//
you're reading...
Aplikasi Statistik

Pengujian Instrumen

Teknik Uji Validitas Instrumen

Validiatas soal indeks diskriminasi soal – soal yang ditetepkan dari selisih proporsi yan menjawab dari masing masing kelompok yang menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara keseluruhan. Untuk menentukan validitas soal digunakan korelasi point biserial, dimana variabel soal bersifat dikotomi sedangkan variabel skor total atau sub skor total bersifat kontinum. Teknik analiasis statistik yang di pakai selanjutnya disesuaikan dengan jenis data yang diperoleh, dimana data tersebut kontinu dan berdistribusi normal atau tidak. Untuk memperoleh data – data penelitian yang valid dan reliabel, maka  instrumen penelitan terlebih dahulu di uji validitas dan releiabilitasnya.  Azwar Saefudin ( 2003 : 5 ) mengemukakan uji validitas dilakukan untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya, sedangkan jenis yang digunakan adalah validitas isi  Hussein Umar ( 2004:    ) mendefinisikan  suatu pengukur untuk mengetahui sejauh mana isi alat pengukur itu mewakili semua aspek yang dianggap sebagi aspek kerangka konsep.  Untuk menguji menguji validitas butir – butir instrumen dilakukan analisis item yaitu dengan menghitung korelasi antar skor butir instrumen dengan skor total, pengujian validitas menggunakan rumus statistika koofisien korelasi biserial dengan rumus dalam Sumarna (2004 : 61)  sebagai berikut :

yang selanjutnya hasil tersebut diinterpretasikan dengan nilai r biserial instrumen dinyatakan valid, jika nilai korelasi biserial lebih besar dari nilai korelasi tabel dengan db = n–2 , dimana n adalah jumlah responden yang diambil dalam pengujian

Uji  Reliabilitas Instrumen

Sedangkan uji reabilitas dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Azwar saefudin ( 2003 : 4 ) Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya atau bila dalam beberapa kali pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama di peroleh hasil yang relatif sama, selama subjek yang di ukur dalam diri subjek memeng belum berubah. Untuk  menguji reliabilitas instrumen yang pertanyaannya hanya terdiri  dari dua pilihan jawaban yaitu  benar dengan skor 1 dan salah  dengan skor 0 digunakan teknik K – R 20 dari Kuder dan Richardson sebagai berikut  :

Selanjutnya harga korelasi tersebut dikonsultasikan ke dalam nilai r  tabel.  Untuk nilai reliabilitas soal  dari hasil pengujian yang telah dilakukan dikatakan reliabel jika nilai r hitung > 0,70

Tingkat Kesukaran Instrumen

Tingkat kesukaran soal ditentukan oleh kedalaman soal, kompleksitas atau hal – hal lain yang berkaitan denga kemapuan yang di ukur  oleh soal, dengan rumus yang digunakan dari Sumarna       ( 2004 : 12 )  adalah sebagai berikut :

Dengan kategori tingkat kesukaran soal Sumarna ( 2004 : 21 ) sebagai berikut

Kategori Indeks Kesukaran Soal

Nilai  Tingkat Kesukaran Kategori
Tk < 0,3 Sukar
0,3  Tk    0, 7 Sedang
Tk  >  0, 7 Mudah

Daya pembeda Instrumen

Untuk membedakan antara peserta test yang berkemapuan tinggi dengan peserta yang berkemampuan rendah yang merupakan selisih penetapan  dari proporsi yang menjawab pada masing – masing kelompok yaitu kelompok atas dan kelompok bawah, dimana indeks ini menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara keseluruhan. Untuk menghitung daya pembeda oleh Sumarna    ( 2004: 31 )  sebagai berikut :

Selanjutnya harga DP tersebut dikonsultasikan dengan spesifikasi sebagai berikut

Kategori Daya Pembeda Soal

Nilai Daya Pembeda Kategori
0.00  < DP  ≤  0.20 Buruk
0.20  < DP  ≤  0.40 Cukup
0.40  < DP  ≤  0.70 Baik
0.70  < DP  ≤  1.00 Sangat baik

dan untuk uji beda dilakukan dengan menguji signifikasi perbedaan antara 27% skor atas dan 27% skor kelompok bawah dengan menggunakan rumus  uji  t – test  yang dikemukakan oleh Sugiyono  (2004 : 177) sebagai berikut :

dengan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Terdapat hubungan yang signifikan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah
H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah

Hipotesis statistik :

H1        ≠          0

H0        =          0

Kriteria pengujian :

Jika  , maka tolak H0 dan terima H1, dengan asumsi terdapat hubungan yang signifikan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah. hasil perhitungan selanjutnya di konsultasikan dengan ttabel pada taraf signifikasi 5% dengan db = n – 2

Kriteria Pemilihan Soal

Hasil analisis soal pada umumnya dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu diterima tanpa perbaikan, diterima dengan perbaikan (revisi) dan di tolak atau di buang untuk tidak digunakan. Dalam teori klasik dalam pemilihan soal biasanya diperhitungkan tiga parameter soal yaitu tingkat kesukaran, daya pembeda atau validitas soal. Sebenarnya hingga kini tidak ada ketentuan yang dapat dijadikan patokan yang pasti dalam penentuan validitas dan tingkat kseukaran bagi soal yang baik (Sumarna, 2004:46). Menurut Nitko (1983) kriteria pemilihan soal bergantung pada tujuan penggunaan tes yaitu untuk tujuan umum atau untuk tujuan khusus. Jika tujuan tes adalah untuk ketepatan membuat peringkat peserta tes dalam bidang tertentu, maka besarnya tingkat kesukaran dab validitas soal tidak dapat ditentukan angkanya. Tetapi jika hal yang diukur adalah aspek kemampuan, maka tingkat kesukaran  sebaiknya berkisar antara 0,16 sampai 0,84. Jika yang akan diukur adalah sekumpulan asepk kemampuan, maka sebaiknya tingkat kesukaran berkisar antara 0,30 sampai dengan 0,70 dan validitas soal yang disarankan lebih besar dari 0,30. Berikut tabel kriteria pemilihan soal pilihan ganda

Kriteria

Koefisien

Keputusan

Tingkat Kesukaran

0,30 s.d 0,70

Diterima

0,10  s.d  0,29   atau   0,70  s.d  0,90

Direvisi

< 0,10   dan   > 0,90

Ditolak

> 0,30

Diterima

0,10  s,d  0,29

Direvisi

<  0,10

Ditolak

Proporsi Jawaban

> 0, 05

Berdasarkan aturan Nitko (1983) bahwa soal yang diterima adalah soal yang terletak pada rentang kesukaran 0,30 sampai 0,70. Hal ini dilakukan mengingat soal dengan tingkat kesukaran antara 0,30 samapi 0,70 merupakan soal yang homogen dan dapat menghasilkan penyebaran skor yang luas.

Soal yang memiliki validitas soal di atas 0,30 sebagaimana dikemukan Nunnally (1970) merupakan soal yang baik.

Daya pembeda di atas 0,30 merupakan soal yang termasuk dapat membedakan kelompok yang berkemampuan tinggi dengan kelompok yang berkemampuan rendah.

About these ads

Tentang Ali Sadikin Wear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 587 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: