//
you're reading...
Pendidikan

Program Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan

A.Pengantar

Landasan Filosofis

Pendidikan adalah salah satu wujud kebudayaan manusia yang selalu tumbuh dan berkembang, tetapi ada kalanya mengalami penuruann kualitas sehingga hancur perlahan-lahan seiring dengan perkembangan zaman. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengemban misi agar dapat turut mendukung perkembangan kebudayaan pada arah yang positif. Karena itu kurikulum SMK memperhatikan beberapa hal mendasar sebagai berikut :

  • Pendidikan harus menanamkan nilai yang kuat dan jelas sebagai landasan pembentukan watak dan perkembangan kehidupan manusia.
  • Pendidikan harus memberikan sesuatu yang bermakna, baik yang ideal maupun pragmatis, sesuai dengan kebutuhan peserta didik
  • Pendidikan harus memberikan arah yang terencana bagi kepentingan bersama peserta didik, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan menjadi bermakna apabila secara pragmatis dapat mendidik manusia dapat hidup sesuai zamannya. Pendidikan harus dilihat sebagai wahana untuk membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan guna menjalani dan mengatasi masalah kehidupan pada hari esok maupun masa depan yang selalu berubah.

Pendidikan kejuruan perlu mengajar dan melatih peserta didik untuk menguasai kompetensi dan kemampuan lain yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sebagai modal untuk pengembangan dirinya di kemudian hari.

1. Perkembangan Psikologis Peserta Didik

Secara umum, manusia mengalami perkembangan psikologis sesuai dengan pertambahan usia dan berbagai faktor lainnya, yaitu latar belakang pendidikan, ekonomi, keluarga, dan lingkungan pergaulan, yang mengakibatkan perbedaan dalam dimensi fisik, intelektual, emosional dan spiritual. Pada kurun usia perserta didik di SMK, mereka memiliki kecenderungan untuk mencari identitas atau jati diri.

Fondasi kejiwaan yang kuat diperlukan oleh peserta didik agar berani menghadapi, mampu beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah kehidupan, baik kehidupan profesional maupun kehidupan keseharian, yang selalu berubah bentuk dan jenisnya serta mampu meningkatkan diri dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.

2. Kondisi Sosial Budaya

Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pendidikan yang diterima dari lingkungan keluarga (informal), yang diserap dari masyarakat (non formal), maupun yang diperoleh dari sekolah (formal) akan menyatu dalam diri peserta didik, menjadi satu kesatuan yang utuh, saling mengisi, dan diharapkan dapat saling memperkaya secara positif.

Peserta didik SMK berasal dari anggota berbagai lingkungan masyarakat yang memiliki budaya, tata nilai dan kondisi sosial yang berbeda. Pendidikan kejuruan mempertimabangkan kondisi sosial. Karenanya, segala upaya yang dilakukan harus selalu berpegang teguh pada keharmonisan hubungan antar individu dalam masyarakat  luas yang dilandasi  dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta keharmonisan antarsistem pendidikan dengan sistem-sistem yang lain (ekonomi, sosial, politik, religi dan moral). Secara sosial-budaya kurikulum SMK dikembangkan dengan memperhatikan berbagai dinamika, kebutuhan masyarakat, dan tidak meninggalkan akar budaya Indonesia.

Dengan mempertimbangkan faktor budaya, tata nilai dan opini sosiologis masyarakat, kurukulum sekolah kejuruan disusun berdasarkan prinsip diversifikasi, dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan, baik dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah, maupun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, berbagai jenis program keahlian pada pendidikan menengah kejuruan semestinya dapat diterima dan diapresiasi secara positif oleh berbagai kelompok masyarakat di Indonesia.

Landasan Ekonomis

Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang menyiapakan peserta didik menjadi manusia yang produktif yang dapat langsung bekerja dibidangnya setelah melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Dengan demikian, pembukaan suatu program keahlian harus responsif terhadap perubahan pasar kerja. Penyiapan manusia untuk bekerja bukan berarti menganggap manusia semata-mata sebagai faktor produksi, karena pembangunan ekonomi memerlukan kesadaran sebagai warganegara yang baik dan bertanggungjawab, sekaligus sebagai warganegara yang produktif.

Pendidikan menengah kejuruan harus dijalankan atas dasar prinsip invertasi SDM (human capital investment). Semakin tinggi kualitas pendidikan dan pelatihan yang diperoleh seseorang, akan semakin produktif orang tersebut. Akibatnya selain meningkatkan produktifitas nasional, meningkatkan pula daya saing tenaga kerja di pasar kerja global. Untuk mampu bersaing di pasar global, sekolah menengah kejuruan harus mengadopsi nilai-nilai yang diterapkan dalam melaksanakan pekerjaan, yaitu disiplin, taat azas, efektif dan efisien.

Sekolah Menengah kejuruan menyelenggarakan pendidikan diklat berbagai program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Program keahlian tersebut dikelompokkan menjadi bidang keahlian sesuai dengan kelomok bidang industri/usaha/profesi. Penamaan bidang keahlian dan program keahlian dikembangkan dengan mengacu pada nama bidang dan program keahlian yang berlaku pada kurikulum. Jenis keahlian baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada program keahlian yang relevan.

Subtansi atau materi yang diajarkan di SMK disajikan dalam bentuk berbagai kompetensi yang dinilai penting dan perlu bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan sesuai zamannya. Kompetensi dimaksud meliputi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas, pekerja yang kompeten, sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh dunia industri/dunia usaha/asosiasi proesi.

B. Struktur Kurikulum

Untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh industri/ dunia usaha/ asosiasi profesi, subtansi diklat dikemas dalam berbagai mata diklat yang dikelompok dan diorganisasikan menjadi program normatif, adaptif, dan produktif.

1. Program Normatif

Program normatif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk peserta didik menjadi pribadi utuh, yang memiliki norma-norma kehidupan sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial (anggota masyarakat) abik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga dunia. Program normatif diberikan agar peserta didik bisa hidup dan berkembang selaras dlam kehidupan pribadi, sosial dan bernegara. Program ini berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada norma, sikap dan perilaku yang harus diajarkan, ditanamkan, dan dilatihkan pada peserta didik, di samping kandungan pengetahuan dan keterampilan yang ada di dalamnya. Mata diklat pada kelomok normatif berlaku sama untuk semua program keahlian.

2. Program Adaptif

Program adaptif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Program adaptif berisi mata diklat yang menitikberatkan pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk memahami dan menguasai konsep dan prinsip dasar ilmu dan teknologi yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dan atau melandasi kompetensi untuk bekerja.

Program adaptif diberikan agar peserta didik tidak hanya memahami dan menguasai “apa” dan “bagaimana” suatu pekerjaan dilakukan. Program adaptif terdiri dari kelompok mata diklat yang berlaku disemua program keahlian dan mata diklat yang hanya berlaku bagi program keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing program keahlian.

3. Program Produktif

Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dalam hal SKKNI belum ada, maka digunakan standar kompetensi yang disepakati oleh forum yang dianggap mewakili dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif bersifat melayani permintaan pasar kerja, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif diajarkan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian.

C. MasaPendidikan

Masa pendidikan di SMK pada prinsipnya sama dengan masa pendidikan tingkat menengah lainnya yaitu 3 (tiga) tahun. Dengan mempertimbangkan keluasan dan jumlah kompetensi yang harus dipelajari, jika SKKNI menuntut masa pendidikan lebih dari tiga tahun, maka pendidikan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) semester atau sama dengan 4 (empat) tahun.

D. Pelaksanaan

1. Kegiatan Pemelajaran

Pelaksanaan pemelajaran dituangkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.

a. Kegiatan Kurikuler

Kegiatan kurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan struktur kurikulum, ditujukan untuk mengembangkan kompetensi peserta didik, sesuai dengan bidang keahliannya. Kegiatan kurikuler dilakukan melalui kegiatan pemelajaran terstruktur sesuai dengan struktur kurikulum.

b. Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan diklat di luar jam yang tercantum pada struktur kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan  untuk pengembangan bakat dan minat serta untuk memantapkan pembentukan kepribadian peserta didik, antara lain dapat berupa :

  • kepramukaan
  • usaha kesehatan sekolah
  • olah raga
  • palang merah
  • kesenian
  • kelompok debat
  • kegiatan sosial
  • penyelenggaraan kegiatan kesiswaan dan kemasyarakatan
  • dan kegiatan lainnya

Jenis kegiatan yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kebermaknaan bagi peserta didik, keadaan kemampuan sekolah, serta situasi dan kondisi sosial, ekonomi, maupun budaya masyarakat di mana sekolah berada. Kegiatan tesebut dimaksudkan juga untuk lebih mengaitkan dan menerapkan kompetensi yang diperoleh pada program kurikuler dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik seutuhnya.

2. Pendekatan Pemelajaran

Pembelajaran berbasis kompetensi harus menganut prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) untuk dapat menguasai sikap (attitude), ilmu pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skills) agar dapat bekerja sesuai dengan profesinya yang dituntut oleh suatu kompetensi. Untuk dapat belajar secara tuntas, perlu dikembangkan prinsip pemelakaran sebagai berikut :

  • Learning by doing (belajar melalui aktivitas/kegiatan nyata, yang memberikan pengalaman belajar bermakna) yang dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis produksi.
  • Individualized learning (pembelajaran dengan memperhatikan keunikan setiap individu) yang dilaksanakan dengan sistem modular.

Mengingat lulusan SMK dapat bekerja sebagai wiraswastawan atau pegawai, pelaksanaan pemelajaran sesuai dengan pendekatan tersebut di atas dapat dilakukan melalui dua jalur alternatif sebagai berikut :

  • Jalur kelas industri/employee : peserta didik belajar di sekolah dan berlatih di industri
  • Jalur kelas wiraswasta/mandiri/selfemployed : peserta didik belajar dan berlatih berwiraswasta di sekolah dan berusaha secara mandiri.

Pemilihan model pemelajaran kelas industri atau kelas wiraswasta mempertimbangkan minat dan kemampuan peserta didik serta kondisi sekolah, industri serta dinia kerja sekitar sekolah. Yang paling menentukan adalah ada tidaknya kesempatan berwirausaha pada program keahlian yang diminati peserta didik.

3. Pola Penyelenggaraan

Pola penyelenggaraan pendidikan di SMK diselenggarakan secara terpadu diantaranya :

a. Pola Pendidikan Sistem Ganda (PSG)

PSG adalah pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama-sama antara SMK dengan industri/ asosiasi proesi sebagai institusi pasangan (IP), mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi dan sertifikasi yang merupakan satu kesatuan program dengan menggunakan berbagai bentuk alternatif pelaksanaan, seperti day release, block release, dan sebagainya. Durasi pelatihan di industri dilaksanakan selama 4 (empat) bulan sampai dengan 1 (satu) tahun pada industri dalam atau luar negeri. Pola pendidikan sistem ganda diterapkan dalam proses penyelenggaraan SMK dalam rangka lebih mendekatkan mutu lulusan dengan kemampuan yang diminta oleh dunia industri/usaha.

b. Pola multi entry-multi exit

Pola multi entry-multi exit, sebagai perwujudan konsep pendidikan dengan sistem terbuka, diterapkan agar peserta didik dapat memperoleh layanan secara fleksibel dalam menyelesaikan pendidikannya. Dengan pola ini, peserta didk di sekolah kejuruan dapat mengikuti pendidikan secara paruh waktu karena sambil bekerja atau mengambil program/kompetensi diberbagai institusi pendidikan antara lain lembaga kursus, diklat industri, politeknik, dan sebagainya.

c. Pendidikan Jarak Jauh

Dengan pola pendidikan jarak jauh, peserta didik di sekolah kejuruan dapat menyelesaikan pendidikannya tanpa perlu hadir secara fisik di sekolah. Pola ini akan diterapkan secara terbatas hanya bagi mata diklat atau kompetensi yang memungkinkan untuk dilaksanakan sepenuhnya secara mandiri.

d. Bimbingan Konseling

Untuk menjamin terselenggaranya kegiatan  pemelajaran yang efektif dan efisien, sekolah menyelenggarakan bimbingan dan konseling bagi peserta didik. Kegiatan pembimbingan ini pada dasarnya merupakan bentuk layanan untuk  mengungkapkan , memantau dan mengarahkan kemampuan, bakat dan minat peserta didik pada saat penerimaan siswwa baru dan selama proses pemelajaran di SMK, untuk membantu mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja.

e. Perpindahan Sekolah

Peserta didik dimungkinkan untuk pindah pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara, atau sebaliknya, sejauh memenuhi persyaratan sekolah atau satuan pendidikan yang dituju.

E. Evaluasi

1. Konsep Dasar

Evaluasi (penilaian) hasil belajar peserta didik pada dasarnya merupakan bagian integral dari proses pemelajaran, yang diarahkan untuk menilai kinerja peserta didk (memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar) secara berkesinambungan. Pelaksanaan penilaian dapat dilakukan secara langsung  pada saat peserta didk melakukan aktivitas belajar, maupun secara tidak langsuung melalui bukti hasil belajar sesuai dengan kriteria kinerja (performance criteria) yang menitikberatkan pada penialian hasil belajar berbasis kompetensi (competency based assessment) dengan ciri:

  • Menggunakan penialian acuan patokan
  • Diberlakukan secara perseorangan
  • Keberhasilan peserta didik hanya dikategorikan dalam bentuk kompeten dan belum kompeten untuk praktik dan tuntas atau tidak tuntas untuk teori.
  • Dilaksanakan secara berkelanjutan.

Dalam rangaka pengakuan terhadap kompetensi yang telah dikuasai oleh peserta diklat, perlu dikembangkan mekanisme pengakuan sebagai berikut :

  • Verivikasi terhadap hasil penialain pihak unternal SMK oleh pihak eksternal, agar apa yang telah dicapai peserta didik dapat disertifikasi oleh dunia kerja pemakai lulusan yaitu dunia usaha/industri.
  • Recognition of Prior Learning (RPL) atau Recognition of Current Competency (RCC) untuk mendukung pelaksanaan sistem multi entry/multi-exit

Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik dpaat dibagi menjadi penilaian berbasai kelas (Classroom-based assessment), yang merupakan bagian integral dari proses pemelajaran dan penilaian kompetensi, yang berguna untuk mengukur tingkat penguasaan suatu kompetensi atau suatu tahap pemelajaran.

2. Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pemelajaran, yang bertujuan untuk :

  • Memantau kegiatan dan kemajuan belajar peserta didik sebagai bahan masukan untuk perbaikan pemelajaran lebih lanjut
  • Menetapkan sistem pembimbingan guna membantu kelancaran dan keberhasilan belajar peserta didik.
  • Menetapkan penyelesaian suatu tahap pemelajaran sebagai dasar untuk memutuskan kelanjutan pemelajaran tahap berikutnya.

3. Penilaian Kompetensi

Penilaian kompetensi pada dasarnya merupakan penilaian sumatif terhadap ketuntasan pencapaian hasil belajar peserta didik setelah menyelesaiakn satu unit kompetensi. Penilaian tersebut bertujuan untuk menetapkan keberhasilan peserta didik dalam menguasai satu unit kompetensi.

Penilaian yang berkaitan dengan sertifikasi kompetensi dilakukan oleh lembaga sertifikasi independen sesuai dengan keahliannya. Bila lembaga ini belum tersedia sekolah dapat bekerja sama dengan dunia usaha/industri terkait yang mempunyai kredibilitas untuk berperan sebagai pengganti lembaga sertifikasi profesi.

F. Sertifikasi

Disamping ijazah yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dinyatakan sebagai pengakuan terhadap penyelesaian pada jenjang pendidikan SMK atau prestasi belajar peserta didik, ada pula sertifikat kompetensi. Sertifikat kompetensi diberikan kepada peserta didik yang lulus uji kompetensi yang iselengarakan oleh lembaga diklat terakreditasi sebagai penyelenggara uji kompetensi. Sertifikat kompetensi tersebut diterbitkan oleh lebaga sertifikasi, asosiasi proesi, perusahaan/industri,lembaga diklat yang memiliki kreadibilitas dalam bidangnya, atau lembaga diklat yang diberi wewenang oleh lembaga sertifikasinya.

G. Arah Pengembangan

Pendidikan menengah kejuruan memiliki peran untuk menyiapakan peserta didik agar siap bekerja, baik bekerja secara mandiri (wiraswasta) maupun mengisi lowongan pekerjaan yang ada. Oleh karena itu pengembangan pendidikan kejuruan diorientasikan pada pemenuhan pasar kerja. Secara makro arah pengembangan pendidikan menengah kejuruan mengacu pada prinsip demand driven seperti yang tertuang dalam buku Menuju Keterampilan 2020.

Sebagai institusi pendidikan yang menyiapkan tenaga kerja SMK dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh dunia kerja. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi dan daya saing yang tinggi. Atas itu pengembangankutikulum harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dunia kerja yang dirancang dengan menggunakan berbagai pendekatan.

1. Pendekatan Akademik

Kurikulum merupakan perangkat pendidikan yang secara sadar dirancang sesuai dengan kaidah-kaidah kekurikuluman. Kaidah-kaidah yang harus diikuti dalam penyusunan kurikulum antara lain adalah sebagai berikut :

  • Kurikulum harus berisi rancangan pendidikan dan pelatihan yang menyeluruh dan terpadu.
  • Kurikulum harus mengandaung komponen tujuan, isi atau materi dan evaluasi yang dirancang menjadi satu kesatuan yang utuh.
  • Kurikulum secara jelas menunjukkan tujuan langsung (tersurat) dan tujuan tidak langsung (tersirat)

2. Pendekatan Kecakapan Hidup (live skill)

Isu yang mengemuka dewasa ini adalah adanya kesenjangan antara sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Sehingga timbul persepsi bahwa apa yang dipelajari di sekolah, merupakan hal lain yang terjadi di masyarakat, sehingga disinyalir sekolah semakain menjauhkan peserta didik dari dunia nayatanya dimana ia hidup dan bermasyarakat. Oleh karena itu, agar peserta didik dapat mengenal dengan baik dunianya dan dapat hidup wwajar di masyarakat, perlu dibekali kecakapan hidup (live skill) yang meliputi : a) kecakapan personal (personal skills); b) kecakapan sosial (social skills); c) kecakapan akademik (academic skill); dan kecakapan vokasional

3. Pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi (competency-based curriculum)

Kompetensi (competency) mengandung makna kemampuan seseorang yang diisyaratkan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu pada dunia kerja dan ada pengakuaan resmi atas kemampuan tersebut. Dalam lingkup pendidikan menengah kejuruan pengertian kurikulum berbasis kompetensi dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Kurikulum berbasis komptensi diartikan sebagai rancangan pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi yan gberlaku di tempat kerja.
  • Subtansi kompetensi memuat pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap (attitude)
  • Isi atau materi kurikulum yang dirancang dengan pendekatan berbasis kompetensi dioragnisasikan dengan sistem modular (satuan utuh), ditata secara sekuensial dan sistemik.
  • Ada korelasi langsung antara penjenjangan jabatan pekerjaan di duania kerja dengan pentahapan pencapaian kompetensi sekolah sekolah kejuruan.

4. Pendekatan Kurikulum Berbasis Luas dan Mendasar (broad-based curriculum)

Kurikulum berbasis luas dan mendasar adalah rancangan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami dan menguasi konsep, prinsip, dan keilmuan yang melandasai suatu bidang keahlian. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami dan menguasi “apa” (know what) dan “bagaimana” (knoww how) suatu pekerjaan dilakuakn, tetapi harus sampai kepada pemahaman dan penguasaan tentnag “mengapa (know why) dilakuakan. Oleh karena itu,pengembangan kurikulum tidak hanya diarahkan agar peserta didik dapat beradaptasi dan mengalihkan/transfer kompetensi, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan lain yang dimiliki ke dalam situasusi dan kondisi yang berbeda.

5. Pendekatan Kurikulum Berbasis Produksi (production-based curriculum)

Pemelajaran berbasis produksi (production-based learning/training) adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang menyatu pada proses produksi atau menggunakan proses produksi sebagai media pemelajaran. Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan terutama untuk memperkenalkan peserta didik dengan iklim kerja yang nyata. Pelaksansaan pemelajaran bisa dilakukan dengan cara antara lain sebagai berikut :

  • Di dunia industri, peserta didik mendapat pelatihan dan pengalaman nyata melalui keterlibatan langsung dalam proses produksi sebagai media pendidikan.
  • Di sekolah, peserta didik dilibatkan dalam proses produksi di unit produksi sekolah
  • Di sekolah, peserta didik berpraktik di ruang praktikum yang menerapkan mekanisme produksi, sehingga tercipta suasana kerja seperti di industri. Pelatihan harus menghasilkan produk yang memenuhi standar industri dan layak jual.

H. Diversivikasi Kurikulum

Penerapana prinsip diversifikasi kurikulum pada lingkup pendidikan menengah kejuruan diartikan sebagai pemberian peluang yang lebih laus kepada daerah, baik tingkat propinsi maupun kota/kabupaten atau sekolah untuk mengembangkan kurikulum sesuai tuntutan dunia kerja, kondisi dan kehasan potensi daerah dimana sekolah berada dengan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan.

1. Kurikulum Nasional

Kurikulum nasional SMK disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Standar Kompetensi Kerja Nasioanal Indonesia (SKKNI). Kurikulum nasional pada dasarnya merupakan tolak ukur kualitas yang harus dicapai pendidikan menengah kejuruan.

Perumusan standar kompetensi pada pendidikan vokasional/sekolah kejuruan mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja nasional Indonesia (SKKNI) model RMCS (Regional Model Competency standar) yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BSNP) sebagai berikut :

a. Karakteristik SKKNI Model RMCS yang bersifat generic :

  • Identifikasi rincian bidang produksi industry yang secara lengkap mulai dari bisnis yang tersebar
  • Identifikasi tugas – tugas (duties) yang perlu dilaksanakan untuk mengoperasionalkan bidang – bidang produksi tersebut
  • Tugas – tugas yang telah diidentifikasi adalah embrio dari satuan unit – unit SKKNI
  • Mengikuti format baku
  • Tertulis
  • Transferable dan portable
  • Dapat dilaksanakan diberbagai organisasi dengan aktivitas yang sejenis
    • Tidak tergantung pada peralatan dan bahas yang diguanakan
    • Dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk berbagai tujuan seperti modul pelatihan, sertifikasi, artikulasi, kualifikasi, jabatan, struktur organisasi dll
    • Mudah digabungkan dan disesuaikan
    • Standar industri
    • Memuat konteks aplikasi
    • Tidak ada duplikasi dan mudah di kaji ulang
    • Mendorong kemampuan professional
    • Ruang untuk pengembangan aplikasi ditempat kerja ( SOP )
    • Mengacu kepada peraturan / norma – norma umum / pemerintah

b. Dimensi Kompetensi

Konsep kompetensi (dalam SKKNI) tidak terbatas pada keterampilan kerja dalam artian yang sempit namun mengandung 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu :

  • Keterampilan Melaksanakan Pekerjaan (Task Skills). Menunjukkan kemampaun seseorang meyelesaikan tugas – tugas dalam pekerjaan yang diuraikan dalam criteria unjuk kerja
  • Keterampilam Mengelola Pekerjaan (Task management Skills). Menunjukkan kemampuan  seseorang untuk mengelola beberapa pekerjaan. Baisanya digunakan oleh seseorang dalam merencanakan pekerjaan sekaligus dengan menginterpretasikan beberapa tugas – tugas  lainya untuk menghasilkan pekerjaan yang lengkap
  • Keterampilan Mengelola Keadaan Darurat / diluar Rutinitas  Pekerjaan (Contigency Management Skills). Meliputi kemampuan untuk terhadap ketidak-teraturan dan gangguan rutinitas, termasuk keterampilan yang digunakan dalam pekerjaan sehari – hari sehingga dapat menghadapai ketidak-teraturan, ketidak-sempurnaan dan hal – hal yang tidak dapat diketahui.
  • Keterampilan Memenuhi tuntutan Pekerjaan / Lingkungan Kerja (Job/Role Environment Skills). Keterampilan yang bias digunakan untuk memenuhi tanggung jawab serta ekspektasi dari lingkungan pekerjaan dan untuk dapat bekerja sama dengan orang lain. Hal ini termasuk berinteraksi dengan orang dari dalam maupun luar perusahaan seperti rakan sejawat, pelanggan, nasabah dan khalayak umum. Kapasitas bekerja sama dengan orang lain serta beradaptasi terhadap berbagai macam situasi dan tuntutan pekerjaan disetiap perusahaan menjadi kunci kesuskesan kerja.
  • Kemampuan Beradaptasi dengan Situasi Tempat Kerja Baru (Transfer Skills). Kemampuan melakukan transfer terhadap aplikasi pengetahuan dan keterampilan pada situasi maupun konteks yang baru.

Merujuk dari lima pedoman di atas ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan  kompetensi :

  • Luasan dan Kedalaman Materi. Kompetensi yang dimuat dapat didefinisikan dan terukur serta memiliki kemampuan transfer dengan daya muatan yang luas dari penerapan pengetahuan dan keterampilan dapat dipergunakan pada lapangan kerja
  • Ukuran. Setiap kompetensi memiliki kompleksitas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang berbeda tertuang dalam perbedaan batasan aktivitas yang dilaksanakan.
  • Transferability. Setiap komptensi beberapa diantaranya memiliki kesamaan yang dapat dipergunakan melintasi batasan lingkup kerja yang berbeda sehingga kompetensi yang disusun cukup fleksibel dalam konteks yang spesifik.
  • Keterkaitan. Setiap kompetensi saling ketergantungan dengan yang lain dalam bidang pekerjaan yang sama, maka disusun fungsi – fungsi yang terpisah bersifat holistic.

2. Kurikulum Implementatif

Kurikulum implementatif adalah kurikulum nasional yang bila dianggap perlu disesuaikan dengan kepentingan daerah, baik tingkat propinsi maupun kota/kabupaten, dan lingkungan di mana sekolah berada. Sinkronisasi kurikulum dapat dilakukan dengan ruang lingkup antara lain :

  1. Menyesuaikan ruang lingkup kompetensi denga kebutuhan institusi pasangan dalam maupun luar negeri
  2. Menambah atau mengurangi topik/materi pemelajaran
  3. Menyesuaikan cara pencapaian standar kompetensi dengan situasi serta kondisi daerah dan lingkungan di mana sekolah berada

Dalam satu sekolah dimungkinkan diterapkan lebih dari satu kurikulum implementatif bagi program keahlian yang sama.

About these ads

About Ali Sadikin Wear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 588 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: