//
you're reading...
Sosial Politik

MODAL SOSIAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI REGIONAL

A. Pendahuluan

Teori pertumbuhan ekonomi yang kita kenal melalui buku buku teks selalu menyebut tiga modal yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan suatu wilayah yaitu: modal alam, modal fisik (uang dan bangunan), dan modal manusia. Ketiga macam modal tersebut seolah olah sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, sehingga setiap negara idealnya memiliki ketiga modal tersebut (Iyer 2005). Analisis seperti ini sangat umum dilakukan para ekonom terutama dari aliran Neo-klasik. Luput dari analisis ini adalah interaksi para aktor ekonomi di pasar. Interaksi yang dimaksud meliputi upaya membangun jaringan, transaksi, dan proses entertain yang merupakan kebiasaan dalam dunia usaha. Mungkin interaksi ini dianggap sebagai wilayah budaya dan sosial yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan produktivitas sehingga diabaikan dalam analisis ekonomi neoklasik. Hubungan budaya dengan kemakmuran ekonomi sebenarnya sudah pernah ditulis Max Weber dalam karya klasiknya tentang Etika Protestan dan Kapitalisme. Setelah itu muncul beberapa karya tentang hubungan budaya dan ekonomi namun tidak setenar karya Weber. Pada intinya kajian budaya dalam pembangunan menekankan bahwa keberhasilan suatu masyarakat tidak hanya tergantung pada sumber daya alamiah seperti yang banyak dikutip buku teks tapi sumber daya masyarakat sipil ikut menentukan pertumbuhan ekonomi (Scheneider 2000).

Hal ini menunjukkan bahwa ada sumber daya lain di luar modal fisik dan modal manusia yang berperan dalam pembangunan ekonomi. Walaupun pada awalnya terjadi perbedaan pandangan antara para ekonom dan ahli ilmu sosial lain tentang peran faktor non-ekonomi, namun pada akhirnya mereka sepakat bahwa yang sering dilupakan dalam analisis pertumbuhan ekonomi adalah “modal sosial” (social capital). Modal sosial (bisa bagian dari budaya) memainkan peran penting dalam masyarakat sebagai aset sosial yang memungkinkan individu dan masyarakat bekerja secara lebih efisien. Jika suatu masyarakat berhasil menggalang kepercayaan yang kuat antar anggota, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan modal uang yang lebih sedikit. Sebelum melangkah lebih lanjut ada baiknya kita perlu mengetahui arti modal sosial.

Ada beberapa contoh yang dapat membawa kita pada pemahaman modal sosial. Misalnya, dalam buku teks kita belajar bahwa seleksi tenaga kerja dilakukan secara ketat karena ingin mendapatkan kualitas tenaga yang terbaik, namun dalam kenyataan yang terjadi adalah sering seseorang memasukan teman atau kenalan mereka. Jika seseorang mengalami masalah financial, mereka pertama kali akan menoleh pada keluarga atau kenalan untuk mendapat bantuan. Hal ini dianggap wajar karena setiap orang akan membangun jaring pengaman sosial (social safety net) yaitu mengidentifikasi orang yang bisa mempercayai dan bersedia membantu. Tentu dasar hubungan seperti ini adalah pemahaman norma bersama. Orang tua murid terlibat dalam organisasi persekolahan karena ingin mendapat jaminan kualitas pendidikan yang baik demi masa depan generasi berikut. Di wilayah pedesaan banyak keluarga sering duduk berbincang bincang dengan tetangga, teman, dan kenalan tentang berbagai hal. Kebiasaan ini meningkatkan solidaritas sosial dan juga sebagai wahana pertukaran informasi antar mereka sehingga terjadi distribusi pengetahuan dan ketrampilan di dalam komunitas.

B. Definisi Modal Sosial

Modal sosial sudah banyak ditulis dalam berbagai buku dan jurnal namun masih banyak orang yang belum paham dengan baik tentang makna modal sosial. Defenisi modal sosial sangat beragam, namun secara umum modal sosial dapat dimaknai sebagai institusi, hubungan, sikap dan nilai yang memfasilitasi interaksi antar individu antar kelompok masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan ekonomi dan pembangunan masyarakat itu sendiri (Iyer 2005). Ada beberapa tokoh yang berperan memperkenalkan konsep modal sosial dalam karya-karya mereka seperti Bourdieu, Coleman dan Putnam (Sabatini 2005). Menurut Bourdieu ada 3 d imensi modal yang berhubungan dengan kelas sosial yaitu: modal ekonomi, modal kultural, dan modal sosial. Bourdieu adalah ilmuan sosial dari aliran Neo -Marxis yang mengaitkan modal sosial dengan konflik kelas. Modal sosial bagi Bourdieu adalah relasi sosial yang dapat dimanfaatkan seorang aktor dalam rangka mengejar kepentingannya. Dengan demikian modal sosial bisa menjadi alat perjuangan kelas.

Bourdieu (1986) mendefinisikan modal sosial sebagai sumber daya yang dimiliki seseorang ataupun sekelompok orang dengan memanfaatkan jaringan, atau hubungan yang terlembaga dan ada saling mengakui antar anggota yang terlibat di dalamnya. Dari definisi tersebut ada dua hal yang perlu mendapat perhatian dalam memahami modal sosial yaitu: pertama, sumber daya yang dimiliki seseorang berkaitan dengan keanggotaan dalam kelompok dan jaringan sosial. Besarnya modal sosial yang dimiliki seseorang tergantung pada kemampuan orang tersebut memobilisasi hubungan dan jaringan dalam kelompok atau dengan orang lain di luar kelompok. Kedua, kualitas hubungan antar aktor lebih penting daripada hubungan dalam kelompok (Bourdieu 1986). Bourdieu melihat bahwa jaringan sosial tidak bersifat alami, melainkan dibentuk melalui strategi investasi yang berorientasi kepada pelembagaan hubungan kelompok yang dapat dipakai sebagai sumber untuk meraih keuntungan. Karya Bourdieu walaupun monumental tapi kurang dikenal luas kecuali oleh mereka yang bisa berbahasa Perancis. Modal sosial baru menjadi perhatian setelah Coleman menulis tentang topik ini.

Coleman melengkapi kajian Bourdieu dengan melihat modal sosial berdasarkan fungsinya. Menurutnya, modal sosial mencakup dua hal yaitu: (1) modal sosial mencakup aspek tertentu dari struktur sosial; dan (2) modal sosial memfasilitasi pelaku (aktor) bertindak dalam struktur tersebut. Lebih lanjut Coleman juga mengembangkan pemahaman modal sosial yang meliputi asosiasi (hubungan) vertikal dan horisontal. Asosiasi vertikal ditandai dengan hubungan yang bersifat hirarkis dan pembagian kekuasaan yang tidak seimbang antar anggota masyarakat. Hubungan semacam ini mempunyai konsekuensi positif maupun negatif. Sedangkan asosiasi horisontal adalah hubungan yang sifatnya egaliter dengan pembagian kekuasaan yang lebih merata (Coleman 1998). Tokoh yang paling sering disebut memperkenalkan konsep modal sosial adalah Robert Putnam. Putnam menjabarkan modal sosial sebagai seperangkat asosiasi antar manusia yang bersifat horisontal yang mencakup jaringan dan norma bersama yang berpengaruh terhadap produktivitas suatu masyarakat. Intinya Putnam melihat modal sosial meliputi hubungan sosial, norma sosial, dan kepercayaan (trust) (Putnam 1995).

Penekanan modal sosial adalah membangun jaringan (networks) dan adanya pemahaman norma bersama. Namun perlu disadari pemahaman norma bersama belum cukup menjamin kerjasama antar individu karena bisa saja ada yang tidak taat (moral hazard). Oleh karena itu dibutuhkan sanksi sosial yang bersifat informal sehingga kualitas hubungan dan interaksi sosial tetap terjaga dengan baik.

Sanksi sosial dimaksudkan agar tidak terjadi deviasi terhadap norma yang ada (Coleman 1998; Iyer 2005). Disini modal sosial yang dimaksud adalah sistem nilai yang dianut bersama dan aturan tentang perilaku sosial masyarakat yang di dalamnya sudah meliputi kepercayaan dan tanggung jawab sosial. Lebih lanjut modal sosial berpengaruh terhadap lingkungan sosial dan lingkungan politik yang kemudian ikut membentuk norma tentang kepemerintahan, aturan hukum, dan kebebasan politik (North 1990).

Dari berbagai uraian di atas tekanan berbagai definisi modal sosial adalah sebagai kepercayaan, norma, dan jaringan yang memungkinkan anggota komunitas bertindak kolektif. Definisi modal sosial yang telah dipaparkan memang sederhana tapi perlu kritis melihatnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan berbagai defenisi yang telah kita pelajari. Pertama, definisi di atas fokus pada sumber modal sosial dan bukan akibat modal sosial (Portes 1998). Norma dan jaringan dapat dianggap sebagai sumber modal sosial. Tentu di sini karakteristik modal sosial seperti kepercayaan dan reprositas sudah tercakup di dalamnya. Kedua, berbagai definisi di atas membuka peluang dimasukannya berbagai dimensi modal sosial yang memungkinkan pemahaman modal sosial menjadi lebih kompleks. Selain itu, ada asumsi teoretis bahwa setiap komunitas mempunyai akses yang sama terhadap modal sosial.

Definisi modal sosial memberi kesan bahwa suatu masyarakat dapat mengisolir diri dan akan mampu bertahan jika mempunyai modal sosial yang kuat. Pandangan isolasionis seperti ini lebih memilih memenuhi semua kebutuhan dari sumber yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Pandangan ini tidak salah namun kita perlu menyadari bahwa ada sisi negatif dari pemahaman modal sosial yang sempit. Misalnya, suatu masyarakat karena lebih mementingkan pemenuhan kewajiban sosial, mereka kurang memperhatikan peningkatan ekonomi rumah tangga sehingga mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan rumah tangga. Ini adalah salah satu kritik kelompok neo-klasik terhadap konsep modal sosial. Menurut kelompok neo-klasik, interaksi sosial individual dianggap sebagai tindakan tidak rasional karena biaya sosial dan uang cukup besar namun produktivitas individu terus menurun (Woolcock 2000).

C. Jenis Modal Sosial

Para sosiolog dan ekonom membedakan 3 macam modal sosial :

Pertama, bonding social capital atau jika diterjemahkan secara bebas adalah modal sosial yang bersifat mengikat. Bonding social capital adalah suatu bentuk modal sosial yang memperhatikan kesamaan dan memungkinkan jaringan kerjasama antar anggota dalam kelompok dan antar angota dalam suatu perkumpulan (club). Karakteristik utama bonding social capital adalah potensi kekuasaannya berkaitan erat dengan besaran kelompok. Semakin besar anggota suatu perkumpulan semakin bagus modal sosial di sana. Namun harus dipahami bahwa tidak selamanya bonding social capital baik bagi pembangunan ekonomi. Dalam berbagai kasus asosiasi horisontal tidak selamanya tumbuh dengan baik karena bisa saja muncul kepentingan pribadi dengan melakukan lobi lobi khusus yang menguntungkan diri sendiri tapi merugikan masyarakat secara menyeluruh.

Kedua, bridging social capital, atau jika diterjemahkan secara bebas adalah modal sosial yang bersifat menjembatani. Bridging social capital melihat hubungan anggota suatu kelompok dengan kelompok lain dan bukan hubungan dengan sesama anggota dalam kelompok yang sama. Hubungan dalam bridging social capital lebih longgar dibanding dengan hubungan dalam bonding social capital. Modal sosial yang bersifat menjembatani sangat bermanfaat dalam pembangunan ekonomi karena melibatkan anggota dari berbagai macam kelompok. Modal sosial semacam ini lebih sulit diperoleh baik di negara maju dan negara berkembang. Minimnya modal sosial ”bridging” sangat berpotensi menyulut konflik antar kelompok sosial karena kurang adanya interaksi antar kelompok. Barangkali konflik antar kelompok agama di beberapa wilayah di Indonesia karena kurangnya bridging social capital. Ada kecenderungan komunitas masyarakat miskin lebih mengembangkan bonding social capital dari pada bridging social capital.

Ketiga, linking social capital. Linking social capital dapat diterjemahkan sebagai modal sosial yang menghubungkan. Linking social capital adalah modal sosial yang mencoba menghubungkan berbagai kelompok sosial dalam strata yang berbeda. Modal sosial linking menghubungkan satu kelompok atau satu individu dengan individu lain secara vertikal. Modal sosial seperti ini lebih menjelaskan hubungan yang dibangun berdasarkan kelas sosial atau atas dasar bawahan dan atasan. Memang agak sulit membayangkan bagaimana modal sosial bisa terbentuk untuk dua individu yang berbeda status ekonominya. Biasanya dalam bentuk hubungan saeperti ini kelompok yang berada dalam posisi yang lebih tinggi lebih banyak diuntungkan sehingga relasi yang terbentuk cenderung antagonis.

Rangkuman

Dalam bab ini kita mempelajari apa yang dimaksud dengan modal sosial. Berbicara tentang definisi modal sosial ada 3 elemen penting yang sering muncul dalam setiap definisi yaitu, jaringan, norma, dan kepercayaan. Disini modal sosial dibedakan dengan dua modal yang lain seperti, modal fisik, dan modal manusia. Modal fisik sendiri masih dibedakan antara modal uang dan modal bangunan. Selain itu dalam bab ini kita mempelajari pula 3 jenis modal yaitu, modal sosial bonding, modal sosial bridging, dan modal sosial linking. Modal sosial bonding membuat sekat sosial yang kuat terhadap anggotanya, modal sosial bridging memungkinkan anggota kelompok berinterksi dengan kelompok yang lain, sedang modal sosial linking memungkinkan relasi antar anggota dalam strata sosial yang berbeda.

Diklat Teknis LAN

About these ads

About Ali Sadikin Wear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 588 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: