//
you're reading...
Neuro Matematika

Karakter yang terbentuk melalui Matematika

Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian pembentukan karakter merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan dalam interaksi sosial (keluarga, sekolah dan masyarakat). Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dikelompokkan dalam (Kemendiknas, 2010:10) Olah Hati (spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development) Olah Raga dan Kinestetik (physical and kinestetic development) dan Olah Rasa dan Karsa (affective and creatifity development).

Dalam konteksnya pendidikan karakter mempunyai makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana yang benar melainkan menanamkan kebiasaan  (habituation) tentang hal yang baik dan benar menjadi pemahaman (domain kognitif) sehingga mampu merasakan (domain afektif) tentang nilai-nilai dari hal yang baik dan telah dilaksanakannya dan terbiasa melakukannya (domain perilaku) dalam diri seseorang (Kemendiknas, 2011:4).

Secara makro pengembangan nilai/karakter bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan implementasi pengembangan nilai/karakter dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional, yang digambarkan sebagai berikut

  1. Secara makro pengembangan karakter dapat dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi hasil.
  2. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan: (1) filosofis – Agama, Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahuin 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya;(2) pertimbangan teoritis- teori tentang otak, psikologis, nilai dan moral, pendidikan (pedagogi dan andragogi) dan sosial-kultural;  dan (3) pertimbangan empiris berupa pengalaman dan praktek terbaik (best practices) dari antara lain tokoh-tokoh, sekolah unggulan, pesanren, kelompok kultural dll.
  3. Pada tahap implementasi dikembangakan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistence life situation) yang memungkinkan peserta didik di sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya  membiasakan diri berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Kedua proses tersebut- intervensi dan habituasi harus dikembangkan secara sistemik dan holistik.
  4. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen untuk perbaikan berkelanjutan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan untuk mendikteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik.

Sedangkan secara mikro pengembangan karakter berlangsung pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah secara holistik, dimana sekolah sebagai leading sector  memberdayakan dan memanfaatkan semua asset yang ada untuk menginisiasi, menguatkan dan meyempurnakan proses pengembangan karakter yang digambarkan sebagai berikut :

  1. Secara mikro pengembangan nilai/karakter dapat dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture); kegiatan ko-kurikuler  dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah, dan dalam masyarakat.
  2. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded approach). Khususu, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan,  karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap maka pengembangan nilai/karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan nilai (value/character education). Untuk kedua mata pelajaran tersebut nilai/karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran (instructional effects) dan juga dampak pengiring (nurturant effects). Sementara itu untuk mata pelajaran lainnya, yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan nilai/karakter, wajib dikembangkan kegiatan yang memiliki dampak pengiring (nurturant effects) berkembangnya nilai/karakter dalam diri peserta didik.
  3. Dalam lingkungan sekolah dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural sekolah memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga sekolah lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di sekolah yang mencerminkan perwujudan nilai/karakter.
  4. Dalam kegiatan ko-kurikuler, yakni kegiatan belajar di luar kelas yan g terkait langsung pada suatu materi dari suatu mata pelajaran, atau kegiatan ekstra kurikuler, yakni kegiatan sekolah yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran, seprti kegiatan Dokter Kecil, Palang Merah Remaja, Pecinta Alam dll,  perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dalam rangka pengembangan nilai/karakter.
  5. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap prilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di sekolah menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing.

Dengan demikian karakter erat kaitannya dengan suatu kebiasaan yang dilakukan secara tereus menerus atau berulang – ulang  menjadi pengetahuan yang baik (moral knowing) sehingga timbul rasa (feelling) akan kebaikan menjadi sebuah kecintaan (loving the good) yang tercermin dalam perilaku (action). Dalam aspek – aspek matematika karakter dibentuk melalui proses berpikir melalui analisa faktual yang dilihat secara lengkap antara material dan formalnya, antara konten dan konteksnya juga antara teori dan terapannya sehingga dicapai kebenaran dalam matematika. Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran konsistensi yaitu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan – pernyataan lainnya yang lebih dahulu diketahui, diterima, dan diakui kebenarannya, sehingga menjadi sebuah aksioma bagi pernyaan selanjutnya. Alur pemikiran dalam matematika disusun secara sistematik dan logis melalui aktivasi otak. Dengan proses tersebut ditanamkan cara berfikir sehingga kemampuan tersebut menjadi kebiasaan cara berpikir dalam keseharian dimana manfaat yang didapatkan bukan dari sisi materialnya melainkan dari sisi formalnya, yaitu bagaimana matematika bekerja dan bagaimana gaya bernalar dalam matematika. Berikut beberapa kemampuan yang ditanamkan menjadi kebiasaan cara berfikir dalam keseharian melalui proses penguasaan kemampuan formal matematika (Wear, Ali Sadikin, 2011:14-16)

No.

Cara Berfikir Matematika

Kemampuan Formal

Aljabar

1. Kemampuan Analitis  Kemampuan memisahkan materi (informasi) ke dalam bagian-bagiannya yang perlu, mencari hubungan antarabagian-bagiannya, mampu melihat (mengenal) komponen-komponennya, bagaimana komponen-komponen itu berhubungan dan terorganisasikan, membedakan fakta dari hayalan
2. Fleksibel Dapat menempatkan diri dan mengatasi permasalahan dalam berbagai keadaan
3. Kerja dalam tim Meningkatkan kompetensi; konsistensi dan kerja keras
4. Berkooperasi Bersifat kerja sama ; bersedia membantu
5. Berargumen Logis Berfikir rasional berdasarkan aturan atau konsep yang ada
6. Disiplin Ketaatan atau kepatuhan kepada aturan, tata tertib yang telah ditetapkan
6. Komunikasi lisan
  • Responsif terhadap informasi simbolik
  • Membebaskan diri dari kesalahan atau pelanggaran

Geometri

1. Kreatif
  • Mendekati sebuah kebutuhan, tugas, atau ide dari suatu perspektif yang baru
  • Kualitas pemikiran yang orisinal
  • Menghasilkan ; menyebabkan ada
2. Inovatif Bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru berkenaan dengan pembaharuan
3. Imajinatif Kemampuan untuk membayangkan
4. Intuitif Kemampuan psikis untuk merasakan dan membaca apa yang akan terjadi selanjutnya
5. Produktif
  • Mendatangkan hasil atau memberi manfaat
  • Bayak menghasilkan atau berdaya keluaran

Trigonometri

1. Berpikir Kritis Upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan diri dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut
2. Inisiatif
  • Mengenali dan melakukann apa yang perlu dilakukan tanpa harus disuruh melakukannnya
  • Kekuatan atau kemampuan untuk dan menyelesaikan suatu rencana atau tugas
  • Tahap awal atau pembuka langkah pembuka
  • Tindakan memimpin
3. Dapat diandalkan Tanggap terhadap sesuatu yang sedang dan akan terjadi

Kalkulus

1. Menyelesaiakan masalah
  • Kemampuan untuk menghadapi masalah dengan segera dan secara efektif
  • Kepintaran dan keterampilan dalam menemukan sumber daya
2. Pengendalian diri
  • Menolak keinginan saya sendiri dan melakukan apa yang benar
  • Pengendalian atas diri sendiri atau atas emosi, keinginan, tindakan
3. Tangguh Sukar dikalahkan ; kuat andal; kuat sekali ; tabah dan tahan
4. Dinamis Penuh semangat dan gerak(laju) sehingga mengalami perkembangan yang pesat
5. Ulet Giat dan tabah dalam mencapai sesuatu dan tidak mudah putus asa

Aritmatika

1. Etika
  • Sopan budi bahasa dan tingkah lakunya
  • Bebas dari pikiran picik
2. Komunikatif – Interaktif
  • Pandai dalam bergaul
  • Menerima orang lain dalam taraf kedewasaan yang berbeda-beda dalam pembentukan karakter
3. Efisien Tidak membuang waktu dan tenaga ; tepat sesuai dengan rencana dan tujuan
4. Manajemen diri
  • Kemampuan untuk dipercaya
  • Kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional dan bermoral
  • Memahami dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan
5. Manajemen waktu
  • Tanggap akan sesuatu hal
  • Mempunyai pandangan dan konsepsi jauh kedepan yang berkaitan dengan perkembangan massa
6. Komitmen Kemauan atau keinginan hati yang sungguh-sungguh
7. Mandiri Tidak bergantung kepada orang lain/dalam keadaan dapat berdiri sendiri

Dari proses cara berfikir tersebut dikembangkan melalui sebuah konteks dari sebuah konsep sederhana menjadi teks yang lebih bermakna dan kemudian dikembangkan penggunaannya dalam dunia praktis sehingga didapatkan makna yang tersirat dan tersurat pada aspek legalitas kemampuan formal matematika. Proporsinya menghasilkan makna yang tersirat bagaimana cara matematika bekerja dari poses berfikir atau bernalar dalam realitas kehidupan. Realitas kehidupan merupakan fenomena dalam bentuk objek tiga dimensi yang tersusun dalam rangkaian fungsi abstraksi yang dikenal dan dipahami melalui aktivasi otak dalam proses pembelajaran Matematika.

Hal ini sepadan dan mengandung unsur kausalitas yang secara aksiologis proses pembelajaran matematika itu sendiri merupakan aktivitas mental yang secara umum dimulai dengan mengenali dan memahami sebuah fenomena yang dilanjutkan dengan abstraksi  yaitu proses menafsirkan fenomena tersebut kedalam bentuk objek – objek matematikal yang diikuti dengan proses generalisasi dan diakhiri dengan proses pembuktian. Objek – objek dianalogikan sebagai operator (operasi dalam himpunan) yang merupakan suatu gejala dalam suatu himpunan, di mana dua atau lebih unsur – unsur dari himpunan tersebut dikombinasikan kepada satu unsur lain yang hasilnya dapat atau tidak dapat merupakan anggota dari himpunan. Sedangkan fungsi abstraksi merupakan sautu kuantitas arbiter yang terkandung dalam suatu persamaan yang memberikan suatu identitas menjadi sebuah Lemma.

Dalam pembelajaran matematika aktivitas mental yang digunakan untuk menggali nilai moral dan karakter secara umum dilakukan dengan empat kajian utama (1) fakta : proses ini mengungkapkan matematika melalui simbol tertentu dengan cara menghafal, demosntrasi tertulis sehingga terjadi pengulangan secara terus hingga proses pemahaman akan konsep nilai-nilai yang ditanamkan akan terserap maknanya secara informal dari tahap awal hingga terjadi pola hubungan yang mereka pahami melalui pendekatan enaktif-ikonik-simbolik untuk menjaga partisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi cara berfikir dari pengalaman matematika.

Untuk menghindari terjadinya misskonsepsi sebuah kesalahan konsep maka penekanannya difokuskan melalui aspek non teknis realitas kehidupan dalam simbol matematika yang meiliki arti dan manfaat secara kausalitas. (2) konsep : ide – ide abstrak dikembangkan melalui penggolongan atau pengkategorian fenomena menjadi sekumpulan objek perilaku yang dipelajari lewat definisi atau observasi langsung. (3) definisi : digunakan untuk membatasi ungkapan sebuah konsep yang dipelajari melalui ilustrasi, gambar, skema atau simbol dari konsep yang sudah didefinisikan (a) secara analitik yang terbentuk melalui genus proksimum (keluarga terdekat) dan genus proksima (pembeda khusus atau sifat yang disebutkan), (b) secara genetika yang dipelajari melalui proses bagaimana terjadinya konsep yang didefinisikan secara psikologis dan personality. (c) menggunakan formula matematika yang dianalogikan dalam fungsi sosial kultural secara intensi atau hal yang menjadi fokus dalam pernyataan dan ekstensi atau hal yang yang mejadi jangkauan dari pernyataan sehingga terjadi ekivalensi menuju pada definisi yang tepat. (4) operasi dan relasi : proses pengerjaan dan hubungan antar konsep dilakukan melalui peningkatan keterampilan “skill” yang dipelajari melalui demonstrasi, pembiasaan dan pengkondisian lingkungan hingga siswa dianggap telah menguasai suatu keterampilan yang terdefinisi melalui kemampuan formal. (5) prinsip : memahami hubungan antar berbagai objek dasar yang terdefinisi dapat berupa aksioma self evident truth (yang kebenaran nilai terlihat langsung dari pernyataannya) dan non self evident truth (yang kebenarannya mengaitkan fakta dan konsep melalui suatu relasi tertentu) , corollary atau sifat, bagaimana prinsip tersebut dibentuk dan digunakan dalam berbgai situasi.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: