//
you're reading...
Pendidikan

Suatu Pengantar “Pendidikan Pengenalan Intelijen” (Bag. XI “Operasi Intelijen : Pola Pengamanan Intelijen”)

Pola operasi pengamanan intelijen itu, secara keseluruhan pada umumnya sama. Hanya berbeda-beda menurut jeis kepentingan pihak yang menjadi objek pengamanan itu. Misalnya saja operasi pengamanan VIP (very important person), pengamanan route perjalanan, pengamanan pertemuan dan sebagainya.

Dalam rencana operasi pengamanan intelijen itu harus dinyatakan : tentang operasi pengamanan apa yang akan dilakukan, pada umumnya rencana operasi pengamanan itu dibuat setelah dilakukan penyelidikan intelijen pada suatu daerah, lokasi route, objek yang akan diamanakan.

Berdasarkan itu dapat diketahui situasi keadaan politik, medan-medan operasi, posisi lawan, serta kegiatan-kegiatan ekstrim dengan segala kemungkinan yang berupa ancaman, gangguan, rintangan, halangan, hambatan atau hal-hal yang bersifat situasional yang kurang menguntungkan. Harus disadari pula bahwa setiap pengamanan harus dilaksanakan secara terbuka (fisik) dan secara tertutup (non fisik). Rencana operasi pengamanan intelijen itu pada umumnya memuat peragraf-paragraf sebagai berikut :

Situasi

Dalam paragraf situasi , yang pertama kali harus diungkapkan adalah situasi keadaan lawan. Untuk keperluan itu dilakukanlah penyelidikan dengan mengguankan pendengaran, pengelihatan dan hati atau pertimbangan secara dewasa.

Dengan pengelihatan dan pendengaran, bisa dilakukan observasi dan pengamatan terhadap musuh, lawan atau bakal lawan, atau bahkan bisa ditelusuri sejarah hitamnya.

Dengan pendengaran dan pengelihatan bisa diamati situasi dan kondisi lingkungan sekitar, sehingga dapat mendeteksi kemungkinan adanya usaha dari pihak musuh berupa : subversi, penyusupan, sabotage, atau usaha-usaha lain dengan menggunakan kelompok/aliran-aliran yang merusak.

Dengan pendengaran dan pngelihatan bisa dideteksi adanya hasutan dan fitnah atau pertentangan–pertentangan yang memungkinkan keadaan bisa menjadi exsplosif.

Selain itu perlu juga diungkapkan juga tentang kemungkinan adanya organisasi ilegal, dimana para anggotanya aktif bergerak secara cladestine dalam masyarakat, siapa tokoh-tokohnya dan apa saja usaha-usaha destruktif yang telah dilakukannya.

Golongan-golongan ekstrem yang merupakan bahaya latent bagi kehidupan bangsa secara keseluruhan juga diuraikan seperti di atas yaitu : usaha-usaha subversi, penyusupan, pengacauan dan sabotage apa saja yang dilakukan serta penggalangan-penggalangannya, bagaimana pembinaan kadernya dan dimana mereka adakan. Semua biasa mereka lakukan dengan kedok berbaik hati pada masyarakat, atau secara kelembagaan melakukan kegiatan sosial. Padahal kalau camouflage gerakan mereka itu dibuka akan jelas terlihat bahwa mereka itu merupakan agen negara asing atau NGO asing yang berujud pribadi ataupun LSM. Sebagaimana penjajahan dulu, merekalah yang menginginkan kehancuran bangsa kita sehingga berkeping-kepingnya bisa mereka kuasai. Keuntungan itu sangat dinantikan oleh bos-bos mereka di luar negeri.

Hal yang terpenting menyangkut situasi, biasa diungkapkan juga kejahatan-kejahatan yang baru terjadi seperti perampokan, penodongan, pembunuhan, demonstrasi, perkelahian massal, teror, penyanderaan, penculikan, kebakaran yang mungkin dapat dicurigai sebagai sabotage, infiltrasi dan penetrasi pihak lawan. Tetapi jika diuraikan tentang situasi lawan, maka disebut istilah annex dalam rencana operasi pengamanan (RENOPS PAM) intelijen, misalnya annex B untuk annex situasi lawan yang merupakan Kirka (perkiraan keadaan) atau PK intelijen itu disajikan berupa paragraf Umum, Keadaan Lawan, Analisa, Kesimpulan.

Hal kedua yang harus diuraikan dalam pragraf situasi dalam RENOPS PAM intelijen itu ialah tentang kawan, yaitu tentang organisasi tugas dan unsur-unsur organik, unsur-unsur yang diperbantukan, unsur-unsur yang cadangan dan kelompok-kelompok khusus. Jika tugas dan tanggung jawab sudah di bagi-bagi, pengamanan terhadap masing-masing harus dibagi-bagi dalam beberapa regu dan kelompok sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Bisa juga dalam RENOPS PAM dinyatakan bahwa organisasi tugas dijadikan annex A. dan yang perlu diperhatikan secara serius adalah kekuatan sendiri harus diketahui. Misalnya berdasarkan pengamanan yang lalu, apakah ada unsur-unsur yang perlu ditingkatkan atau masih perlu ditambah kekuatannya. Kesatuan-kesatuan mana yang harus ditempatkan pada suatu sektor pengamanan sesuai dengan keahliannya. Harus diingat pula bahwa unsur-unsur itu kemungkinan terdiri dari berbagai satuan. Ada satuan yang melakukan pengamanan terbuka dan ada lagi yang melakukan pengamanan tertutup. Selanjutnya diatur penempatannya, waktunya, tugasnya, gilirannya, pengangkutannya dan logistiknya.

Kata sandi dalam operasi ditentukan dalam bentuk signal atau enkripsi dalam bentuk perintah tugas yang kemudian divalidasi pemberi perintah. Perlu diperhitungkan pula kondisi pelaksana, jangan sampai ada satuan, regu atau kelompok yang terlalu lelah, sedangkan yang lain kurang mendapatkan penugasan. Kekuatan yang di minta ialah personil. Hal itu sesuai dengan pandangan militer bahwa yang dimaksud dengan istilah kekuatan ialah jumlah personil. Personil-personil yang bertugas dalam pengamanan adalah suatu kekuatan yang akan mendirikan dinding pembatas terhadap musuh.

Tugas

Uraian tugas tidak usah terlalu panjang hanya beberapa kalimat, bahkan cukup satu kalimat saja. Tugas yang diberikan oleh pimpinan itulah yang dituliskan, atau dapat juga tugas itu disimpulkan sendiri oleh yang bertanggung jawab memimpin operasi pengamanan.

Tugas itu tidak perlu dianalisa secara tertulis, sehingga panjang dan terperinci di atas kertas. Cukup di analisa dalam rapat-rapat staf saja secara mendetail. Dan hasil analisa itu tergambar dalam paragraf pelaksanaan pengamanan intelijen yang berupa perincian secara menyeluruh, baik tugas yang dilakukan secara fisik maupun non fisik. Masing-masing satuan, regu dan kelompok diberi tanggungjawab dalam kewajibannya dan untuk itu ditunjuk seorang personil sebagai pemimpin di tiap-tiap kelompok, regu-regu atau satuan.

Para pimpinan itu bertanggungjawab terhadap keamanan sesuai hierarki pengugasannya, dan terhadap kelancaran tugas pengamanan pada sektor yang dipimpinnya, serta berkewajiban memberikan laporan secara hierarki kepada atasannya. Tak seorangpun boleh lalai dalam tugasnya. Tugas-tugas harus benar-benar dimengerti, sehingga ada wibawa dalam pelaksanaannya. Namun demikian, ketegasan dan kerasnya disiplin personil tetap dituntut untuk berlaku sopan. Saling membantu kelancaran tugas, harus digairahkan dan dipraktekkan secara nyata.

Pelaksanaan

Dalam paragraf ini digabarkan bentuk-bentuk pengaman yang dilaksanakan secara terbuka ataupun tertutup. Tugas pengamanan baik yang terbuka ataupun yang tertutup harus tertulis secara terperinci. Demikian yang dilaksanakan oleh unsur-unsur pengamanan sampai pada kelomok-kelompok, dimana perincian tugas itu dibuat tersendiri menjadi annex dalam RENOPS PAM intelijen. Bentuk perincian tugas dapat diseragamkan dalam rencana kegiatannya, disusun dalam kolom-kolom yaitu :

  • K1: nomor urut;
  • K2: waktu;
  • K3: sasaran penugasan yaitu objek-objek atau medan-medan yang akan diamankan;
  • K4: lokasi yaitu daerah route yang diamankan;
  • K5: kekuatan yaitu jumlah personel dari kelompok, regu atau unit dan kesatuan yang ditugaskan;
  • K6: bentuk kegiatan, yaitu segala bentuk kegiatan pengamanan, pengamatan, observasi, patroli jalan kaki, stelling pengawasan, pengawalan, eskorta dan sebagainya dicantumkan disini;
  • K7: keterangan berisi perhatian petugas keamanan tentang briefing, debriefing, konsolidasi, tempat, pakaian perlengkapan dan sebagainya.

Sedangkan tugas kelompok-kelomok khusus dan unsur-unsur cadangan juga harus diuraikan secara tertulis, meskipun tidak menggunakan lembaran berkolom seperti di atas.

Contoh : untuk pengamanan suatu kesibukan atau acara suatu pertemuan misanya, harus disiapkan lembar kerja pengamanan intelijen yang sederhana saja, sehingga gampang dimengerti oleh petugas :

  • K1: nomor urut;
  • K2: tanggal, waktu, hari, jam yang penulisannya disingkat sesuai tata kelola administrasi;
  • K3: tempat objek. Dalam hal ini dicantumkan pula lokasi ruang pertemuan, daerah sekitar pertemuan dan makanan;
  • K4: kejadian-kejadian, yaitu kejadian yang mungkin timbul berupa sabotage, pengacauan, gangguan, halangan, rintangan, hambatan, penyusupan orang yang tidak berkepentingan, usaha penyadapan dan peracunan makanan;
  • K5: tindakan persiapan, misalnya diperlukan pengecekan dan penelitian tempat-tempat, sebagaimana disebut dalam K3 penagturan penempatan para petugas, terutama untuk medan yang dianggap rawan, koordinasi dengan pejabat yang berkompeten, kebutuhan fasilitas untuk penugasan keamanan, pemeriksaan makanan, mendaftar petugas lainnya seperti crew, sopir, helikopter/pesawat, tenaga refueling, juru masak, penanting, pengurus mess, petugas sound system, serta petugas listrik;
  • K6: pemberian tugas tim pengamanan, menyangkut susunan kelompok petugas pengamanan kebakaran dan penjagaan-penjagaan;
  • K7: tempat laporan komando, menyangkut perhubungan, telekomunikasi, jika sewaktu-waktu dilaksanakan consigneering pengiriman logistik dan sebagainya. Itulah pengamanan yang dilakukan dengan persiapan yang matang, hati-hati dan penuh tanggungjawab. Jika terjadi sesuatu disuatu tempat, maka daftar personil yang bertugas ditempat kejadian harus diteliti, dan selanjutnya diaadakan pengusutan, pemeriksaan dan interogasi.

Hal yang perlu diperhatikan ialah agar tidak membiarkan masyarakat (dengan segala kegiatan yang berlebih-lebihan) sehingga memberi peluang kepada pihak lain untuk berbuat kejahatan, kerusakan dan bencana. Sektor keamanan membutuhkan banyak biaya, oleh karena itu pemerintah bersama masyarakat harus bisa membuat sistem pencegahan terhadap gangguan keamanan, sesuai dengan karakteristik lingkungannya atau kearifan lokan (local wisdom)

Instruksi Koordinasi

Dalam paragraf instruksi koordinasi, ditentukan bahwa hari H itu tanggal yang pasti dan jam D itu waktu yang sudah ditentukan. Diawali dengan instruksi  berkumpul untuk briefing dan debriefing. Setelah terjun kelapangan, diinstruksikan agar segera menyampaikan laporan apabila suatu kelompok sudah menduduki suatu posisi, serta laporan mengenai segala kejadian yang diatasi. Sedangkan pelaksanaan laporan dilakukan secara hierarkis. Jika terjadi gangguan kerusakan peralatan pengamanan maka telah ditentukan alamat-alamat untk perbaikannya (alamat itu telah dikoordinasikan sebelumnya) misalnya kerusakan alat-alat komunikasi, gate detector, hand detector, camera TV untuk mengawasi aktivitas dalam ruangan-ruangan yang perlu awasi, alat body search menggunakan sinar tembus yang sekaligus dapat mendeteksi seluruh badan dan cabin yang dibawa seseorang. Instruksi dan koordinasi sangat diperlukan untuk kelancaran tugas-tugas pengamanan, serta mendorong para petugas pengamanan dalam melaksanakan kewajiban. Siapapun yang tidak mengikuti instruksi koordinasi tersebut, mereka akan dipersalahkan.

Administrasi dan Logistik

Dalam paragraf administrasi dan logistik, diuraikan tentang ketentuan-ketentuan dukungan anggaran dan logistik, termasuk di dalamnya soal-soal persenjataannya, konsumsi, pengangkutan dan bahan bakarnya. Bila diadakan consignering maka makanan dan akomodasinya harus di siapkan untuk para petugas pengamanan. Eselon yang menyiapkan dan tempatnya juga dinyatakan dengan jelas. Jika perlu dapur lapangan yang bisa dipindah-pindah disiapkan. Logistik harus dibagikan kepada petugas-petugas lapangan intelijen dan pengamanan pada tempat-tempat penimbunan jalur-jalur suply harus dijaga ketat

Komando dan Perhubungan

Dalam paragraf ini diterangkan mengenai sistem perhubungan, yaitu jenis-jenis peralatan komunikasi yang digunakan, channel dan frekuensi perhubungan radio, nomor-nomor telepon, waktu buka hubungan radio dan walkie-talkie. Nama panggilan masing-masing pihak yang menggunakan alat komunikasi, sistem jaring yang dipakai apakah jaringan terbuka atau jaringan tertutup, tiap-tiap statiun harus melalui statsiun induk jika hendak berhubungan.

Diatur juga panggilan sandi bagi tiap-tiap statiun dan alamatnya. Jia menggunkan komunikasi bergerak/mobile, harus dinyatakan nama panggilannya, siapa memegangnya atau kelompok mana, dan siapa yang mengkoordinir selama dalam perjalanan, dan harus dicantumkan pos mobilnya, kalau stationer, menetap, dimana pimpinan perhubungan berada. Biasanya hubungan komunikasi ini disamping menggunakan radio, telepon, faksimili juga menggunakan caraka atau kurir. Apabila hal-hal yang akan disampaikan dianggap top secret, maka penyampaiannya harus menggunakan tenaga berpengaruh atau yang berpendidikan.

Pengaturan time schedulle communication ini memerlukan uraian panjang, oleh sebab itu biasanya dijadikan annex dalam RENOPS PAM intelijen. Perhubungan merupakan sektor yang sangat penting. Karena itu didalam setiap operasinya, sektor perhubungan harus bekerja tepat, cepat dan aman.

  • Tepat berarti benar tidak salah alamat, tidak memungkinkan salah tafsir bagi penerima, karenanya harus jelas dan ringkas.
  • Cepat berarti segera, berguna dan aktual/tidak basi.
  • Aman yaitu tidak dapat diketahui pihak lawan, tidak bisa disadap oleh musuh, kerahasiaannya terjaga dan terpelihara.

Kualitas komunikasi merupakan syarat mutlak bagi pelaksanaan komando, karena benar bahwa pertempuran akan sulit dimenangkan tanpa perhubungan itu. Dalam paragraf ini juga diterangkan tentang komando operasi pengamanan intelijen: siapa yang bertanggungjawab dalam operasi pengamanan itu, dimana alamatnya pada jam kerja dan diluar jam kerja. Pos komando berada dimana (dicantumkan alamatnya). Setiap ada perubahan atau ketentuan lain yang belum termuat dalam RENOPS supaya diberitahukan segera kepada pelaksanaa pengamanan. Orang yang bertanggungjawab dalam operasi pengamanan intelijen harus dihargai oleh segenap petugas pengamanan.

Pemimpin pada level apapun, adalah pemegang komando bagi bawahannya. Ia memerintah, segala perintahnya wajib dilaksanakan dan segala larangannya harus dihindari. Seluruh eselon yang berada dibawahnya, wajib taat dan patuh kepada perintah-perintahnya, sepanjang perintah itu tidak bertentangan dengan ideologi negara. Jika tidak terjadi pelanggaran, maka pemimpin berhak mengambil tindakan tegas.

Oleh sebab itu jangan coba main-main, karena dalam operasi pengamanan intelijen tidak mengenal istilah main-main. Format rencana operasi pengamanan intelijen, dapat dipakai untuk merencanakan latihan-latihan intelijen, dalam proses recruiting calon agent. Formatnya disesuaikan dengan skenario lathan intelijen yang dikehendaki

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: