//
you're reading...
Pendidikan

Komunikasi Efektif dalam Interaksi Dosen dan Mahasiswa

I. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Perguruan tinggi adalah sebuah sistem yang terdiri dari berbagai macam elemen/unsur yang salah satu tonggak utamanya adalah terjadinya interaksi dosen dengan mahasiswa. Interaksi tersebut menurut “pakem”nya dapat dilihat dari sisi formal dan sisi non formal. Sisi formalnya adalah terjadi pada saat dosen menjalankan fungsi  utamanya sebagai  pebelajar yang harus merencanakan, melaksanakan dan menilai keberhasilan mahasiswa dalam rangka mendapatkan pengetahuan, kemahiran dan keterampilan. Implementasi aktivitas tersebut adalah terjadi pada saat dosen mengajar, membimbing skripsi, perwalian/bimbingan akademik dan sebagainya. Sedangkan pada sisi non formalnya tugas dosen adalah membantu mahasiswa untuk mendapatkan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial di luar kegiatan formal tadi, seperti menanamkan kepribadian dan jati diri mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat.
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya peningkatan kualitas pendidikan yang sekarang ini sedang menjadi sorotan dan harapan banyak orang di Indonesia. Wujud dari proses pendidikan yang paling riil terjadi di lapangan dan bersentuhan langsung dengan sasaran adalah berupa kegiatan belajar mengajar pada tingkat satuan pendidikan. Kualitas kegiatan belajar mengajar atau sering disebut dengan proses pembelajaran tentu saja akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang output-nya berupa sumber daya manusia.
Kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar kepada pembelajar. Dalam pembelajaran terjadi proses komunikasi untuk menyampaikan pesan dari pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar pesan dapat diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman serta perubahan tingkah laku. Dengan demikian keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat tergantung kepada efektifitas proses komunikasi yang terjadi dalam pembelajaran tersebut.
Banyak pendapat dari berbagai pakar mengenai definisi komunikasi, namun jika diperhatikan dengan seksama dari berbagai pendapat tersebut mempunyai maksud yang hampir sama. Menurut Hardjana, sebagaimana dikutip oleh Endang Lestari G (2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, atau bersama dengan, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris disebut communion, yang mempunyai makna kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau berteman. Dengan demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus. Selain definisi yang telah disebutkan di atas, pemikir komunikasi yang cukup terkenal yaitu Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detail. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.(Suranto : 2005)
Kemampuan berkomunikasi pada dasarnya merupakan kompetensi paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar waktu sejak bangun pagi hari untuk berkomunikasi. Itu sebabnya kita merasa bahwa komunikasi sama mudahnya seperti kita menghela napas. Komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Misalnya, kita jarang secara khusus belajar bagaimana cara menulis, membaca dengan cepat, berbicara secara efektif, atau kita bahkan tidak  merasa perlu menjadi pendengar yang baik. Padahal, semua kemampuan itu penting artinya dalam interaksi kita sebagai makhluk sosial.
Dosen dalam melakukan interaksi dengan mahasiswa baik secara formal dan non formal menggunakan pendekatan  pedagogy ( anak-anak) dan bukannya andragogy (orang dewasa). Padahal seperti yang diketahui bahwa mahasiswa adalah orang dewasa yang memiliki  karakteristik yang berbeda dengan anak-anak Selain kurangnya pendekatan andragogy yang dilakukan dosen dalam berinteraksi dengan mahasiswa, faktor lain yang menyebabkan konflik antara dosen dengan mahasiswa adalah terabaikannya pertimbangan moral dan etika  oleh masing-masing pihak baik dosen dan mahasiswa. Dosen kadang melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan keinginan sendiri (ego) atau keinginan institusinya yang diterjemahkan secara kaku, sementara mahasiswa cenderung berlaku sesuai dengan ideologi (kebebasan) yang dianutnya serta memandang prinsip kesetaraan yang kadang mengabaikan etiket.
Dua faktor tersebut diatas merupakan sumber utama dari disharmonisasi interaksi dosen dengan mahasiwa yang sering menjadi “lingkaran setan” dalam kehidupan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, dalam uraian di bawah ini akan disampaikan beberapa penawaran interaksi dosen dengan mahasiswa yang ideal melalui  pendekatan disiplin, kejuangan dan kreativitas. Berdasarkan uraian diatas ternyata tidak sedikit proses komunikasi antara dosen dan mahasiswa terutama dalam proses pembelajaran, banyak mengalami hambatan sehingga menimbulkan konflik terbuka dan terpendam yang selalu mewarnai interaksi dosen dengan mahasiswa. Untuk itu perlu dibahas tentang komunikasi efektif dalam interaksi dosen dan mahasiswa.
TUJUAN
Tujuan dari penulisan ini memberikan gambaran yang baik dalam komunikasi efektif dalam proses pembelajaran
RUANG LINGKUP
Berdasarkan tujuan diatas maka ruang lingkup masalah difokuskan pada :
•    Komunikator
•    Komunikan
•    Pesan
•    Media & Metode yang digunakan
II.  GAMBARAN  KEADAAN
GAMBARAN MASALAH YANG DIKAJI
Secara  teoritis adalah mudah melihat dan memaparkan interaksi dosen dengan mahasiswa namun hal tersebut menjadi sesuatu yang “naif” untuk diterima begitu saja. Sesungguhnya,  interaksi dosen dengan mahasiswa tidak se harmonis dan semudah yang dibayangkan. Contoh terkecil adalah ketidakpuasan mahasiswa terhadap dosen yang “tidak jelas” dalam mentransfer ilmu, kurangnya transparansi dalam pemberian nilai, penerapan disiplin yang berlebihan/kaku (dalam istilah populer “killer”) hingga penentangan secara sporadis dan ‘lantang” atas kebijakan yang diterapkan oleh institusi atas nama dosen yang menjabat struktural. Celakanya konflik tersebut kadang mandeg atau tidak terselesaikan karena masing-masing pihak berpihak pada keyakinan kebenaran masing-masing. Dosen kadang bersembunyi di balik segudang aturan dan etika. Sementara mahasiswa berpedoman pada kebebasan dan “hak” mereka atas pelayanan yang seharusnya diterima. Konflik yang tidak terselesaikan inilah yang kadang menimbulkan apatisme pada diri mahasiswa dan dosen dalam berinteraksi.  Bila dibiarkan maka kelanjutan dari fenomena tersebut tentunya akan mengganggu jalannya sistem pembelajaran dan pendidikan yang berdampak pada hasil pembelajaran dan tujuan pendidikan.
Dalam penyampaian materi perkuliahan dan pelatihan kepada peserta didik/audien, ada beberapa factor yang perlu dipertimbangkan, diantaranya adalah peserta didik, ruangan kelas, metode dan materi itu sendiri. Untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada suatu perkuliahan atau pelatihan, metode pembelajaran dan komunikasi harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam setiap proses pembelajaran. Metode pembelajaran dan komunikasi tidak selalu harus sama untuk setiap materi. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan teknik dan model komunikasi seperti apa yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan  komunikasi efektif dalam interaksi dosen dan mahasiswa.
SASARAN PERMASALAHAN YANG DIINGINKAN
Komunikasi yang yang efektif akan terwujud jika terdapat kesamaan makna antara pesan atau informasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi. Hal ini dapat dicirikan sebagai berikut:

  • Langsung keinti persoalan tanpa keraguan dalam menyampaikan pesan.
  • Asertif dan bersahabat.
  • Isi pesan jelas dan mudah dipahami.
  • Terbuka, dalam artian tidak ada pesan dan makna yang bersembunyi.
  • Dapat berlangsung secara lisan dan tulisan.
  • Komunikasi dua arah responsif dan nyambung.
  • Jujur dalam mengungkapkan gagasan, perasaan atau kebutuhan sesungguhnya.

Dari proses komunikasi diatas ada beberapa indikator yang harus diperhatikan dalam proses komunikasi yaitu :

  • Pengetahuan yang terdiri dari aspek kognitif dan psikomotorik.
  • Pengalaman antara lain kepribadian, respek, empati, sosial budaya.
  • Kecerdasan  terdiri dari IQ dan ESQ.
  • Psikologis yang terdiri dari mental dan karakter.
  • Biologi antara lain kontak mata, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan jabat tangan dan tampilan fisik.
  • Ruang dan waktu.

III.  INDENTIFIKASI  ANALISIS  ALTERNATIF
IDENTIFIKASI
Masalah yang timbul dalam komunikasi umumnya dikatakan sebagai noise atau gangguan sehingga pesan yang dikirim mengalami keterlambatan atau delay. Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.  Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna). Tabel dibawah menyajikan ketiga macam gangguan ini secara lebih rinci.

Gangguan dalam komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung gangguan, dan walaupun kita tidak dapat meniadakannya sama sekali, kita dapat mengurangi gangguan dan dampaknya. Menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan keterampilan mendengarkan dan menerima serta mengirimkan umpan balik adalah beberapa cara untuk menanggulangi gangguan.Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Pada setiap tindak komunikasi selalu ada konsekuensi. Sebagai contoh, anda mungkin memperoleh pengetahuan atau belajar bagaimana menganalisis, melakukan sintesis, atau mengevaluasi sesuatu; ini adalah efek atau dampak intelektual atau kognitif. Kedua, anda mungkin memperoleh sikap baru atau mengubah sikap, keyakinan, emosi, dan perasaan anda; ini adalah dampak afektif. Ketiga, anda mungkin memperoleh cara-cara atau gerakan baru seperti cara melemparkan bola atau melukis, selain juga perilaku verbal dan noverbal yang patut; ini adalah dampak atau efek psikomotorik.
MASALAH YANG DIPRIORITASKAN
Berdasarkan gambaran dan sasaran yang dikaji maka secara umum diungkap sebuah kasus tentang dosen yang menerapkan disiplin tanpa memperlihatkan keteladanan pada mahasiswa,  misalnya  dosen sulit ditemui untuk bimbingan skripsi, sulit ditemui untuk bimbingan KRS, sering kosong dalam mengajar serta ketidaktepatan dalam memberikan penilaian (termasuk kecepatan mengeluarkan nilai ujian akhir). Selain itu perilaku yang “jaim” ( jaga image ) juga menyebabkan mahasiswa merasa tidak nyaman dalam melakukan interaksi.   Kondisi seperti ini menjadikan dosen dinilai buruk perfomance dan kepribadiannya oleh mahasiswa. Oleh karenanya maka tidak heran apabila dosen yang berstatus seperti itu  menjadi dipinggirkan dalam pergaulan interaksi dengan mahasiswa. Kasus lain mahasiswa mempunyai penilaian yang objektip terhadap dosen, kedudukan dosen sangat berpengaruh secara pisikologis dalam proses pengajaran tersebut. Tentu saja, apa yang disebut sebagai pengaruh pisikologis itu bersifat negatif, karena dosen sering kali dianggap sebagai pihak yang sedemikian represip. Secara keseluruhan informasi yang diperoleh menyatakan bahwa dosen yang dianggap baik adalah yang mempunyai waktu dan dapat membantu mahasiswa untuk mengatasi kesulitan – kesulitan yang mereka hadapi.  Paradikma ini disebabkan persepsi bahwa dosen adalah seorang intelektual yang sedemikian pintar. Sedangkan tipe dosen yang mereka sukai adalah yang hanya dapat menyalah nyalakan mahasiswa tanpa berupaya untuk memberikan solusi, dengan kata lain disebut sebagai dosen killer.  Hal di atas nampaknya masih belum banyak diperhatikan sehingga ada asumsi bahwa dosen tidak pernah salah. Padahal perlu diingat kunci dalam sistem pendidikan tinggi adalah dosen. Baik buruknya perfomance dan kepribadian dosen juga mengarah pada baik dan buruknya keberhasilan proses pendidkan di perguruan tinggi. Dari kedua kasus diatas maka perlu ada evaluasi yang harus dilakukan untuk dosen yang tidak hanya sebatas pada cara mengajar tetapi juga dalam konteks memberikan pelayanan kepada mahasiswa
ALTERNATIF  MASALAH
Dalam era teknologi informasi dewasa ini, sudah tidak zamannya lagi muncul istilah dosen “jaim”, “killer”, dan lain-lain yang sejenisnya. Karena dalam pembelajaran orang dewasa, dosen bukan satu-satunya sumber belajar. Tidak tertutup kemungkinan, mahasiswa mengetahui lebih banyak dari dosen, misalnya karena lebih sering melakukan browsing ke website tertentu yang isinya memang menggambarkan kemajuan bidang ilmu tertentu. Sedangkan dosennya dari tahun ke tahun menggunakan bahan ajar yang sama tanpa di-“up to date” dengan perkembangan iptek.
Sehingga dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa dewasa ini yang lebih diperlukan adalah kemampuan komunikasi yang efektif. Hambatan-hambatan dalam melaksanakan komunikasi yang efektif perlu dihindari. Oleh karena itu maka dituntut dosen harus trampil dalam menggunakan berbagai teknik dalam komunikasi yang efektif, baik verbal, non-verbal, mendengar aktif dan komunikasi respektif.
Dalam melakukan komunikasi verbal, seorang dosen harus benar-benar menerapkan kaidah “REACH” dengan benar, yang terdiri dari:
Respect (hormat)
Dosen memberikan rasa hormat dan saling menghargai dengan membangun kerjasama dengan mahasiswa yang menghasilkan sinergi dalam meningkatkan efektifitas kinerja dosen baik secara indifidu atau secara keseluruhan.
Empathy (empati)
Dosen harus dapat menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang sedang dialami oleh mahasiswa, sehingga komunikasi dapat dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh.
Audible (dapat didengar dan dipahami)
Apa yang dikatakan oleh dosen sebaiknya dapat didengar dan dipahami oleh mahasiswa. Kaidah ini mengharuskan seorang dosen harus menggunakan berbagai cara hingga menggunakan alat bantu audio-visual agar pesan yang disampaikan ke mahasiswa dapat didengar dan dipahami dengan baik.
Clear (jelas)
Dalam interaksi dengan mahasiswa, sebaiknya seorang dosen harus menggunakan bahasa yang tepat, sehingga pesan yang disampaikan benar-benar jelas, tidak menimbulkan makna ganda, sehingga akan terjadi interpretasi yang berbeda-beda.
Humble (rendah hati)
Sikap dosen yang rendah hati antara lain sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong, serta tidak memandang rendah mahasiswa. Dosen yang berani mengakui kesalahan dan memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri serta mengutamakan kepentingan mahasiswa secara umum. Dalam interaksi dosen dengan mahasiswa tidak hanya kemampuan berbicara, tetapi juga diperlukan gerakan tubuh untuk memperjelas makna yang disempaikan dalam proses interaksi tersebut. Gerakan tubuh yang dilakukan merupakan salah satu bentuk komonikasi non verbal yang dilakukan secara spontanitas.
Komunikasi non-verbal yang dilakukan harus benar-benar digunakan untuk menunjang komunikasi verbal melalui:

  • Kontak Mata. Sebelum memulai interaksi dengan mahasiswa dalam bentuk pembicaraan, sebaiknya diawali dengan menatap mata mahasiswa sejenak sebelum memulai pembicaraan, sehingga mereka merasa lebih dihargai.
  • Ekspresi Wajah. Dalam interaksi dengan mahasiswa sebaiknya seorang dosen menunjukkan ekspresi wajah yang menunjukkan perasaan yang penuh keramahtamahan dan kasih sayang.
  • Jabatan Tangan. Secara praktis berjabatan tangan sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Sehingga dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa bisa saja komunikasi non-verbal ini dikesampingkan.
  • BahasaTubuh. Bahasa tubuh menggambarkan isi dari pesan yang disampaikan oleh dosen ke mahasiswa dalam sebuah interaksi. Gunakanlah bahasa tubuh yang jujur menggambarkan isi pesan yang kita sampaikan.

Mendengar aktif merupakan bagian komunikasi efektif dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa yang sangat penting dalam era teknologi informasi dewasa ini. Sekali lagi, hal ini karena dosen bukan satu-satunya sumber belajar. Mendengar aktif adalah merupakan sebuah upaya yang sungguh-sungguh dan tulus untuk dapat memahami informasi yang diperlukan. Dosen tidak perlu harus merasa malu, karena mendapat informasi yang lebih up to date dari mahasiswanya, bahkan harus merasa senang karena mampu memotivasi mahasiswanya untuk menjadi lebih baik.
Pada akhirnya dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa diperlukan komunikasi respektif, dimana komunikasi yang dibangun berada pada suasana yang kondusif, dimana antara keduanya berada dalam keadaan yang nyaman. Komunikasi respektif ini dapat terbentuk bila dalam interaksinya dosen dan mahasiswa berprasangka baik, berpikir positif, berorientasi pada solusi, bersikap jujur dan saling menunjukkan empati. Dengan demikian interaksi antara dosen dan mahasiswa akan lebih berhasil dalam rangka menyelesaikan berbagai permasalahan proses pengajaran dengan baik.
IV. P E N U T U P
Dari hasil  uraian diatas menunjukan bahwa :

  • Tingkat emosional, bahasa dan makna dalam interaksi dosen dengan mahasiswa mempunyai peran penting yang dapat dijadikan tolak ukur dari efektifitas sebuah komunikasi
  • Sikap empati dan antipati dalam berkomunikasi dapat disampaikan melalui simbol atau bahasa isyarat.

Untuk itu disarankan agar mengefektifkan interaksi dosen dengan mahasiswa maka perlu dilakukan  hal – hal sebagai berikut :

  • Dalam berkomunikasi kita harus memperhatikan tingkat pendidikan, kondisi pisikologis, waktu, serta makna dari bahasa yang digunakan.
  • Dalam berkomunikasi sebaiknya kita menambah pengetahuan tentang perkembangan simbol – simbol atau bahasa isyarat sebagai bagian dari bentuk komunikasi non verbal.
About these ads

Tentang Ali Sadikin Wear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 587 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: