//
you're reading...
Neuro Matematika

Anatomi Kecemasan (Kajian terhadap Amygdala)

Setiap manusia akan dihinggapi oleh suatu ancaman yang berupa akan identitasnya, berupa sesuatu yang menakutkan, tak memiliki simpati dari orang-orang sekitarnya, maka informasi tersebut akan diteruskan ke otak dengan dua tujuan yang berbeda. Dengan menempatkan otak ke dalam sebuah isyarat akan memberikan suatu tahapan perubahan zat kimia otak dan hormon yang menempati seluruh tubuh dengan beragam kecemasan yang terjadi. Pada waktu terkejut otak secara otomatis akan memanfaatkan jaringan darurat untuk memusatkan rasa takutnya, di mana amygdala adalah bagian fugsi otak yang mengelola marah dan agresi dimana dalam satu kali bekerja akan mengirimkan perbandingan ke semua titik pusat sebagai isyarat bagi struktur-struktur otak lainnya, berupa respon rasa takut yang klasik yang secara fisiologis berupa tubuh berkeringat, detak jantung yang cepat, tekanan darah meningkat dan pecahnya andrenalin. Semua ini terjadi sebelum pikiran menyadari adanya bau atau apa saja yang menyentuh. Untuk itu perlu diketahui mengapa kita merasa takut, maka harus disadari kejadian sebagai berikut :

  • Stress meningkat, respon sinyal yang datang dari hypotalamus dan kelenjar pituitary, maka kelenjar andrenal akan terjadi peningkatan hormon stress cortisol. Terlalu banyak cortisol akan memusatkan sel-sel pada hippocampus, sehingga kesulitan dalam mengorganisisr memori pada trauma atau pengalaman yang penuh dengan tekanan. Memori akan kehilangan konteksnya dan terpecah
  • Detak jantung yang cepat, sistem kecemasan simpatetis tubuh, dapat merespon detak jantung dan pernafasan. Detak jantung lebih cepat, tekanan darah meningkat dan hyperventilasi paru-paru. Keringat bertambah, dan kemudian kecemasan berakhir pada rangsangan kulit terhadap kegiatan, terjadi pembengkakan (oedema)
  • Berkecamuk dan ketakutan, perasaan menjadi hyperalert (terlalu awas) yaitu mencerna segala masukan secara detail. Andrenalin akan menyerang otot, mempersiapkan tubuh untuk melawan  atau melarikan diri
  • Kerja otak akan berhenti. Otak berhenti berpikir tentang segala sesuatu yang membawa kesenangan, memindahkan perhatiannya terhadap identifikasi bahaya-bahaya potensial. Untuk memastikan bahwa tidak ada energi dalam struktur kerja otak, tubuh terkadang meresponnya dengan mengosongkan seluruh kerja otak misalnya dengan muntah tak sengaja, keluar air kencing tak sengaja atau melarikan diri.

Setelah respon terhadap rasa takut  terjadi dalam kenyataan pikiran merespon perangkat dalam otak. Beberapa informasi penuh sensor (kendali) kemudian secara langsung menuju amygdala melalui rute yang lebih teratur, berhenti sejenak pada thalamus–pusat proses untuk isyarat yang penuh sensor–dan kemudian ke cortex (kulit otak)–bagian terluar dari sel-sel otak. Cortex (kulit otak) menganalisa data yang masuk melalui perasaan dan memutuskan apakah mereka memerlukan sesuatu respons terhadap rasa takut. Jika demikian, cortex (kulit otak) memberi sinyal ke amygdala, dan tubuh tetap dalam isyarat

  • Stimuli audio visual. Pandangan dan suara diproses lebih awal oleh thalamus, yang menyaring isyarat yang masuk menuju amygdala
  • Stimuli alat pencuiman dan peraba. Bau dan sensasi sentuhan merangsang thalamus secara serentak dan memberikan alternatif langsung pada amygdala. Bau, seringkali menyerap memori atau perasaan lebih kuat dari pada pengelihatan atau suara.
  • Thalamus. Pusat pengelihatan dan suara, Thalamus menghancurkan isyarat pengelihatan yang diterima dengan ukuran, bentuk, warna dan isyarat pendengaran dengan volume dan kekautan suara yang kemudian memberikan sinyal pada bagian-bagian yang ada pada cortex.
  • Cortex. Memberikan arti pengelihatan dan suara, membuat aotak sadar akan apa yang dilihat dan didengar. Cortex depan, penting dalam menghentikan respons kecemasan
  • Amygdala. Pusat emosional pada otak, amygdala memiliki aturan utama yang menyebabkan respons karena rasa takut. Informasi yang masuk ke amygdala diterima dengan emosional yang signifikan.
  • Bed nucleus of the stria terminalis (BNST) (Pusat keberadaan stria terminalis). Tidak seperti amygdala, yang menghilangkan rasa takut dengan cepat, BSNT mengabdikan respons terhadap rasa takut, dan menyebabkan bentuk kecemasan jangka panajng yang tidak mudah dihadapi
  • Locus cerelus. Menerima sinyal-sinyal dari amygdala dan merupakan respon untuk mengenali beberapa respons kecemasan klasik: detak jantung cepat, tekanan darah meningkat, berkeringat dan pupil mata membesar.
  • Hippocampus, merupakan pusat memori, penting untuk menyimpan informasi dan bersamaan dengan itu tingkat emosional meyerang data tersebut selama menuju amygdala

 

 

Nara sumber  : Prof. Ayub Sani Ibrahim

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: