//
you're reading...
Psikologi, Umum

Anatomi Pola dan Perkembangan Rentang Hidup

Tahap Kepercayaan versus Ketidakpercayaan

Ini merupakan tahap awal / terendah dalam pola dan perkembangan rentang hidup, pada tahap ini perkembangan kepercayaan (trust)  membutuhkan pengasuhan yang hangat dan bersahabat, hasil positifnya adalah rasa nyaman dan berkurangnya ketakutan sampai pada titik minimal, pada tahap terendah ini ketidakpercayaan akan tumbuh jika diperlakukan negatif atau diabaikan.

Tahap Otonomi versus Malu dan Ragu

Pada tahapan ini terjadi pelepasan pola pengasuhan (late infancy) dan masa belajar (toddler) dimana mulai ditemukan bahwa tindakannya adalah tindakan sendiri dengan terjadinya penegasan independensi dan dan menyadari kehendaknya sendiri dan jika dihukum terlalu keras maka akan berkembang rasa malu dan timbul keraguan.

Tahap Inisiatif versus Rasa Bersalah

Proses pada taphap ini adalah menghubungkan masa lalu tiga atau lima tahun terakhir, dimana fase kehidupan sosial yang lebih luas dengan lebih banyak tantangan. Untuk mengantisipasi tantangan ini maka diperlukan peran aktif dan tindakan yang memiliki arah dan tujuan, dimana konsepsi tanggung jawab dari sebuah inisiatif.

Tahap Upaya versus Inferioritas

Inisiatif membentuk hubungan dengan pengalaman baru, dimana potensi (power) untuk mengusai pegetahuan, keterampilan dan intelektualitas yang tumbuh melalui proses belajar dan perkembangan imajinasi, inferioritas muncul jika potensi dan imajinasi di inkompetensikan melalui ketidakproduktifan intelektualitas dan ketrampilan

Tahap Identitas versus Kebingungan

Proses pencarian jati diri, pemaknaan diri dan arah yang dituju akan berhadapan dengan banyak peran dan status yang baru (pekerjaan dan pasangan hidup), dimana kesempatan eksplorasi peran yang berbeda dapat dilakukan dengan berbagai cara akan identitas dirinya, jika tidak dibuat rancangan positif kedepan maka akan timbul kebingungan akan identitas diri. Rancangan positif di bangun melalui pola terstruktur yang komprehesif

Tahap Intimasi versus Isolasi

Pada tahap ini berkembanglah bentuk hubungan positif dengan orang lain namun intimasi (penemuan diri sendiri tetapi kehilangan diri sendiri dalam diri orang lain) akan berbahaya karena seseorang bisa mengalami kegagalan dalam membangun hubungan dekat dengan lawan jenis atau kawannya dan terisolasi secara sosial, maka akan timbulah rasa kesepian yang membayangi kehidupannya (mental, karir, fisik dan psikis).

Tahap Generativitas versus Stagnasi

Ini adalah fase akhir dari tingkat kedewasaan berfikir seseorang apakah ia menjadi seseorang yang generativitas yaitu mentransmisikan sesuatu yang positif kepada generasi selanjutnya dengan peran sebagai parenting dan pengajaran, melalui peran sebagai orang dewasa membantu generasi selanjutnya untuk mengembangkan hidup yang berguna ataukah sebagai seseorang yang stagnasi yaitu tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu generasi selanjutnya dan kecenderungan oportunis

Tahap Integritas versus Putus Asa

Pada tahapan ini seseorang sudah melewati kedewasaan berfikirnya dengan merenungkan kembali hidupnya dengan memikirkan apa-apa yang telah dilakukannya selama ini, jika terjadi evaluasi retrospektif positif, maka rasa integritas akan muncul yakni memandang hidup mereka sebagai hidup yang utuh dan positif dan layak untuk dijalani, tetapi sebaliknya jika retrospeksi negatif maka mereka akan putus asa dan mengambang kegamangan akan ketidakmampuan dan kegagalan menjadi jatidiri yang utuh dalam ketidakpastian hidup.

Kedelapan tahapan tersebut merupakan varian tugas sosioemosional yang terintegrasi secara holistik dalam konsep identitas yang tidak terurut secara rapi dalam interval tertentu namun memiliki perubahan developmental domain fisik – kognitif dari perilaku yang dikontrol secara eksternal ke perilaku yang dikontrol secara internal perkembangan moral pada level preconventional reasoning, conventional reasoning dan postconventional reasoning yang terakmulasi dalam dua perspektif yaitu (1) perspektif keadilan yang berfokus pada hak-hak individual, yang berdiri sendiri dan menentukan pilihan moral sendiri , dan (2) perspektif perhatian yang memandang orang sebagai individu yang saling berhubungan dengan penekanannya pada hubungan dan perhatian pada orang lain.

Pemunculan kedua perspektif tersebut dalam satu paket akan melahirkan self-efficacy sebagai strategi instruksional dalam pengelolaan waktu secara efektif, kemampuan menentukan prioritas, kemampuan menata dan mampu mengembangkan keahlian manajemen waktu dalam monitoring diri yang memenuhi ekspektasi daya kontrol motif sosial.

Oleh karena itu setiap individu atau kelompok dalam suatu area/teritori dipolakan secara holistik dalam kedelapan tahapan tersebut, untuk menciptakan stabilitas sistem komunikasi sosial dalam suatu padanan pluralisme konseptual, tanpa adanya unsur hegemoni dalam masyarakat

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: