//
you're reading...
Sosial Politik

Kekuasaan dan Konflik (Bagian I “Kekuasaan”)

Setiap orang memasuki organisasi membawa sifat, watak, kepribadian, emosi, keahlian, keterampilan, keyakinan, harapan dan sistem nilai yang melekat pada dirinya yang bisa jadi satu sama lain mempunyai kerakteristik yang berbeda-beda. Meskipun semuanya kemungkinan besar berbeda-beda akan tetapi semuanya mempunyai harapan imbalan dari organisasi. Imbalan dari organisasi akan diberikan jika orang-orang ini mau melakukan tugas (pekerjaan) yang dibebankan kepadanya. Jika organisasi mempunyai pekerjaan sejenis yang banyak yang tidak mungkin dapat ditangani oleh satu orang maka organisasi akan menarik banyak orang agar tugas (pekerjaan) yang akan dikerjakan dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Didalam organisasi setiap orang yang ada didalamnya akan ditempatkan sesuai dengan keahliannya dan derajat keahliannya. Semakin tinggi derajat keahlian seseorang maka akan semakin tinggi kedudukan orang tersebut di dalam organisasi dan demikian pula sebaliknya. Meskipun orang menenpati posisi yang berbeda-beda sesuai dengan jenis keahlian dan derajat keahlian akan tetapi kerja sama dengan orang lain mutlak diperlukan. Karena posisi seseorang berada dalam posisi vertikal dan posisi horisontal maka mereka yang menduduki posisi di atas mempunyai kekuasaan yang lebih tinggi dibandaingkan dengan orang yang menduduki posisi yang lebih rendah. Sedangkan dalam posisi horisontal maka kekuasaan orang tersebut dalam organisasi adalah sama dan yang mungkin membedakannya adalah tugas (pekerjaan) yang diembankan ke pundaknya.

Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemapuan aktual atau kemampuan potensial yang dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut akan bersikap atau bertindak sesuai dengan yang diharapkan  atau yang dinginkan. Semakin tinggi kedudukan seseorang di dalam organisasi maka semakin besar pula kekuasaan yang dimilikinya dan begitu pula sebaliknya. Seseorang atau sekelompok orang atau suatu lembaga sosial akan mempunyai kekausaan yang semakin besar manakala mereka dapat menguasai informasi, ilmu pengetahuan atau sumber daya. Jika kedudukan seseorang dalam organisasi tidak mempunyai kekuasaan yang semakin besar maka berarti kekuasaan yang dimiliki tidak efektif dan bersifat semu. Sedangkan yang dimaksud dengan mempengaruhi disini adalah suatu sikap atau tidakan (perintah) yang dapat mengubah sikap atau tindakan orang lain agar sesuai dengan yang diinginkan. Seorang pemimpin dapat mempengaruhi atau mengubah moral anak buahnya sesuai dengan apa yang diharapkan. Jika pemimpin tidak mampu mempengaruhi moral anak buahnya, maka pemimpin tersebut dikategorikan sebagai pemimpin yang tidak efektif. Kekuasaan mempunyai dua sisi, sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif dari kekuasaan adalah ia dapat digunakan untuk membantu merumuskan dan mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Dalam sisi positif ini, maka pemimpin akan dapat dengan efektif dan efisien mempengaruhi orang-orang yang ada di dalam organisasi agar mau bekerja keras guna mengejar tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Sedangakan sisi negatif dari kekuasaan adalah bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk memaksa dan menakut-nakuti orang lain baik secara finansial maupun secara non finansial. Pemimpin yang berhasil mempunyai kebutuhan yang besar untuk mempengaruhi orang lain guna memperoleh manfaat yang besar bagi organisasi. Pemimpin yang menggunakan kekuasaan mereka denga pengawasan diri akan lebih efektif dari pada pemimpin yang memegang dan menggunakan kekuasaan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan orang yang mengabaikan kekuasaan mereka (McCelland & David H Burnham).  Pemimpin yang baik akan menggunakan atau menjalankan kekuasaan dengan membatasi perilaku orang lain. Pemimpin seperti ini akan mendorong semangat , mendukung bawahan serta akan memberikan penghargaaan kepada setiap keberhasilan bawahan dan dengan sendirinya akan meningkatkan moral pegawai. Didalam organisasi, ototritas formal merupakan kekuasan yang telah mendapat legitimasi resmi dari pihak yang berpengaruh terhadap organisasi. Pihak ayng berpengaruh adalah pihak yang mempunyai kepentingan besar atas organisasi, dimana pemimpin puncak mempunyai otoritas formal yang disyahkan melalui rapat umum yang mempunyai kekuasaan operasional tertinggi di dalam organisasi.

Kekuasaan dan Ketergantungan

Secara matematis kita dapat mendiagnosa kekuasaan dengan cara mengukur tekanan ketergantungan (dependent variable pressure) yang mengalir dengan arah yang berlawanan dari hubungan kekuasaan. Atau dengan kata kata lain, bahwa jika X mempunyai kuasa atas Y, maka hal ini dapat diukur melalui derajad ketergantungan Y terhadap X. Umumnya seseorang bersedia untuk mematuhi orang lain dan orang lain tersebut bersedia mengikuti perintahnya mempunyai ketergantungan terhadap orang yang mempunyai kekuasaan dan apalagi jika kekuasaannya efektif. Semakin besar ketergantungan kepada orang lain, maka akan semakin besar pula kekuasaan yang ditimbulkannya dan begitu pula sebaliknya. Ketergantungan berasal atau muncul dari dalam diri seseorang dikarenakan orang, kelompok atau organisasi sangat menyandarkan kepada orang, atau kelompok atau organisasi untuk mewujudkan apa yang diharapkan. Seorang bawahan akan sangat bergantung kepada atasannya atau bosnya dan ia bersedia untuk mematuhi segala apa yang diperintahkannya jika kebutuhannya hanya dapat dipenuhi dari atasannya atau bosnya tersebut. Semakin tidak butuh bawahan kepada atasannya maka akan semakin redup kekausaan yang dimiliki oleh atasannya tersebut. Seorang pegawai bersedia membantu pegawai lainnya meski pun dianggap mempunyai kekuasaan sebanding dikarenakan mereka saling membutuhkan satu sama lain yang didalam kebutuhannya telah muncul bargaining kekuasaan secara suka rela. Kekuasaan tidak selalu terikat hubungan vertikal akan tetapi dapat pula terjadi dapam pola hubungan horisontal. Yang jelas kekuasaan muncul dikarenakan adanya ketergantungan pemenuhan atau pencapaian tujuan yang diharapkan. Tanpa adanya ketergantungan ini maka tidak akan ada kekuasaan.

Penyebab Ketergantungan

Ketergantungan akan semakin meningkat ketika sumber daya yang diawasi dan diharapkan menjadi semakin penting, langka dan tidak dapat diganti dengan lainnya. Jika seseorang tidak menginginkan sesuatu yang akan diperoleh maka berarti tidak ada ketergantungan didalamnya. Ketergantungan muncul karena sesuatu itu menjadi sangat penting. Terdapat korelasi positif antara ketergantungan dengan derajad kepentingan. Penyebab kedua dari ketergantungan adalah kelangkaan. Semakin langka sesuatu yang dibutuhkan maka orang akan mempunyai ketergantungan semakin besar. Akan tetapi kelangkaan disini masih terkait jika sesuatu itu masih dianggap penting bagi dirinya. Jika sesuatu itu tidak dianggap penting maka kelangkaan tidak diperhitungkan atau tidak menjadikan ketergantungan. Penyebab terakhir dari ketergantungan adalah bahwa sesuatu itu tidak mempunyai subsitusi (pengganti) dalam kasus ini dimisalkan P mempunyai keahlian X yang merupakan pengganti dari Q yang mempunyai keahlian sama, maka jika P tidak ada, maka ketergantungan organisasi terhadap Q semakin besar, namun jika P tidak mempunyai pengganti, maka ketergantungan terhadap P semakin besar (meningkat).

Sumber Kekuasaan

Pada dasarnya kekausan yang berada dalam organisasi terdiri dari :

  • Kekuasaan Posisi. Di dalam kelompok atau organisasi formal kekuasaan sesorang diperoleh atau melekat pada posisi yang disandangnya. Seorang pemimpin akan mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari posisi dibawahnya dikarenakan kekuasaannya melekat pada jabatan yang disandangnya.
  • Kekuasaan Pribadi. Karakteristik pribadi dapat pula menjadi sumber kekuasaan. Seseorang yang senantiasa berbicara benar dan berpilaku jujur, adil dan berfikir tangkas akan menciptakan kekuasaan kharismatik bagi orang lain. Di dalam keadaan ini yang menonjol adalah nilai-nilai kepribadian individu. Mereka yang mempunyai karakteristik pribadi yang terpuji dengan sendirinya akan mudah memperoleh kekuasaan
  • Kekuasaan Keahlian. Seorang yang semakin ahli akan semakin didengar pendapat dan nasehatnya oleh orang yang tidak ahli sepanjang orang yang kurang ahli tersebut sangat menyadari ketidaktahuannya dan sangat menyadari tentang keahlian yang diperlukan. Orang yang ahli akan lebih mudah mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu atau mengubah sikapnya. Keahlian mempunyai pengaruh yang sangat besar, kuat dan dominan terhadap berbagai aspek kehidupan. Orang lebih cenderung datang kepada yang ahli, karena seorang ahli berbicara berdasarkan prinsip ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kekuasaan pribadi akan sangat diperoleh melalui keahlian ilmu dan teknologi, melalui kharisma karena mempunyai pribadi terpuji dan melalui pakasaan (kudeta).
  • Kekuasaan Kesempatan. Kekuasan diperoleh dikarenakan hasil konsep tempat yang benar pada saat yang benar. Seseorang tidak berusaha mempertahankan posisi formal didalam kelompok atau organisasi untuk memperoleh informasi yang penting yang diperlukan orang lain. Orang yang menduduki posisi formal akan melepaskan kekuasaannya atau memberikan sebagain kekuasaannya manakala ada orang yang lebih tepat menduduki jabatan tersebut. Kekuasaan kesempatan artinya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menduduki suatu jabatan jika dipandang layak untuk menyandang jabatan tersebut. Konsep perlu dikembangkan didalam organisasi bahwa mengundurkan diri dari suatu jabatan atau memberikan kekuasaan kepada orang lain merupakan sifat yang sangat terpuji.

Taktik Kekuasaan

Kekuasasan dapat digunakan untuk dapat mempengaruhi orang lain, maka banyak cara atau teknik yang digunakan orang untuk memperoleh kekuasaan. Taktik memperoleh kekuasaan yang sering disingkat dengan taktik kekuasaan adalah cara mendapatkan atau merekayasa dasar atau tatanan kekuasaan. Kekuasaan relatif yang dimiliki pemimpin akan mempunyai dampak (pengaruh) terhadap pemilihan taktik yang akan digunakan untuk meperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Umumnya setiap orang yang ada didalam organisasi akan selalu berusaha mendapatkan kekuasaan sebab dengan kekuasaan maka orang tersebut akan lebih mudah  muwujudkan keinginan atau ambisinya. Budaya yang berlaku di dalam organisasi dan diakui dalam organisasi umumnya akan sangat mempengaruhi perilaku orang di dalam mendapatkan kekuasaan. Cara atau taktik mendapatkan kekuasaan dapat dilakukan secara terbuka atau secara tertutup dan dapat pula dilakukan  dengan cara tersembunyi dan tidak langsung.

Koalisi

Di dalam setiap organisasi terlebih organisasi politik, perebutan kekuasaan merupakan fenomena yang sering terjadi.. Salah satu dari perebutan kekuasaan adalah koalisi. Koalisi didefinisikan dengan kumpulan dua orang atau lebih yang dipadukan untuk mendukung atau menolak kekuasaan orang  lain. Suatu hal yang lazim jika orang yang ingin berkuasa akan banyak berusaha membagun dasar kekuasaan pribadi. Akan tetapi dalam banyak kasus membangun dasar kekuasaan pribadi yang dilakukan secara pribadi di luar sistem organisasi dan sistem manajemen disamping dipandang cukup sukar, mahal dan penuh resiko. Oleh karena itu, cara aman untuk memperoleh kekuasaan adalah melakukan koalisi dengan orang lain. Secara historis pegawai yang kurang berhasil akan berusaha menyusup masuk melalui serikat pekerja di dalam membangun kekuasaan yang diinginkannya.

Politik

Kekuasaan tidak akan ada artinya atau gunanya jika tidak diterapkan. Jika kekuasaan diaplikaiskan ke dalam dunia praktis maka dinamakan politik. Pada hakekatnya  perilaku politik memusatkan kepada pemakaian kekuasaan yang akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, perilaku politik dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang tidak disyaratkan sebagai peran formal seseorang di dalam organisasi akan tetapi merupakan aktivitas yang mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi, mendistribusikan kelebihan dan kekurangan dalam organisasi. Perilaku politik seseorang yang ada di dalam organisasi bukan merupakan persyaratan pekerjaan yang diembannya. Di dalam organisasi, baik terang-terangan atau tersembunyi senantiasa ada perebutan kekuasaan dan jika kita berbicara perebutan kekuasaan maka berarti telah berbicara mengenai politik. Politik tidak hanya digunakan oleh partai politik di dalam merebut kekuasaan negara saja akan tetapi dalam arti yang lebih luas maka di setiap organisasi akan selalu ada  perebutan kekuasaan dan disana berarti telah terjadi aktivitas politik. Kekuasaan yang direbut melalui aturan dan prosedur resmi yang telah ditetapkan dan diakui organisasi yang mapan jalan yang harus ditempuh untuk menduduki suatu jabatan (kekuasaan) telah diatur secara ketat dan telah ditetapkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi.

Perbedan dan Konflik dalam Organisasi

Ketergantungan tujuan dan persaingan  dengan sumber daya yang terbatas akan menciptakan perbedaan dan konflik dalam organisasi akan tetapi meskipun demikian dunia tanpa perbedaan barangkali akan sangat sulit dibayangkan. Perbedaan ada sejak manusia dilahirkan ke dunia. Perbedaan lahir  bersamaan dengan kedatangan manusia ke duani. Awalnya lemah kemudian menguat. Awalnya bersifat pribadi dan lambat laun merambah ke dalam organisasi ketika individu tersebut menjadi anggota organisasi. Perbedaan tidak mungkin dapat dihindari. Perbedaan merupakan peluang dan sekaligus juga ancaman. Perbedaan itu ibarat pisau dapat digunakan memotong apa saja yang bermanfaat atau merugikan. Perbedaan akan memberikan manfaat dan juga dapat memberikan mudarat. Perbedaan harus dikelola secara profesional agar menajdi potensi positif. Yang harus dipahami adalah dunia tanpa perbedaan opini, tanpa perbedaan nilai, tanpa perbedaan prioritas , tanpa perbedaan misi dan harapan di ibaratkan matahari tanpa bayang-bayang dan menjadi dunia  tumpul yang fungsinya sangat rendah. Untuk mengenal perbedaan secara mendalam maka kita harus mengenal argumen, kompetisi (persaingan) dan konflik.

About these ads

Tentang Ali Sadikin Wear

Tenaga Edukatif Politeknik Perikanan Negeri Tual

Diskusi

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 587 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: