//
you're reading...
Pendidikan

Suatu Pengantar “Pendidikan Pengenalan Intelijen” (Bag. IX “Espionage/Spionase”)

Pengertian Espionage (Spionase)

Espionage  adalah suatu aktivitas yang dilaksanakan secara clandestine dengan berbagai cover yang dilakukan oleh spion untuk menyelidiki rahasia suatu pemerintahan atau rahasia militer dalam suatu negara. Setelah mendapatkan informasi yang berklasifikasi, maka agent rahasia itu mengirimkanya kepada negara yang menjadi sponsornya. Informasi rahasia yang ingin di rebut oleh mata-mata ialah informasi tentang hal-hal yang masih berlaku atau aktual dan potensial bagi musuh, sedangkan aksi-aksi terselubung biasanya dilakukan secara sistematis dengan tujuan melemahkan, melumpuhkan dan menghancurkan pertahanan dan ketahanan lawan atau kekuatan daya tempurnya. Seorang agent espionage hanya akan berhasil apabila ia menuju ke sasaran yang tepat dan mengambil keputusan dengan seksama diiringi aksi yang menentukan. Dia justru merasa aman karena yakin akan adanya cover of action, cover of identity and cover of story mengenai dirinya, sehingga musuh tidak menyangka ataupun curiga kepadanya, bahkan mungkin dianggap kawan. Taktik penyerangan agent espionage, yaitu agent yang tidak mengadakan serangan langsung, tapi hanya menyelidiki data-data dan fakta-fakta rahasia yang aktual dan potensial. Penghancurannya justru terjadi setelah agent berlalu, yaitu dilaksanakan oleh kekuatan lain yang telah mendapat informasi rahasia darinya. Target yang dihancurkan ialah lingkungan hidup yang berupa akses-akses perekonomian rakyat, dengen target melemahkan loyalitas umat terhadap agama, persatuan umat, moral para pemimpin, terutama moral generasi mudanya. Dengan demikian kemenangan tidak perlu lagi direbut dengan perang convensinal tapi cukup hanya dengan serangan unconvensional warfare. Doktrin perang pendadakan merupakan kejutan setelah espionage berhasil dalam penyelidikannya. Sampai saat ini doktrin perang seperti itu dipakai oleh USA, Jerman, Jepang, Rusia dan Cina. Cara mengatasi doktrin perang seperti itu adalah keharusan dilakukannya perang semesta di era Presiden Soeharto di kenal dengan doktrin “SISHANKAMRATA” sistem pertahan dan keamanan rakyat semesta, yaitu doktrin sistem pertahanan yang dilaksanakan oleh TNI-POLRI dan RAKYAT sebagai kekuatan cadangan utama dan diikuti oleh kekuatan cadangan Nasional. Doktrin itulah yang menyebabkan Indonesia sangat disegani pada era tersebut. Kewaspadaan diperketat, latihan kemiliteran ditingkatkan dengan persenjataan yang selalu siap serta penjagaan garis logistik. Logistik berupa perlengkapan perang serta perbekalannya ditingkatkan pula produksinya, termasuk produksi peralatan perang modern. Security intelligence benar-benar berjalan sesuai prosedur kebijakan yang telah digariskan. Jika terjadi serangan pertama secara besar-besaran dari pihak musuh, maka kita harus mengadakan serangan balasan hingga sampai pada tingkat kehancuran moral pihak lawan.

Garis-garis Besar Taktik Espionage

  • Unsur yang Dapat Membantu Keberhasilan Tugas. (1) Placement (Penempatan), orang-orang yang bertempat tinggal di daerah sasaran merupakan penempatan yang baik sekali. Penempatan semacam ini penting dalam espionage, tetapi hal ini belum berarti menjamin berhasilnya tugas dengan sempurna; (2) Access, (Jalan masuk), selain penempatan secara di atas, orang yang akan kita tugaskan harus leluasa dapat keluar masuk di daerah sasaran tanpa ada prasangka. Access ini ada tiga macam (a) Secara langsung, yaitu agent kita yang bekerja atau bertempat tinggal di dalam daerah dimana kita butuhkan sesuatu info, dapat bergerak bebas bergerak dan keluar masuk tanpa ada prasangka, (b) Secara tidak langsung, yaitu agent kita yang ada di dalam lingkungan daerah sasaran dan mempunyai suatu kedudukan yang memungkinkan dia mendapatkan info bila diperlukan. Misalkan seorang penjaga/pengawal dan seorang pelayan. (c) Dari jauh, maksudnya bila info atau sesuatu yang kita perlukan cukup dengan jalan pengamatan dari luar daerah sasaran. Dalam keadaan semacam ini bagi agent kita tidak perlu memasuki daerah sasaran untuk mendapatkan yang kita perlukan, misalkan pengamatan di daerah pelabuhan di suatu negara yang tidak bersahabat, berbagai bangunan militer, pangkalan angkatan laut,pangkalan angkatan udara dan sebagainya; (3) Penyamaran. Yang dimaksud penyamaran bagi seorang agent ialah bila ia berhasil meembunyikan maksud sesungguhnya daripada tugasnya yang berhubungan dengan sesuatu sasaran, diantaranya (a) Natural cover (penyamaran wajar) ialah bila seseorang menggunakan suatu penyamaran yang sesuai dengan keadaan pribadinya. Segala sesuatu tentang dirinya adalah benar dan dapat dibuktikan (b) Artificial cover (penyamaran yang dibuat-buat). Dalam hal ini, seorang agent perlu dibuatkan surat-surat keterangan dan riwayat hidup sesuai dengan penyamarannya; (4) Support (Dukungan), dukungan yang utama adalah dukungan personil berupa cut-out (perantara), kurir, tenaga ahli serta tenaga administrasi; (5) Supply (Perlengkapan). Perlengkapan berupa alat teknik, perhubungan, pakaian, dokumen penyamaran dan alat-alat lain yang dibutuhkan guna keberhasilan tugas. Mengingat security dari organiasi cara menyediakan perlengkapan seperti itu tidak selalu mudah, terutama bila alat-alat yang dibutuhkan itu termasuk barang gelap atau barang spesifik; (6) Finance (Keuangan) diperlukan untuk membayar info, peralatan, dokumen penyamaran, pakaian, ongkos jalan dan biaya penafkahan para agent yang karena  tugasnya tidak dapat mencari nafkah sendiri. Usaha sampingan secara legal atau ilegal dapat digunakan untuk membantu membiayai kegiatan jaringan espionage; (7) Communication (Perhubungan). Makin luasnya jaringan dan makin banyaknya dipergunakannya jaringan tadi, makin rapat pula perhubungan antara agent dan headquarter. Ralam rangka kegiatan espionage, perhubungan adalah salah satu unsur yang sangat lemah, sehingga mudah terbongkar; (8) Control (Pengawasan). Dalam espionage  modern, pengawasan secara terpusat meliputipenentuan calon agent dan latihan agent, semua tingkat dan ketentuan security umum dalam jaringan khusus. Tiap keterangan mengenai agent diberikan seluruhnya kepada bagian pengawasan beserta uraian kegiatan yang akan dilakukan dan hasil-hasil yang harus dicapainya.
  • Bentuk-bentuk Taktik Espionage. Jika espionage dimaksudkan sebagai taktik untuk menggunakan beberapa macam cara untuk mendapatkan informasi maka ada beberapa bentuk taktik espionage, yaitu : Individual espionage tactics, Organized espionage nets, Mass espionage tactics, Specific techniques and tactics, Confusion tactics, Introduction of espionage agent. Cara penggunaan oknum espionage (Individual Espionage Tactic) (a) berhasilnya sesuatu gerakan tergantung dari kegiatan usaha pengumpulan info dari peroerangan (b) di dalam modern espionage, oknum-oknum spion selalu bekerja mendapat bantuan dari suatu peihak (c) unsur-unsur penring pelakasanaan operasi dapat berhasil dengan baik yaitu menentukan sasaran, jalan masuk ke sasaran, daerah aman untuk bergerak dari agent dan cara penyamaran lengkap, perhubungan yang semurna dengan para agent atau dengan atasan, cukup sumber keuangan untuk membiayai kegiatan pada agent.
  • Susunan Jaring Espionage. Sekarang ini sistem espionage perorangan jarang dilakukan karena telah berkembang sistem jaring espionage modern. Modus operandi para agent espionage dewasa ini jauh lebih lihai dari zaman-zaman sebelum ada network spies. Corpus electric pengumpulan informasi pada umumnya bukanlah untuk perang convensional tapi dengan maksud penyalahgunaan dalam unconvensional warfare atau perang tak bersyarat. Dengan sistem jaringan espionage, maka negara-negara maju memenuhi dunia dengan agent-agent dan masing-masing berada dalam suatu organisasi jaring espionage. Dunia ini mereka bagi menurut kepentingan dunia intelijen. Misalkan KGB (Komited Gesudart Bezopasnosti) dinas rahasia Rusia jaman dahulu membagi 7 benua intelijen yaitu USA dan Canada, Inggris dan Commonwealth, Jerman dan Austria, Skandinavia dan Spanyol, Timur Tengah, Timur Jauh, Australia ditambah lagi dengan Amerika Selatan (Cuba hingga Peru). Sedangkan Afrika termasuk Timur Tengah. Head Quarter (HQ) yaitu negara dimana sponsor berada, dan pangkalannya biasanya di dalam negaranya sendiri. Agent Handler (AH) ialah agent pengendali yang mengepalai network spies. Bagi negara yan gmenghendaki efisiensi, maka agent handler ditempatkan pada negara sasaran. Di samping hemat biaya dan komunikasi juga tidak merepotkan. Teori ini di anut oleh Nazi Jerman di zaman Adolf Hitler. Sedangkan bagi CIA dan KGB agent handler berada di pangkalan atau berada di garis komunikasi, sebab jika agent handler tertangkap berarti kerugiannya sangat besar. (1) Pengendalian jaring espionage: (a) Pimpinan setempat (resident director) yaitu seorang anggota dari induk organisasi intelijen dengan penyamaran yang sesuai, seorang yang berasal dari daerah sasaran, berkebangsaan dari negara ke-tiga; (b) Daerah: negara dimana jaringan melakukan kegiatan, negara tetangga; (2) Sifatnya : (a) cara umum dari kegiatan espionage modern; (b) cara rahasia; (c) biasanya terpisah dari induk organisasi intelijen; (d) memelihara perhubungan rahasia dengan induk organisasi intelijen: (3) Kewajibannya ; (a) mengawasi kegiatan espionage di lapangan atau di dalam jaringan-jaringan (b) mendapatkan, melatih dan memberi indoktrinasi kepada anggota (c) penentuan sasaran dan tugas espionage (d) pengawasan perhubungan dengan agent serta jaringan espionage di lapangan; (4) Rencana espionage: (a) suatu perintah operasi dasar disusun setelah rencana operasi kesatuan mulai berjalan (b) kebutuhan yaitu (i) untuk melindungi dan meningkatkan adanya kegiatan organisasi espionage dan gerakan agent espionage (ii) mencegah sejauh mungkin dalam memperkecil bahaya terbongkarnya kegiatan secara keseluruhan atau sebagian; (c) isinya : (i) sasaran atau tujuan (ii) jalan masuk (iii) agent : mencari dan memilih, pencalonan, penelitian, latihan (iv) rencana operasi (v) pengamanan; (d) untuk tugas-tugas perorangan maupun tugas khusus, segala perintah atau petunjuk lapangan direncanakan dengan sangat hati-hati dan setiap gerakan yang akan dilaksanakan telah digariskan terlebih dahulu dengan selalu berusaha untuk mendahului dan mencegah kemungkinan adanya bahaya.
  • Sistem Jaringan Organisasi Espionage. (1) Jaringan langsung. Dalam jaringan ini Agent Handler dapat berhubungan dengan para Agent atau sebaliknya para Agent lapangan dapat berhubungan langsung dengan Agen Handler (gb. 8.1); (2) Jaringan tidak langsung. Dalam jaringan ini Agent tidak berhubungan langsung dengan Agen Handler, tetapi lewat seseorang yang disebut Principal Agent yang ditunjuk bagi masing-masing pelaksana (gb. 8.2); (3) Jaringan gabungan.  Dalam jaringan ini terdapat Agent-Agent yang berhubungan langsung dengan Agent Handler, tetapi ada pula para Agent yang lewat Principal Agent. Kedua cara dapat dipakai sekaligus (gb 8.3); (4) Jaringan Compartemensi. Dalam jaringan ini tidak seorang pun Agent pelaksana atau pun Principal Agent yang dapat berhubungan langsung dengan Agent Handler. Mereka harus lewat Cut Out atau disebut juga Agent Perantara atau Agent Pemisah. Agent Perantara ini berada di bawah Agent Handler. Sedangkan Pricipal Agent bisa berada di negara sasaran dan dapat pula di negaranya sendiri (gb 8.4). sistem jaring compartemensi ini dipakai oleh agen-agen rahasia Partai Komunis. Pemisah atau perantara dipergunakan oleh mereka untuk kepentingan security (keamanan); Espionage yang sudah mempunyai jaringan seperti tersebut sudah dikategorikan espionage modern dan terorganisir. Untuk kelancaran operasi clandestine pada umumnya mereka memerlukan komponen-komponen lain untuk memperlancar kegiatannya. Bantuan yaitu tenaga perorangan misalnya atau kurir/caraka dan teknisi. Perawatan yaitu suatu eselon yang memberikan support dan supply uang selaku suplier. Perhubungan sangat penting yaitu bagaimana prosedur hubungan yang kontinyu dengan para agen serta dengan headquarter. Resiko selalu mengancam, jika tercium oleh counter espionage negara sasaran. pengawasan biasanya dilakukan secara terpusat, pengawas harus diberi laporan kegiatan agent secara menyeluruh termasuk kontak-kontak yang dilakukan serta hasil-hasil yang dicapai. Pada umumnya para agent dalam cover aksinya lebih baik di adili sebagai garong, pencuri, atau pelaku kriminal daripada di adili sebagai agent espionage. Oleh karena itu seandainya ia tertangkap dalam melakukan aktivitasnya, maka ditimbulkan kesan seolah-olah ia melakukan kejahatan biasa, dengan cara melakukan perbuatan mencuri, merampok, memukul atau sebagai garong, sehingga dapat menghilangkan kesan bahwa ia mencuri dokumen rahasia. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap sesuatu hal yang nampak seperti pencurian biasa padahal sebenarnya pencurian sesuatu dari seseorang yang profesional sebagai agen espionage.
  • Taktik Penggunaan Massa (Mass Espionage Tactics). Dalam taktik ini maka digunakan orang-orang di dalam masyarakat umum yang biasanya tidak mendapat latihan terlebih dahulu. Mereka bertugas mengumpulkan info sebanyak mungkin dan bekerja secara perorangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Biasanya mereka bertugas di dalam satu daerah tertentu. (1) Cara dan Teknik Khusus (specific Techniques and Tactics), yaitu (a) penyusupan; (b) menyuap, mencuri, fitnah, membeli info; (c) pengamatan dan pergaulan pribadi; (c) ahli pembujuk; (d) penyelidikan rahasia; (e) sumber-sumber terbuka; (2) Taktik Membingungkan (Confusion Tactics). Praktek espionage semacam ini ialah dengan menggunakan oknum-oknum, yang biasa disebut confussion agent, yang telah disengaja ditanam di dalam daerah sasaran dengan maksud membimbangkan usaha-usaha dari counter intelligence lawan; (3) Memasukkan Agent Espionage ke dalam suatu negara (Introduction of Espionage Agent into a Foreign Country) melalui (a) imigrasi (b) pengungsi (c) agent yang sengaja ditinggalkan (d) infiltrasi melalui jalan-jalan rahasia (e) pertukaran anggota (pelajar, mahasiswa, mahaguru, seniman dan sebagainya) (f) pengusaha

Perkembangan Espionage

Pada mulanya negara-negara mementingkan espionage militer untuk memenangkan suatu pertempuran. Sehubungan dengan perkembangan politik, maka muncul pula espionage politik. Dengan adanya hubungan diplomatik antar negara, timbullah espionage diplomatik. Tugas-tugas espionage pada masa lalu dilakukan sendiri-sendiri, belum terorganisir. Tapi sekarang setelah ada organisasinya, espionage melakukan tugasnya dalam suatu jaringan espionage (network spies). Utusan dan mata-mata ini dipilih dari berbagai golongan terutama dari kalangan pengusaha. Saluran diplomatik itu ditempatkan pada posisi yang sangat penting, sedangkan penyempurnaan organisasinya dilakukan dalam pemerintahan yaitu ketika tampuk kekuasaan dan pemerintahan masih berada di tangan pemimpin yang kuat. Sehubungan dengan tugasnya, secara umum pada agent espionage akan selalu mencoba untuk memperoleh akses dokumen yang berklasifikasi rahasia. Mereka masuk kedalam area yang terlarang dan medan-medan tertutup. Agar bisa berhasil memperoleh informasi, mereka biasanya mempunyai keahlian khusus. Karena itu tidaklah aneh jika mereka menggunakan segala cara, misalnya membujuk, menipu, mencuri, memeras, memotret, melakukan penyadapan surat menyurat, serta penyadapan berbagai alat komunikasi. Untuk mengamankan dirinya para spionase lebih senang jika bisa berlindung di balik pengaruh seorang nasionalis di negara sasaran. Itulah yang meyebabkan dia lebih berani menggunakan kekerasan, memaksa dan mengancam. Meskipun demikian, yang sering memainkan peranan penting dalam usaha-usaha adalah seorang spion dengan menggunakan metode operasi uang pelicin, tipu muslihat dengan menggunakan wanita-wanita cantik, memperalat hoby atau memainkan ideologi politiknya. Cara-cara demikian ditempuh espionage militer untuk mendapatkan segala informasi rahasia yang berklasifikasi tinggi tentang kekuatan, persenjatan dan rencana-rencana perang suatu negara. Espionage politik berkenaan dengan bermacam-macam hal penting menyangkut politik, ekonomi dan sosial budaya. Espionage diplomatik berhubungan dengan informasi yang dilaporkan oleh staf-staf diplomatik dan asisten teknik mereka. Kedutaan negara-negara modern dewasa ini, mempunyai staf teknik militer Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara (aeronautical) untuk mendukung perdagangan senjata. Sebagai attache yang legal mereka juga bertugas mengumpulkan informasi yang benar dalam berbagai cabang kegiatan nasional suatu negara asing. Para diplomatik yang menjadi agent itu dilindungi oleh kekebalan diplomatik, namun kalau kegiatannya terbongkar, maka negara sasaran menuntut mereka dengan hak recall kepada negaranya bahkan bila perlu mereka di persona non grata. Yang paling sulit bagi agent espionage politik dan militer ialah penyampaian hasil informasi yang telah diperolehnya kepada negara sponsor. Jika seorang agent memperoleh informasi, dibuatlah catatan steril yaitu catatan yang hanya dia sendirilah yang bisa mengerti. Orang lain biarpun melihat atau membacanya tidak bisa mengerti sama sekali. Jika hendak mengirimnya barulah ditulis dengan enkripsi (code atau sandi dan crypto) tulisan rahasia atau tulisan morse pada jahitan pakaian. Ada kalanya dengan mikro film, micro photography serta micro dot. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi micro photography ukurannya hanya 8 mm, sedangkan micro film lebih kecil hanya dapat dilihat dengan microscope. Panyimpanan yang paling hebat adalah dengan micro dot, karena hanya sebesar satu noktah pada titik huruf “i” atau tititk lainnya dapat berisi 500 kalimat, yang hanya dapat dilihat dengan bullet-lens. Micro dot ini juga menggunakan latent (tidak terlihat) dan harus melalui pengolahan terlebih dahulu. Micro dot bisa dikirim melalui surat, ditempatkan pada titik, koma, tanda seru, tanda petik, pada sampul surat dan pada sudut postcard yang dibelah sedikit lalu di lem lagi, pada benda-benda kiriman, surat kabar, majalah dan sebagainya. Ada empat macam organisasi espionage militer (1) spion-spion biasa yaitu terdiri dari para petani, atau orang-orang dari kalangan rakyat jelata yang direkrut menjadi mata-mata dengan pertimbangan hanya membutuhkan sedikit pengeluaran uang; (2) spion-spion rangkap yaitu disamping mencari informasi tentang musuh juga menyebarkan laporan-laporan palsu kepada lawan; (3) spion-spion tingkat tinggi yaitu terdiri dari para perwira, para pegawai-pegawai tinggi kerajaan, serta para bangsawan yang suka disuap; (4) spion-spion yang didorong oleh keinginan yang kuat untuk menjadi mata-mata melalui pembinaan dan pelatihan;. Disamping itu harus hati-hati pula terhadap dual agent atau double agent. Dual agent yaitu agent yang bekerja untuk dua sponsor yang belum tentu berlawanan, sedangkan double agent ialah agent yang bekerja pada dua sponsor yang memang berlawanan, oleh karena itu dalam doktrin di beri peringatan keras terhadap usaha-usaha double agent yang bermuka dua itu, maka jangan lekas percaya dan jangan mudah terpengaruh. Agent counter espionage yang teliti pasti mengenal double agent itu apabila betul-betul berusaha sekuat tenaga untuk mengenalinya. Kejadian-kejadian dalam espionage militer dapat diklasifiaksikan dalam empat macam kejadian : Pertama. Adanya reaksi yang hebat dari publik opini. Kerumunan massa sekonyong-konyong berubah menjadi ajang mata-mata dengan aksinya yang penuh curiga, sehingga bisa terjadi peledakan, pembunuhan beramai-ramai secara spontan. Insiden-insiden seperti ini sering terjadi dalam masa transisi, revolusi dan perang sedangkan kegilaan mata-mata ini mendorongnya kepada tindakan-tindakan brutal dan pelanggaran hukum secara kasar. Kedua. Perlindungan teknik dalam counter espionage. Hal ini terjadi pada individu personal, dikalangan diplomatik dan espionage militer. Angkatan bersenjata, Kepolisian dan Departemen Pertahanan bertanggung jawab atas espionage dan counter espionage. Bahkan agent yang sama kadang-kadang dipekerjakan untuk menangani kedua tugas itu sekaligus dan in berarti bekerja rangkap. Ketiga. Kegiatan diplomatik untuk espionage militer. Pemerintah bertanggung jawabatas tindakan ini dan padat menghukumnya sesuai dengan tingkat kemasygulan negara itu di masa damai atau perang. Bahkan dalam masa damai hukuman-hukuman berat biasa dijatuhkan bagi espionage militer. Agent espionage militer juga biasa menyusup ke garis belakang musuh sebagai infiltran melewati daerah perang. Adakalanya melakukan exfiltrasi. Atau dapat pula mengikuti rombongan teater yang berkelana dipelosok daerah-daerah musuh. Penyusup juga bisa di drop dengan parasut di daerah garis belakang musuh atau di drop denganmenggunakan perahu karet melalui laut beserta alat-alat radio yang bisa digunakannya untuk menyampaikan laporan intel kepada kesatuannya. Resiko yang dihadapinya sangat besar, walaupun dilengkapi dengan surat-surat sebagi cover. Tidak mudah membedakan secara tajam antara hasil aktivitas agent espionage militer dengan politik. Sebagai contoh misalnya hasil penyelidikan agent espionage politik terhadap perkembangan nuklir negara sasaran, hal ini ada kaitannya dengan informasi yang diperlukan oleh militer. Perkembangan pesat espionage politik dimuali semenjak berlangsungnya perang-perang Napoleon. Dialah yang menggunakan espionage politik disamping espionage militer. Semenjak itulah tumbuh dan berkembang suatu network spies, aktivitas silang dikalangan informan-informan dan agent-agent provokasi di seluruh daratan eropa.

Postur Espionage terhadap Hukum

Hukum internasional membenarkan negara-negara yang sedang berperang untuk melakukan kegiatan espionage dalam usahanya memperoleh informasi, karena menggunakan espionage untuk mencapai tujuan bukan berarti terlibat dalam suatu pelanggaran terhadap hukum-hukum perang. Para spion itu dihukum, bukan disebabkan karena mereka telah memperkosa dan menginjak-injak hukum internasional, tetapi dapat dihukum apabila dia menjadi sujek dalam aksi clandestine atau dengan alasan-alasan palsu berusaha untuk mendapatkan informasi dalam suatu zona operasi, combat dan battle zone. Apabila dalam aksi tersebut dia bersalah, maka dijatuhi hukuman setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan pengadilan. Hal ini menunjukkan bahwa cara-cara untuk memperoleh informasi itu sangat sulit, berbahaya dan kecil sekali tingkat keberhasilannya. Dalam prakteknya, kebiasaan hukum perang suatu negara menetapkan apabila seseirang membantu atau menolong seorang mata-mata atau yang dengan sadar menyembunyikan seorang spion atau seorang agent msuuh kemudian tertangkap dan setelah diperiksa oleh pengadilan perang atau komisi militer dinyatakan bersalah maka dia dijatuhi hukuman mati.

CounterEspionage

Counter espionage ialah merencanakan dan mengimplementasikan secara terarah terhadap usaha-usaha (kegiatan) pencegahan, menetralisir serta melindungi informasi rahasia suapya tidak jatuh ke pihak lawan, kemudian mendeteksi dan menggulung potensi-potensi espionage mereka dalam usahanya melakukan penyelidikan.

1.Taktik Counter Espionage

Pertahanan terhada taktik espionage sifatnya dapat pasif atau aktif, defensif atau agresif. Pencegahan atau tindakan security, penyelidikan counter espionage, tugas kepolisian dan kegiatan positif terhadap dinas intelijen lawan, sewaktu-waktu dapat bermanfaat bagi terlaksananya tugas counter espionage.

  • Passive Counter Espionage. Yang termasuk tindakan counter espionage secara pasif adalah security, deception, liaison dan publicty (a) Security: tugas utama dari organisasi counter intelligence adalah mencegah dan bertindak terhadap personil, dokumen, harta benda, kesatuan, pelabuhan daerah perbatasan dan keamanan perjalanan. Seorang agent yang bertugas melaksanakan kegiatan counter espionage harus memahami segala peraturan dan tata laksana yang meliputi hal-hal tersebut di atas; (b) Deception (tipu muslihat) yang penting dalam pembuatan perancanaan counter espionage, khususnya sebagai gerak taktik adalah penggunaan tindakan tipu muslihat, camouflage yaitu merubah bentuk lahiriyah sesuatu misalnya , merubah rutinitas gerak tipu dan demosntrasi. (i) camouflage artinya merubah bentuk lahiriyah sesuatu, misalnya bangunan militer atau pertahanan. Waktu dan biaya untuk melaksanakan camouflage seperti dimaksud di atas  tidak memadai untuk benda-benda bergerak serta bangunan-bangunan yang tidak penting (ii) change of routine yaitu perondaan, iring-iringan dan kegiatan lain. Pertahanan dan penyerangan hendaknya jangan terlalu sealu menurut suatu pola yang tertentu. Penggunaan satu pola secara berulang-ulang memungkinkan seirang agent lawan dapat mengambil suatu kesimpulan, yang berakibat pihak lawan dapat berhasil menggagalkan atau mencegah gerakan kita. (iii) demonstration yaitu gerak tipu dan demonstrasi dilaksanakan disegala tingkat guna memaksakan lawan untuk melakukan suatu gerakan atau agar lawan bimbang dan takut untuk mendahului suatu gerakan. (c) Liaison (hubungan). Di dalam suatu daerah operasi anggota-anggota counter espionage mungkin ditempatkan begitu terpencar, sehingga jarang bisa mengumpulkan info secara sempurna, meskipun dengan bantuan informan-informan yang ada di dalam sektornya atau daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Biarpun begitu ada sumber-sumber dan lembaga-lembaga didaerah yang dapat dimanfaatkan untuk membantu, dengan cara bekerja sama melaksanakan tugas counter espionage dalam menumpas gerakan rahasia lawan yaitu: (i) penghubung intelijen dan kesatuan monitoring; (ii) perum pos dan telekomunikasi (iii) petugas sensor; (iv) bea cukai, imigrasi dan kesatuan-kesatuan pengaman perbatasan; (v) stasiun radio dan televisi; (vi) kepolisian; (vii) biro perjalanan dan pengangkutan; (viii) dinas patroli dan pertahanan pantai; (d) publicity (penerangan) tugas dan azas counter intelligence pada hakekatnya tidak perlu dirahasiakan, bahkan perlu disebar luaskan intuk mencapai pengertian dari pihak umum. Karena itu agar dapat bekerja sama serta mendapat bantuan dari masyarakat umum dan pihak angkatan bersenjata, perlu diadakan penerangan
  • Counter Espionage Investigation. Bagaimanpun pentingnya peraturan dan tindakan counter espionage yang sifatnya pasif atau mencegah, jarang sekali kelihatan usaha itu akan berhasil dengan baik, disebabkan karena kelihaian para agent espionage dalam menciptakan cara-cara baru untuk menyusup ke arah sasaran. Guna menumpas dan melumpuhkan cara-cara espionage lawan yang telah maju tadi, perlu dihimpun dan dipelajari dengan seksama cara-cara tadi dan ciptakan pula cara-cara yang baru untuk melawannya. Cara-cara pengumpulan atau menghimpun fakta-fakta tadi disebut counter espionage investigation.

2.Azas-azas Counter Espionage Investigation

Alasan utama adalah untuk mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang ada sangkut pautnya dan bukti-bukti nyata yang bisa didapat, guna memungkinkan bagi yang berwajib dalam menentukan apakah terjadi suatu pelanggran atau tidak. Apabila ada suatu pelanggran, perlu ditinjau apakah bukti-bukti tadi cukup kuat guna dilakukan penuntutan secara resmi. Penyidikan counter espionage dapat juga dilakukan dengan alasan guna mendapatkan dan menghimpun catatan-catatan mengenai anggota-anggota atau kegiatan espionage lawan, yang mungkin ada manfaatnya dalam penyelidikan yang akan dilakukan sehari kemudian. Menangkap anggota espionage lawan tidak akan membawa pengaruh atas kegiatan lawan, bahkan hanya menambah kewaspadaan seluruh jaringan-jaringan lawan dan terhentinya gerakan lawan untuk sementara waktu saja.

3.Tuntutan terhadap Espionage Agent

Tuntutan dan hukuman yang dilakukan terhadap espionage tidak akan mengurangi dan menghalangi kegiatan espionage. Lawan yang gagal (untuk sementara) itu, setelah diberi kesempatan untuk menyusun kembali, akan memperhebat lagi kegiatannya. Tetapi biarpun begitu, akibat dari hukuman yang pernah mereka alami, kadang-kadang ada juga yang membawa manfaat. Dari sisi keuntungan : melumpuhkan kegiatan lawan, menakut-nakuti agent untuk tidak ikut serta lagi di dalam suatu kegiatan espionage. Dari sisi persoalan : pemabatasan secara resmi, terbongkarnya info yang penting mengenai diri agent counter intelligence atau informan dan cara-cara melakukan kegiatannya.

  • Memanfaatkan petunjuk-petunjuk (leads). Seorang penyidik (investigator) counter intelligence yang berpengalaman harus memahami dan memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang didapat secara penuh selama dia melakukan tugas-tugasnya.
  • Petunnjuk-petunjuk kegiatan (leads). Segala petunjuk harus segera dipelajari dan diteliti oleh penyidik (investigator) dan atasan yang berwenang sebelum melakukan kegiatan untuk memanfaatkannya.
  • Counter intelligence files. Kesatuan-kesatuan counter intelligence pada umumnya memiliki files atau himpunan foto yang luas, yang nilainya tidak selalu diyakini
  • Case studies. Pada waktu penyelidikan counter espionage sedang dilakukan, penyelidik dan atasannya selalu waspada agar jalannya penyelidikan masih ditujukan terhadap sasarannya, dan segala kegiatan masih sesuai dengan apa yang telah direncanakan
  • Pengumpulan dan penggunaan bukti. Telah terjadi suatu keharusan bahwa setiap usaha untuk mendapatkan bukti-bukti yang nyata dilakukan secara maksimal, guna mengajukan seorang agent espionage ke muka pengadilan. Sedapat mungkin bukti tadi berbentuk dokumen, seperti suatu pernyataan dibawah sumpah, catatan-catatan dan foto-foto resmi. Adapun cara mendapat dokumen-dokumen tadi harus sedemikian rupa, hingga dapat diterima sebagai bukti yang syah di meja pengadilan.

4.Penyusupan ke Dalam Organisasi Espionage

Banyak usaha penyidikan counter espionage atau kegiatan espionage lainnya yang tidak dapat dilaksanakan melalui proses biasa, melainkan harus melalui jalan penyusupan ke dalam alat espionage itu sendiri, dan pelaksanaannya diatur sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan pihak kita. Dengan penyusupan ke dalam yang di mulai dari tingkat bawah, dari hari kehari kegiatan counter intelligence kita dapat mencapai tingkat atas, bahkan kadang-kadang sampai ke organisasi induk intelligence lawan. Dasar dari semua kegiatan counter espionage tersebut ialah kesadaran bahwa agent-agent espionage musuh itu setiap saat akan selalu berusaha untuk memperoleh rahasia-rahasia kita. Karena itu , tindakan counter espionage harus dilakukan secara terus-menerus, mengingat usaha espionage itu membahayakan bagi perikehidupan umat, agama dan tanah air. Penyelidikan terhadap kasus serta usaha untuk melawannya dengan tindakan yang tepat, dapat dikategorikan  sebagai tindakan counter espionage, sebagaimana penyelidikan counter espionage terhadap insubordinasi. Selanjutnya sistem kerja counter espionage dalam menghadapi intelijen lawan seperti yang telah diutarakan dalam definisi, pada garis besarnya dapat dilakukan dalam tiga disiplin usaha, yaitu melindungi segala sesuatu yang bersifat rahasia, mencegahnya jangan sampai ada usaha-usaha dari pihak lawan dan pengkhianat yang membocorkan rahasia lalu mendetaksi kegiatan lawan. Jika jelas ada tendensi merusak, maka dengan satu komando seorang pemimpin, barulah unsur-unsur itu secara agresif dihancurkan dalam satu serangan.

Yang termasuk kegiatan melindungi, diantaranya ialah tindakan security, penyesatan terhadap musuh dan pengusutan-pengusutan terhadap tindak penyelewengan. Pengaman perlu diselenggarakan untuk melindungi kesatuan, disampaing pengamanan yang ketat terhadap material, personel, dokumen dan pengaman gerakan operasi. Penyesatannya dengan menggunakan penyamaran dan camouflage serta cover yang berupa selubung terhadap diri, aksi-aksi operasi dan semua objek-objek vital. Untuk penyesatan terhadap lawan sehubungan dengan pengawasan dan pengamanan daerah-daearh tertentu, jangan dibiasakan menggunakan prosedur rutin, misalnya prosedur tetap patroli menurut time schedule, karena kelemahannya akan mudah diketahuai oleh pihak lawan. Adakan pula gerakan demonstrasi untuk menyesatkan lawan secara taktis dan strategis dari maksud dan tujuan yang sesungguhnya. Pengusutan memerlukan bahan-bahan keterangan terutama tentang gejala-gejala yang ditimbulkan oleh agent-agent espionage lawan. Suatu tuduhan, dakwaan serta hukuman akan menimbulkan efek deterrent baik bagi agent itu sendiri maupun terhadap agent espionage musuh yang belum terungkapkan. Walaupun kita yakin bahwa tindaan demikian tidak mencegah usaha-usaha kegiatan espionage, tetapi dapat menetralisir agent itu selama dalam tahanan. Yang termasuk kegiatan pencegahan ialah segala usaha untuk mencegah jatuhnya hal-hal yang bersifat rahasia kepada pihak-pihak agent espionage asing. Untuk itu perlu diberikan penjelasan kepada semua anggota atau aktivis, agar masing-masing tertanam kesadaran security. “Jangan banyak mulut, berbicara seperlunya” tanamkan pengertian bahwa “pengaman itu bersifat komando bagi seluruh warga negara dan merupakan tanggung jawab dan proyek kebajikan bagi setiap anggota intelijen”. Menjalin hubungan dengan pihak lain di segala isntansi yang dirasakan mungkin dapat memberikan informasi tentang adanya gerakan-gerakan para agent espionage musuh. Bila perlu menanam informan-informan, sehingga bisa diadakan koordinasi dengan badan-badan lain, baik secara tertutup maupun terbuka. Yang termasuk kegiatan penyerangan terhadap agent espionage asing diantaranya mengadakan operasi dan mencari bukti-bukti serta melakukan infiltrasi dalam melakukan penetrasi penerobosan terhadap kegitan agent-agent espionage alawan. Lakukan operasi aktif yang berdaya tembus tepat terhadap kegiatan espionage musuh. Bukti-bukti perlu diperoleh, mungkin berupa dokumen rahasia, foto-foto dan sketsa yang menyatakan bahwa orang yang dicurigai itu bener-bener agent espoinage lawan. Bukti itu juga bisa tertangkap tangan dari sasaran biasa. Sebab disampng aksi-aksinya untuk memperoleh rahasia, salah satu pihak juga berhubungan dengan Principal Agent atau dengan Agent Handler nya. Selain itu juga bisa dideteksi melalui kontak-kontak yang mereka adakan, personal meeting yang mereka lakukan serta laporan-laporannya kepada pengawas agent. Adakan pula infiltrasi terhadap kegiatan operasi lawan mulai dari tingkat rendah terlebih dahulu, dengan harapan semoga penetrasi ini sukses dengan gemilang, sehingga berhasil membongkar network espionage lawan yang bercokol di dalam negeri. Oleh karena itu hanya pandangan intelijen yang akan dapat mengungkapkan bagian dari sukses besar itu, termasuk dasar-dasar pemikiran pentingnya counter espionage. Oleh karena itu, untuk menanamkan suatu keyakinan kepada masyarakat, harus ada ofensif yang kenyal sesuai dengan teknik-teknik intelijen yang terorganisir rapi. Bagaimana dengan Indonesia? Jangankan intelijen tingkat dunia seperti CIA, MOSSAD, MI6 dan KGB, BIN sekalipun masih belum mampu membangunnya. Itulah yang harus dipikirkan oleh pemimpin-pemimpin negara ini baik di tingkat Legislatif dan Eksekutif, jika ingin menjaga sistem pertahanan dan keamanan warga negaranya. Karena dalam pandangan intelijen sangat tidak mungkin dapat bersaing di arena perebutan kepentingan yang semakin mengglobal.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: