//
you're reading...
Pendidikan

Mengenal Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan mengandung resiko bahaya dan kerugian bagi orang lain maupun pelaku kekerasan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam lingkup yang luas dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Perilaku kekerasan siswa sebagai bentuk khas perilaku agresi menjadi isu yang serius, seperti tawuran siswa, perselisihan antar pribadi, pelecehan terhadap guru maupun orang tua siswa.

Perilaku kekerasan tidak hanya mencakup aspek tindakan yang bersifat fisik, tetapi juga mencakup kekerasan verbal (ucapan yang merendahkan diri atau penghinaan), psikologis (sikap mengingkari persamaan hak dan kemanusiaan) dan simbolis (tindakan yang menimbulkan rasa takut  dan permusuhan) atau kombinasi dari semua aspek-aspek tersebut (Berkowitz,1993a, 1993b; Bushman & Baumeister, 1998; Bishop, 1992; Harris, 1992; Truscott, 1992; Wimbarti, 1997; Thalib, 2000;2002).

Berkowitz (1993a) menggolongkan dua bentuk kategori utama agresi berdasarkan tujuan perilaku agresi, yaitu :

  • Instrumental Aggression. Agresi instrumental adalah agresi untuk pencapaian tujuan, keinginan atau harapan tertentu.
  • Hostile Aggression. Agresi kebencian adalah agresi yang bertujuan untuk menyakiti, membunuh, atau menghancurkan lawan.

Lystad (dalam Roak, 1993) membedakan kekerasan kedalam empat jenis :

  • Kekerasan instrumental, yaitu kekerasan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti siswa meninju dinding kelas hanya karena bermaksud memperlihatkan kehebatannya.
  • Kekerasan ekspresif, yaitu kekerasan yang bertujuan menyakiti diri sendiri atau orang lain, seperti siswa meninju siswa lainnya sebagai tindakan balas dendam.
  • Kekerasan secara kultural, yaitu kekerasan yang diterima secara kultural, seperti ucapan yang bernada kekerasan tetapi sudah menjadi kelaziman dalam masyarakat tertentu
  • Kekerasan non kultural, yaitu kekerasan yang tidak dilegitimasi sesuai norma-norma kultural, seperti menendang, meninju, mencaci-maki, dan bentuk-bentuk agresi fisik lainnya.

Marshall (1993) menyatakan bahwa perilaku kekerasan dan ancaman kekerasan siswa disekolah dapat dimanifestasikan dendam berbagai bentuk termasuk serangan fisik, pelecehan seksual, ejekan/tertawaan, perlakuan sewenang-wenang terhadap siswa baru dan/atau siswa pada keals-kelas yang lebih rendah serta gangguan sosial-psikologis lainnya.

Diponogoro (1993) dalam makalahnya menjelaskan berbagai bentuk perilaku kekerasan

  • Mengolok-olok orang lain. Salah satu bentuk merendahkan bahkan menghinakan orang lain adalah dengan mengolok-olokkannya, misalnya dengan mengeksploitasi keadaan fisik, gaya bicara, gerak gerik, maupun sifat-sifat tertentu yang ada padanya. Secara objekti, boleh jadi yang di olok-olokkan lebih mulia daripada yang mengolok-olok. Seseorang mengolok-olok orang lain boleh jadi tidak dengan maksud menghina atau merendahkannya, tetapi hanya sekedar bergurau atau guyon. Tetapi gurauan atau guyonan seperti itu bisa ditafsirkan sebagai penghianan dan pelecehan sehingga dapat merusak persudaraan. Oleh sebab itu, hati-hati dalam bergurau jangan sampai terpelesat menjadi penghinaan atau pelecehan.
  • Mencela. Celaan, baik dengan kata-kata maupun perbuatan adalah perbuatan yang menyinggung dan meyakitkan hati orang lain. Celaan biasanya muncul dalam pertengkaran, tapi juga tidak jarang muncul dalam kritikan. Sekalipun maksud kritikan adalah baik yaitu untuk memperbaiki kekerasan, tetapi jangan sampai disampaikan dengan mencela pribadi yang bersangkutan. Kritiklah pendapat dan perbuatan orang lain, tetapi jangan cela pribadinya.
  • Memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang tidak disukai. Setiap orang punya nama dan gelar yang disenanginya, maka panggillah dia dengan nama atau gelar tersebut. Jangan sekali-kali memanggil orang lain dengan nama atau gelar yang tidak dia sukai. Nama atau gelar bagi seseorang adalah simbol dirinya. Semestinya dalam pergaulan sehari-hari kita menghormati simbol-simbol tersebut.
  • Berburuk sangka. Utamakanlah berpikir positif terhadap kata-kata dan perbuatan orang lain. Terlanjur menilai seseorang itu baik lebih diutamakan daripada terlanjur menilainya buruk. Sebelum kita mendapatkan bukti yang kuat tentang keburukan seseorang, tetaplah berpikir positif tentang orang itu. Buatlah penafsiran posotif terlebih dahulu sebelum sampai kepada tafsiran negatif.
  • Mencari-cari kesalahan orang lain. Pada prinsipnya semua kejahatan dan dosa diundurkan azabnya sampai hari akhir. Kalaupun beberapa kejahatan diberi sanksi hukum di dunia, hal itu hanyalah untuk menegakkan dan menjaga ketertiban hidup bermasyarakat
  • Bergunjing. Bergunjing adalah membicarakan keburukan orang lain dibelakangnya dengan maksud menjelek-jelekkan atau menyebarluaskan keburukannya. Kalau yang dibicarakan itu di dengar oleh orang yang bersangkutan dia pasti tidak suka atau marah. Tetap termasuk bergunjing sekalipun yang dibicarakan itu merupakan sebuah fakta, bukan mengada-ada. Justru karena faktual itulah, maka dinamai gunjing, kalau bukan faktual, tetapi fiktif atau mengada-ada namanya fitnah.

Dengan demikian secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan pada siswa yaitu (1) faktor ekstrinsik yaitu faktor dari luar diri pribadi siswa antara lain jenis kelamin, pendidikan orang tua, faktor sosial, geografis dan demografi, status sosial ekonomi orang tua, pengasuhan orang tua, interaksi sosial guru dengan siswa, teman sebaya dan pengalaman perilaku kekerasan; (2) faktor intrinsik yaitu faktor yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi temperament, kepribadian, dan aspek-aspek psikologis yang termasuk kategori soft skills.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: