//
you're reading...
Neuro Matematika

Cognitive Entry Behavior Matematika

Pendahuluan

Salah satu penunjang sumber daya  manusia adalah pendidikan dalam upaya mencapai kepribadian secara utuh berdasakan sikap dan perilaku dalam rangka penyempurnaan manusia Indonesia seutuhya. Pengembangan manusia yang utuh dapat dicapai melalui berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang memberikan gambaran secara terpadu tentang proses pembelajaran yang  dilakukan dengan bergbagai pendekatan – pendekatan bahwa perubahan sikap /perilaku yang dihasilkan dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran sangat terpengaruh oleh dua hal ;

  • affective entry behavior characteristics sebagai bagian penting dari peserta didik yang dibawa dari lingkungan keluarga/ tingkat pendidikan yang lebih rendah/masyrakat
  • kualitas pembejalaran

pada aspek inilah pembentukan keampuan awal mempunyai peranan yang penting turut membentuk kerpibadain peserta didik. Artinya latar belakang peserta didiik ( keluarga dan masyarakat) serta strategi belajar –mengajar yang tepat melalui belajar aktif/produktif menekankan pengembangan perilaku atau affective development, selain komponen penunjang lainya (seperti tenaga pendidikan dan kependidikan, sarana dan prasarana biaya dan pengelolaan pendidikan) sangatlah menentukan kualitas hasil belajar. Kualitas hasil belajar terdiri dari dua unsur utama (1) tingkat kualitas dan jenis hasil yang dicapai (2) perubahan sikap dan perilaku dalam diri peserta didik. Dalam strata sosial kemasyarakatan pranata keluarga merupakan salah satu sumber entry characteristics, dimana keluarga merupakan dasar perkembangan perilaku peserta didik ke arah perkembangan positif atau sebaliknya. Feed back dari orang tua memberikan rasa simpati serta dorongan akan sangat mempengaruhi pembentukan perilaku peserta didik.

Kualitas pembelajaran di dalam kelas juga dipengaruhi oleh class behavior atau perilaku pembelajaran akan berada pada salah satu mata pelajaran lainnya. Pengajaran matematika dengan menekankan pada kemampuan logika matematik akan berbeda dengan penagajaran lainnya. Dalam pendidikan dan pengajaran matematika kemampuan peserta didik meliputi tiga ranah pengembangan cognitive, affective dan psychomotor yang menghasilkan pengembangan melalui proses pembelajaran matematika dalam bentuk kemampuan : factual knowledge (fakta), symbolic equivalent ( simbol), concepts (konsep), generalizations (generalisasi), intellectual skill  (keterampilan intelektual), manipulative skill , attitudes, interests, values apreciations.

Kenyataan dilapanagan menunjukkan bahwa setiap pendidik menghadapi masalah dalam menghadapi anak didiknya. Rusfendi (1990:169) menyatakan sesuatu merupakan masalah bagi seseorang apabila sesuatu itu baru dan sesuai dengan kondisi yang memecahkan masalah, dan kondisi yang memcahkan masalah memiliki pengetahuan prasayarat. Masalah yang paling krusial adalah perilaku peserta didik tersebut. Dimana perilaku anak didik dapat mempengaruhi pembentukan kognitive anak didiknya. Rusfendi (1990:336) persoalan menjadi masalah  bagi seseorang apabila orang tersebut (1) mampu menyelesaiakan tetatpi tidak menggunakan cara atau algoritma yang rutin ; (2) mempunyai siapan untuk menyelesaiakan  (mental dan pengetahuan) ; (3) ada niat untuk menyelsaiakan. Dalam pembentukan kognitif ada syarat perlu yang harus dipenuhi yaitu tingkah laku yang dicirikan dengan adanya motif pendororng aktivitas, respon terhadap situasi, eliminasi dari respon kegagalan dan reaksi dari kemajuan untuk pencapaian tujuan. Pada situasi seperti ini seorang pendidik harus mempersiapkan sebuah proses dengan mengasosiasikan stimulus – respon dengan reward dan reinforcement. Asosiasi ini seharusnya dibentuk oleh pendidik sebelum melakukan proses belajar sebagai kemampuan awal (cognitive entry behavior). Secara psikologis asosisasi tersebut membentuk behaviorisme seseorang dimana asosisasi membentuk proses pembentukan kognisi, yang sangat berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.

Proses tersebut berlangsung dengan adanya stimulus –respons. Secara kongkrit dapat disederhanakan bahwa stimulus – respon menghasilkan sebuah pengalaman yang memberikan informasi dengan menghasilkan pengaruh positif pada pengaturan fungsional otak yang mengalami proses laterisasi yang didefinisikan oleh Sidiarto (2010;29) suatu perkembangan yang akhirnya menghasilkan dua hemisfer otak yang berbeda tetapi bekerja secara integratif dan saling berkomunikasi, sehingga memiliki efek yang paling kuat selama periode tertentu. Jika diamati peserta didik sering kali menemukan kesulitan dalam belajar matematika yang mengakibatkan hasil belajar mereka menurun, secara psikologis hal ini berdampak pada tingkah laku yang berlanjut hingga pada pembelajaran selanjutnya. Jika ini berlanjut tanpa adanya evaluasi berkelanjutan (suistainability evaluation), maka akan berpengaruh besar pada kecerdasan peserta didik yang berimbas pada hasil belajar matematika yang diperoleh dari peserta didik tersebut. Kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal adalah bagian dari  entry behaviorisme yang secara langsung berpengaruh pada hasil belajar. Dari permalasalahan terebut perlu dilakukan analisis “ cognitive  entry behavior matematika, dalam konteks kajian psikologi kognitif dan psikologi behavior, kemudian dikembangkan dalam psikologi pembelajaran matematika yang dianalisis melalui perkembangan hasil belajar matematika.

Kajian dan Analisis

2.1   Konsep Kognitif

2.1.1      Teori Psikologi kognitif

Sternberg (2008:2) kognitif adalah cara manusia berpikir, Psikologi kognitif adalah ilmuan yang berpikir tentang cara manusia berpikir. Dan psikologi kognitif adalah sebuah bidang studi tentang bagaimana manusia memahami, belajar mengingat dan berpikir tentang suatu informasi. Seorang psikologi kognitif mempelajari cara manusia memahami beragam bentuk, kenapa mereka ingat beberapa fakta tetapi lupa fakta yang lain atau bagaimana cara mereka belajar bahasa. Solso dan kawan-kawan, (2008:10) psikologi kognitif adalah ilmu pemrosesan informasi yang dimaksudkan adalah psikologi kognitif berkutat dengan cara kita memperoleh dan memproses informasi mengenai dunia cara informasi mengenai dunia, cara informasi tersebut disimpan dan diproses oleh otak, cara kita menyelesaikan masalah, berpikir dan menyususn bahasa dan bagaimana proses–proses ini ditampilkan dalam perilaku yang dapat di amati. Proses-proses tersebut meliputi neurosains kognitif, kecerdasan manusia dan kecerdasan konsep, berpikir dan formasi konsep, perkembangan kognitif, pengenalan pola, atensi, kesadaran, memori, representasi pengetahuan, pencitraan, bahasa, sensasi persepsi

2.1.2 Teori Belajar Psikologi Kognitif

Proses hubungan stimulus-response-reinforcement merupakan awal dari teori belajar psikologi kognitif atau teori belajar kognitif. Para ahli psikologi kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak dikontrol oleh reward dan reinforcement dan senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

Dalam situasi belajar seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemedahan masalah. Jadi kaum kognitifis berpandangan bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhdap hubungan – hubungan yang ada di dalam situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian – bagiannya. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan

Teori Belajar Cognitive-Field dari Lewin

Bertolak pada teori Gestalt, Lewin (1892-1947) dalam Wasty Soemanto (2006:129) berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan baik yang dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan;maupun dari luar diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Belajar ber-langsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Lewin mengembangkan teori belajar berdasarkan Life Space (dunia psikologis dari kehidupan individu). Masing – masing individu berada di dalam medan kekuatan psikologis, medan itu dinamakan Life Space yang terdiri dari dua unsure yaitu kepribadian dan psikologi social. Ia menyatakan bahwa tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi/ restruktur (dari isi jiwa). Tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan baik dari dalam (tujuan, kebutuhan, tekanan batin, dan sebagainya) maupun dari luar (tantangan, permasalahan).

Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget

Dalam teorinya, Piaget dalam  Wasty Soemanto (2006:130) memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Ia memakai istilah scheme: pola tingkah laku yang dapat diulang. Yang berhubungan dengan

  • Reflex pembawaan (bernapas, makan, minum)
  • Scheme mental (pola tingkah laku yang susah diamati, dan yang dapat diamati)

Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tingkat yaitu : (1) sensory motor ; (2) pre operational ; (3) concrete operational dan ; (4) formal operational

Perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap menurut Piaget yaitu:(1) Kematangan ; (2) Pengalaman fisik/ lingkungan ; (3) Transmisi social ; (4) Equilibrium/ self regulation

Menurut Piaget intelegensi itu terdiri dari tiga aspek, yaitu:

  • struktur (scheme) : pola tingkah laku yang dapat diulang
  • isi (content) :pola tingkah laku yang spesifik (saat menghadapi masalah)
  • fungsi (function) :berhunbungan dengan cara seseorang untuk mencapai kemajuan intelektul

Teori Belajar Discovery Learnign dari Jerome Bruner

Teori Brunner dalam  Wasty Soemanto (2006:134) menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas. Maksud dari Discovery Learning yaitu siswa mengorganisasikan metode penyajian bahwa dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

The act of discovery dari Burner diantaranya (1) Adanya suatu kenaikan di dalam potensi intelektual ; (2)  Ganjaran intrinsic lebih ditekankan daripada ekstrinsik ; (3) Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning ; (4) Murid lebih senang mengingat-ingat informasi

Selain ketiga tokoh tersebut Ausubel juga berpengaruh dalam psikologi kognitif. Dia mengungkapkan teori ekspository teaching, yaitu dapat diorganisasikan atau disajikan secara baik agar dapat menghasilkan pengertian dan resensi yang baik pula sama dengan discovery learning.

2.1.3  Psikologi Pembelajaran Matematika

Psikologi pembelajaran matematika menurut Resnick dan Ford (1984: 4) adalah ilmu yang mengkaji tentang struktur atau susunan bangunan matematika itu sendiri dan mengkaji juga tentang bagaimana seorang itu berpikir (think), bernalar (reason) dan bagaimana ia menggunakan kemapuan intelektualnya tersebut.

2.2   Konsep  Behavior

Ada beberapa pandangan tentang behaviorisme, Sternberg (2008:7) behaviorisme adalah sebuah pandangan teoritis yang berpandapat bahwa psikologi mestinya menyoroti relasi antar perilaku yang bisa diamati di satu sisi, dan peristiwa-peristiwa lingkungan atau stimuli yang mempengaruhinya di sisi lain.

2.2.1  Teori Behavioristik

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dieknal sebagai aliran behavioristik, dimana aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Dengan demikian teori behavioristik menganggap seseorang telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.  Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Disamping stimulus respon dalam teori behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan yang dimaksud dalam teori ini apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon.

2.2.2  Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).

2.2.2.1  Teori Koneksionisme

Teori belajar Thorndike (1874-1949) dalam Dalyono (2005:30) disebut “connectionism” atau asosiasi karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus  dan respon. Teori ini sering pula disebut “trial – and – error learning”, individu yang belajar melakukan kegiatan proses “trial-and-error” dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut (Dalyono, 2005:31) :

1) “Law of readiness” : jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka rekasi menjadi memuaskan

2) “Law of exercise” : makin banyak dipraktekkan atau digunakan hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan “reward”

3) Law of effect” : bilaman terjadi hubungan antara stimulus dan respon, dibarengi dengan “state of affairs” yang memuaskan, maka hubungan itu menjadi lebih kuat. Bilaman hubungan dibarengi ”state of affairs” yang menunggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkurang

Selanjutnya Dalyono (2005:31)  menyebutkan ciri – ciri belajar dengan “trial-and-error” yaitu : (a).ada motif pendorong aktivitas ; (b).ada berbagai respon terhadap situasi; (c).ada eliminasi respon – respon yang gagal / salah dan ; (d) ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan

1.1.3    Skinner’s Operant Conditioning

Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Seperti halnya Thorndike, Skinner dalam Soemanto (2006:125) menganggap “reward” atau “reinforcement”  sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Selanjutnya Skinner membagi dua jensi respon  dalam proses belajar yakni :

  • Respondents : respon yang terjadi karena stimuli khusus
  • Operants : respon yang terjadi karena situasi random

Operants conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement langsung. Operants conditioning menjamin respon terhadap stimuli. Ada beberapa jenis stimuli (Soemanto, 2006:126) diantaranya : (1)  Positive reinforcement : panyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respons; (2) Negative reinforcement : pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan, yang hanya jika dihentikan akan mengakibatkan probalilitas respon; (3)    Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya “contradiction or reprimand”. Bentuk hukuman lain berupa penagguhan stimulus yang menyenangkan (removing a pleasant or reinforcing stimulus); (4)    Primary reinforcement : stimuli pemenuhan kebutuhan – kebutuhan fisiologis : (5)    Secondary or learned reinforcement ; (6)    Modifikasi tingkah laku guru : perlakuan guru terhadap murid berdasarkan minat dan kesenangan mereka

2.3  Pengertian Cognitve Entry Behavior

Cognitive entry behavior merupakan istilah lain untuk menjelaskan tipe-tipe prerequisite pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang esensial untuk belajar pada tugas-tugas yang baru. Dalam responsive evaluation, entry behavior termasuk dalam klasifikasi data antecedent yang dapat berupa status seorang siswa sebelum mengikuti pelajaran seperti : bakat, pengalaman sebelumnya, minat dan kemauan. Hasil belajar dalam cognitive entry behavior  terukur melalui cognitive entry characteristics, affective entry characteristics dan kualitas pembelajaran itu sendiri

Analisis

3.1  Cognitive Entry Behavior

Kemampuan awal (entry behavior) berbeda dengan kamampuan dasar (aptitude). Entry behavior menunjuk pada kemampuan prasyarat (prerequisite background) yang diperlukan sebagai dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dipelajari, yang sifatnya menjurus pada aspek tertentu, sedangkan kemampuan dasar bersifat lebih umum. Dalam merumsukan cognitive entry behavior  maka diperlukan langkah awal persiapan berupa desain cognitive entry behavior plus outputnya sebagai berikut

  • mengidentifikasi entry behavior; outputnya adalah entry behavior calon peserta pelatihan;
  • merumuskan tujuan pembelajaran (objective); outputnya adalah rincian tujuan pembelajaran yang sudah spesifik, operasional dan dapat diukur;
  • menyusun performance test ; tentunya hasilnya adalah berbagai bentuk dan jenis test yang relevan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran tersebut;
  • mengurutkan performance (instructional analysis); dan
  • menentukan aktifitas (strategi: metode, media, waktu) yang relevan untuk pencapaian tujuan pelatihan tersebut;

3.2  Hasil Belajar Matematika di Bidang Kognitif

Kreatifitas adalah hasil belajar dalam kecakapan kognitif, sehingga untuk menjadi kreatif dapat diperoleh melalui hasil belajar, hierarki hasil belajar kecakapan kognitif adalah

  • Informasi non verbal
  • Informasi fakta dan pengetahuan verbal
  • Konsep dan prinsip
  • Pemecahan masalah dan kreatifitas

Informasi non verbal dipelajari dengan cara penginderaan terhadap objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan pengetahuan dipelajari dengan cara mendengarkan orang lain dan membaca. Informasi yang dimaksud adalah mempunyai latar belakang kebudayaan yang sama dan diterima sebagai sesuatu yang betul dan sebagai mana mestinya yang terdiri dari asosiasi bermakna yang tingkatannya rendah dan pengetahuan verbal yang meliputi pengetahuan khusus, pengetahuan cara memperlakukan atau menghadapi pengetahuan khusus dan pengetahuan universal.

Konsep itu penting untuk membentuk sebuah prinsip dan terdapat empat dasar syarat dari sebuah konsep diantaranya :

  • Sifat yang di ukur dan di amati
  • Sinonim , antonim dan makna semantik
  • Hubungan-hubungan logis dan aksioma / definisi yang secara tidak langsung merujuk sifat tertentu
  • Manfaat dan kegunaan

Secara psikologis yaitu suatu konsep sesuai dengan makna konotatif, dimana bertambahnya pengalaman dan pengetahuan konsep yang  dimilikinya tentang sesuatu itu selalu berubah.

Sedangkan prinsip itu penting dalam pemecahan masalah dan kreatifitas. Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan proses berpikir kreatif bisa dilakukan secara ilmiah mengikuti aturan-aturan metode ilmiah dengan memperhatikan kompleksitas masalah. Daya cipta yang melahirkan kreatifitas dalam menghasilkan produk-produk kreasi  merupakan hal yang penting dalam penilaian kreatifitas dengan mewujudkan sesuatu yang baru dalam kenyataan. Yang perlu diperhatikan bahwa kreatifitas bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang sebelumnya, melaiankan suatu produk yang baru bagi diri sendiri dan tidak merupakan suatu keharusan yang baru bagi orang lain. Dengan demikian sebuah kesalahan jika kita mengindikasikan hasil belajar matematika dapat terukur dengan angka. Asumsi yang berkembang bahwa mereka yang berhasil dalam belajar matematika dapat dikategorikan mempunyai tingkat kecerdasan IQ yang tinggi, mungkin ini terlalau cepat dalam mengambil kesimpulan, sebab tingkat kreatifitas seseorang tidaklah sama antara mereka yang tingkat kecerdasan normal atau rendah dengan mereka yang tingkat kecerdasannya tinggi. Oleh karena itu harus bisa dipisahkan antara cerdas dan kratif yaitu cerdas dan kratif , cerdas tetapi tidak kreatif. Untuk membedakannya Gadner dalam teori Multiple Inteligency nya membagi   8 kecerdasan manusia dengan yang dikelompokkan dengan 7 ciri – cirinya  (Pusat Kajian dan Pelatihan SDM, Prima Daya, 2003) sebagai berikut :

1) Kecerdasan Lingusitik, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Mengarang puisi,merangkum pelajaran, menulis kisah sejaran
  • Suka bercerita panjang lebar den berkisah
  • Menyukai permainan kata – kata
  • Suka membaca buku
  • Banyak bicara
  • Cepat menagkap pelajaran yang disampaikan lewat penuturan

2) Kecerdasan Spasial, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Menonjol dalam bidang seni
  • Mampu menggambarkan secara visual segala sesuatu
  • Mudah emmbaca peta, grafik dan diagram
  • Menggambar sesosok orang atau benda sesuai aaslinya
  • Senang melihat film, slide atau foto
  • Menyukai teka – teki jigsaw, maze, puzzle
  • Asyik dengan permainan konstruksi 3 dimensi seperti lego
  • Terbiasa emncoret – coret kertas jika jenuh
  • Lebih mudah membaca gambar dai pada kata

3) Kecerdasan Kinestetis, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Kompetitif dalam bidang olahraga
  • Suka menggerak-gerakkan anggota badan di luar sadar
  • Sangat ingin meyentuh benda yang dipelajari
  • Menikmati gerakan atletik atau sekedar menontonnya
  • Lebih mampu dalam bidang kerajianan tangan motorik halus
  • Suka menirukan gerakan dan kebiasaan orang
  • Gemar membongkar dan menyusun kembali benda-benda

4) Kecerdasan Matematis – Logis, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Menyukai pelajaran berhitung
  • Mudah memahami cara kerja komputer
  • Suka memikirkan hal dan kejadian yang berkaitan sebab akibat
  • Pandai bermain catur, halma dan berbagai permainan strategis lain
  • Menjabarkan segala sesuatu secara logis
  • Cepat memahami pelajaran IPA dan matematika
  • Suka bereksperimen terhadap apa yang ingin diketahui

5) Kecerdasan Musikal, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Mudah mengikuti melodi lagu
  • Menyukai pelajaran musik dan meyanyi
  • Menyukai belajar dengan iringan musik
  • Suka menyanyi baik untuk diperdengarkan maupun tidak
  • Mudah mengikuti irama musik
  • Peka terhdap beragam suara, irama dan nada
  • Cepat merespon berbagai jenis musik

6) Kecerdasan Interpersonal, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan dirinya
  • Lebih suka bekerja sendiri
  • Rasa percaya diri tinggi
  • Berani berbeda dengan orang lain
  • Mampu mengungkapkan perasaan dengan tepat
  • Mampu mengembangkan potennsi dirinya
  • Asyik dengan hobi dan proyeknya sendiri

7) Kecerdasan Intrapersonal, dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Pandai menyenangkan hati teman
  • Medah beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru
  • Suka bersosialisasi dengan lingkungan sekolah dan rumahnya
  • Menyukai kegiatan dan permainan kelompok
  • Bisa memahami dan berempati pada perasaan teman
  • Mampu bersikap netral di tengan pertikaian antar teman
  • Memiliki kemampuan mengkoordinir dan memimpin teman-temannya

8). Kecerdasan Natural dengan ciri – ciri  kecerdasannya antara lain :

  • Peka terhadap benda – benda alam
  • Suka memelihara binatang piaraan
  • Suka berkebun, atau berada disekitar kebun atau menikmati gambarnya
  • Mennikmati sistem kehidupan seperti aquarium
  • Mengoleksi gambar foto yang berkaitan dengan benda – benda alam
  • Suka mengumpulkan dan membawa pulang daun, batang, ranting, atau bunga
  • Suka bermain – main dan berkreasi dengan bahan – bahan alam

Sedangkan Sund (1975) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut (Slameto, 2003:147)  :

  • Hasrat keingintahuan yang cukup besar
  • Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
  • Panjang akal
  • Keinginan untuk menemukan dan meneliti
  • Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit
  • Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
  • Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
  • Berpikir fleksibel
  • Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak
  • Kemampuan membuat analisis dan sintesis
  • Memiliki semangat bertanya dan meneliti
  • Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
  • Memiliki latar belakang membaca yang cukup jelas

Siswono (2008) dalam disertasinya menyatakan bahwa tingkat berpikir kreatis peserta dalam matematika yang valid dan reliabel memiliki lima jenjang :

1) Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 0 ( Tidak Kreatif)

Siswa tidak mampu alternatif jawaban maupun cara penyelesaian atau membuat masalah yang berbeda dengan lancar (fasih) dan fleksibel. Kesalahan penyelesaian suatu masalah disebabkan karena konsep yang terkait dengan masalah tersebut tidak dipahami atau diingat dengan benar.

2) Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 1 ( Kurang Kreatif )

Siswa mampu menjawab atau membuat masalah yang beragam (fasih), tetapi tidak mampu membuat jawaban atau membaut masalah yang berbeda (baru), dan tidak dapat menyelsaiakan masalah dengan cara berbeda-beda (fleksibel).

3) Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 2 ( Cukup Kreatif )

Siswa membuat satu jawaban atau membuat masalah yang berbeda dari kebiasaan umum (“baru”) meskipun tidak fleksibel ataupun fasih, atau siswa mampu menyusun beragai cara penyelesaian ayng berbeda meskipun tidak fasihdalam menjawab maupun membuat masalah dan jawaban yang dihasilkan tidak “baru”.

4) Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 3 ( Kreatif )

Siswa mampu membuat sautu jawaban yang “baru” dengan fasih, tetapi tidak dapat menyusun cara yang berbeda (fleksibel) untuk mendapatkannya atau dapat menyusun cara yang berbeda  (fleksibel) untuk mendapatkan jawaban yang beragam, meskipun jawaban tersebut tidak “baru”. Selain itu siswa dapat membuat masalah yang berbeda(“baru”) dengan lancar (fasih) meskipun cara penyelesaian maslah itu tunggal atau dapat membuat masalah yang beragam dengan cara penyelesaian yang berbeda-beda, meskipun masalah tersebut  tidak “baru”.

5) Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 4 ( Sangat Kreatif )

Siswa mampu menyelesaikan suatu masalah dengan lebih dari satu alternatif jawaban maupun cara penyelesaian dan membuat masalah yang berbeda-beda (“baru”) dengan lancar (“fasih”) dan fleksibel. Dapat juga siswa hanya mampu mendapat satu jawaban yang “baru” (tidak biasa dibuat peserta didik pada tingkat berpikir umumnya) tetapi dapat meyelesaikan dengan berbagai cara (fleksibel).

Namun kenyataannya sering pula ditemui mereka yang mempunyai kecerdasan tinggi tetapi tidak kratif. Untuk mengeksplorasi kemampuan kognitif kita dalam ilmu psikologi kognitif ada dua pendekatan eksplorasi kognitif yaitu investigasi psikologi kognitif dan aplikasi praktis psikologi kognitif. Kedua pendekatan ini merupakan proses cognitive entry behavior  dalam stimulus-respon  hasil belajar matematika.

3.2.1  Investigasi Psikologi Kognitif

3.2.1.1 Konsep Dan Kategori

Konsep merupakan unit fundamental pengetahuan simbolis dan kategori adalah sebuah knsep yang berfungsi untuk mnegorganisasikan atau menunjukkan ekuivalensinya dengan aspek – aspek konsep lain berdasarkan ciri – ciri umum atau kemiripan prototipenya. Dalam mempelajari konsep dan kategori bergantung sebagian pada tugas yang harus mereka lakukan dengan konsep dan kategori tersebut. Sternberg (2008 : 265). Dalam pembelajaran secara strategis sangat fleksibel sifatnya, bergantung sepenuhnya kepada tugas yang harus dikerjakan individu; pembelajaran tidak terjadi dengan sebuah ketaatan seperti ‘satu-ukuran-untuk semua. Artinya makna bukan sekedar seperangkat ciri dimana anak sejak kecil sudah membentuk hakikat objek. Teori – teori in berkembang seiring dengan pertumbuhan usia. Teori memampukan kita melihat makna dengan sangat mendalam lebih daripada sekedar menentukan makna mendasr ciri-ciri yang tampak dari objeknya. Hal tersebut dapat dilihat pada pembelajaran matematika geometri dimana, sejak kecil kita sudah mengenal objek-objek geometri yang kemudian terekan secara visual menjadikan sebuah makna dari onjek-objek tersebut.

3.2.1.2  Pemecahan Masalah Dan Kreatifitas

Sebuah ruang masalahmengandung semua strategi potensial yang beranjak dari kondisi awal masalah menuju solusi. Insight adalah pemahaman yang berbeda dan terkadang muncul mendadak terhadap suatu masalah atau strategi ayng emmbantu penyelesaian masalah. Dalam proses ini muncul pengonsepan ulang sebuah masalah atau strategi yag sifatnya baru tetapi relevan antara informasi lama dengan informasi baru. Dalam teori tiga proses insight terdiri atas tiga jenis (sternberg, 2008:380-382) :

  • Insight pengkodean selektif adalah pemilihan informasi yang relevan dan tidak relevan
  • Insight perbndingan selektif adalah persepsi – persepsi baru tentang bagaimana informasi lama di kaitkan dengan informasi baru
  • Insight pengkombinasian selektif adalah melakukan pengodean dan pembanding secara selektif potongan – potongan informasi yang relevan dan mengkombinasikannya dengan informasi baru dengan cara yang produktif

Aplikasi dalam matematika lebih banyak digunakan dalam penyelesaian masalah – masalah aljabar dan kalkulus dan trigonometri.

3.2.2  Aplikasi Praktis Psikologi Kognitif

3.2.2.1  Penalaran Deduktif

Adalah proses penalaran dari satu atau lebih pernyataan universal terkait dengan apa yang diketahui untuk mencapai satu kesimpulan logis tertentu. Penalaran deduktif merupakan proposisi logis didasarkan pada pernyataan tegas yang bisa benar atau salah dalam sebuah argumen logis premis adalah proposisi yang membentuk argumentasi – argumentas..

  • Penalaran Deduktif Proses Kognitif

Dalam konteks psikologi kognitif,  Sternberg (2008:425) menyatakan penalaran deduktif berguna karena membantu manusia menghubungkan berbagai preposisi untuk mencapai kesimpulan. Beberapa kesimpulan ini masuk akal sementara yang lain tidak. Tetapi sebagian besar kesulitan menalar ini terletak di dalam upaya memahami bahasa masalah – masalah (Girotto, 2004). Beberapa proses mental yang digunakan untuk pemahaman bahasa, dan pemfungsian wilayah-wilayah otak yang mewadahi pengoperasiannya, digunakan didalam proses penalaran ini juga (Lawson, 2004). Dalam pembelajaran matematika hasil belajar dari penalaran deduktif dapat dilakukan dengan mengukur kompetensi logika matematika dari peserta didik.

  • Penalaran Deduktif Proses Entry Behavior

Penalaran deduktif dapat kita tingkatkan dengan mengembangkan strategi-strategi untuk menghindari pembuatan kesalahan. Secara analitik pada proses kognitif penyelesaian masalah dengan menarik kesimpulan melalui modus ponnens, modus tollens, silogisme, maka dalam entry behavior kita dapat meningkatkan efektifitas proses kerja dengan pembalikan negasi-negasi universal. Prosesnya dengan mengambil waktu untuk mempertimbangkan contoh – contoh yang sebaliknya dan menciptakan model-model mental yang lebih banyak. Semakin banyak model-model mental yang kita ciptakan sendiri dengan menggunakan perangkat premis-premis tertentu maka peserta didik akan semakin yakin bahwa jika kesimpulannya tidak valid maka kesimpulan itu tidak akan medapat konfirmasi, sehingga kemungkinan penghindaran kesalahan meningkat. Disamping itu pula peserta didik dapat menghindari bias konfirmasi.

3.2.2.2 Jaringan dan Skema

Jaringan merupakan cara manusia mengoranisasikan konsep, sedangkan skema merupakan pendekatan untuk memahami bagaimana konsep berkaitan di dalam pikikiran.

  • Jaringan dan Skema Proses Kognitif

Skema adalah sebuah kerangka mental bagi pengorganisasian pengetahuan. Skema menciptakan struktur bermakna dari konsep-konsep terkait. Skema bagi psikologi kognitif merupakan sebuah elaborasi yang sangat kaya (Sternberg, 2008: 269)

  • Jaringan dan Skema Proses Entry Behavior

Proses berpikir dalam matematika membentuk model deklaratif dan prosedural dimana dalam menyelasikan sebuah masalah dilakukan proses analisis. Hal ini paling sering dibaut dalam pohon masalah atau jejaring pada teori graf. Analoginya dalam proses berpikir didukung oleh pengalaman – pengalaman yang diperoleh melalui latihan – latihan sehingga proses pembentukan mental dapat terwujud.

3.3 Hasil Belajar Matematika di Bidang Entry Behavior 

Aktivitas perseptual dan intelektual secara konsisten dapat dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan atau strategi yang secara stabil menentukan cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat, berfikir dan memecahkan amsalah, pengaruhnya meliputi fungsi sosial dan fungsi manusia. Kecendrungan analitis lebih refleksif terhdap kemungkinan-kemungkinan dan klasifikasi pilihan dan analisis visual materi-materi yang diterima. Konsep berpikir yang tampak lebih tenang dan tidak bingung dalam membaca dan berpikir induktif cenderung membuat kesalahan yang lebih sedikit. Dalam konteks hasil belajar matematika hasil ini membentuk field dependent dan field independent  yang keduanya mempunyai pengaruh bagi pendidik dan peserta didik sebagai berikut :

3.3.1 Pengaruhnya bagi pendidik

Field dependent menunjukkan pengajaran dan belajar yang lebih baik melalui diskusi dimana pendekatan ini tidak ahnya menekankan pada interaksi sosial melainkan memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik dalam mengatur kelas. Hasil ini dapat dilihat dalam workshop matematika pembelajaran geometri dan aljabar.

Field independent menunjukkan perlakuan kontak dengan peserta didik dalam memperkenalkan topik-topik dengan menggunakan teknik pertanyaan langsung dan terarah, sehingga menghasilkan jawaban yang lebih kritis. Hasil ini dapat dilihat dalam pembelajaran kalkulus, aritmatika sosial, trigonometri dengan menggunakan model Problem Based Learning Inquiry (PBL).

3.3.2  Pengaruhnya bagi peserta didik

Field independent menunjukkan siswa bekerja secara mandiri, dimana feed back lebih banyak diterima, terkecuali hal-hal yang bersifat pribadi. Hasil ini dapat terukur melalui penggunaan metode Problrm Based Learning Inquiry dalam pembelajaran

Field dependent menunjukkan pengaruh belajar yang tergantung pada penguatan yang diberikan oleh pendidik dimana interaksinya terhadap peserta didik memiliki banyak kesempatan untuk mempengaruhi (secara kuat) belajar dan tingkah laku peserta didik sehingga feed back yang diterima jauh lebih besar dari field dependent. Hasil ini dapat muatkan pada ranah afektif sebagai muatan awal temperament dalam pembentukan soft skill pada hasil belajar standar kompetensi matematika.

Jika diaplikasikan dalam pembelajaran matematika maka sebaiknya pendidik menugaskan kepada peserta didik untuk membuat soal sendiri dan menyelesaiakannya sendiri dengan berbagai alternative jawaban yang diketahuinya. Dengan demikian pengembangan entry behavior dapat dilakukan melalui pembelajaran yang menghasilkan perilaku yang diinginkan (attitudes, interests, feeling, sensibility, values, appreciations) melalui pengembangan kemampuan lainnya.

Dalam konteks kognitif stategi pembelajaran matematika dihadapkan dengan ide – ide yang baru mampu mengatasi kebutuhan belajar yang baru, mampu belajar dari kesalahan, memecahkan masalah, berdiri sendiri dan mampu bekerja sama dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang dicapai dalam tujuan pembelajaran. Kegiatan interaktif pendidik dan peserta didik merupakan melalui kegiatan yang variatif, komunikatif dan simbolis merupakan suatu strategi yang diterapkan guna menghasilkan peserta didik memiliki kemampuan yang tinggi (cerdas, terampil, kratif, inovatif, mandiri, dan mampu menyelesaikan masalah) disamping kemampuan sosial yang tinggi pula (bekerja sama, menghargai pendapat orang lain dan rasa sosial yang tinggi).

Secara garis besar aplikasinya dalam pembelajaran matematika guna mencapai hasil belajar yang optimal, maka kegiatannya dapat berupa, (a) Menentukan tujuan-tujuan instruksional atau kompetensi dasar (b) Memilih materi pelajaran (c) Menentukan topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh siswa (d) Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk topik dan yang akan dipelajari siswa (e) Mempersiapkan pertanyaan yang dapat memacu kreatifitas siswa untuk berdiskusi dan bertanya (f) Mengevaluasi proses dan hasil belajar

Dalam konteks entry behavior  matematika diarahkan pada pengembangan perilaku/sikap yang baik dengan strategi pembelajaran antara lain, telling (bercerita), inculating (pembiasaan), persuading (persuasi), modelling (contoh/panutan), role palying (bermain peran), simulating (simulasi), problem solving (pemecahan masalah), discussing (diskusi), inquiry (penemuan), values (klarifikasi nilai dan interlaisasi nilai) dan history (mempelajari biografi tokoh) yang outpunya diharapkan dapat memenuhi confident in themselves (rasa percaya diri), self-esteem (dapat membentuk harga diri) purposeful (bermanfaat) enjoyable (menyenangkan) yang disertai sense of humor

Dalam konteks hasil belajar yang optimal maka dibuat suatu evaluasi berkelanjutan (suaitainability evaluation) dengan kriteria effective mathematics taching environment yang terdiri dari  (1) resources (sumber pembelajaran), (2) individual difference (prinsip pengakuan bahwa peserta didik berada dalam kemampuan dan kecepatan belajar, dimana peserta didik berada dalam dua kemungkinan yaitu berkemampuan dibawah rata – rata sehingga mengalami kesukaran dalam belajar dan berkemampuan di atas rata – rata yang tergolong berkemampuan dan kecerdasan luar biasa), (3) remedial programmes (program remedial), (4) enrichment education programs (program pengayaan),(5) student control (membina kepercayaan diri, menumbuhkembangkan sikap dan perilaku jujur, disiplin mandiri dan dapat menilai kemampuan sendiri)

Secara garis besar aplikasinya dalam  matematika guna mencapai hasil belajar yang optimal, maka kegiatannya dapat berupa (1) Menentukan tujuan instruksional atau kompetensi dasar, (2) Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi “entry behavior” siswa,  (3) Menentukan materi pelajaran (pokok bahasan dan topik), (4) Menyajikan materi pelajaran,  (5) Memberikan stimulus berupa : pertanyaan, tes, latihan dan tugas – tugas,  (6) Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan,  (7) Memberikan penguatan (reinforcement) positif maupun negatif, (8) Memberikan stimulus baru,  (9) Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan melalui evaluasi hasil belajar, (10) Memberikan penguatan dan seterusnya

Dari pemaparan di atas penulis merumuskan secara kualitatif bahwa persentase kontribusi masing-masing yang diberikan melalui Cognitive entry characteristics matematika di asumsikan sebesar 50%, affective entry characteristics matematika diasumsikan sebesar 25% yang dalam hal ini sikap dan kepribadian dan kualitas pembelajaran diasumsikan sebesar 25% sisanya diasumsikan sebesar 10% melalui sejarah keluarga, lingkungan rumah dan latar belakang lain yang menunjang keberhasilan siswa. Dari pemahaman tersebut cognitive entry behavior matematika bila dikelola mampu memberikan keberlangsungan hasil belajar siswa dari waktu ke waktu yang merupakan bagian dari evaluasi keberlanjutan (suistainability evaluation).

Karena konsep – konsep matematika di bangun diatas satu sama lain, maka keterampiilan dasar dalam matematika menjadi sebuah kebutuhan untuk memecahkan masalah dan untuk memahami konsep-konsep lain dalam matematika. Selanjutnya untuk menghindari penghilangan keterampailan pengolahan yang penting peserta didik dilatih untuk mengusai keterampilan dasar dalam kemampuan awal pengalaman belajar, asalkan mereka diberi waktu yang cukup dan intstruksi yang jelas.

Iklan

About aliwear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: