Luar Negeri
  • Tenaga-tenaga ahli dikalangan umum, Swasta dan Pemerintah
  • Wisatawan
  • Lawatan ke Luar Negeri
  • LSM/berbagai macam institusi yang bisa mendirikan perwakilannya di negara sasaran
  • Semua unsur yang bisa masuk ke pihak sasaran tanpa dicurigai sedikitpun

Agent-agent semacam ini bukan sembarang agent, tetapi agent yang dibekali keahlian khusus mengenai seluk beluk sasaran dan cara menghadapinya. Kecerdasanya juga tidak boleh terlalu ditonjolkan, tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat memancing kesangsian dan kecurigaan, bahkan sangat diharapkan jika para agent semacam itu mempunyai pengaruh yang cukup dilingkungan sasaran masing-masing. Mereka yang memiliki kemampuan seperti itulah yang akan diseludupkan Lembaga/Badan Inteliejennya kedaerah sasaran. Oleh karena itu dalam mengamankan negara dan rakyatnya setiap pemimpin hendaknya mengambil inisiatif untuk melakukan aktivitas khusus yang mengacu pada aspek-aspek, pola operasi dan mekanisme kegiatan intelijen. Sehingga dari mulai pembuatan perencanaan hingga pengawasan organisasi , dapat dinetralisir atau paling tidak dapat diperkecil kemungninan adanya anasir-anasir luar yang hendak memecah belah persatuan organisasi atau lembaganya baik anggota ataupun pengelolanya. Dalam menangani masalah infiltrasi ataupun penetrasi hendaknya hanya menggunakan orang-orang pilihan. Dalam sebuah organisasi cukup ditangnai oleh ketua/pemimpin puncak organisasi tersebut, mengingat sensitifnya masalah validasi hasil penyelidikan sesama anggota. Jika sampai salah menangani bisa jadi hanya akan melahirkan kecurigaan satu sama lain atau bahkan perpecahan. Orang pilihan yang dimaskud adalah yang mempunyai karakter sesuai kebutuhan dunia intelijen. Sebab dalam dunia intelijen, disiplin terhadap peran masing-masing menjadi tuntutan yang utama, karena sifat tugasnya yang clandestine maka pembicaraannya menjadi sangat berbahaya, boleh jadi yang seharusnya dirahasiakan akan dibocorkannya pula , karena disetiap organisasi apapun selalu ada klik-klik, dimana di antara klik-klik itu ada yang tidak bisa dijamin kesterilannya terhadap anasir-anasir dari luar, entah itu berupa sosok anggota baru, anggota biasa, anggota pengelola atau yang sengaja ditanam sejak awal berdirinya. Sehingga dengan modal sedikit bocoran informasi saja sudah bisa dirakit menjadi bom prvokasi yang dapat menyulitkan orgaisasi/lembaga. Sebaliknya akan lebih mudah mencari orang-orang yang (tugasnya dalam aktivitas intelijen) banyak bicara, memamerkan banyak aktifitasnya, daripada mencari orang-orang yang berkarakter intelijen yang bisa melakukan segala sesuatunya secara terukur. Yang perlu diperhatikaan adalah setiap anggota harus memahami betul tentang kepemimpinan, memilih pemimpin, strategi pengaturan posisi atau komposisi dalam penyusunan anggota pelaksana, peningkatan disiplin dan pengamanan terhadap hal-hal yang bersifat rahasia. Disamping itu pula perlu diadakan pemberian muatan (masalah) yang berlebihan terhadap suatu masalah secara umum, dimana sering kali terjadi di masyarakat dalam menyikapi isu atau pokok persoalan yang dilansir oleh pihak asing, misalnya para tokoh, pembuat makalah, pemimpin organisasi, lembaga-lembaga non pemerintah, begitu cepat sekali bereaksi, padahal mereka belum melakukan proses pemeriksaaan, penelitian singkat, penelitian silang, melakukan koordinasi antar personil secara intern organisasi, antar organisasi atau kelembagaan. Prosedur itu tidak terlalu sulit jika dilakukan secara hati-hati dalam langkah dan tindakannya. Unsur litbang yang telah ada di hampir setiap organisasi bisa dimanfaatkan dan diperluas fungsinya agar bisa menjawab secara cepat dan tepat kebutuhan informasi yang diperlukan, terutama yang ada kaitannya dengan peristiwa penting, kasus atau masalah-masalah intelijen yang sedang berkembang secara cepat. Kondisi dilapangan sekarang ini menyiratkan bahwa prosedur  itu nyaris terabaikan. Perlu diketahui bahwa, meskipun persoalan-persoalan yang dilansir di berbagai media itu ada yang factual, tetapi banyak juga yang masih berupa data yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Bahkan lebih celaka lagi jika isu yang dilempar oleh pihak lain itu baru sebatas operasi intelijen untuk mendapatkan umpan balik dari pihak-pihak atau jaringan yang menjadi target mereka. Untuk memperbaiki cara kerja yang kontra produktif itu maka menerapkan disiplin  dalam setiap keadaan yang mengharuskan kita tunduk pada konstitusi negara, sehingga tidak menjadi bulan-bulanan dan bahan tertawaan pihak asing.

Pencerai-beraian Sasaran

Penghancuran sasaran dilakukan oleh para agent penetrasi yang telah mendapatkan kepercayaan dari lingkungan yang menjadi sasarannya, dengan jalan menimbulkan berbagai ketegangan, konflik sosial, ataupun politik. Pertentangan minorotas dan mayoritas yang dibuat semakin meruncing, menggalakkan ekstremitas agama, aliran golongan, organisasi dan partai. Unsur-unsur itu digiring kedalam suasana perang urat syaraf sehingga akan melahirkan pertentangan massa, pertarungan fisik yan gberkembang menjadi kekacauan. Dimana-mana akan terjadi perampokan, pencurian, penodongan ataupun penjarahan. Kekalutan seakan terjadi dimana-mana. Disegala bidang seperti ideologi, politik, ekonomi , sosoial budaya, militer, keamanan dan agama (IPOLEKSOSBUDMILAG) sehingga terjadilah intimidasi, insinuasi dan tuduh-menuduh. Kolaborasi-kolaborasi terus dilakukan dengan mengobarkan provokasi kepada rakyat tentang adanya gerakan dari kelompok garis keras, ekstrem kanan, ekstrem kiri, komprador, antek nekolim, borjuis, teroris, hasutan terhadap buruh yang digiring untuk berdemontrasi dan melakukan pemogokan dengan dalih perbaikan nasib. Mereka minta upah mereka dinaikkan. Jika tidak pemogokan akan terus berlangsung. Setelah tak ada titik temu akhirnya perusahaan ada yan gbenar-benar bangkrut, tapi ada juga yang hanya pura-pura bangkrut, karena ingin relokasi keluar negeri. Para buruh yang sudah terlanjur kehilangan pekerjaan, meminta pesangon besar kalau tidak pabrik atau perusahaan diancam akan dihancurkan, padahal pada akhirnya mereka malahan tak mendapatkan apa-apa kecuali hilangnya lapangan kerja. Dalam keadaan yang serba kacau kolaborasi dari para kelompok agent tersebut akan memanfaatkan tekanan-tekanannya untuk memenangkan kepentingannya. Apabila pemerintah itu tak mau memenuhi permintaannnya, maka dikeluarkanlah ancaman penghentian bantuan, pembekuan aset-aset, embargo ekonomi, embargo senjata, intervensi politik, intervensi militer atau ancaman perang konvensional. Atau secara halus melakukan pembusukan struktural, pengacauan sistem moneter, sistem politik dan sistem sosialnya, sehingga secara sistematis negara akan rontok dengan sendirinya. Inilah yang mereka kehendaki (bisa jadi kepada Indonesia itu sendiri). Ekonomi kacau balau, inflasi melambung tinggi, kebutuhan pokok masyarakat menjadi langka. Lapangan kerja tak tersedia karena tak ada kepastian usaha. Biaya pendidikan mahal, segalanya mahal, gaji pegawai dan buruh tidak mencukupi, uang palsu beredar hingga akhirnya loyalitas dan kejujuran terus terduksi. Sejak saat itu mereka kan bekerja sambil mencari objyekan, memungut pungutan liar (pungli) dan ber-KKN ria. Sesama kawan sejawat dan sekerja tidak adalagi rasa saling percaya, tak ada rasa setia kawan. Bahkan para pejabat pemerintahan pun, telah menjadi bahan cemoohan rakyatnya. Pola yang dominan dilakukan oleh para agent agar hal tersebut terjadi adalah menskenarionkan, lalu menggiring dengan membuat kerusakan sistemik yang dimulai dari hulu, dari lapisan puncak piramida pemrintahan yang merembes hingga pada eselon terbawah. Kepentingan pribadi, kelompok, golongan dan partai yan gtidak mengindahkan nilai-nilaikejujuran, akan terus ber-KKN, sehingga timbullah berbagai trik, rekayasa, pengucilan lawan politik, dan penguasaan terhadap sumber-sumber keuntungan yang strategis untuk mempertahankan sistem yang dibangunnya, sehingga terjadi kesenjangan, kesewang-wenangan, konsentrasi kekayaan dan ketidak-adilan. Mulai dari penerimaan siswa/murid Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, dari penerimaan pegawai negeri sipil, polisi&militer, hingga pendidikan karier dan promosinya, dari perizinan usaha hingga proses untuk mendapatkan keuntungannya, semuanya harus menyebutkan mantra “serba biaya”…Pokoknya kalo mau mencapai tujuan, jangan melawan arus, dan selain orang kuat, semuanya harus tunduk kepada mekanisme biaya siluman. Sejak mekanisme itu diberlakukan, maka unsur dendam pulang modal seakan-akan sudah merupakan kewajiban yang wajar.

Kserusakan struktural yang sudah sampai pada tahap seperti itu, akan memakan waktu entah berapa generasi untuk memperbaikinya, sehingga membuat orang yang masih baik-baik dan masih punya idealisme menjadi putus asa, sehingga turut menambah kelemahan negara. Indonesia sudah meradang akan kerusakan struktural jika rakyatnya tidak ingin belajar dan mau mengetahui tentang operasi intelijen. Dan yang harus dipahami adalah operasi intelijen hanya bisa dilawan dengan operasi intelijen pula. Jika dukungan negara ini terhadap Lembaga/Badan Intelijen Negara lemah di tambah lagi dengan anggota legislatif yang tidak memahami tentang ilmu intelijen maka kerusakan stuktural cepat atau lambat akan menjadi bakteri yang mematikan negara tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya insinuasi/sinisme di mana-mana. Para pejabat kehilangan wibawanya, fitnah dan desas-desus menjadi-jadi, tokoh-tokoh masyrakat dipermalukan, permainan kotor diatur secara berkelompok yang melibatkan pejabat kepolisian, pejabat sipil atau militer yang dikenal sebagai kejahatan kerah putih yang semakin sulit untuk di sidik karena semua tersandera oleh kepentinagn. Selain penjahat kerah putih dimunculkan pula penjahat kerah hitam yang semakin berkembang pesat dengan berbagai modus operandinya sebagai bagian dari bentuk Camouflage dalam teori keseimbangan kriminilitas (equibilirium crime). Dengan demikian terciptalah kondisi sosial yang sedemikan buruk. Terasa menderu bagai badai neraka. Rakyat kecil menggelepar, anak-anak terlantar dan terkapar. Begirulah kekacauan sosial yang timbul merata, tak ada lagi rasa aman, suasana semakin tak menentu, setiap individu merasa tertekan, keputusasaan meluas mencekam bangsa. Harga diri telah hilang, sedangkan kepercayaan diri sirna pula, bahkan terhadap pemimpin masyarakat dan negara. Permusuhan, perkelahian, bentrokan antar suku, golongan, agama dan ras yang disertai dengan kekerasan terjadi di mana-mana, masyarakat pecah, partai-partai pecah, persatuan apa saja pecah, oragnisasi pecah bahkan bisa bubar. (lihat kasus konflik beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah, serta Asia). Inilah contoh pencerai-bearaian yang dilakukan para agent yang pernah terjadi disuatu negara yang rakyatnya bermental jajahan, dan para pemimpinnya juga sudah terkontaminasi mental penjajah dan penindas.

Pengingkaran

Tujuan pengingkaran ialah agar setiap individu ingkar terhadap para pemimpinnya, baik pemimpin masyarakat maupun pemimpin bangsanya. Pengingkaran itu diharapkan bisa melanda pemimpin agama, mengikat lagi terhadap agama, orgnisasi dan ideologi politiknya, dan kahirnya tidak lagi peduli kepada negara dan bangsanya. Jika misi itu berhasil, maka massa akan menjadi liar, seakan terlepas dari segala ikatan. Tiada lagi rasa cinta kepada tanah air yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, tiada belas kasiha kepada bawahan, dan perintah atasan tak ada yang menghiraukan. Rakyat tidak percaya lagi kepada agama, pemerintah, ideologi, politik partai, loyalitasnya luntur dan patriotismenya lenyap. Agent-agent penggalang terus menuggangi mereka, menghalaunya ke arah yang dikehendakinya. Kemudian agent itu memberikan keyakinan baru, bahwa masih ada ideologi yang cerah masa depannya. Dengan ideologi yang baru di import dari negara sponsor itu, masyarakat dan negaranya bisa diperbaiki. Akan tetapi persatuan dan kesatuan bangsa sudah terlanjur ambruk, apalagi kepercayaan diri sudah sirna, maka para pemimpin yang bingung itu segera goyah pendiriannya dan akhirnya terpengaruh. Orang yang dulunya mempunyai idealisme, mempunyai pengaruh, terutama di kalangan masyarakat dan pemerintahan, kini terpukau oleh pandangan dan ideologi alternatif (yang akan tetap asing jika diterapkan di bumu pertiwi NKRI). Pemimpin seperti itulah yang disebut pengkhiatan bangsa karena ia mengkhianati ideologi negaranya sendiri dan menterjemahkannya sendiri dengan kecerdasannya tanpa belajar dari sejarah bangsa ini.

Pengarahan Sasaran

Yang dimaksud dengan pengarahan pangarahan masyarakat dan para pemimpinnya kepada fait accompli/keadaan yang harus diterima, yaitu menerima kenyataan yang ada (setelah dilakukan langkah-langkah penggalangan oleh para agent jaringan penetrasi penggalangan secara terselubung. Namun demikian pengarahan secara terbuka harus dihindari, karena menyinggung perasaan masyarakat dan memancing kemarahan massa. Jika hal itu dilakukan juga, sudah hampir pasti akan mendapat tantangan yang hebat dari masyarakat. Sebenarnya kekacauan maysarakat itulah yang kemudian dapat memberi arah tersendiri kepada tujan penggalangan, sehingga dukungan massa dan dukungan orang-orang yang berpengaruh dapat diperoleh.

Penggeseran

Yang dimaksud dengan penggeseran ialah menggeser kedudukan pemimpin/tokoh masyarakat dan pemimpin pemerintahan dengan menggunakan kekuatan atau paksaaan yang dilakukan secara terbuka, untuk digantkan dengan yang baru, yang sealiran dengan ideologi negara sponsor. Pengeseran ini dilakukan dengan perhitungan-perhitungan yang matang. Besarnya dukungan dari berbagai golongan harus dipertimbangkan, sebagaimana bisa dilihat dari hasil-hasil penggalangan pada tahap-tahap yang lalu. Untuk itu opini masyarakat harus digirng sehingga menjadi dukungan kekuatan. Maka dibuatlah suatu skenario penggulingan kekuasaan itu pada waktu yang tepat. Untuk keperluan itu dipersiapkanlah bala bantuan dari penggalang dana dan sposor. Setelah persiapannya matang, barulah dilangsungkan perebutan kekuasaan secara paksa.para tokoh dan pemimpin yang tidak sealiran dengan ideologi negara sponsor dipandang sebagai ekstremis, separatis, teroris, kontrev yang bisa digiring kepenjara atau bahkan dilenyapkan. Contoh konkrit Indonesia, sering dijadikan korban revolusi sosial, hal ini dikarenakan ketidakberdayaan rakyatnya yang tidak punya sumber daya, melainkan (belakangan ini) kurang terbiasa menekuni suatu proses, kurang menekuni IPTEK, kurang menekuni penelitian dan pengembangan, sebagaimana orang-orang Barat dan orang-orang Asia Timur. Rakyat Indonesia sudah terlalu lama menekuni budaya instant, yang hanya mementingkan hasilnya. Caranya biarlah orang lain yang memecahkan, sukup ambil yang gampang saja. Sektor pendidikan, secar umum kurang mendapat perhatian. Apalagi mendapatkan aneka IPTEK harus datang  ke pihak-pihak mantan penakluknya. Yang lebih besar lagi pengaruhnya adalah budaya mistik dan budaya-budaya lain yang mengabaikan keunggulan faktor kompetensi yang berbasis prestasi. Karena itu mereka tidak banyak mengenal lapangan, tidak terampil, tidak waspada dan under estimate, tidak berjuang dengan harta dan jiwanya. Meskipun pada awal kiprahnya rata-rata memiliki idealisme yang memadai, namun pada saat karirnya menanjak, pengikutnya bertambah, maka bayangan kemapanan mulai menggoda dan turut mewarnai kehidupannya. Pihak asing menaklukkan Indonesia dengan merusak budaya-adat istiadat, memecah belah, memecah belah persatuan dan para pemimpin dengan ilmu dan organisasi intelijennya dengan cara memainkan kedua sifat itu. Infiltrasi dan penetrasi sudah dimainkan sebelum kejathan pemimpin. Sementara sumber daya penduduk Indonesia tidak digunakan untuk mendalami ilmu pengetahuan dan mengorganisir Intelijen yang memerlukan keahlian, keterampilan, keuletan dan biaya besar. Budaya hidup mapan dengan korupsi, mabuk kenikmatan, melupakan pendidikan, melupakan jatah lapangan kerja dan pendidikan putra-putri orang kecil, orientasi bisnis hanya sebatas keamanan simpanan dan keuntungan investasi. Kesemuanya berlawan dengan sistem perjuangan bangsa karena tidak dapat dipakai untuk menggerakkan program pembangunan nasional yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan nilai-nilai luhur ideologi negara Pancasila

Penggabungan Sasaran

Yang dimaskud dengan penggabungan ialah mengabungkan negara sasaran kepada negara sponsor setelah berhasilnya penggeseran, yaitu perebutan kekuasaan dan penggulingan pemerintahan (lihat kasus-kasus yang berkembang saat ini belahan dunia seperti Timur Tengah dan Indonesia sendiri). Disamping pemimpin pemerintahan, pemimpin masyarakatnya pun juga diganti. Mereka kini menjadi boneka dan begundal asing. Yang dulunya keroco kini menjadi coro. Mereka rela negaranya menjadi satelit negara lain. Masyarakatnya dipimpin oleh tokoh-tokoh pembohong, penjilat, pengeruk keuntungan, penindas rakyat dan jika perlu menjual negaranya sendiri (lihat kasus yang berkembang di negara ini saat ini). Rakyatnya pun kian tidak berdaya, hanya menjadi pengikut saja, tiada lagi bantahan dan protes, tak ada lagi patriotisme dan perlawanan.

Pengawasan dan Pengamanan Sasaran

Pengawasan dan pengamanan sangat diperlukan, karena itu harus dilakuakn secara ketat dan teliti. Hal itu dipandang penting, karena berguna untuk mencegah terjadinya gangguan dan hambatan situasional yang kurang menguntungkan dalam pencapaian tujuan. Untuk menelidiki orang-orang atau masyarakat, pada umumnya dipasang mata-mata, terutama di daerah yang dianggap rawan. Pembinaan dengan kebijakan baru oleh pemimpin baru dengan maksud menciptakan  manusia baru, terus dipublikasikan dan diterapkan secara merata disegenap lapisan masyarakat. Semua kegiatan dan operasi penggalangan intelijen memakai sarana-sarana penggalangan yang cocok dengan sasaran dan situasi yang aktual.

Dengan demikian Anda dapat memahami mengapa UU intelijen kita dipersulit sedemikian rupa……

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: